
Sesuatu yang amat mengejutkan mengejar Liu Fengying di detik itu juga, pria itu berupaya mundur demi menghindari tebasan tersebut. Tiba-tiba saja Xin Fai bergerak cepat membuat sebuah pusaran yang dikelilingi angin kencang, belasan tebasan terlihat dari pusaran kematian tersebut. Daripada menghadapinya Liu Fengying memilih mundur sejenak mengatur ulang strateginya.
Tiang penyangga mulai menimbulkan bunyi gemeretak membuat butiran pasir jatuh di balik celah langit-langit, Xin Fai mengincar Liu Fengying sejak tadi namun pria itu terus memundurkan diri sejauh mungkin. Tidak peduli siapapun lawannya Xin Fai tetap membunuh orang-orang yang berdiri menghalangi jalannya demi bisa menyusul Liu Fengying.
Mata Liu Fengying menajam melihat pergerakan Xin Fai lebih teliti, dia menyadari para penjaga tidak bisa lepas dari satu serangan mematikan yang dikeluarkannya. Serangan jarak rendah yang bertumpu pada kekuatan kaki ini terbilang liar namun sangat lincah, tajam seperti elang, cekatan seperti kijang dan mematikan layaknya terkaman singa. Perpaduan kekuatan itu tampak jelas di mata Liu Fengying.
Lelaki itu mulai ragu mengadu nasibnya demi bertarung dengan Xin Fai yang sepuluh kali lebih mengerikan dari sebelumnya, dia yakin pemuda itu sejak awal sudah mengincar nyawanya. Dan saat inipun juga Xin Fai telah berhasil menebas gerombolan manusia yang menghalanginya. Dia menenteng pedang sembari menyusul Liu Fengying amat cepat.
Merasa nyawanya mulai dalam bahaya Liu Fengying memajukan senjata, dia bersiap untuk menerima serangan tersebut. Ketika pedang mereka saling bertemu bunga api menjalar begitu cepat dan menghilang di udara sepersekian detik, deritan pedang terdengar nyaring di telinga.
Baru beberapa saat bertukar serangan Liu Fengying mulai termundur beberapa langkah dalam posisi terpojokkan, dirinya memejamkan matanya yang terasa berat saat satu tendangan telak menghantam ubun-ubunnya keras sekali.
Tendangan Bulan Sabit kini disusul dengan terjadinya loncatan energi amat besar di sekitarnya, Xin Fai menghancurkan sekitarnya demi bisa mencapai tubuh musuh yang terus menghindar.
"Sial, pemuda ini terlalu berbahaya!" umpat Liu Fengying semakin panik, keadaannya sebenarnya tak jauh beda dengan Yong Tao. Tubuhnya masih mengalami pendarahan hebat di bagian tertentu dan sangat sulit untuk bergerak leluasa seperti dulu. Dan lagi umurnya tak semuda Xin Fai, Liu Fengying menahan napas ketika pedang musuh mendadak menyerangnya dari arah tak terduga.
Untungnya Liu Fengying bisa menghindar, ketika dirinya sudah memperkirakan gerakan Xin Fai selanjutnya yang terjadi malah sebaliknya. Pedang pemuda itu bergerak dari arah bawah hendak memotong kakinya hingga ke atas.
Serangan liar ini tentu saja di luar nalar Liu Fengying, dia kini menyadari maksud perkataan Xin Fai sebelumnya. Cara bertarung manusia dan binatang memang cukup berbeda. Ini menggambarkan betapa kerasnya kehidupan yang telah dilalui pemuda tersebut.
"Sekarang matilah dengan tenang tanpa membunuh orang lain lagi," kata Xin Fai sebelum pedangnya berhasil membelah lelaki itu. Hanya beberapa sentimeter lagi pedang pusaka hendak memotong pria itu, tiba-tiba sebuah kapak besar menghalangi pergerakannya.
__ADS_1
Xin Fai mengangkat wajahnya murka, terlihat seorang pria bertelanjang dada dan bertubuh besar berotot menatapnya amat remeh.
"Sayangnya waktu bermain kalian sudah habis. Ketua Liu, kita harus segera kembali. Tempat ini sebentar lagi akan roboh." Peringat pria itu mendongakkan kepalanya, terlihat pasir-pasir semakin deras turun di balik celah. Tiang penyangga pun ikut bergetar menandakan langit-langit ini akan segera terjatuh ke tanah.
Menyadari perkataan pria itu benar Liu Fengying segera melarikan diri sembari berucap keras.
"Oi, bocah! Pertarungan ini belum berakhir! Kembalilah melawanku suatu saat nanti!"
"Iya pak tua jelek! Besok aku akan menjemput ke kamarmu langsung kalau kau mau!" balas Xin Fai, dia menatapi pria pengguna kapak itu amat jengkel, jika seandainya bukan karena dia sudah bisa dipastikan si pendekar aliran hitam nomor satu tersebut sudah tewas di tangannya hari ini.
Benar perkataan pria itu, tak lama berselang langit-langit ruangan mulai bergetar hebat pertanda akan runtuh. Xin Fai berlari cepat menyusul Yong Tao sembari melibaskan sedikit tebasan ke lawan pria itu, dia berkata buru-buru.
Yong Tao mengangguk pelan, lengan kirinya ditopang oleh Xin Fai yang kini membawanya lari jauh menuju pintu keluar. Para penjaga di dalam ruangan yang tidak sempat melarikan diri terdengar menjerit ketika tubuhnya ditimpa reruntuhan.
Di belakang sana penyangga yang roboh mulai jatuh bertubi-tubi mengejar langkahnya, saat Xin Fai baru saja hendak menggapai pintu keluar ternyata Liu Fengying telah berdiri di depan sana dan menutupnya.
"Ck, pak tua sialan!" teriaknya menyambar pintu tersebut, dia mendobraknya sekuat tenaga namun tidak bisa terbuka sama sekali.
"Senior, tunggu sebentar." Xin Fai berdalih menurunkannya dan mengeluarkan pedang sembari mengalirkan tenaga dalam. Aliran tegangan petir keluar dari sebilah pedang, dia menggunakan kekuatan tersebut untuk membuka paksa pintu sampai berkali-kali sedangkan di belakang sana reruntuhan mulai mendekat ke arah mereka.
Hampir saja langit-langit di atas mereka roboh, pintu itu terbuka paksa dan segera didobrak olehnya kencang. Xin Fai menarik Yong Tao secepat kilat dan selamat dari timbunan tanah tersebut.
__ADS_1
"Syukurlah..." Xin Fai menghela napas sembari meletakkan punggung tangannya di dahi, sinar matahari bercahaya terang menyambutnya. Di sekitar mereka terlihat pasukan yang dibawa Yong Tao berkumpul. Salah satu dari mereka menopang tubuh Yong Tao.
"Senior Yong, kau tidak apa-apa?" Pendekar itu menatapi Xin Fai curiga jika dia sudah berbuat sesuatu yang buruk, namun Yong Tao mencegalnya dan mengatakan jika bukan karena pemuda itu mungkin saja sudah mati di dalam sana.
"Kau ikut bersama kami, kan?" tanya Yong Tao setelah itu, dia menatap Xin Fai lamat-lamat menunggu keputusannya namun nampak dari wajahnya pemuda itu ingin sekali menolak tapi di sisi lain dia juga merasa sangat bersalah untuk mengatakannya.
Semua orang menunggu keputusannya, Xin Fai semakin merasa beban bertumpuk di pundaknya saat itu.
"Baiklah, aku akan ikut dan bergabung dengan kalian."
Senyuman mengisi wajah Yong Tao begitu cerah, dia menepuk pundak Xin Fai sambil berucap. "Jawaban yang tepat sekali, anak muda."
Perjalanan menuju ke kota Kekaisaran dikatakan akan memakan waktu paling tidak dua hari, sebelum mereka benar-benar pergi Xin Fai mengatakan jika dirinya harus pergi ke rumah Xu Ming.
Yong Tao tidak berkeberatan, lagipula tempat yang akan didatanginya satu arah dengan tujuan mereka. Xin Fai dan Yong Tao bersama pasukan segera bergerak dari tempat itu hingga malam tiba, perjalanan tersebut diisi dengan gelapnya langit tanpa sinaran cahaya bintang maupun bulan.
Angin berderu-deru kencang di malam sunyi, Xin Fai mengangkat wajahnya ke langit sembari memikirkan semua yang telah terjadi ini. Jika Xin Xia memang masih hidup dan bergabung ke Manusia Darah Iblis atas kemauannya sendiri, dia ingin tahu apa alasannya. Seharusnya dulu adiknya telah meninggal ketika jantungnya tembus oleh anak panah.
Xin Fai tertegun beberapa detik. "Seharusnya malam itu aku juga mati ketika ditusuk, tapi berkat iblis ini aku masih hidup..."
**
__ADS_1