Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 196 - Ilusi Hujan Darah


__ADS_3

Bunga api memercik saat aduan pedang semakin berat, Xin Fai dan lawannya mundur lima meter ke belakang.


"Ketua, kau tidak perlu repot-repot turun tangan lagi. Dengan kekuatanku saja sudah cukup untuk membunuh tikus kotor ini."


"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku juga tidak peduli lagi dengannya."


Rekan Liang Hui mengangguk pelan sembari melayangkan tatapannya pada Xin Fai.


"Kau bisa mati dengan hormat di tanganku, tidak perlu menyesal setelah ini."


Tidak disangka Xin Fai malah melemparkan pedang sembarang arah membuat Liang Hui terdiam membisu beberapa saat, dahinya berkerut-kerut keheranan mencoba menebak apa yang akan terjadi.


Walaupun pedang itu telah jatuh dan menancap ke tanah tidak ada apapun yang terjadi. Wajah kebingungan Liang Hui menjadi sedikit cerah saat dia bisa menebak pasti alasan Xin Fai melakukannya.


"Aih, sudah mau menyerah saja? Atau kau begitu percaya diri dengan kekuatanmu dan ingin bertarung tanpa pedang?"


Tidak ada jawaban. Angin berhembus panas bercampur amis membuat paru-paru terasa sesak. Liang Hui menunggu agak lama dan mulai tidak sabar melihatnya.


"Wakil Wu, bunuh saja anak itu. Dia hanya membuang-buang waktuku saja!"


"Kau belum melihat pertunjukan sebenarnya. Sudah mau mengakhiri ini begitu saja?" Setelah sekian lama membisu akhirnya pemuda itu berbicara tenang, kekuatan iblis yang sedari tadi memancar dari tubuhnya menjadi semakin kuat bahkan mulai berdampak pada pendekar agung seperti Liang Hui. Lelaki itu bisa merasakan pundaknya amat berat mendapat tekanan sebesar itu.


Liang Hui baru saja menyadari energi asing yang sedari tadi memancar dari tubuh Xin Fai adalah kekuatan Iblis yang sama seperti kekuatan Manusia Iblis buatan di markas mereka. Dia menelan ludah kasar kian menyadari apa yang hendak menyambutnya setelah ini.


Pedang milik Xin Fai yang semula menancap di tanah menghilang.


"Kitab Terlarang - Perpindahan Ruang Dimensi."

__ADS_1


Sebuah ruang hitam muncul di udara hampa sampai sebuah pedang keluar dari sana dan melesat tajam menancap di jantung wakil Darah Hitam dalam waktu kurang dari sedetik.


Mulut Liang Hui terbuka sebentar melihat kekuatan tidak manusiawi ini, dia menyadari kesalahannya mencari masalah dengan sosok Manusia Iblis yang telah kembali dari kematiannya selama di Hutan Kabut. Pria itu berniat lari menggunakan Langkah Kilat tercepatnya dan melaporkan ini kepada atasan.


Namun sayangnya Xin Fai tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Pertunjukannya belum selesai, pak tua. Bisa kau menunggu sebentar lagi?"


"Menunggu sebentar lagi yang ada nyawaku yang melayang!" seru Liang Hui tidak memedulikan Xin Fai yang tengah mengejar sama cepatnya. Lelaki itu mengumpat dalam hati setelah sebelumnya meremehkan Xin Fai, sedikit rasa malu mulai datang saat mengingat kembali kata-kata ledekan yang dia lontarkan tadi pada Xin Fai.


"Hahahaha, kau ketakutan sekali seperti melihat hantu saja!"


Liang Hui ingin mengumpat serapah lagi, Xin Fai bukan hanya hantu melainkan lebih mengerikan dari hantu. Jantung pria itu semakin kencang berdetak saat langkahnya berhasil terkejar oleh musuh. Tidak ada pilihan lain dia menghadap belakang mencoba melakukan perlawanan untuk mengecoh.


Di waktu hampir bersamaan Xin Fai juga melakukan serangan brutal, Liang Hui menyambutnya dan menangkis begitu mudah.


"Salah. Seharusnya kau melihat di belakangmu."


Tanpa sadar Liang Hui menuruti perkataan itu dan ketika dia berhasil melihat ke belakang sebuah jurus aneh lainnya muncul.


Liang Hui tersentak kaget dan refleks menangkis sebuah pedang yang muncul dari ruang hampa. Dia melihat langit-langit yang berubah merah disertai hujan darah dan menyadari ini hanya sebuah ilusi belaka. Pria itu berusaha bersikap tenang sebaik mungkin.


Ilmu ilusi ini memungkinkan Xin Fai bisa mengendalikan semua hal sesukanya, dia menghilang dari hadapan Liang Hui dan muncul seketika di balik punggung pria itu.


Liang Hui bisa menyadari pergerakan di sekitarnya, dia menangkis serangan yang datang namun serangan lainnya bersusulan datang mengepung pria itu.


Hujan darah yang semula terlihat biasa saja mulai deras membasahi bumi, tetesan darah itu bagaikan racun yang membakar kulitnya. Liang Hui tidak menemukan tempat untuk berteduh dari hujan darah ini, dia merasakan kesakitan luar biasa saat derasnya hujan darah ini menyentuh permukaan kulitnya tanpa henti.


Sedangkan di dunia nyata kini yang terlihat hanya Liang Hui yang menjerit-jerit kesetanan, lelaki itu meronta tanpa henti. Hujan darah tersebut layaknya pembunuhan yang dilakukan dengan menyayat kulitnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya yang tersisa dari tubuhnya hanya sebuah kerangka bersimbah darah.

__ADS_1


Iblis Merah muncul di tengah-tengah hujan darah itu, dia memeluk Liang Hui dari belakang sembari menjilat lidahnya. "Akhirnya aku mendapatkan satu jiwa setelah sekian lama..."


Xin Fai mengedipkan matanya, di dunia nyata saat ini jeritan Liang Hui semakin keras terdengar hingga membuat pertarungan di sekitarnya berhenti. Laki-laki itu berguling-guling mencoba menghilangkan rasa sakit yang menderanya sejak tadi.


"Kau akan pergi ke neraka bersamaku."


Tak lama setelahnya Ilusi Hujan Darah berakhir dengan tubuh Liang Hui jatuh terkapar tak bernyawa, tidak terlihat sedikit robekanpun menganga di kulitnya tetapi pria itu telah meninggal beberapa saat lalu dengan cara yang sangat mengerikan.


Xin Fai menurunkan pedangnya sembari melihat ke belakang di mana para musuh menatapnya sangat gemetaran, terbayangkan sudah bagaimana kematian yang akan mereka dapatkan jika harus mati di tangan pemuda itu. Sebagian lainnya menyerahkan nyawa begitu saja di tangan Aliansi Pedang Suci namun yang lain berusaha melawan dan mencari celah untuk melarikan diri.


Siluman iblis yang sebelumnya mengamuk mulai kesulitan bergerak saat aliansi menyatukan separuh kekuatannya dan memusnahkan mereka dengan kekuatan penuh. Tidak main-main upaya yang dikeluarkan Aliansi Pedang Suci dalam memerangi Darah Hitam. Mereka benar-benar seorang pemberani yang sudah hilang kewarasan. Tidak ada lagi rasa takut akan kematian dalam diri mereka.


Xin Fai berhenti sejenak mengeluarkan kekuatan iblis yang menguras mentalnya sedari tadi, fisiknya juga menerima beban yang berat saat menggunakan Ilusi Hujan Darah. Dan lagi saat melihat jasad Liang Hui dia teringat akan ucapan laki-laki itu.


"Apa aku masih berdiri di jalan yang benar?" gumamnya pelan, sesaat dia mengingat perkataan Xu Ming. Jalan menjadi seorang pendekar masih amat panjang dan dia khawatir dirinya malah terperosok ke jalan yang sesat. Xin Fai menengadah mencari jawaban di atas langit yang muram. Dendam akan kematian seluruh keluarganya tak kunjung padam malah akan semakin menyala saat dia membunuh Manusia Darah Iblis.


Mungkin suatu saat nanti dia akan hilang kendali dengan kekuatan ini, tapi bagaimanapun juga dirinya sudah berjanji akan membunuh dosa-dosa itu; mereka Manusia Darah Iblis yang telah mengambil segalanya darinya.


Saat sibuk larut dalam lamunannya sendiri Zhu Yue menepuk pundaknya pelan, dia tersenyum tipis.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Ketua..."


Laki-laki itu menoleh ke belakang diikuti Xin Fai. "Sejak awal kita sudah memilih jalan ini, hidup untuk membunuh dosa-dosa seperti yang kau katakan. Aku tidak peduli jika setelah mati harus dilemparkan ke jurang neraka sekalipun, asalkan hanya kita yang merasakannya. Jika keluargaku bisa hidup aman setelah aku mati nanti, kurasa ini adalah bayaran yang cukup."


"Ya... Kau benar," sahut Xin Fai. "Kita hanya iblis pemakan dosa. Hidup demi perdamaian dan mati bersimbah darah."


Zhu Yue mengangguk pelan, dia bergerak menyusul teman-temannya yang terluka berat usai pertarungan ini. Darah Hitam sudah sepenuhnya kalah dan berakhir hari ini. Xin Fai mengembuskan napas lega, dia merasa keputusannya menerima tawaran Yong Tao tidak sepenuhnya salah.

__ADS_1


Setidaknya jika harus dilemparkan ke jurang neraka nanti dia membawa 87 orang yang ikut bersamanya. Xin Fai tergelak membayangkan itu semua.


***


__ADS_2