Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Terus Terjang


__ADS_3

Keesokan paginya, Teo tidak berlatih dan memilih bermalas malasan karena latihan yang ia lakukan kemarin. "Hey, sob... Sampai kapan kau akan tidur?" ucap Mael sembari menggoyang goyangkan tubuh Teo.


"Hey... Lihatlah pedangku!" ucap Mael penuh semangat tanpa henti berusaha membangunkannya. Mael pergi kekamar mandi. Meraih gayung dan mengisinya penuh.


Byurrr.....


Teo terjingkat kaget karena dinginnya air, terlihat sosok yang ia kenal memegang gayung. Posisi masih diatas kasur, dengan cepat lutut Teo tertekuk dan boomm... Mael terpental ketembok meninggalkan jejak retakan.


Sambil kesakitan memegangi hidungnya yang berdarah, "aapa yaang kkau lakukan?" kata kata Mael tidak terlalu jelas karena 2 jarinya menutup lubang hidung.


Teo berdiri dihadapan Mael, "jika kau melakukannya lagi, aku akan membu...!!!"


Blammm... Teo terpental kebelakang. Ia segera mengusap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. "Hemmm... Mael kampret..." Teriak Teo yang segera bangun dan mendekati Mael yang juga mulai bangkit.


Whusssss... Bammm... Bammm...


Kepalan tangan Mael dan Teo bertemu, tulang kering mereka bertabrakan. Serta saling menghindari serangan yang dilancarkan dari sahabatnya.


Kamar Teo yang semula sangat tenang, kini angin mulai berputar putar menghempaskan barang berukuran kecil. Retakan demi retakan muncul ditembok kamar, hingga akhirnya....


Plakkk.... Wajah Mael terkena pukulan telak dari Teo, begitupun sebaliknya, tangan kanan Mael berhasil meninggalkan jejak kepalan tangan di pipi kiri Teo.


Brakkk.....


Tubuh mereka berdua tergeletak tak berdaya karena kehabisan tenaga. "Kau hebat Teo, tapi tidak cukup hebat karena kekuatan yang aku gunakan 50%. Hahaha..." setelahnya Mael meringis kesakitan karena Teo.

__ADS_1


Teo yang juga merasakan nyeri disekujur tubuh berkata, "aku malah dalam posisi tertidur bisa memukulmu."


Kedua sahabat itu sontak melihat satu sama lain dan tertawa bersama sama, sampai mereka berdua pingsan karena sakit luar biasa di sekujur tubuh.


Keesokan paginya mereka berdua telah bersiap untuk pergi ke gunung greya. Mereka berdua mengobati diri masing masing. Meminum dan memakan obat yang diberikan Leo jika mereka terluka saat latihan tanding ataupun cidera saat berlatih.


Sebenarnya mereka berdua sangat membenci obat itu karena rasa yang begitu aneh dan membuat wajah mereka menjadi berantakan saat obat telah sampai pada tenggorokan. Obat cair berwarna hijau daun talas dan obat berbentuk pil sebesar buah ceri harus mereka telan agar kembali fit.


"Huft... Aku benar benar membenci obat ini." Seru mereka bersamaan. Sudah sering Teo dan Mael mengucapkan kata yangsama bersamaan. Pikiran mereka sudah seperti saudara kembar, serta saling mengerti apa yang akan dilakukan walaupun hanya sebuah kode.


Teo tidak membungkus pedangnya kali ini, hanya menyarungkan pedang pada sarung pedang buatannya sendiri. Sedang Mael membersihkan rumah agar saat Leo datang tidak perlu membersihkan rumah lagi.


"Ayo berangkat sob!" ajak Mael.


Teo yang sedari tadi sudah siap berdiri dan berjalan meninggalkan Mael tanpa kata.


Butuh waktu 1 minggu untuk sampai di gunung greya. Leo berpesan agar melewati jalur selatan, dan mereka menuruti Leo tanpa bertanya kenapa. Dan mereka diperintahkan agar tidak membawa bekal makanan, mereka akhirnya hanya makan dari berburu di tempat yang mereka lewati. Terkadang mereka juga memakan buah yang ada dihutan.


*****


Gunung greya, gunung api tempat tinggal glador. Wilayah gersang yang memiliki cuaca sangat panas. Geyser api terkadang muncul membunuh makhluk hidup yang tidak waspada.


Ledakan bertibu tubi pernah terjadi saat glador melatih ki miliknya. Bahkan ledakan yang terjadi sampai bisa dirasakan radius 1000 km. Hanya beberapa hewan yang tinggal disana. Salamander api, kelelawar, burung gagak adalah beberapa hewan yang tinggal disana.


Kabut asap terjadi sepanjang tahun mengakibatkan pohon pohon tidak tumbuh dilingkungan gunung itu. Lingkungan yang ekstrem yang tidak ada habisnya. Hanya bunga api dendelion yang bisa bertahan hidup.

__ADS_1


Bunga dendelion salah satu tanaman langka didunia. Bunga itu dapat meningkatkan energi api ataupun membangkitkan element api dari makhluk hidup yang memakannya. Tapi Glador penjaga gunung greya tidak akan membiarkan bunga itu diambil. Sahabatnya glafor memerintahkan Glador untuk terus menjaga bunga dendelion api sampai seseorang sanggup membuatnya terpojok atau seseorang yang pantas untuk memilikinya.


"Mael, apa benar ini gunung greya? Benar menar menakutkan. Aku tidak yakin perjalanan kita tidak akan lancar. Lihatlah api api yang bermunculan itu!" ucap Teo yang sedari tadi jantungnya berdetup kencang saat tau banyak api dan beberapa hewan liar penghuni gunung greya.


Mata Mael terbelalak saat melihat api yang belum pernah ia ketahui. "Kelihatannya... Kita tidak akan selamat jika terkena api itu. Sebaiknya kita mengurungkan niat kita," ucap Mael yang tubuhnya semakin bergetar kencang karena ketakutan.


Bahkan Teo yang biasanya tenang juga ketakutan karena melihat lingkungan gunung Greya. Ledakan tiada henti berada dalam pandangan mereka. Saat mereka setuju untuk mengurungkan niat, terdengar suara kencang yang tidak lain adalah suara Glador. "Mundur sebelum mencoba? Hahaha... Kalian akan mati jika tetap mundur." Suara keras yang membuat kelelawar dan burung gagak beterbangan karena takut akan suara Glador.


Blooommmm...


Semburan berbentuk meteor melesat dan mendarat dibelakang kedua sahabat itu. Jejak asap seperti pesawat jet yang membelah langit. Api besar yang tidak pernah mereka lihat membumi hanguskan hutan yang ada dibelakang mereka.


"Masuklah, jika kalian mundur kalian akan mati. Jika kalian tidak sampai di goa tempatku berada kalian akan mati. Tapi kalian harus melawati lingkungan gunung Greya sebagai ujian kalian. Hahaha... Jika kalian gagal, kalian juga mati yang berarti kalian tidak pantas menjadi muridku." Suara keras Glador menggetarkan lingkungan gunung Greya termasuk dada Teo dan Mael.


Mael mengernyitkan kedua alisnya dan berteriak, "hey... Kami dari awal juga tidak berniat menjadi muridmu!" Belum tuntas perkataan Mael, Glador membalas, "memang benar, tapi aku sangat memaksa. Hahaha..."


Teo dan Mael menelan ludah dan melangkahkan kaki mereka menuju goa yang sangat jauh tapi terlihat oleh penglihatan mereka. Belum satu langkah, mereka dikagetkan dengan geyser api yang tiba tiba muncul didepan mereka.


Mereka berdua terduduk kaget dan kaki mereka sangat lemas saat ledakan geyser. Baru pertama kali ini mereka berdua merasakan tekanan yang besar dalam dada mereka. Sesak nafas karena asap panas dan terkadang mereka berdua hampir kehilangan kesadaran.


"Jika tempat tinggal naga gila itu disini, kenapa dia tidak langsung menghabisi kita?" Teo menoleh kearah Mael yang masih kaget dengan geyser api.


Tanpa aba aba, Mael menggunakan langkah kilat dan diikuti Teo saat melihat Mael menggunakannya. Percikan listrik kecil yang mengelilingi tubuh sebagai tanda bahwa jurus itu akan digunakan.


Melesat bagaikan petir, detak jantung mereka semakin cepat. Bekas pijakan mereka meledak ledak menimbulakan asap api yang semakin menebal.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang sangat luar biasa, dihadapan mereka berdua muncul monter kelelawar api dan melesat mendekati mereka. Mata merah menyala berada didepan mereka berdua. Mereka dengan cepat mengeluarkan pedang dan Blammm... Tanpa perlawanan kelelawar api terbelah menjadi dua.


Muncul banyak monster, Teo dan Mael menebas mereka semua sampai akhirnya mereka berdua sampai didepan goa.


__ADS_2