Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 58 - Pembunuh Bayaran II


__ADS_3

BUGHK!


Wajah wanita itu digebuk menggunakan tongkat kayu yang dialiri tenaga dalam, darah segar keluar dari mulutnya. Belum sempat menyeimbangkan tubuhnya, dalam satu gerakan Xin Fai mengarahkan tongkat ke kakinya dengan kencang.


Xin Fai mengambil paksa Lian Kaili selagi wanita itu mencoba menyeimbangkan tubuhnya, setelah berhasil mendapatkannya dia berlari menjauh kencang dengan kecepatan tinggi. Dia sadar, dengan hanya menggunakan tongkat kayu sangat tak mungkin membunuh pembunuh bayaran dengan kekuatan setara pendekar menengah sepertinya.


Sedangkan wanita itu bisa saja meminta bantuan pembunuh bayaran lain menggunakan petasan di tangannya, tentu saja hal itu akan merepotkan dirinya jika benar-benar terjadi.


Sang pembunuh bayaran tak bisa tinggal diam, dia hendak mengejar Xin Fai namun pipinya terasa terbakar oleh sesuatu. Dia mengelap pipi dan menyadari sebuah cairan serupa racun kini bersarang di pipinya yang terkena gebukan kayu tadi. Di tangannya cairan hitam pekat kini mengeluarkan asap seperti membakar kulitnya.


"Ini--?! Racun Kelabang Lima Mata?!"


Mata wanita itu sukses membelalak dibuatnya, dia terduduk lemas dan hanya menunggu waktu hingga ajal menjemputnya. Di saat-saat terakhirnya dia bisa melihat tongkat yang tadi dipakai Xin Fai bertarung telah dilumuri oleh racun.


"Hhh, aku telah kalah dengan seorang bocah yang hanya menggunakan tongkat..." Wanita itu mengeluarkan darah semakin banyak dari mulutnya, dia tergeletak di tanah dengan rasa sakit yang membakar sekujur tubuhnya. Dalam hati dia mengakui kemampuan bertarung Xin Fai tadi terbilang hebat, seharusnya dari awal dirinya tak meremehkan bocah itu.


"Tak kusangka kematianku akan sekonyol ini..."


***


Kabar penculikan putri Kaili telah menyebar dengan cepat di seluruh Kota Houbi dan kini ratusan prajurit digerakkan secara bersamaan. Kepanikan itu menimbulkan suasana kota Houbi gaduh bukan main.


Lian Sheng mengarahkan kuda yang ditungganginya tak tentu arah, pengawalnya sama sekali tak memberikan kabar baik padanya sejak tadi. Mereka kehilangan jejak Xin Fai dan pembunuh bayaran itu.


Ada satu penduduk yang memberikan informasi pada Lian Sheng, dia mengatakan bahwa tadi terjadi aksi kejar-kejaran di sepanjang jalan utama Kota Houbi.


Tak berpikir terlalu lama lagi Lian Sheng segera menggerakkan pasukan ke tempat yang dimaksud penduduk itu, dia bergerak secepat mungkin memacu kudanya.


Sepanjang jalan mereka terus saja menjadi objek perhatian, ditambah lagi wajah ketakutan Lian Sheng yang kini nampak sangat jelas. Setelah agak lama memacu kuda akhirnya mereka berhenti di tempat yang terbilang jauh dari keramaian.

__ADS_1


Lian Sheng memutar pandangan ke seluruh penjuru beberapa kali hingga di penghujung jalan sana dia menemukan seorang bocah dengan tubuh bermandikan darah tengah menggendong putri kesayangannya.


"Fai'er! Apa yang terjadi denganmu?!" panik Lian Sheng turun dari kudanya, dia menatapi Xin Fai khawatir.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya Paman Sheng segera membawa putri Kaili ke tempat yang aman. Aku akan kembali ke penginapan untuk menyembuhkan lukaku."


"Tidak, tidak. Kita akan kembali ke rumahku, di sana ada tabib yang akan mengobati lukamu."


Tanpa menunggu persetujuan Xin Fai lagi, Lian Sheng membawanya kembali. Sebisa mungkin Xin Fai mengobati tubuhnya menggunakan tenaga dalam, perlahan-lahan dia mulai mengerti cara mengobati lukanya sendiri tanpa diajari oleh siapapun.


Sesampainya di kediaman keluarga Lian, Lian Sheng segera mencari tabib untuk mengobati Xin Fai. Dengan segera tabib handal datang ke arah anak itu, dia mengobati Xin Fai segera.


Perlahan wajah tabib yang mengobatinya berangsur buruk, dia mundur beberapa langkah saat mencoba mengobatinya.


"Apa-apaan ini?" Tabib itu mundur beberapa langkah membuat Lian Sheng bingung. Xin Fai mengerutkan alisnya dalam. "Ketika aku mengobati anak ini justru tenaga dalam bersama energi kehidupanku diserap olehnya."


"Aku sama sekali tidak menyerap energi kehidupanmu, jangan menuduhku sembarangan."


"Memang bukan kau. Tapi seseorang yang ada di dalam tubuhmu itu... Dia," ujar tabib itu menggelengkan kepalanya. "Dia sangat mengerikan. Aku tak bisa mengobatimu lagi, kalian bisa mencari tabib lain selain aku."


Tabib itu mendadak mengundurkan diri sampai membuat Lian Sheng sangat marah, kelakuan tabib itu sangat menguras emosi Lian Sheng namun mau bagaimana lagi dia sudah pergi begitu saja.


Meskipun masih memikirkan ucapan tabib itu Lian Sheng tak mempermasalahkannya terlalu jauh, karena pikirannya kini fokus dengan luka di pundak Xin Fai.


"Sudahlah paman, aku bisa mengobati diriku sendiri."


Lian Sheng menghela napas kecil. "Aku sungguh meminta maaf sama sekali tak bisa membantu mengobati lukamu itu, padahal kau sudah menyelamatkan putriku dua kali. Jika seandainya kau tidak di sini, aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti."


Meskipun sama sekali tak keberatan melakukannya tetap saja Lian Sheng sungkan.

__ADS_1


"Melihat kau menyelamatkan anakku dua kali aku semakin ingin menjadikanmu anak angkatku..."


Awalnya Xin Fai sangka Lian Sheng hanya bercanda ingin menjadikannya anak angkat namun nampaknya dia serius dengan perkataannya.


"Paman, tidak usah. Aku sama sekali tidak pantas menerimanya," kilah Xin Fai. Lagi-lagi dia dihadapkan pada situasi begini, ditambah lagi dengan luka di pundaknya membuat Xin Fai sangat tersiksa baik secara batin maupun fisik.


"Bukankah tawaranku ini menarik? Dengan menjadi keluarga bangsawan kau akan menjadi orang terpandang dan memiliki akses mudah ketika ingin berpergian ke manapun kau suka..."


Lian Sheng tetap mendapatkan respon minim dari Xin Fai, anak itu tak begitu tertarik dengan yang ditawarkannya. Sangat jarang dirinya menemukan orang seperti Xin Fai yang sama sekali tak tergiur dengan tawarannya.


"Paman Sheng, aku menyelamatkan putri Kaili karena aku merasa bertanggung jawab."


Lian Sheng tersenyum lemah, dia sudah tahu jika Xin Fai memang memiliki sifat yang sangat baik. Kebaikannya sungguh membuatnya begitu tersentuh, melihat Xin Fai rela bertaruh nyawa demi putrinya tentu membuat Lian Sheng begitu menghormatinya.


"Baiklah jika itu maumu, aku takkan memaksamu untuk menerima permintaanku. Tapi setidaknya bawalah ini bersamamu, siapa tahu bisa berguna suatu saat nanti." Lian Sheng mengeluarkan kembali medali yang sempat ditawarkannya.


Kali ini Xin Fai tak sampai hati menolaknya lagi, dia menerimanya dengan senang hati.


Setelah agak lama berbincang Xin Fai berniat pulang untuk memulihkan keadaannya namun Lian Sheng lebih dulu mencegah.


"Tunggu sebentar, aku ingin memberimu sesuatu."


Beberapa saat setelahnya seorang pelayan membawa satu kantong koin emas serta beberapa barang berharga lainnya, juga terdapat pil, ramuan serta obat-obatan di sana yang membuat Xin Fai menatap tak percaya.


Dengan sekantong keping emas itu saja dia sudah menjadi saudagar kaya apalagi dengan beberapa hadiah lainnya.


Xin Fai bersorak dalam hatinya. "Akhirnya aku jadi saudagar kaya, Ayah! Hahahaha!"


***

__ADS_1


__ADS_2