
Perjalanan menuju Kutub Utara membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka harus melewati berbagai tempat asing yang sama sekali aneh. Bertemu binatang buas dalam kelompok bergerombol dan berbagai ancaman serta rintangan yang tak terhitung jumlahnya.
Wilayah kutub utara merupakan lautan yang dikelilingi oleh daratan.
Lautan di kutub utara tertutup oleh lapisan es yang dikelilingi oleh lapisan tanah tebal yang beku. Bongkahan es tinggi mulai terlihat sejauh mata memandang, tak terlihat satupun manusia di depan sana.
Suhu dingin membuat manusia jarang sekali bermukim di Kutub Utara, meskipun demikian saat mulai melintasi daerah dengan temperatur ekstrem ini masih ditemukan banyak binatang hidup. Seperti burung albatros, beruang kutub, serta walrus yaitu binatang sejenis anjing laut yang biasa hidup di laut Arktik.
Untungnya mereka datang di saat musim panas tengah berlangsung di Kutub Utara, walaupun dikatakan musim panas namun suhunya masih sangatlah dingin. Sinar matahari terlihat di atas cakrawala langit, menguji keduanya dalam dinginnya dunia es tersebut.
Xin Fai mengeratkan pegangannya pada tubuh Lang, terus menapaki jalan yang tertutup es secara perlahan. Dia menoleh kanan kiri untuk melihat-lihat. Tujuannya kali ini adalah untuk melawan Naga Es, janji terakhirnya kepada Rubah Petir. Entah setelah hari ini dia masih bisa pulang untuk menemani Xin Xia tumbuh dewasa atau justru membeku bersama es kutub dalam keadaan tidak bernyawa. Semuanya akan menjadi penentuan akan segalanya.
"Kita harus mencari tempat tinggal secepatnya, suhu terlalu dingin di luar." Xin Fai berkata pelan, dia mencari-cari sekitar sama halnya seperti yang dilakukan Lang, dia memutar pandangannya dengan teliti. Hidungnya mengendus-endus, mencoba membaui segala sesuatu dengan hidungnya.
"Ada beberapa orang yang tinggal di sini."
"Benarkah?" Xin Fai masih tidak dapat menemukan siapa yang dikatakan Lang.
"Seharusnya tak jauh dari sini," ucap Lang lebih dulu berjalan. Xin Fai mengikuti dari belakang. Kalau benar di tempat ini masih ada orang yang tinggal kemungkinan besar orang tersebut memiliki informasi tentang Naga Es, atau paling tidak binatang-binatang aneh yang membuat bumi bergetar.
Rupanya perkataan Lang benar, tak jauh dari mereka berjalan terlihat sebuah pemukiman yang agaknya asing di mata mereka, namun Xin Fai tak begitu peduli. Dia segera mendekati tempat tersebut, merasa mereka memiliki cara untuk mengatasi suhu dingin di tempat ini.
Salah seorang anak perempuan berusia 9 tahun keluar dari rumahnya dengan mengintip dari balik pintu, bola matanya agak biru pucat serta pakaian yang dikenakannya tebal, terbuat dari kulit binatang seperti beruang kutub. Rambutnya dikepang dua dan kulitnya tampak seputih salju.
Tiba-tiba anak kecil itu berteriak pada orang di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Ibu! Ada orang yang tersesat! Lihatlah! Ke sini!" Dia memanggil-manggil panik, langkah kecilnya berderap di atas salju. Dia segera menarik tangan Xin Fai masuk, namun langkahnya berhenti sejenak saat melihat Lang. Serigala itu tidak bisa masuk, tubuhnya tidak bisa melewati pintu.
"Serigala imut yang malang. Kakak, serigalanya ditinggal di luar dulu. Kau harus menghangatkan diri atau bisa mati kedinginan."
Tepat saat anak gadis itu membalikkan badannya Lang menghilang, menyatu dalam cahaya dan memasuki tubuh pemiliknya. Itu satu-satunya cara paling tepat untuk bisa masuk ke dalam juga, serigala itu tidak mau menunggu di luar. Ada terlalu banyak serigala lainnya yang kelaparan. Bisa saja nanti baru sampai di Kutub Utara dia sudah berkelahi dengan serigala-serigala di tempat ini.
Seorang wanita datang di depan mereka, melihat anak gadisnya tengah membawa seorang asing di dalam rumah. Dari melihatnya saja wanita tersebut sudah bisa tahu Xin Fai pasti kedinginan, pakaian yang dia kenakan tidak seperti yang mereka kenakan. Suhu dingin akan dengan mudah masuk ke tubuhnya.
"Duduklah dulu aku akan membuatkan sesuatu yang hangat untukmu."
Xin Fai mengangguk pelan, melihat sekitarnya penuh tanda tanya. Ada beberapa tulang binatang buas yang di jadikan pajangan dalam rumah. Dan lagi tempat ini sangat tertutup, mungkin untuk mencegah masuknya udara di luar.
Tak lama seorang pria masuk, dia menepuk-nepuk pakaiannya yang dipenuhi oleh salju. Gerak-geriknya terhenti sebentar saat bertatap mata dengan Xin Fai.
"Kita kedatangan tamu sepertinya," hanya itu yang keluar dari mulutnya setelah itu, Xin Fai tersenyum kaku, tidak tahu harus berbuat apa di sini.
"Tidak... Tidak, tidak usah terlalu terburu-buru." Dia tersenyum manis, duduk di sebelah Xin Fai sambil menyandarkan punggungnya yang terasa sakit. Usianya yang semakin tua membuat dia makin cepat merasa lelah.
"Kau boleh tinggal di sini selama apapun, tidak usah sungkan-sungkan. Tapi..."
"Ada tapinya?" Xin Fai bercelutuk, sedikit curiga dengan wajah pria tersebut.
"Ya, besok ikutlah berburu denganku. Kebetulan akhir-akhir ini buruan semakin banyak di luar, bisa untuk bertahan hidup dari cuaca yang lebih ekstrim lagi ke depannya."
"Berburu? Baiklah, itu tugas mudah."
__ADS_1
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sebentar, dia mengulurkan tangannya perlahan. "Kalau begitu perkenalkan namaku Marcos, putri kecilku bernama Emilia dan itu istriku, dia Palma."
"Aku Xin Fai,"
Xin Fai memandangi Emilia dan Palma bergantian, Palma datang pada mereka membawa makanan hangat seperti yang dia janjikan. Lantas menyuruh Xin Fai makan.
"Setelah makan beristirahatlah, bersiap besok kita akan memburu banyak binatang di luar. Ngomong-ngomong sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu," ucap Marcos sedikit mendekat.
"Wajahmu terlihat berbeda dari orang sini, sebenarnya dari mana kau datang?"
"Datang dari benua Asia, aku ke sini untuk melakukan satu misi."
"Benua Asia?" Palma menutup mulutnya terkejut sekali. Jarak tempat asalnya sangat jauh, membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama untuk mendatangi bagian paling timur dunia ini.
"Misi berbahaya?" Marcos mulai serius bertanya, dia tak menyangka akan menerima tamu seperti ini. Di awal dia hanya menyangka pemuda itu hanya orang yang tersesat dan membutuhkan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Tak disangka memang dia datang ke sini dengan satu alasan.
"Aku berjanji takkan melukai keluarga kalian, ini tidak ada hubungannya dengan orang-orang yang tinggal di tempat ini."
Merasa terlalu mengecam pemuda tersebut Marcos memilih tak mempermasalahkannya lagi, lagi pula dia yakin Xin Fai tidak akan berbuat jahat.
Palma berdehem kecil membuat perhatian semuanya teralih padanya. "Kalau begitu ikut aku, tidurlah di tempat kami sampai urusanmu selesai." Palma membalikkan badannya, berjalan menunjukkan di mana Xin Fai akan tidur malam ini.
Ketika mereka tiba di depan kamar, Palma hanya menundukkan kepalanya dan pergi begitu saja. Xin Fai tak segera masuk, dia merasa tak enak telah membebani keluarga ini.
***
__ADS_1
Setting ceritanya jd aneh wkwkwkðŸ˜ðŸ˜‚
***