Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 297 - Pulau Es Utara VII


__ADS_3

"Tenang saja. Aku tidak semudah itu dibunuh."


Xin Fai cepat-cepat memalingkan muka ke samping, melihat seekor naga kecil berwarna sebening air tengah terbang di atas bahunya. Terlihat sangat imut.


"Aku membutuhkan waktu untuk mengumpulkan lagi kekuatanku dari tubuh asli, selagi itu bertahanlah. Jangan mengkhawatirkanku lagi."


"Baiklah, memangnya siapa yang khawatir padamu?" Dia menyela, tidak ingin membuat Naga Air salah mengartikan.


"Kau pikir aku tidak melihat bagaimana wajahmu dari tadi?"


"Kapan-kapan kita bahas. Lang!"


Seekor serigala datang dari cahaya, mengaum keras membuat Naga Es yang tengah bergerak ke arah mereka sedikit teralihkan. Dia memerhatikan serigala tersebut lamat-lamat.


"Peliharaan Qiang Jun masih hidup sampai sekarang? Sudah berapa lama, ya, sejak hari itu?" tanya sang Naga Es. "Kau dan majikanmu seperti teman lama, dan hari ini kau harus menuruti orang lain. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Qiang Jun nanti melihat peliharaan kesayangannya malah tunduk pada orang lain?"


"Justru Qiang Jun yang memintaku untuk menjaga penerusnya, dibanding itu aku lebih memprihatinkan kau. Bagaimana bisa kau hidup sendirian seperti ini, setiap tahun hanya berputar-putar seperti orang kurang kerjaan di atas langit."


"Kurang kerjaan, katamu?!"


Xin Fai dan Naga Air saling menatap. Ingin sekali menampar Lang saat mereka pulang nanti. Seharusnya dia tahu siapa yang sedang dihinanya sekarang.


"Serigala sialan! Aku tidak akan membiarkanmu hidup setelah ini!"


Saat Naga Es mulai bergerak ketiganya maju dengan kecepatan tinggi menyambut naga tersebut, mereka bertarung dengan sangat cepat dan sulit ditangkap dengan mata karena hanya terlihat seperti bayangan. Xin Fai menggunakan sedikit kekuatan rohnya untuk membuat Lang bisa terbang, serigala tersebut menyerang bagian vital sang naga.


Meskipun kecepatan lari Lang tidak bisa mengimbangi kecepatan Naga Es namun menggunakan perpindahan ruang dan kekuatan roh, mengecoh kan Naga Es bukan perkara sulit lagi. Ditambah lagi sekarang Naga Air mengganggu perhatiannya, sedikit demi sedikit cakar Lang mulai mengoyak lapisan kulit terluar sang naga yang memiliki ketebalan luar biasa tersebut.


Nyatanya di balik lapisan terluar tersebut masih terdapat dua lapisan yang ketebalannya jauh lebih gila lagi, membuka lapisan pertama saja membutuhkan usaha yang sangat keras.


Pertarungan terus berlanjut tanpa henti, awan-awan berhembus tak kenal waktu hingga akhirnya di hari ketiga sejak pertarungan besar itu berlangsung masih tidak terlihat tanda-tanda kemenangan. Naga Es masih memiliki banyak stamina untuk meladeni dua siluman dan satu manusia di tangannya.

__ADS_1


Meski mulai banyak bekas sayatan dan gores di sepanjang tubuhnya tapi itu masih lebih baik daripada Naga Air, siluman yang satu itu telah lebih dulu terluka hebat. Di sepanjang tubuhnya darah mulai mengering, kecepatan terbang dan kekuatannya pun berkurang seiring waktu.


Xin Fai memasang posisi siap serang bersama dengan Lang, napasnya terasa seperti akan berhenti. Baru sekali dalam seumur hidup dia menghadapi pertarungan sekeras ini, memakan waktu berhari-hari dan memaksa untuk tidak berhenti.


Karena situasi sekarang, berhenti bergerak sama saja seperti membiarkan diri ditikam. Kecepatan serang Naga Es memang mulai berkurang akan tetapi tak pernah melemah dengan banyak.


Mulai terdengar suara Naga Es, Xin Fai menggenggam pedangnya siap menebas andai sang Naga menyerang. Tulang-tulang di tubuhnya mulai memunculkan gejala-gejala aneh, tak terhitung sudah berapa tulang rusuknya patah dalam pertarungan.


"Kau pikir selama puluhan ribu tahun aku hidup di sini untuk apa?"


Naga Es sedikit tertawa meremehkan. "Kau tidak pernah bertanya pada Rubah Petir tentang permata kehidupannya? Kutebak orang bodoh sepertimu hanya menurut tanpa tahu apapun tentang sesuatu yang sedang kau rebut ini. Andai kau tahu dari awal, aku yakin kau setidaknya berpikir untuk dua kali sebelum datang ke sini."


"Permata kehidupan itu adalah milik Rubah Petir, aku tidak membutuhkan alasan untuk merebutnya darimu!"


"Batu permata kehidupan ini adalah kekuatan istimewa Rubah Petir, dia bisa menyimpan kekuatan siluman dengan jumlah tak terbatas. Kau tahu tak terbatas...?" Senyuman Naga Es melebar dengan bengis.


"Aku sudah tinggal di sini hampir setengah juta tahun, kau tahu artinya, kan?"


"Menyerahlah... Kalau begitu aku memiliki penawaran untukmu."


Xin Fai mengangkat wajahnya menatapi Naga Es curiga, dia yakin Naga Es pasti ingin meminta sesuatu untuk menambah kekuatannya yang sudah terlewat kuat itu. "Berikan tanda bunga api dan dua siluman ini, kau bisa pulang dengan selamat."


"Kau gila!?" Xin Fai berseru kencang. "Aku tidak akan meninggalkan mereka!"


"Sadarlah posisimu sekarang, sudah jelas tidak ada yang bisa kau perjuangkan. Tidak selamanya perjuanganmu membuahkan hasil, kau terlalu memaksakan diri, anak manusia."


"Tidak peduli dengan kata-katamu, aku akan terus melakukan apa yang menjadi tugasku." Dia bersikeras, melihat ke arah Naga Air yang mulai mendekatkan tubuhnya ke tanah. Berhenti bergerak memulihkan kekuatannya.


"Naga Air bertahanlah, aku akan melindungimu selagi kau memulihkan diri."


Napas Naga Air terdengar sangat berat, ada terlalu banyak darah menyumbat leher siluman itu.

__ADS_1


"Memulihkan tenagaku? Tubuhku sudah rusak terlalu parah, dibanding memulihkannya sampai berhari-hari lebih baik aku menggunakannya sekarang."


"Jangan, kau–"


"Setidaknya setelah ini aku merasa berguna, aku berhasil menyelamatkanmu. Itu saja sudah cukup." Naga Air teringat akan majikannya dulu, manusia itu jatuh sakit dan mati begitu saja sedangkan dirinya tak memiliki daya untuk menyelamatkannya.


"Tidak begitu caranya, masih ada cara lain. Mungkin," kata pemuda itu ragu. Terlalu banyak bertarung dia tak memiliki waktu berpikir.


"Kalau begitu bisa kau jelaskan padaku tentang rencana itu? Kurasa kau pun tidak memilikinya." Naga Air menghembuskan napasnya pelan-pelan, merasa jantungnya mulai mengalami kerusakan akibat bunga es yang menyusup di dalam tubuhnya diam-diam. Tak bisa dipungkiri dunia es ini terlalu kejam, semua bergerak atas kendali Naga Es.


Xin Fai terdiam lama, dia melihat Naga Es tengah memulihkan lukanya dengan sangat cepat, nyaris saja dia mengumpat. Luka-luka yang mereka buat selama tiga hari bisa dia sembuhkan hanya dalam satu menit.


Naga Air terbang menghampiri Naga Es, berniat membunuhnya dengan segala upaya terakhir. Dia tidak peduli dengan nyawanya lagi, Xin Fai tidak bisa keluar hidup-hidup dari Kutub Utara tanpa permata kehidupan. Untuk itu dirinya harus membukakan jalan dengan membuat naga itu terluka parah.


Xin Fai tak terima, dia mengejar Naga Air panik. "Naga Air! Kita tidak boleh gegabah! Dengan luka sebanyak itu menggores kukunya saja belum tentu bisa!"


Naga Air enggan mendengar. Dia terus bergerak.


"Kau dengar aku tidak?!"


Xin Fai masih menyerunya, bahkan Lang pun ikut mengaum. Seperti tak mengijinkannya pergi.


"Shui!"


Naga Air berhenti mendengar nama asing tersebut, dia berputar balik melihat Xin Fai tengah tersenyum kecil. "Kenapa? Nama barumu terdengar aneh, ya?"


"Nama baru?"


"Ya... Begitulah."


***

__ADS_1


__ADS_2