
Rubah Petir berdiri berhadapan langsung dengan Xin Fai, keduanya mematung dalam posisi masing-masing selama beberapa detik hingga ketika guntur menyambar bumi si rubah telah menghilang dari tempatnya.
Xin Fai menggerakkan kepalanya awas dalam posisi siap serang, ketika ratusan cakram bergerak di depan sana Rubah Petir mendadak sudah bersiap melepaskan pukulan mematikan di depannya.
"Di sini!"
Pukulan telak menghantam kepalanya, Xin Fai terpental jauh di atas tanah yang digenangi air. Dia mengelap hidungnya yang kini telah mengeluarkan darah.
"Oi, Faifai! Jangan hanya mengandalkan pendengaranmu untuk bertarung denganku!"
Rubah Petir bersiap untuk serangan berikutnya.
"Gunakan instingmu! Mau melihat atau tidak, asalkan kau bisa membaca pergerakan lawan berikutnya itu semua tidak akan menjadi masalah buatmu!"
Kata-kata itu membuat Xin Fai tersadar akan kesalahannya, kini pertanyaannya telah terjawab. Suatu saat nanti belum tentu saat dia bertarung dengan musuh dirinya masih bisa mengandalkan pendengaran, namum melatih insting sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan.
Xin Fai menyambut tapak Rubah Petir hingga membuat tanah di tempatnya berpijak kini longsor ke dalam, kekuatan si Rubah Petir memang tidak bisa disetarakan dengan manusia tingkat tinggi sekalipun. Melawannya sama seperti menghancurkan gunung.
Gigi pemuda itu bergemerutuk keras, keringat dan air hujan membasahi tubuhnya malam itu. Meskipun tidak menyangka setelah pertarungan di dalam hutan melawan siluman dia masih harus bertarung mati-matian melawan Rubah Petir. Namun dirinya tidak ingin menyerah. Pertarungan apapun akan dilakukannya semaksimal mungkin.
Perlahan pedang Xin Fai berhasil memundurkan tapak Rubah Petir, dia melakukan perlawanan keras hingga lawannya merubah posisi serangan.
Dengan tubuhnya yang kecil Rubah Petir dapat bergerak sangat lincah, gerakannya sama seperti gerakan kungfu. Entah darimana dia mendapatkan teknik bertarung yang begitu licin ini bahkan untuk menangkap ekornya saja Xin Fai memilih angkat tangan.
Detik demi detik terlewatkan begitu saja hingga malam yang temaram bergantikan pagi yang mendung. Sedikit pancaran matahari mulai nampak di ujung timur namun pertarungan Xin Fai dan Rubah Petir tak kunjung usai.
Rubah Petir melompat mundur dengan menarik napas, di hadapannya Xin Fai masih berdiri tegak meskipun napasnya hampir habis. Pertarungan tanpa jeda ini membuat lawan Rubah Petir hampir tumbang namun tekadnya sendiri tidak mengizinkan dirinya untuk menyerah bagaimanapun caranya.
"Ayolah mengaku kalah saja, aku masih tetap akan membiarkanmu pergi dari sini setelah itu..." Rubah Petir mulai berubah pikiran, jika pertarungan ini dilanjutkan mungkin dua hari ke depan mereka masih akan terus bertarung seperti ini.
__ADS_1
"Tidak! Sudah berapa kali kubilang tidak!"
Xin Fai menggeleng kuat, dia merasa kekuatannya selama tujuh tahun ini sia-sia saja ketika di pertarungan pertamanya kini dia harus mendapatkan kekalahan.
"Ck, tidak kusangka semakin dewasa ternyata kau semakin keras kepala... Harusnya kau sadar yang menjadi lawanmu saat ini adalah Siluman Penguasa Bumi, Faifai."
Tidak ada jawaban lagi setelah itu, Rubah Petir memejamkan matanya sedikit lelah. Dia memilih untuk langsung membuat lawannya itu pingsan.
Dalam satu kedipan mata Rubah Petir telah berhasil berada di belakang Xin Fai, dia melayangkan serangan ke leher pemuda itu hingga membuatnya jatuh ambruk ke tanah.
Rubah Petir bernapas lega, baru saja hendak mengangkut tubuhnya ke dalam goa Xin Fai kembali bergerak.
"Kau-!? Masih bisa bangun!?"
"Aku tidak akan kalah... Paman Rubah."
Rubah Petir sangat tidak habis pikir dibuatnya, dia yakin Xin Fai kini kehilangan banyak tenaga untuk menghadapi kekuatan tingkat tingginya dan juga serangan penuh di lehernya tadi harusnya membuat dia pingsan selama beberapa jam ke depan.
Melihat energi alam bergerak menuju Xin Fai, Rubah Petir mulai memasang sikap waspada. Masuknya energi kebiruan membuat angin di sekitar pemuda itu bergerak kencang sampai rambutnya bergerak tak beraturan.
Saat itu juga Rubah Petir dapat melihat sesuatu yang mencengangkan.
Di balik rambut yang menutupi kening Xin Fai terdapat sebuah lambang Bunga Api Dari Kerajaan milik Kaisar Langit, Qiang Jun.
Rubah Petir termundur sesaat. "Kau... Kau siapa?" Dia menahan napas. "Apa kau Qiang Jun?"
Xin Fai menggelengkan kepalanya. "Bukan. Sekarang ayo bertarung lagi. Aku tidak akan pergi sebelum mengalahkanmu, Paman Rubah."
Meskipun masih dalam kekagetan Rubah Petir berusaha untuk bersikap setenang mungkin, dia mulai serius untuk pertarungan berikutnya. "Aku juga akan menghukummu kalau kau kalah dariku!"
__ADS_1
**
Macan tutul dan juga Buaya danau baru saja hendak bertarung untuk memperebutkan wilayah kekuasaan mereka namun loncatan energi yang begitu hebat membuat burung-burung berterbangan di hutan disertai kegaduhan yang memekakkan telinga.
Padahal hari masih pagi buta namun telah terjadi pertarungan besar-besaran, mereka berdua bergerak menuju tempat sumber kekacauan itu dan ketika sampai rupanya Rubah Petir dan juga Xin Fai sedang bertarung serius di sana.
"Hei macan gendut, kira-kira kenapa mereka bertarung seperti itu?"
"Macan gendut, katamu!?" Macan tutul ingin sekali menggaruk wajah si buaya ini namun dia rasa bukan waktunya untuk bertarung dengannya. "Hais, mungkin itu cara mereka merayakan pertemuan? Anak itu baru saja kembali, bukan?"
"Ah iya sudah berapa tahun aku tidak melihat anak itu, dia semakin kuat saja." Buaya Danau itu kagum melihat Xin Fai memainkan pedangnya begitu cepat disertai hampir tiga ratusan pisau cahaya yang melindunginya dari cakram perak milik Rubah Petir.
Dirinya saja sudah tidak yakin akan bertarung imbang dengan Siluman Rubah itu selama satu menit namun Xin Fai mampu melakukannya sejauh ini. Jika saja dia tahu Xin Fai dan Rubah Petir sudah bertarung sepuluh jam tanpa henti mungkin Penguasa Danau itu akan muntah darah.
Sesaat tubuh Xin Fai terpelanting ke batang pohon hingga menimbulkan bunyi dentuman yang besar, dia berusaha bangun secepat mungkin agar Rubah Petir tidak mengejarnya.
"Masih keras kepala juga?" tanya Rubah Petir setelah itu.
"Jangan salahkan aku, Paman Rubah sendiri yang mengajakku bertarung."
"Lalu? Menurutmu kau bisa mengalahkanku?"
"Dengan kekuatanku dulu mungkin tidak..." Xin Fai melanjutkan bersama senyuman lebarnya, dia mengangkat pedang sejajar dengan dadanya. "Namun dengan kekuatanku yang sekarang aku yakin bisa."
Pedang miliknya seketika lenyap bergantikan dengan aliran kekuatan yang keluar sangat dahsyat, cahaya emas memancar begitu menyilaukan di tangannya hingga yang terlihat kini Xin Fai sedang memegang sebuah cahaya emas. Cahaya tersebut bergerak layaknya aliran listrik, tegangan yang dihasilkan juga begitu mematikan bahkan cukup untuk membunuh satu siluman dalam satu tebasan.
Merasa tidak percaya Rubah Petir mengamati lebih jauh aliran listrik di tubuh Xin Fai kini. "Kau... Jangan bilang kau yang menghabisi para belut listrik di hutan ini?"
Anggukan Xin Fai menjadi jawaban. Hutan ini bisa dikatakan sebagai tempat berkembang biaknya para belut listrik yang amat langka, banyak sungai-sungai yang ditinggali oleh mereka. Namun dalam beberapa tahun terakhir populasi mereka berkurang tanpa sebab dan benar saja Xin Fai lah pelaku di balik ini semua.
__ADS_1
***