
Bayangan sosok pria dalam baju perang terlihat di hadapannya, Xin Fai mencoba mengenali pria tersebut agak lama hingga akhirnya dia teringat pada seorang pria dengan siluman Serigala Malam. Beberapa saat mereka hanya bertukar pandang tanpa ada satupun yang berinisiatif memulai pembicaraan.
Zhang Bingjie lebih dulu mengeluarkan suara. "Kau sudah jauh lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu, dengan kekuatan itu bukan tidak mungkin lagi untuk mengalahkanku, bukan?"
"Kau masih di kelompok mereka-?!" Xin Fai menahan kemarahannya dalam hati, Zhang Bingjie setahunya telah berhenti dari Manusia Darah Iblis dan menjadi seorang pengelana untuk menebus dosa-dosanya. Tahu-tahu saja pria itu malah berkhianat dan justru melakukan kesalahan yang sama.
Zhang Bingjie menarik napas berat, tangan kekarnya memegang bekas tato kalajengking di dada bersama tatapan hampa. "Aku tidak bisa membiarkan tubuh ini diambil oleh iblis dalam diriku..."
Tanpa mau mendengarkan pembelaan lagi Xin Fai menarik ujung pedangnya kesal, masih tidak percaya pada lawan bicaranya yang kini beralasan seolah tidak memiliki cara lain untuk bertahan hidup.
"Jika aku tidak membunuh, tato ini akan menyiksaku. Iblis dalam tubuh ini akan menelan jiwaku, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Zhang Bingjie mengulas senyum pahit. "Aku hanya menunggu kau dewasa dan mati di tanganmu. Itu saja yang bisa kulakukan."
Terjadi keheningan mendadak di antara keduanya, Xin Fai masih memasang tatapan tajam namun tak lama dia menghunus pedang menantang Zhang Bingjie. "Bangunlah, kita akan bertarung sampai mati. Jika kau ingin mati di tanganku, maka lawanlah aku dengan seluruh kemampuanmu."
Zhang Bingjie mengangguk perlahan. Pria itu bangkit mengangkat wajah.
Langit pagi menggelap dalam sekejap saja, angin mendung datang kala pertarungan antara Xin Fai dan Zhang Bingjie dimulai. Aduan pedang yang berat dimulai dan terjadi cukup lama dalam keadaan berimbang, permainan pedang Zhang Bingjie yang semakin bagus setelah beberapa tahun terakhir, dia memang sama sekali tidak bisa diremehkan. Semakin banyak korban jiwa jatuh di tangannya semakin tajam pula pedang milik pria itu.
Selain itu pola gerakan Zhang Bingjie menjadi sangat awas, dia menyadari Xin Fai masih menyembunyikan kekuatannya dan hanya menggunakan beberapa persen kekuatan demi melihat kemampuannya. Langkah kaki Xin Fai mulai mundur sejak awal bertarung dengan Zhang Bingjie, pria itu mendesak secara terus-menerus tanpa henti.
Tidak memiliki pilihan lain Xin Fai meningkatkan kecepatan permainan pedangnya, Zhang Bingjie tertegun untuk beberapa saat namun dia masih memasang konsentrasi tinggi. Pria itu tidak sama sekali membuka celah membuat musuhnya tidak memiliki kesempatan untuk menyerang.
Di sisi lain Xin Fai tidak ingin mengeluarkan tenaga dalamnya, dia ingin menguji kemampuan berpedangnya sendiri. Kenyataannya meski telah bertarung cukup lama langkah Zhang Bingjie sama sekali tidak gentar, pria itu justru semakin kuat jika dipojokkan.
"Kau mencoba menguji kekuatanku, hm?"
"Haha bisa dibilang begitu, Paman."
Zhang Bingjie memutar pedang lalu menancapkannya ke tanah, pria itu memberhentikan pertarungan dalam seketika. "Ayunan pedangmu sudah cukup stabil, tidak ada langkah yang salah saat kau melakukannya, tapi," puji Zhang Bingjie.
"Ada tapi-nya?" Xin Fai mengembuskan napas berat, ini terasa seperti kembali ke masa kecilnya saat pertama kali bertarung dengan Zhang Bingjie. Pria itu mengajarkannya cara bertarung, memegang pedang dan bagaimana menggunakan kekuatannya.
__ADS_1
"Kau memiliki begitu banyak hal yang harus dilindungi sehingga membuat tebasan pedangmu menjadi sedikit ragu saat menyerang."
"Aku tidak akan ragu membunuh, kecuali..." Xin Fai memberhentikan laju ucapan, terdiam dalam renungannya. "Kecuali untuk orang yang sudah aku anggap dekat."
"Meskipun itu musuhmu sekalipun?"
Lantas Xin Fai mengangguk perlahan, dia agak terkecoh dengan pernyataan Zhang Bingjie sebelumnya. Selama ini hasrat membunuh dia dapatkan dari permata siluman yang bersemayam dalam tubuhnya, mungkin tanpa benda itu sudah banyak musuh yang dibiarkan hidup olehnya.
"Teman bisa menjadi musuhmu. Kepercayaan juga bisa mengkhianatimu. Begitulah yang aku pelajari selama ini, jika kau ingin melindungi semua orang jangan setengah-setengah! Kau harus bisa menentukan di posisi mana kau berada!" gertak Zhang Bingjie keras. Wajahnya terlihat yakin.
"Jika kau sudah paham cepat lawan aku."
"Baik, Paman."
Kecepatan pedang yang awalnya hanya seadanya berubah jauh lebih sengit, bilah pedang bersinar terpantul bias matahari dan hampir saja memenggal kepala Zhang Bingjie. Dia memundurkan diri mengubah strategi serangan namun Xin Fai lebih dulu menyerbu.
Ayunan pedang hendak memotong ke bawah, Zhang Bingjie menahan senjata itu menggunakan pedangnya. Betis pria itu bergetar menahan kecepatan serangan yang amat mengerikan ini, saat melihat wajah lawan akhirnya pria itu tersadar. Xin Fai benar-benar mendengarkannya dan kini serius untuk membunuhnya.
Kini situasi mulai tidak imbang seperti tadi, Zhang Bingjie bertumpu pada pedang demi bisa berdiri. Napasnya terputus-putus akibat kelelahan, tidak disadari kini markas kecil mereka mulai kehabisan anggota melawan Aliansi Pedang Suci. Tidak tersisa banyak dari Manusia Darah Iblis hanya sekitar lima belas orang.
Keadaan ini membuat Aliansi Pedang Suci berada di atas awan-awan, bahkan ketika melihat Xin Fai tengah sibuk melawan Zhang Bingjie beberapa anggota mengejar dan masuk bergabung membantu pimpinan mereka.
Xin Fai menahan salah satu anggota aliansi, dia menggelengkan kepala pelan. "Kalian tidak perlu turun tangan, biar aku sendiri yang melawannya."
"Siap, Ketua."
Enam orang mundur bersamaan masih menatap Zhang Bingjie awas, orang yang mereka tatap hanya tersenyum kecil dan mengeluarkan suara. "Tidak kusangka hari itu aku bertarung dengan seorang anak kecil yang kelak akan menjadi Pilar Pahlawan sepertimu."
"Pilar Kekaisaran, maksudmu?"
"Hahahaha... Bukan, Pilar Pahlawan itu seorang yang menjadi simbol perdamaian dunia. Meskipun nama itu aku sendiri yang membuatnya," tawa Zhang Bingjie terdengar menggelegar. Pria itu kembali serius mengeluarkan aura bertarungnya.
__ADS_1
"Aku merasa tidak cocok dengan nama itu, lagipula selama ini aku hanya membunuh orang-orang."
"Kau masih menaruh dendam pada kelompok Manusia Darah Iblis?"
"Sangat. Bahkan sampai sekarang. Paman, aku tahu ini bukan keinginanmu untuk masuk ke kelompok itu, tapi seperti yang kau bilang tadi. Jika tidak membunuh, iblis dalam dirimu akan memakan jiwamu."
Zhang Bingjie memasang wajah pasrah. "Tidak perlu segan membunuhku, aku lebih baik mati seperti ini daripada tubuhku dikendalikan oleh iblis–"
Xin Fai meletakkan pedangnya tepat di leher Zhang Bingjie membuat pria itu tersentak kaget, tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangnya.
Mata Zhang Bingjie terpejam lemah, dia masih berusaha merelakan hidupnya untuk ini semua. "Aku sudah membunuh terlalu banyak orang, kurasa dosa-dosaku ini begitu banyak dan aku tidak memiliki kesempatan untuk menebus itu semua..."
"Kalau begitu pergilah."
Zhang Bingjie memejamkan mata bersiap untuk mati, dia menunggu pedang Xin Fai memotong lehernya namun hal itu tak kunjung terjadi.
Suara pedang terdengar sesaat, Zhang Bingjie membuka mata perlahan. Dia mengernyit heran.
"Kenapa tidak membunuhku?"
"Kau ingin menebus dosa-dosamu itu bukan? Pergilah ke Kuil Teratai, mereka memiliki cara untuk menghilangkan iblis dalam tubuhmu itu."
Zhang Bingjie tersedak napasnya sendiri, dia memegang pundak Xin Fai penuh harap. "Benarkah yang kau katakan itu?"
"Aku tidak memiliki alasan untuk berbohong, Kuil Teratai tak begitu jauh dari sini. Katakan saja aku yang menyuruhmu ke sana, mereka akan menerimamu."
**
**akhir2 ini thor kehilangan mood menulis, entah knp mungkin penyebabnya karena kebanyakan nonton drama china rasanya dunia jd teralihkan wkwkw😥dahlah malah curhat. btw kemungkinan cerita ini tamat bulan depan. semua alur dan plot udh kusiapkan tgl kumpulin niat itulah yg susah, cerita ini pokoknya harus tamat deh. thx banyak buat yg masih baca&support sejauh ini, he he he♡ lupyu
see you, salam ayam sejagad 🐣**
__ADS_1