Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 248 - Nasib Aliansi


__ADS_3

"Ya, pada akhirnya semua keputusan berada di tanganmu. Kau harus ingat, setelah itu harus mempertanggungjawabkan keputusan itu andai terjadi sesuatu yang buruk."


"Aku berjanji tidak akan mengecewakan Senior Yong dan yang lainnya." Xin Fai memberikan hormatnya. "Kemungkinan besok akan segera berangkat bersama aliansi, apa Senior bersedia memberikan ijin?"


"Semua keputusan berada di tanganmu."


"Senior, bukan itu yang ingin aku dengar."


Yong Tao tersenyum kecil setelah itu dan hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku sudah memberimu izin. Lakukan semuanya dengan baik, dan kembalilah sebelum hari peresmian kedudukan Pilar Kekaisaran."


"Baik, Senior."


Tiba-tiba saja Lan An memotong percakapan mereka, memasang wajah berharap pada Yong Tao.


"Senior Yong, apa aku boleh ikut dengannya ke Kekaisaran Qing? Aku berjanji akan menjaganya dan diri sendiri."


"Tidak boleh. Kau harus tetap di sini bertarung bersamaku melawan musuh."


Sejenak Lan An mengembuskan napas kecewa, dia menoleh ke arah Xin Fai dengan tatapan kecewa berat. Tak begitu lama Yong Tao berkata harus mengurus yang lainnya, dia pergi meninggalkan Xin Fai dan Lan An.


Dua pemuda itu sama-sama duduk di bawah pohon, mengamati langit sore yang mulai menggelap menyambut malam. Mungkin hari ini akan menjadi pertemuan terakhir sebelum berpisah dalam jangka waktu lama, Lan An tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Xin Fai di kemudian hari dan hanya berharap yang terbaik.


"Adik kecil, kau masih belum menjawab pertanyaanku."


"Aku sudah dewasa dan kau masih menyebutku adik kecil?" Xin Fai tertawa lucu, meliriknya dari samping.


"Kau mau aku menyebutmu bocah besar tidak?" Lan An menjawab jengkel.

__ADS_1


"Tidak, tidak usah." Xin Fai mengibaskan kedua tangannya pelan. "Tentang letak dua pedang itu, aku sendiri tidak tahu di mana letak pastinya. Hanya menebak saja."


"Darimana kau tahu dua pedang itu ada di Kekaisaran Qing?"


"Aku pernah mendengar dari musuh, Qiang Jun terlahir dari dua orang dari kekaisaran berbeda. Sebelum dia meninggal mungkin dia berada di tempat dia dilahirkan, sebuah tempat terpencil yang jarang didatangi orang..." Xin Fai berangsur mengalihkan pandangannya dari Lan An. Dia bertanya lagi. "Boleh aku tahu dari mana Kitab Tujuh Kunci berasal?"


"Aku kurang tahu pasti, tapi leluhurku menjaganya selama ratusan tahun sebelum memberikannya kepadaku. Memangnya kenapa?"


Terdengar suara jentikan jari. "Di sanalah kuncinya! Kitab Tujuh Kunci seharusnya berada di tangan Qiang Jun. Orang yang menemukannya pasti mengetahui makam Qiang Jun berada."


"Maksudmu dua pedang itu juga bersama dengan pemiliknya?"


"Dua pedang itu terlalu berbahaya, memberikannya pada orang lain hanya akan menimbulkan masalah. Jika aku menjadi Qiang Jun, aku memilih membawa dua pedang dan Kitab Tujuh Kunci itu mati bersamaku."


Akhirnya Lan An mulai mengerti benang merah dalam permasalahan ini, meski belum tentu seratus persen benar namun tidak ada salahnya untuk memastikan. Dia menyadari Xin Fai sedang merencanakan sesuatu yang lain lagi, ekspresinya memburuk.


"Setelah susah payah meyakinkan Yong Tao untuk pergi ke Kekaisaran Qing bersama Aliansi Pedang Suci, apalagi yang kau inginkan, adik kecil?"


"Jangan bilang kau ingin mengajakku juga?"


"Ya," tandasnya seolah tak ingin memperdebatkan banyak hal lagi.


"Kau ini benar-benar berani. Aku tidak yakin Senior Yong akan mengijinkanku pergi, lagipula–" belum habis bicara Xin Fai akhirnya bangkit dari duduknya, pergi menuju suatu tempat dengan cepat.


"Hei, kau mendengarku? Mau pergi ke mana lagi? Aku belum selesai mengomelimu!"


"Aku akan pergi meyakinkan Senior Yong, kau bersiap-siap saja kita akan berangkat besok!"

__ADS_1


Lan An kehabisan akal meladeni pemuda itu, kepalanya pusing berputar-putar tidak sanggup lagi memikirkannya tapi di sisi lain dia juga ingin pergi ke Kekaisaran Qing. Kembali ke desa yang telah dirindukannya, Lan An yakin andai ibunya masih ada dia juga akan senang bisa kembali ke sana.


"Aih, anak itu. Andai aku memiliki keberanian sepertinya juga mungkin hari ini ibu masih hidup."


**


Lembah Kabut Putih masih dalam situasi buruk, ratusan mayat dibaringkan di tanah luas bertutupkan kain putih. Beberapa keluarga menangis akan kematian tragis ini, tidak disangka banyak penduduk lokal yang terkena imbasnya dalam penyerangan tersebut. Di sisi lain Kaisar Qin telah dirawat di ruangan khusus dengan penjagaan ketat.


Sementara Pangeran Mahkota Qin Yijun diasingkan di penjara bawah tanah dan bersiap akan hukuman yang akan diberikan padanya. Xin Fai tidak begitu memedulikan nasib pria itu ke depannya, yang jelas mulai hari ini kehidupannya tidak seperti dulu. Semua orang akan membencinya, setidaknya itulah yang akan terjadi pada Qin Yijun kelak. Tidak akan ada yang percaya lagi kepadanya.


Kini empat puluhan lebih pendekar berbaris di depan gerbang sekte menunggu instruksi berangkat, meski masih dalam keadaan buruk mereka tetap bersikeras melanjutkan perjalanan, yakni demi menjemput sisa setengah anggota yang ditinggal di kota sebelumnya.


Kapal diberangkatkan lebih awal dari yang direncanakan, di waktu bersamaan Lan An pun turut ikut bersama mereka setelah berbincang sebentar dengan Yong Tao agar lelaki itu tidak terlalu mencemaskannya.


Mau bagaimana lagi, Yong Tao hanya bisa mengiyakan Xin Fai semalam. Dua kali dia mengalah pada pemuda itu. Yong Tao mulai menyadari Xin Fai bukan lagi memiliki kepala batu, melainkan berkepala logam tebal. Susah sekali meyakinkan pemuda itu agar menuruti perintahnya.


Jangkar kapal telah dinaikkan, perlahan menjauhi pelabuhan Kota Renwu dan menghilang secara samar di kejauhan. Yong Tao membalikkan badan usai mengantarkan kepergian mereka, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana ke orang-orang bahwa dua calon Pilar Kekaisaran kini akan menempuh jalan berbahaya di negeri orang.


Tidak biasanya laut begitu damai saat mereka tiba di tengah-tengah lautan, hari masih begitu pagi dan juga panas membuat orang-orang yang berdiri di atas kapal seperti terpanggang matahari.


Lan An memegang ujung kapal sambil melayangkan tatapan ke seluruh penjuru, selama ini dia hanya berfokus pada pertarungan darat dan kurang terlatih saat bertempur di laut lepas. Seperti melawan kapal perampok ataupun bajak laut.


Lima jam berlayar di laut lepas akhirnya sebuah kota tampak dari kejauhan, salah satu anggota menunjuk kota itu sambil berucap. "Kita hampir sampai ke tempat tujuan!"


Xin Fai membuka matanya saat mendengarkan itu, dia sengaja berlatih sejenak bersama Iblis Merah di alam bawah sadar. Waktu lima jam berlangsung selama lima hari di sana, tubuhnya kembali kelelahan dan terasa sangat berat seperti biasa. Dia berusaha menutupinya dengan mengembangkan senyum, menyambut sisa anggota yang akan kembali bergabung bersama mereka.


Namun dalam sejenak suasana hening, ada sesuatu yang aneh di kota itu. Terdengar suara ledakan beruntun setelahnya membuat Xin Fai buru-buru berlari ke ujung kapal mengamati lebih jelas apa yang tengah terjadi di sana.

__ADS_1


"Celaka..."


***


__ADS_2