Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 52 - Pedagang Sombong


__ADS_3

Selama perjalanan Lian Kaili terus saja merengek membuat Xin Fai kewalahan siang malam. Lima hari setelah itu mereka sampai di suatu kota yang ramai dengan penduduk, Xin Fai memperhatikan di sekitarnya yang dipenuhi oleh keluarga bangsawan.


Dia bertanya kepada salah seorang penduduk dan penduduk itu mengatakan bahwa kota tersebut sedang kedatangan banyak bangsawan atas suatu sebab. Namun tak banyak orang yang mengetahui penyebabnya, menimbulkan gosip-gosip aneh menyebar di sepanjang jalan.


Kereta berkuda lewat begitu saja di hadapan Xin Fai, dia menepi mengikuti yang lain untuk memberikan ruang kepada pasukan berkuda lewat. Bisik-bisik terjadi di sekitarnya, siang itu keadaan kota sangat ramai dan gaduh karena sudah ke berapa kalinya kereta kuda seperti ini lewat.


Xin Fai tak ambil pusing dengan keadaan kota asing ini, dia bertanya pada orang-orang dan mereka mengatakan bahwa dirinya sedang berada di kota Houbi. Kota dengan tingkat kesejahteraan cukup tinggi, tak heran mengapa saat dia hendak memesan kamar harga yang ditawarkan sangat tinggi.


Langit masih terik dengan penduduk yang terus beramai-ramai di sepanjang kota, setelah Xin Fai menidurkan Lian Kaili ia beranjak pergi untuk membeli susu sekaligus peralatan bayi.


Banyak barang berjejer rapi ditawarkan oleh seorang pedagang, mulai dari batu yang dianggap bisa meningkatkan kemampuan, kipas dari kulit siluman dan pernak-pernik mahal lainnya.


Xin Fai meneliti barang-barang tersebut dan memegangnya, namun pedagang tersebut menepis tangannya secara kasar.


"Pergi kau!"


"Hah?!" Wajah Xin Fai terkejut dibuatnya, dia sangat tersinggung diperlakukan begitu. Walau bagaimanapun Xin Fai adalah pembeli seharusnya pedagang itu memberi muka padanya.


"Bocah sepertimu pasti ingin mencuri barang daganganku, kan?! Kalau kau tak punya uang lebih baik kau pulang ke rumahmu saja sana!" Suara menggelegar pria itu mampu menarik seluruh perhatian di sana.


Orang-orang menatap Xin Fai miris, membuat anak itu kesal. Dia memang tidak membawa apa-apa selain koin emas dalam sakunya, pedang dan tasnya ia titipkan di penginapan karena berat membawa barang itu ke mana-mana apalagi dengan tubuh kecilnya.


Pakaian Xin Fai pun terbilang sederhana. Jadi tentu saja orang akan menganggapnya bocah pencuri mengingat barang-barang yang diperjualbelikan pedagang itu berkisar puluhan keping emas.


"Aku datang ke sini bukan untuk mencuri asal kau tahu," marah Xin Fai menukikan alisnya. Ia memutar pandangannya dan masih diperhatikan oleh orang-orang dengan penasaran.

__ADS_1


"Kalau bukan mencuri kau pasti mau meminta-minta, sudahlah! Aku sudah muak mengasihani anak gembel sepertimu! Pergi kau dari tempatku dengan segera!"


Pria itu menyeret tubuh Xin Fai kasar, sampai membuatnya hampir terjatuh. Xin Fai memprotes keras.


"Sudah kubilang aku bukan pencuri, apa telingamu tinggal di rumah?!"


"Berani sekali mulutmu bocah!"


Plakkk!


Tamparan mendarat mulus di pipi Xin Fai, lambat laun pipi putihnya memerah akibat tamparan itu. Xin Fai memegang pipinya dengan tatapan bengis.


"Hanya dengan harta segitu kau sudah sombong?!"


Xin Fai naik pitam, jiwa labilnya ingin sekali mengobrak-abrik barang dagangan di depannya. Dia sudah hafal, orang-orang dengan uang banyak seperti pedagang ini kerap kali berbuat semena-mena dan menganggap orang miskin sebagai sampah.


"Apalagi yang kau tunggu, hah?! Oh, aku tahu." Pria itu memamerkan isi kantong berisi ratusan keping emas. Dia menikmati tatapan takjub orang sekitarnya karena menurut mereka jumlah itu sangatlah banyak.


Pria itu melemparkan dua keping emas tepat di muka Xin Fai.


"Kau pasti menunggu aku memberi koin emas, kan? Aku sudah tahu siasatmu ini, jangan memasang wajah marah seperti itu. Orang rendahan sepertimu hanya memikirkan uang pastinya, hahahaha!"


Mendengar kata rendahan semakin membakar emosi Xin Fai, perkataan lelaki itu seperti minyak yang siap membakar api. Beberapa pedagang kaya di samping pria itu pun ikut tertawa membuat Xin Fai merasa terhina.


Namun tawaan mereka berhenti sejenak saat merasakan angin berembus kencang, angin tersebut berasal dari hadapan mereka.

__ADS_1


Saat mengangkat wajah untuk melihat Xin Fai lebih jelas pedagang itu dibuat ketakutan, orang-orang yang sebelumnya berdiri di samping Xin Fai mundur beberapa langkah mencoba menghindar karena anak itu seperti ingin mengamuk.


Pisau emas bercahaya bergerak dengan kecepatan tinggi di seluruh tubuh Xin Fai menimbulkan angin kencang, sedikit aura merah dari permata siluman tikus keluar bersamaan dengan pisau cahaya tersebut.


Semua orang menelan ludah ketakutan, pedagang yang menghina Xin Fai tadi banjir keringat dingin dibuatnya. Matanya melotot, tubuhnya lemas seperti tak bertulang lagi.


Aura merah yang keluar dari tubuh Xin Fai menjadi hawa pembunuh yang mematikan, siapapun yang berada di dekatnya akan langsung ketakutan tanpa alasan. Bahkan seorang anak kecil sampai menangis ketika merasakan aura itu.


"Siapa yang kau bilang rendahan tadi?"


Xin Fai bersuara pelan namun mengancam, dia setidaknya harus memberi pelajaran pada pedagang ini agar tak semena-mena pada orang miskin.


"Ma-ma-maafkan aku Tuan Pendekar! Aku telah salah menilai Anda!" Pedagang itu berlutut memohon ampunan. Dia tidak perduli lagi orang yang di hadapannya adalah bocah atau bukan, nyawanya seketika terancam saat merasakan aura merah itu.


"Tarik lagi kata-katamu." Xin Fai memerhatikan ke bawah dingin, di bawahnya sang pedagang terus meminta maaf padanya.


"Aku menarik lagi kata-kataku! Maafkan aku, kau bisa menamparku sekarang tapi tolong jangan ambil nyawaku," pinta lelaki itu seperti hendak menangisi perbuatannya.


Sebenarnya Xin Fai tak begitu peduli dengan tamparan pria itu, namun kata rendahan tadilah yang membuatnya sangat marah. Kata-kata itu mengingatkannya pada seorang bangsawan yang dulu menghina ayahnya di depan semua orang.


Xin Fai mengeluarkan sepuluh keping emas dengan mudahnya. Jumlah yang pastinya membuat siapapun pasti akan menggelengkan kepala takjub.


"Dengan uang itu seharusnya kau bisa menjaga mulutmu agar tak semena-mena dengan orang miskin. Jika suatu saat kulihat kau masih seperti ini, mungkin aku akan langsung membunuh istri dan anak-anakmu."


Ancaman dan puluhan keping emas itu membuat sang pedagang takut. Ketika hendak menolak puluhan keping emas itu ternyata Xin Fai sudah pergi dan menghilang di antara keramaian.

__ADS_1


Pedagang itu terduduk lemas di tanah, dia masih tak percaya. Kehilangan kata-katanya, bahkan kesombongannya tadi tak tersisa sedikitpun lagi di wajahnya.


__ADS_2