
Lien Hua dibawa masuk ke dalam rumah atas saran Chuan Gui, lelaki sepuh itu berdiri di belakang Lien Hua mulai mengobati lukanya menggunakan tenaga dalam.
Sedangkan Lan An sendiri tak melepaskan pandangan dari Xin Fai, banyak pertanyaan yang ingin diutarakannya tentang kekuatan misterius yang Xin Fai miliki.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Xin Fai akhirnya, dia bersikap canggung sedari tadi akibat tatapan Lan An.
"Ahahahah, tidak," tawa Lan An. Dia menggaruk telinganya. "Aku ingin bertanya sesuatu, tapi katamu kemarin kau akan memberiku jawaban suatu saat nanti."
Xin Fai tersenyum mendengarnya.
"Apa aku boleh bertanya satu hal saja, tentang Jurus Seribu Roh yang tadi kau pakai? Bagaimana kau bisa menguasainya secepat itu?"
Sebenarnya Xin Fai juga penasaran dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulut Lan An. Dia berpikir sebentar karena susah menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya.
"Aku sudah belajar sedikit tekniknya saat melihat gerakanmu. Selebihnya aku belajar sendiri di kitab ini. Aku tidak tahu mengapa, tapi seluruh isi kitab ini bisa kupahami dengan mudah. Padahal sebelumnya aku butuh waktu sampai sebulan untuk berlatih Langkah Angin saja."
Mempelajari Langkah Angin dalam waktu sebulan saja cukup membuat Lan An terpana, dia menggelengkan kepala tak percaya.
"Selain roh dalam kitab itu menyukainya, dia juga memiliki kekuatan misterius lainnya." Batin Lan An menarik kesimpulan, dia mengangkat wajahnya sembari menatap Xin Fai.
"Hei, apa aku boleh tahu kenapa banyak terjadi pembunuhan di sekitar sini?"
"Pembunuhan?"
Di malam sebelumnya Xin Fai sempat dibuat curiga ketika melihat dua orang pendekar yang kemungkinan besar adalah orang-orang dari Kemangi Lima Daun. Gerak-gerik mereka sangat was-was namun Xin Fai tak menemukan kejanggalan apapun setelah menunggu beberapa lama. Dan ketika esok paginya, terdengar kabar pembunuhan tepat di rumah itu.
"Iya, kemarin aku dengar ada satu keluarga juga yang terbunuh secara misterius. Dan hari ini keluargamu. Sebenarnya apa yang sedang dicari oleh Kemangi Lima Daun?"
Lan An kembali mengingat mustika milik ibunya yang hilang, wajahnya berangsur lesu sehingga membuat Xin Fai khawatir.
"Apakah itu berhubungan dengan mustika ini?"
__ADS_1
Lan An memerhatikan Mustika Musim Semi di tangan Xin Fai, matanya melebar dengan senang. "Benar sekali, adik kecil! Kau memang penyelamat!"
Lan An memeluk Xin Fai erat, dia amat berterimakasih mustika itu masih aman dan berada di tangan Xin Fai.
"Aku menemukan itu terselip di Kitab Tujuh Kunci, maka dari itu aku kembali ke sini. Aku tahu itu penting bagimu."
"Mereka sedang mengincar Mustika 7 Musim ini, dengan membunuh semua orang yang mereka curigai. Syukurlah adik kecil, kau datang di saat yang tepat tadi."
Lan An memerhatikan mustika itu dengan sumringah, dia bersyukur Xin Fai tidak tahu menahu tentang mustika itu. Jika dijual saja, harga mustika itu bisa dipakai untuk hidup sepuluh tahun.
"Sekali lagi aku berterimakasih padamu adik kecil."
Chuan Gui telah selesai mengobati Lien Hua, wanita itu dibaringkan untuk memulihkan kondisinya.
"Aku harus bergegas pergi," ucap Xin Fai kala mendengar auman serigala dari depan rumah. Tampaknya Lang sudah kebosanan menunggu di luar sana.
"Tidak bisakah kau melanjutkan besok? Kau bisa tidur di rumahku dulu," bujuk Lan An. Dia berdiri menyusul Xin Fai di depan pintu.
"Kakak An," Xin Fai menepuk pundaknya. "Kau tidak bisa berlama-lama di sini. Kemungkinan mereka akan mengirim pasukan yang lebih banyak lagi. Dan aku tidak yakin kita bisa melawan mereka semua."
Chuan Gui berpendapat yang sama seperti halnya Xin Fai. "Sebaiknya kau dan Ibumu segera ikut dengan pasukan kami. Aku akan menyiapkan keberangkatanmu."
"Baiklah..." Lan An pasrah mendengarnya. Saat hendak melangkah lebih jauh, suara Lien Hua terdengar memberhentikan langkah kaki Xin Fai.
"Fai'er..."
Xin Fai membalikkan badan, ia menghampiri Lien Hua dengan segera.
"Aku ingin menitipkan mustika itu padamu."
"I-ibu?!" Lan An tidak setuju, mustika itu pemberian leluhur mereka. Walaupun dia akrab dengan Xin Fai namun mereka tetap tidak bisa menyerahkan benda berharga itu seenaknya.
__ADS_1
"Kita tidak bisa menjaganya lagi, An'er. Mereka sudah tahu mustika itu berada di tangan kita. Jika suatu saat nanti kita diserang lagi, aku tidak mau mustika itu jatuh ke tangan lain.."
Lan An mengepalkan tangannya erat. Dia menggenggam mustika itu tak mau melepaskannya, di sisi lain dia tidak mau membantah perkataan ibunya.
"An'er, dengar... Kau tahu, kan? Fai'er orang yang baik. Dia pasti bisa menjaga mustika itu, bukankah begitu Fai'er?"
Lien Hua mengelus wajah Xin Fai lembut, anak kecil itu bisa merasakan telapak tangan Lien Hua sangatlah halus. Dia tersenyum kecil, tidak bisa menolak permintaan tersebut.
"Aku akan menjaganya sebisaku."
"An'er..." Lien Hua masih mencoba membujuk anaknya satu itu. "Orang-orang tidak akan tahu mustika itu berada di tangan Fai'er."
"Iya, iya..." Lan An tidak bisa mempertahankan egonya lagi, ia menghampiri Xin Fai lemah sembari menarik napasnya berat.
"Adik kecilku, tolong kau jaga peninggalan leluhur kami ini. Benda ini sangat berharga bagi kami..."
Sepintas Xin Fai mulai kasihan, dirinya merasa bersalah. Dia telah mendapatkan kitab Lan An, dan sekarang malah dipaksa menjaga mustika itu. Jika kondisinya memungkinkan sebenarnya Xin Fai ingin menolaknya. Ilmu yang diberikan Lan An sudah lebih dari cukup baginya.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa adik kecil. Kau harus tumbuh dengan kuat dan jangan lupa nanti mampir ke sekte Pasukan Seribu Kaki."
"Tentu saja!" Xin Fai berkata semangat, respon itu membuat kedua sudut bibir Lan An terangkat. Dia tersenyum. "Terimakasih."
Setelah mengucapkan salam perpisahan yang kedua kalinya, dengan kitab dan mustika di tangannya Xin Fai pergi meninggalkan kota Anguo.
Di tengah perjalanan Lang menyipit ketika melihat Tuannya mendapatkan banyak barang baru. Seandainya Lang adalah manusia, sudah pasti dia berpikir untuk membawa Xin Fai ke acara lelang. Barang-barang yang Xin Fai bawa adalah barang dengan harga fantastis.
Contohnya saja Permata Cahaya Biru di lehernya, pedang yang tersalip di punggungnya, kerang putih yang bergantung di pakaiannya. Dan sisanya kitab serta mustika yang Xin Fai simpan di dalam tasnya.
"Jika aku manusia, tentu aku akan jadi manusia terkaya setelah membawamu ke acara lelang."
__ADS_1
"Apa?" Xin Fai yang sedang fokus membaca Kitab Tujuh Kunci mengalihkan perhatiannya.
"Tidak. Bulan purnamanya sangat indah."