Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 157 - Hutan Para Siluman


__ADS_3

Penguasa Danau menatapi permata paling langka itu, tidak ada satupun manusia yang dapat memilikinya kecuali Siluman Penguasa Bumi sendiri yang sengaja memberikannya pada manusia.


"Apa kau pernah bertemu dengan Naga Air?" Tanya Rubah Petir lebih lanjut, dia mengembalikan Permata Cahaya Biru dengan kaku. Sedikitnya dia tahu seberapa besar kekuatan naga air dibandingkannya, atau bisa dikatakan kekuatan Naga Air adalah lima besar dari seluruh Siluman Penguasa Bumi.


"Iya, di laut pertengahan kota Fanlu dan Renwu."


Sedangkan Rubah Petir seperti sedang berpikir-pikir, Penguasa Danau yang sejak tadi terdiam mematung tersentak kecil ketika Xin Fai berbicara padanya.


"Tentang penawaranmu tadi, kuharap kau menepatinya. Aku akan datang setiap pagi ke sini untuk mengambil permata saudara-saudaramu hahahaha," tawa Xin Fai menjadi amat menyeramkan bagi sekelompok buaya danau tersebut.


Beberapa mundur lalu menenggelamkan diri ke dalam air tidak sanggup melihat manusia itu lagi, sedang Penguasa Danau kini dilanda rasa bersalah pada saudara-saudaranya. Ingin menarik kembali kata-katanya pun dia tidak bisa.


"Ba-baiklah, meskipun ini sangat menyebalkan..."


Sejenak Xin Fai mengendus sekitarnya, dia bergerak mengikuti bau seekor siluman yang lain di tempat ini. Dalam beberapa detik kemudian seekor macan tutul yang ukurannya jauh lebih besar dari macan tutul lain keluar di balik semak-semak. Dia mengaum keras membuat burung-burung di dalam hutan berterbangan.


"Aku sudah berkeliling di seluruh hutan ini karena mencium aroma tubuh manusia, tidak kusangka memang benar-benar ada." Siluman macan tersebut melanjutkan disertai senyum mengejek. "Dan tidak kusangka si buaya jelek ini malah kalah darinya."


"Hah-!? Macan sialan! Mau kucabik, ya!?"


"Hahahaha aku duluan yang akan memakanmu, tapi karena kulitmu seperti kulit katak membuatku jijik sekali. Jijik, jijik... Hahahaha!"


Pengulangan kata-kata jijik membuat buaya meronta di dalam air sungai, ekor besarnya melibas danau sangat kencang. Sedangkan macan tutul menundukkan kepalanya sebelum melompat tinggi.


Pertarungan dua siluman itu membuat area sekitar menjadi rusak, mereka tidak peduli dan terus menerus bertarung.


Xin Fai menjadi malas mendengar kegaduhan sekitarnya, dia membalikkan badan dan mendapati Rubah Petir tengah berdiri di belakangnya.


"Mulai sekarang hutan ini akan menjadi rumahmu," ucapnya. Rubah menunjuk ke arah macan tutul dan buaya danau tersebut. "Mereka akan menjadi teman-temanmu nanti. Masih banyak lagi siluman yang tinggal di sekitar sini. Asalkan kau tidak berbuat jahat dan mencari masalah kurasa mereka dapat menerima kehadiranmu."


Seekor belalang sembah bertubuh hijau daun turun dari atas pohon, sebuah permata siluman terlihat berkilau di kepalanya. Belalang sembah itu tiba-tiba melakukan serangan super cepat dalam waktu tidak terduga. Dia berulang kali mengayunkan tungkai depan yang berfungsi seperti tangan, duri tajam di sekitar kulitnya membuat Xin Fai tidak boleh salah langkah dalam melakukan gerakan. Meskipun masih terkejut Xin Fai berusaha tetap fokus menghindari setiap serangan.

__ADS_1


Dua menit pertarungan antara Xin Fai dan juga belalang sembah berlangsung sampai membuat pertarungan lainnya berhenti. Macan tutul dan juga buaya danau berhenti saling melukai.


Kecepatan libasan serang si belalang sembah berhasil Xin Fai hindari dengan mengandalkan pendengarannya, setiap kali belalang sembah melakukan serangan angin yang terdengar dari celah tungkainya membuat Xin Fai mengetahui dari mana serangan itu berasal.


Belalang sembah menghentikan serangan sejenak karena tidak habis pikir, bukan karena Xin Fai dapat menghindari setiap serangan mematikannya yang sangat berbahaya namun dia melakukan itu semua dengan menutup mata


"Kenapa kau menutup matamu, manusia? Lawan aku secara adil. Aku tidak akan menerimamu di sini jika kau tidak serius untuk mengalahkanku!"


"Membuka mataku juga tidak akan mengubah apapun," ucapnya pelan. Belalang sembah tidak tahu harus menjawab apa setelah itu, dia mencari-cari keanehan seraya mengingat kembali pertarungan Xin Fai dan para buaya danau yang sempat ditontonnya dari kejauhan tadi.


Buaya danau juga dapat merasakan sesuatu yang ganjil, dia menatapi Rubah Petir yang kini memasang wajah penuh teka-teki. "Apa maksudnya ini? Jangan katakan..."


Belalang sembah melanjutkan kata-kata buaya danau. "Jangan katakan sedari tadi aku bertarung dengan seorang manusia yang buta?"


Xin Fai tersenyum kaku, meskipun pahit mendengarnya dia tidak bisa berkata apa-apa.


Seakan tak mempercayai hal itu belalang sembah kembali menyerang dengan kekuatan penuh, Xin Fai terus menghindari setiap pergerakan yang terdengar. Beberapa nyaris saja mengenai kulitnya, bahkan angin yang ditimbulkan dari serangan tungkai si belalang sembah terasa tajam melewati tubuhnya.


"Giliranmu sudah habis. Sekarang giliran ku menyerang." Ucap Xin Fai sembari menarik pedangnya.


Tebasan yang dua kali lebih cepat dari serangan tungkai belalang sembah membuat siluman itu panik tak alang kepalang. Dia mundur dua langkah dan terus terpojokkan dalam beberapa detik. Matanya bergerak-gerak liar mencoba memahami siapa manusia di depannya namun yang terlihat hanya seorang anak manusia biasa.


"Tidak kusangka, manusia semakin lama semakin mengerikan..." Gumamnya pada diri sendiri. "Kukira mereka hanya mahkluk lemah yang sombong pada kekuatan."


Kenyataan di hadapannya membuat belalang sembah meloncat sangat jauh dan mendarat di dekat pohon. "Baiklah, aku tidak akan menyerangmu lagi setelah ini. Kuakui kehebatanmu anak manusia."


Sejenak belalang sembah membenarkan posisi berdirinya sambil merangkai kata-kata sambutan, "Selamat datang di hutan para siluman. Marabahaya dan juga pertarungan mati-matian bisa terjadi kapanpun di sini, maka dari itu siapkan mentalmu mulai sekarang. Satu detik lengah saja nyawamu bisa melayang," kata belalang sembah penuh penekanan.


Bukan tanpa alasan dia mengatakannya, setiap detik di hutan rimba ini satu nyawa juga yang melayang atau bahkan lebih. Baik nyawa siluman tingkat tinggi maupun binatang buas sekalipun. Hukum rimba yang menganut sistem yang kuat membunuh yang lemah begitu nyata terjadi.


Merasa manusia tidak terbiasa akan situasi itu, belalang sembah melanjutkan. "Tapi kurasa mereka tidak berani menganggumu setelah mengetahui siapa yang membawamu ke sini." Mata belalang sembah beralih ke arah siluman rubah.

__ADS_1


Rubah Petir turun dari tempatnya berdiri, senyuman lebar menghiasi wajahnya. Rasa senangnya ini dikarenakan Xin Fai yang baru-baru ini diangkat sebagai muridnya bisa mengimbangi dua siluman yakni buaya danau dan juga belalang sembah.


Rubah Petir berlari kencang dan mendarat di atas kepala Xin Fai. "Kau sudah mendengarnya, kan? Hutan ini sangat berbahaya. Dengan bertahan hidup di hutan ini aku yakin kemampuan bertarungmu akan berkembang sangat cepat. Mulai hari aku tidak ingin menampungmu di goa itu lagi. Kau harus mengelilingi hutan ini sendirian tanpaku."


Xin Fai terkejut mendengarnya, baru saja dikatakan hutan ini dipenuhi siluman dan juga binatang buas. Jika hanya dua atau tiga siluman saja dirinya bisa melakukan hal itu namun beda cerita kalau yang datang bergerombol.


Tidak sempat melakukan perlawanan belalang sembah lebih dulu mencela si Rubah Petir. "Kau gila? Kau sudah tahu betapa bahayanya tempat ini untuk manusia sepertinya?"


Rubah Petir mulai mengeluarkan aura silumannya. "Kau meragukan keputusanku? Aku lebih tahu bagaimana cara mendidik muridku ini agar bisa berkembang jauh lebih cepat daripada kau."


Dia beralih menatap Xin Fai yang hanya bisa terdiam.


"Kemungkinannya ada dua setelah ini, kau kembali hidup-hidup dan mendapatkan kekuatan yang jauh lebih besar, atau kau mati sia-sia di sana menjadi tumpukan tulang."


Xin Fai menelan ludahnya, dia mencoba merasakan aura siluman di sekitar tempat ini yang terasa begitu kental. Dalam waktu bersamaan saja di tempat ini sudah muncul tiga siluman, bagaimana nanti di perjalanannya ke depan nanti.


"Kau bisa kembali kapanpun kau mau, setelah merasa kekuatanmu cukup untuk kembali ke tempat asalmu. Aku akan menunggunya."


Xin Fai terdiam merenung, suasana menjadi lengang sesaat.


Tanpa banyak mengatakan apapun lagi Xin Fai memilih memasuki hutan lebat di hadapannya, dia menenteng pedang di tangan sangat erat. Satu langkah lagi akhirnya dia memasuki gelapnya hutan tersebut, mautpun mengincarnya mulai detik itu juga.


Rubah Petir menatapi arah menghilangnya Xin Fai. "Sepertinya ini akan cukup lama..."


"Kalau kau kesepian kau bisa bergabung dengan kami."


Rubah Petir menoleh ke belakang dan mendapati macan tutul dan juga buaya danau yang saling merangkul dengan akrab.


"Kesepian!? Mau kusetrum, ya!?"


***

__ADS_1


__ADS_2