Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Memulai Petualangan 2


__ADS_3

Melihat Teo yang diselimuti aura iblis, Glador langsung menyerang Teo dengan semburan api. Teo dengan mengibaskan tangannya menahan api Glador.


"Sudah kubilang jangan ganggu Mael yang sedang tidur!!!" ucap Teo dengan muka yang sangat murka.


Teo menggunakan langkah kilat dan memukul kepala Glador, hingga kepalanya membentur tanah.


"He iblis, kau punya senjata?" Tanya Teo pada iblis yang ada dalam tubuhnya.


Iblis itu tertawa dan menjawab, "aku tidak memiliki senjata, tapi aku merasakan senjata yang ada cocok untukmu. Buka tanganmu!!! aku akan mencoba memanggil pedang itu"


Teo membuka telapak tangannya dan terjadilah gempa diseluruh negeri Braga. Pedang yang selama ini berada disinggahsana Raja tercabut dan sangat cepat menuju ke arah Teo berada.


Dari kejauhan Raja Eden yang melihat pertarungan itu, melihat penghalang yang ada di negara braga menghilang.


"Hahahaha.... Aku tidak percaya bahwa Glador berhasil menghilangkan penghalang itu. Aku akan kembali ke broga dan segera menyiapkan pasukan untuk menyerang negera sialan itu." Batin Raja Eden dan segera terbang menuju negara Broga.


Di Braga terjadi kekacauan akibat gempa itu. Raja Erick segera memerintahkan bawahannya untuk mencari tau apa yang terjadi, dan memerintahkan agar mengikuti kemana pedang hitam itu pergi. "Cari tau apa yang terjadi dan kemana pedang itu pergi," perintah Raja Erick kepada Leo yang saat itu ada didepannya.


Teo langsung memegang dengan kuat begitu pedang hitam berada didepannya.


Melihat pedang itu, Teo melihat dengan kagum pedang yang ia pegang. Pedang hitam yang memancarkan aura hitam. "Aku tidak tau pedang apa ini, tapi aku akan mengalahkanmu Glador," Teo melihat Glador yang mulai bangkit.


Glador tau Teo memancarkan aura iblis. Tapi ia tidak tau sama sekali akan pedang hitam yang dipegang oleh Teo.


Teo menebaskan pedang itu dengan jurus pedangnya, akan tetapi bukan angin yang keluar dari tebasan. Melainkan aura hitam yang keluar dari pedangnya.


Glador tidak ingin terkena serangan Teo dan menghindarinya. Aura hitam yang berhasil dihindari Glador meluluh lantakkan area sekitar tebasan Teo.


"Cukup anak muda!" ucap kakek kakek yang harusnya menjadi wasit dipertarungan itu.


Kakek itu memegang kepala Teo dan membuat Teo tidak sadarkan diri seketika.

__ADS_1


"Kau.... Pertapa sialan!" Ucap iblis.


"Diamlah kau iblis jahanam!" Balas kakek itu dan langsung menatap Glador.


Kakek itu mendekati Glador dan berucap, "Glador, apa kau tidak sadar aku siapa. Aku adalah Gradas, sahabatmu."


Glador yang menyadari bahwa kakek itu adalah sahabatnya, ia segera berubah kebentuk manusia. Glador mendekati Gradas dan mengamatinya dari dekat.


"Apa yang kau lakukan disini Gradas?" Tanya Glador dan segera berjabat tangan dengan Gradas.


Gradas dengan senyum keriputnya meraih jabatan sahabatnya, "aku disini untuk menghentikanmu. Sepertinya kau telah ditipu oleh Raja Eden."


"Apa? jadi berita itu tidak benar. Lalu untuk apa aku bertarung dengan kedua anak itu. Sial, aku akan memburu Raja itu," gerutu Glador.


"Tolong, berikan darahmu pada anak muda yang kau buat sekarat!" Permohonan Gradas yang membuat Glador tidak percaya akan kata kata yang keluar dari mulut Gradas.


Glador terus berfikir dan menjawab, "kau pernah melarangku memberikan darah ke makhluk hidup saat aku berhasil ke tingkat raja. Tapi sekarang kau menyuruhku untuk memberikan darahku. Jelaskan kenapa aku harus memberikannya."


Gradas menjalaskan bahwa jika Mael mati, Teo akan seterusnya marah dan tidak bisa membuat kekuatan dunia seimbang. Ia juga menjelaskan bahwa ramalan itu akan terjadi, dan Teo adalah anak yang dimaksud didalam ramalan itu.


Darah yang mengucur diarahkan kemulut Mael dan seketika Mael membuka matanya.


"Hey anak manusia, aku tertarik denganmu dan sahabatmu. Datanglah ke gunung Greya, aku akan menjadi guru kalian!" ujar Glador kepada Mael yang tidak tau apa yang terjadi.


Setelah ucapan Glador, Gradas berucap. "Aku menunggu hasil dari mereka berlatih denganmu," dan segera menghilang dari hadapan Glador.


"Seperti biasa, ia tidak pernah mau berlatih tanding denganku dan langsung menghindar sebelum aku memintanya. Masa bodoh, aku akan kembali sekarang," batin Glador dan langsung meninggalkan kedua sahabat itu.


Braaaakkk...


"Itu adalah cakarku. Buatlah pedang dari cakar itu!!! aku tidak ingin salah satu muridku tertinggal dari muridku yang satunya," ucap Glador yang semakin jauh dari pandangan Mael.

__ADS_1


Mael yang baru saja terbangun melihat sahabatnya tergeletak. Ia segera mendekati sahabatnya dan mencoba membangunkan Teo.


"Hey, sob. Bangunlah!!! Apa kita menang?" Ucap Mael sembari menampar Teo dengan pelan.


Teo mulai membuka matanya dan memegang kepalanya yang sangat pusing. Melihat sahabatnya Mael tidak apa apa, Teo memeluk Mael sangat erat dan meneteskan air matanya lagi.


"Hey, sob. Sampai kapan kau akan memeluku? Aku masih normal. Kalau kau sudah tidak normal cari orang lain!!!" Perkataan Mael membuat Teo melepas pelukannya dan mendorongnya.


Teo berdiri dan berucap, "aku masih normal somplak. Apa yang terjadi? tapi untunglah kau masih hidup." Dengan wajah datar seperti biasanya.


Mael secara tidak sengaja melihat pedang hitam yang ada didekat Teo. Pada akhirnya Mael sadar akan perkataan Glador yang memerintahkan untuk membuat pedang dari cakarnya.


"Hey sob. Glador memerintahkan untuk mendatanginya di gunung Greya. Dan memerintahkanku untuk membuat pedang dari cakarnya. Mungkin karena kau memiliki pedang hitam itu," jelas Mael pada Teo yang juga bingung dengan pedang hitam yang ia gunakan.


Leo yang mencari keberadaan pedang hitam melihat Teo dan Mael serta pedang hitam segera menemui mereka berdua.


"Kalian berdua!!! Apa yang terjadi? Cepat jelaskan!" Teriak Leo pada dua muridnya.


Teo segera menjelaskan apa yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa Glador menyerang kota hingga ia menggunakan pedang hitam itu. Sementara Mael melanjutkan cerita mereka diangkat menjadi murid Glador.


Dengan memegang dagunya, Leo berfikir. "Hem... begitu rupanya. Pedang hitam itu selama 19 tahun lebih tidak ada yang bisa mencabutnya. Tapi Teo malah bisa memanggil dan memakainya. Kesimpulannya, itu adalah pedang yang disiapkan Dewa untuk Teo."


"Baiklah, kalian berdua pergilah ke gunung Greya. Tapi jangan buang sifat kemanusiaan kalian. Jika kalian membuangnya, aku akan menghancurkan kalian berdua." Leo memegang pundak kedua muridnya dan memasang senyum yang sangat menyeramkan.


Mendengar ucapan Leo. Teo dan Mael langsung merinding dan serentak berucap, "SIAP BOSSS." Sembari memberi hormat pada gurunya.


Leo kembali ke ibu kota braga dan menyampaikan bahwa pedang hitam telah hilang. Ia berbohong kepada Raja dan membuat pendapat bahwa pedang itu mungkin telah diambil oleh pemiliknya.


Teo dan Mael kembali ke hutan Garo dan segera membuat pedang. Tanpa tau itu adalah cakar naga legendaris dan Mael yang sekarang menjadi abadi.


JANGAN LUPA LIKE KALAU SUKA!!!

__ADS_1


LIKE MEMBERI PENULIS SEMANGAT DAN IDE BARU.


KOMEN JUGA BISA, AGAR PENULIS BISA BELAJAR DAN MENGEMBANGKAN JALAN CERITA!!!


__ADS_2