Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 134 - Pilar Kekaisaran II


__ADS_3

Baik Lan An maupun Xin Fai masing-masing mengambil posisi, tiga menit setelah pertandingan berlangsung para penonton dibuat bingung karena tidak ada satupun dari mereka yang berniat menggunakan pedang.


Yong Tao sedikit tersenyum, namun hanya sedetik saja. Dia semakin tak sabar melihat pemenang dari pertandingan ini. Di sisi lain tak satupun perwakilan dari sekte besar yang kelihatan antusias. Mereka sudah putus asa sejak Xiu Juan dengan sengaja keluar dari arena pertandingan tadi. Namun tidak ada yang berani menyangsikan perbuatan tersebut mengingat Xiu Juan tidak mungkin melakukannya tanpa alasan yang kuat.


Xiu Juan menatap pertandingan terakhir itu tanpa berkata-kata, seandainya dia yang bertarung dengan Xin Fai sekarang mungkin rasa kecewanya tidak seberat ini. Namun dia tetap bersyukur. Setidaknya, posisi Pilar Kekaisaran ketiga telah dia dapatkan.


Xiu Juan kembali merenungkan perkataan Xin Fai tadi. Tujuan hidup dan impian ternyata jauh berbeda dan dia baru menyadari hal itu tadi. Impiannya hanya satu selama ini, yaitu menjadi seorang Pilar Kekaisaran nomor satu di Kekaisaran Shang. Namun, dia melupakan sesuatu yang penting yaitu tujuan hidup.


"Setidaknya setelah ini aku tidak akan membiarkan diriku mati bersama penyesalan..." Xiu Juan menatapi Xin Fai yang tengah beradu kekuatan dengan Lan An. "Aku akan menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi semua orang, itulah tujuan hidupku saat ini."


Meskipun samar namun Xiu Juan tersentak kecil saat Xin Fai menatapinya sekilas dari arena sana. Dia merasa pemuda itu dapat mendengarkan perkataannya. Langsung saja Xiu Juan memalingkan muka sangat malu.


Lan An menguatkan pijakan saat tendangan Xin Fai mengejar kakinya, dia terkekeh kecil sebelum memberikan serangan balasan.


"Terakhir kali kita bertarung kekuatanmu tak sehebat ini, darimana kau mendapatkannya?"


"Dari seseorang."


"Hm? Aku sama sekali tidak mengerti. Bisa kau jelaskan?" Meskipun sedang bertarung serius namun keduanya sudah biasa berbincang sambil terus menyerang. Pertemuan keduanya di Kota Anguo menjadi pengalaman paling berarti bagi Xin Fai sendiri.


"Dari seseorang yang mengajariku bagaimana memakai pedang. Dan dia selalu memanggilku dengan sebutan adik kecil." Xin Fai sedikit tertawa mengatakannya, namun beda lagi dengan Lan An yang nampak gelisah.


"Seseorang? Siapa orang yang berani-beraninya menyebut kau adik kecil selain diriku?"


Xin Fai terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Orang itu adalah orang kau sendiri, Kakak An. Mungkin kalau Lang melihatmu sekarang dia akan menyebutmu sebagai manusia terbodoh kedua setelahku, hahaha!"


Kepalan tangan Lan An memiliki tekanan yang sangat kuat, Xin Fai menahan serangan itu sebaik mungkin dan mundur beberapa langkah sambil mengatur ulang strateginya.


"Ingat, Fai'er. Sesuai janji kita tadi, kalau kau menarik pedangmu berarti kau yang kalah."

__ADS_1


Xin Fai mengangguk pelan, dia bersiap kembali menyerang dari arah kiri. Tanpa menggunakan pedang sekalipun keduanya masing-masing memiliki jurus tersendiri, Lan An dengan ilmu yang baru didapatkannya dari sekte Pasukan Seribu Kaki dan Xin Fai yang mengandalkan jurus dari Kitab Tujuh Kunci.


Pertarungan ini berjalan hampir dua puluh menit tanpa jeda, Huang Kun dan Shen Xuemei menatapi satu-satunya perwakilan dari sekte mereka penuh harap. Meskipun Xin Fai baru kurang dari satu tahun ini bergabung dengan sekte Kuil Teratai namun dirinya telah mereka anggap sebagai keluarga baru. Kemenangannya adalah kemenangan seluruh anggota sekte Kuil Teratai juga.


Sedangkan itu para panitia dari Lembah Kabut Putih telah menyiapkan baju resmi para Pilar Kekaisaran serta lencana yang diletakkan di atas sebuah kain merah. Beberapa bentuk penghormatan lainnya akan diberikan menyusul berakhirnya pertarungan Lan An dan Xin Fai serta penentuan pemenang Turnamen Pendekar Muda yang akan menjadi orang nomor satu berikutnya.


Persiapan untuk penobatan Pilar Kekaisaran telah selesai sepenuhnya sedangkan Lan An dan Xin Fai nampak bermain-main di arena pertandingan, mereka tidak serius melukai dan hanya bertukar serangan beberapa saat.


Yang Guifei dapat merasakan ketidaksabaran penonton akan hal ini, dia memeringatkan pada keduanya agar serius bertarung serta tidak mengutamakan urusan pribadi di atas arena.


Lan An menggaruk kepalanya canggung karena tidak bisa berbincang lebih lama lagi dengan Xin Fai setelah ini, dari ceritanya selama di ruang medis adik kecilnya mengatakan bahwa setelah Turnamen Pendekar Muda berakhir dia akan pergi mengelana sendirian demi membalas dendamnya. Penyesalan karena kematian seluruh keluarganya harus dia selesaikan dengan menghabisi kelompok bernama Manusia Darah Iblis.


Keinginan tersebut tentu saja membuat Lan An sedih, mungkin ke depannya mereka takkan pernah bertemu lagi. Bagi Lan An nama adik kecil bukan hanya sebutan untuk Xin Fai, dia sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Setelah kehilangan Lien Hua, Lan An sama sekali tidak memiliki siapapun selain Xin Fai.


"Kuharap kau tidak akan melupakan aku nanti, hahaha ini lucu sekali, aku tidak pernah bersikap seperti ini pada orang lain bahkan dengan ibuku sendiri."


Meskipun pemuda itu tertawa namun Xin Fai dapat merasakan kesedihan di balik matanya, mungkin Lan An akan kesepian setelah ini.


Pertarungan mulai serius, Lan An memutuskan untuk bertarung menggunakan segenap kekuatannya.


Xin Fai mengeluarkan serangan yang lebih besar, dia tidak ingin lagi mengulur waktu. Adu tapak dan tendangan berlangsung selama beberapa menit dengan situasi yang benar-benar menegangkan. Salah satu gerakan saja bisa membuka kemungkinan untuk kalah, selain beradu ilmu silat keduanya juga menyadari bahwa ketepatan mengambil keputusan sangatlah diperlukan. Setiap satu langkah mereka akan menentukan pemenang di Turnamen paling bergengsi ini.


Lian Sheng menyenderkan punggungnya di bangku menikmati pertarungan tersebut, dia menarik senyum saat posisi Xin Fai berada di atas awan namun tak lama Lan An kembali bangkit dan membuatnya terpojokkan.


"Tak kusangka ada orang yang bisa mengimbangi kekuatan Xin Fai... Meskipun dia nampak lebih tua setahun namun kekuatan pemuda ini sangat hebat."


Qin Gaozu juga memberikan komentar. "Setiap gerakannya sangat tajam dan mirip sekali dengan pola serang para pendekar di Kekaisaran Qing. Apakah dia berasal dari sana?" katanya. Pria berambut cokelat di sampingnya menjawab.


"Yang Mulia, sepertinya perkataan Anda benar sekali. Pemuda itu mungkin saja berasal dari Kekaisaran Qing. Bagaimana kalau selanjutnya dia yang menjadi Pilar Kekaisaran nomor satu?"

__ADS_1


Qin Gaozu tak nampak khawatir layaknya Lian Sheng. "Jika dia menjadi Pilar Kekaisaran selanjutnya, asalkan tujuannya adalah untuk melindungi tanah air kita itu bukan menjadi masalah bagiku."


Seperti ingin membantah lagi, Lian Sheng hendak membuka mulutnya namun dia terhenti sesaat ketika menyadari keadaan di atas panggung telah berbalik.


Lan An berhasil membuat Xin Fai terpental hingga puluhan meter, dia melesat kembali untuk melancarkan serangan berikutnya yang kini telak mengenai wajah lawan.


Sudut bibir Xin Fai mengeluarkan darah, dia bangkit sambil memegang perutnya yang terasa nyeri akibat Tendangan Bulan Sabit dari Lan An.


'Jurus Tendangan Bulan Sabit milik Lan An jauh lebih kuat dariku, wajar saja karena dia fokus melatih jurus ini hingga sempurna sedangkan aku terus mempelajari banyak jurus..."


Xin Fai sedikit menyesal karena menyetujui usulan Lan An tentang pertarungan mereka kali ini tidak boleh menggunakan pedang agar luka yang didapatkan tidak terlalu banyak. Sedangkan Lan An lebih unggul darinya dalam pertarungan tanpa pedang.


Langkah kaki Lan An menapak sangat cepat, dia akhirnya berhasil memperpendek jarak dari Xin Fai dan kembali melancarkan serangan penuh.


Xin Fai menghilang dari tempatnya berdiri membuat Lan An mengerutkan dahi, dia tidak pernah melihat kecepatan setinggi itu digunakan Xin Fai sebelumnya.


Terdengar sedikit pergerakan di belakang Lan An, dia menoleh cepat sebelum sebuah tendangan hendak mengenai kepalanya. "Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai!" seru Xin Fai keras-keras.


Ketika Lan An membalas balik alangkah terkejutnya dia saat tendangannya lewat begitu saja di tubuh Xin Fai seperti tembus tanpa wujud.


"Apa yang–"


Bughk!


'Kita harus menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat, Kakak An. Maafkan aku karena memakai trik curang seperti ini.' batin Xin Fai.


Meskipun merasa telah curang memakai wujud roh untuk kedua kalinya, namun Xin Fai merasa tidak punya pilihan ketika telinganya mendengar sayup-sayup bunyi aneh di luar stadium.


***

__ADS_1


**fyi bagi yg belum tahu, jadwal up cerita untuk sekarang sih tiap hari pas tengah malam hehe klo mau baca tunggu pas pagi aja gpp, author lg gk ada kuota reguler soalnya. ini juga bela2in begadang demi up chapter wkwk


jangan lupa untuk mendukung sebisa kalian karena itu semua sangat berharga buatku🤗 tingkiuu**


__ADS_2