Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 164 - Misi Penyusupan II


__ADS_3

"Begitu ya?"


"Aku yakin kau pasti memiliki alasan lain bukan? Sudahlah saudara muda, tidak perlu segan begitu. Siapa tahu setelah ini kita akan menjadi kawan satu tim."


Xin Fai berusaha tersenyum. "Kalau kubilang aku datang ke sini untuk membunuh bagaimana?"


"Wooh! Kau benar-benar pemuda yang tidak biasa, sangat ambisius dan haus darah!"


Tatapan semua orang di tenda besar itu tertuju padanya, Xin Fai menelan ludah menahan rasa canggung. Pria di depannya ini tentu saja tidak mengerti maksud perkataannya.


"Sudahlah lupakan saja."


**


Esok harinya ketika matahari baru saja terbit sebuah bunyi ledakan menggelegar terdengar begitu keras, Xin Fai yang baru saja terbangun segera memasang sikap siaga.


Sejak semalam anggota Manusia Darah Iblis yang menjadi penanggung jawab dalam perekrutan ini telah menyiapkan bangunan berukuran besar yang cukup menampung ratusan orang untuk menginap, terdapat beberapa kamar yang di dalamnya bisa diisi oleh lima belas peserta setiap kamarnya.


Di lorong utama terdengar suara lantang seorang pria.


"Bangun! Bangun! Tahap pertama baru saja dimulai!"


Kontan saja pernyataan tersebut membuat yang lain panik, mereka segera turun dari ranjang dan bersiap-siap.


"Tahap pertama dalam seleksi ini, lima puluh orang yang berhasil keluar dari bangunan ini dinyatakan lolos!"


Semua orang panik dan segera keluar dari kamar setelah mendengar teriakan di lorong utama dan menyadari kurang lebih lima puluh pembunuh telah disiapkan. "Dan yang tidak bisa lolos dari tempat ini dipastikan akan mati!"


Kegaduhan yang terjadi di sekitarnya membuat Xin Fai tidak bisa bergerak jika tidak ingin ditabrak, dia menunggu giliran terakhir kemudian berjalan santai membuat pembunuh yang telah disiapkan kelompok itu merasa tertantang.

__ADS_1


"Kulihat kau seperti tidak sayang dengan nyawamu sendiri?" Seorang pendekar besar menghunuskan pedangnya hingga mata pedang tersebut berada tepat di dagu Xin Fai.


"Apa aku harus berlari sambil menjerit-jerit seperti mereka juga? Dengan itupun belum tentu aku bisa keluar dari sini, kan?"


"Hm...? Sepertinya kau sudah menyadari sesuatu?"


Xin Fai menarik pedangnya cepat, dia melakukan penyerangan secara mendadak. Melihat itu para pendaftar lain tidak habis pikir dibuatnya. Dibanding melawan para pembunuh ini mereka lebih memilih mencari pintu keluar namun sayangnya setiap pintu di tempat ini dijaga oleh pendekar besar.


"Sebelum ke sini aku sudah cukup curiga dengan lima puluh pintu yang kalian siapkan, dan malam tadi aku juga sempat berjalan-jalan sebentar. Kulihat kalian mengunci semua pintu keluar agar kami tidak melarikan diri."


Pendekar itu menahan pedang Xin Fai yang melaju seperti sambaran kilat, bunga api bahkan hampir mengenai matanya.


Xin Fai menambah sedikit. "Jika dari ratusan orang hanya lima puluh orang yang diterima maka setiap pintu itu pasti hanya bisa dilewati oleh satu orang, bukan?" Dia menunjuk ke arah lawannya. "Dan kunci pintu itu ada di setiap pembunuh seperti kalian. Dalam artian lain kami harus membunuh kalian jika ingin selamat dari sini."


Sebuah tepukan tangan terdengar di belakang Xin Fai, dia mendengar tapak kaki tersebut mendekat pelan ke arahnya. "Penalaran yang bagus sekali, aku cukup terkejut setelah sekian lama tidak ada peserta yang bisa melihat tujuan kelompok ini. Yaitu, saling membunuh untuk bertahan hidup. Bukannya sederhana?"


Para peserta lain yang sempat mendengarnya mulai ragu, sejak tadi mereka mencoba membuka pintu bahkan hingga mendobraknya namun pintu itu dibuat dengan bahan khusus hingga tidak mudah diterobos. Pilihan satu-satunya adalah mendapatkan kunci pintu tersebut dari tangan para pendekar besar.


Sedangkan Xin Fai tidak memedulikan omongan pria tersebut dan justru menghabisi lawannya dalam sekejap mata, tidak ada yang berani bernapas saat Xin Fai memotong tubuh lawannya semudah itu. Sedikitpun rasa belas kasihan juga tidak terlihat di wajahnya.


Setelah berhasil mendapatkan kunci dari jasad lawannya seorang pendekar datang mendekat, dia mengambil kunci dengan urutan nomor 14 lalu beranjak menuju pintu dengan nomor yang sama, di saat itu pula Xin Fai telah berhasil melewati tahap pertama dan keluar dari sana paling awal. Pendekar itu segera mengunci kembali pintu tersebut agar peserta lain tidak bisa melarikan diri.


Yang lainnya tidak mau kalah, ketika mengetahui bagaimana cara keluar dari tempat ini mereka memutuskan untuk saling membunuh, namun para pendekar yang disediakan Manusia Darah Iblis bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah pendekar yang telah dilatih membunuh beberapa tahun serta didukung oleh pengalaman yang mumpuni.


Namun di hadapan Xin Fai pendekar itu seperti tidak ada harganya, orang yang menjadi atasan di tempat ini memerhatikan tubuh anggotanya yang telah terpotong. Pria bernama Gao Lan si petinggi Manusia Darah Iblis ke-12 itu memasang wajah gelisah.


"Sepertinya dia sangat berbahaya, untuk berjaga-jaga aku harus memanggil si nomor lima dan enam jika saja dugaan ku kali ini benar..." Gao Lan melipat kedua tangannya ke belakang, pertumpahan darah yang terjadi di belakangnya terus berlanjut hingga akhirnya satu demi satu peserta lolos.


Di sisi lain pendekar yang dipekerjakan Manusia Darah Iblis juga tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja, mereka membunuh dan terus membunuh seperti kesetanan membuat para peserta mundur ketakutan.

__ADS_1


"Apa ada di antara kalian yang ingin mengundurkan diri!?"


Seketika teriakan menyahut di tengah-tengah kekacauan itu, mereka berebut ingin selamat dari maut. Rupanya iming-iming yang didengar selama ini tidak sepenuhnya benar, jika saja mereka tahu pemilihan anggota tidak semengerikan ini tentu orang-orang biasa seperti mereka tidak akan nekat datang kemari.


"Kalau begitu kalian harus membayar seribu keping emas untuk setiap satu nyawa yang ditukar! Tidak ada negosiasi! Siapapun yang masih ingin hidup harus memberikan emas tersebut dan bisa bebas dari tempat ini sekarang juga."


Di luar bangunan Xin Fai dapat mendengar jelas apa yang terjadi di dalam, dia bergerutu kesal. "Pantas saja mereka mudah sekali mengumpulkan dana, ini sama seperti merampok. Si tua Liu Fengying itu ternyata sangat licik."


Lima orang yang berhasil selamat segera meninggalkan markas besar yang terletak di hutan belantara ini, mereka lari pontang-panting tidak sanggup menengok ke belakang lagi.


Xin Fai dapat membayangkan bagaimana Xu Ming melarikan diri dulu, mungkin nasibnya sama seperti lima orang itu. Orang biasa seperti mereka tidak akan bisa bergabung tanpa ilmu bela diri yang cukup, kecuali jika benar-benar beruntung atau setidaknya memiliki relasi yang kuat dengan para petinggi Manusia Darah Iblis.


Tiga jam menunggu akhirnya tahap pertama selesai disambung dengan tahap berikutnya tanpa beristirahat. Mereka yang baru saja berhasil keluar terpaksa mengikutinya dengan tubuh dipenuhi luka.


Tak lama Gao Lan berhenti ketika mereka sampai di sebuah bangunan lain, seperti sebuah ruangan kosong dengan bentuk persegi panjang yang begitu luas. Mereka masuk beriringan ke tempat itu. Sedangkan Gao Lan dan juga anggotanya yang lain menonton di lantai kedua.


"Di tahap kedua ini peraturannya sangat sederhana, kalian hanya harus saling membunuh dan menyisakan 25 orang sebelum tiga puluh menit atau kalian semua akan gugur."


Tentu saja makna kata 'gugur' ini sama saja dengan mati. Mereka menarik senjata sesegera mungkin sebelum Gao Lan menyatakan pertarungan dimulai. Tidak ada cara lain selain membunuh untuk terus bertahan hidup di tempat keji ini.


**


**buat yang terus nanya: Xin Fai kapan sembuhnya? kenapa gak ganti judul jadi Pendekar buta aja? well, kalau bukan karena masih ada readers yg sabar menunggu dan gak komplain ini itu aku udh gak lanjutin cerita ini lagi.


3 atau 4 chapter ke depan Xin Fai udh bisa melihat, jd gak perlu komen dgn kata2 menjatuhkan kaya gtu karena setiap author pasti punya alasan sendiri untuk ceritanya🤗 krisar yg membangun(bukan menjatuhkan) aku terima dgn senang hati, kalo ada kesilapan/typo juga langsung aku perbaiki kok wkwkk


btw terimakasih buat yg udah dukung sejauh ini, dukungan sekecil apapun dari kalian sangat berharga buatku😄tingkiu<3


salam ayam🐣**

__ADS_1


__ADS_2