
"Kuil Teratai?"
"Ya benar. Sebaiknya kau harus bergegas ke sana atau--"
Kaibo memegang dadanya dan sejurus kemudian mulutnya mengeluarkan darah segar. "Iblis itu tahu apa yang sedang aku bicarakan, dia pasti tidak akan tinggal diam. Sekarang, pergilah ke sana!"
Kaibo berubah menjadi asap hitam setelah mengatakan itu, meninggalkan Xin Fai yang dipenuhi banyak tanda tanya. Namun dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Kaibo.
***
Lang berlari dengan kecepatan tertinggi membuat Xin Fai yang berada di atasnya kewalahan menyeimbangkan tubuh agar tak terjatuh. Meskipun sudah memiliki kekuatan namun kecepatan Lang tetap bukan tandingannya.
Berjam-jam mereka habiskan untuk menempuh perjalanan di dalam hutan hingga dari kejauhan sana Xin Fai melihat sebuah mayat manusia.
"Berhenti," kata Xin Fai sejenak. Dia lompat dari tubuh Lang dan memeriksa mayat tersebut.
Di pergelangan tangan pria itu terdapat angka 223 yang menandakan dirinya adalah seorang pejuang, wajahnya ditutupi topeng kucing dengan tiga garis merah di pipi.
Xin Fai beralih ke barang bawaan pria tersebut dan menemukan banyak koin emas di dalamnya. Tidak ada tanda-tanda serangan hewan buas atau luka akibat pembunuhan. Dia merenung memikirkan apa yang telah menimpa pria tersebut.
Namun Xin Fai tak menemukan jawabannya, kematian pria ini sungguh aneh.
"Dia membawa dua ratus keping emas dan mati tanpa campur tangan apapun. Dari arahnya pasti Pejuang ini hendak pergi ke kota Anguo."
Jika pejuang itu memang hendak pergi ke Kota Anguo sangatlah tidak mungkin karena jaraknya yang sangat jauh dan pejuang itu tak memiliki kuda. Berjalan seperti ini tentu akan menguras banyak tenaga.
"Dan dari tubuhnya, dia sangat kurus..."
Xin Fai berhenti berpikir kemudian menaiki Lang.
"Di depan sana sesuatu telah terjadi. Ayo berangkat!"
Lang berlari dua kali lipat lebih kencang hingga membuat perut Xin Fai berputar-putar hendak mengeluarkan isinya. Dengan kecepatan berlari yang sangat cepat itu mereka berhasil sampai kurang dari dua jam.
Di gerbang sebuah desa yang nampak sederhana mereka tak menemukan siapapun, Xin Fai memutuskan untuk memeriksa lebih dalam. Ketika memasuki sebuah rumah betapa terkejutnya dia melihat segerombolan orang mendatanginya.
__ADS_1
"Apakah itu Dong Chai? Dia sudah kembali?" Wanita berusia setengah abad pertama kali bicara.
"Itu bukan dia... Apa yang terjadi?"
"Jika Dong Chai gagal mendapatkan makanan bagaimana nasib kita setelah ini..."
Xin Fai menatap segerombolan penduduk desa yang rata-rata hanya tinggal tulang itu. Ketika dia melihat ke dalam rumah yang hendak dimasukinya bau busuk terasa menyengat keluar. Dia melihat bangkai manusia di dalamnya yang sudah dimakan oleh tikus-tikus.
Xin Fai teringat dengan pembantaian di desa sebelumnya, ia mengepalkan tangan erat dan menghantamnya di pintu rumah.
"Siapa yang melakukan ini semua?"
Penduduk di sana menatapnya beberapa saat sampai salah satu gadis kurus di sana menjawab.
"Beberapa minggu yang lalu sekelompok pendekar aliran hitam datang kemari dan mengambil semua hewan ternak kami," jelasnya lalu menutup mata. "Jika kami tidak memberikannya maka mereka semua akan membunuh kami."
Salah seorang dari mereka menambahkan. "Mereka juga mengambil semua persediaan makan kami. Sehingga kami tidak memiliki apapun lagi untuk dimakan."
Xin Fai berkeliling di sekitarnya dan melihat sawah di sana sudah habis dihancurkan. Jelas sekali pelakunya ingin membunuh orang desa ini secara perlahan-lahan, dari situ Xin Fai mengerti bagaimana para pendekar aliran hitam bekerja.
"Aliansi Gagak Neraka, begitu mereka menyebutnya."
Xin Fai akan mengingat nama itu dan membalas mereka jika menemukannya. Untuk sementara dia mencoba memahami situasi agar bisa mengambil langkah selanjutnya.
Setelah mendapatkan cukup penjelasan dari mereka, Xin Fai mengeluarkan beberapa potong roti kering dari tasnya. Reaksi mereka sangat di luar dugaan, mereka berebut layaknya binatang buas yang kelaparan dan saling mendahului.
Xin Fai hanya bisa memasang wajah miris, dirinya merasa kasihan melihat penduduk desa ini. Bahkan dengan potongan kecil roti itu, mereka membaginya lebih kecil lagi dan membaginya ke anak-anak yang kelaparan.
Untuk sementara Xin Fai akan mencari hewan yang bisa dimakan di dalam hutan. Namun belum beberapa meter dia langsung berhadapan dengan harimau berukuran besar di sana.
Dia mundur sejenak dan kembali ke salah satu rumah yang menjadi tempat para penduduk berkumpul.
Dari sana dia baru tahu alasan mereka tidak bisa berburu adalah karena seekor harimau yang menguasai hutan di dekat mereka. Sedangkan untuk menghadapi harimau tersebut setidaknya dibutuhkan kekuatan setara dengan pendekar menengah.
Bertarung dengan harimau itu saat malam hari bukanlah pilihan tepat, Xin Fai memutuskan untuk mencari jalan lain.
__ADS_1
"Kurasa berburu di sekitar sini hanya akan berakhir sia-sia, selain aku belum tentu mendapatkan buruan jumlah mereka juga belum tentu cukup untuk mengisi perut semua orang di desa ini."
Lang yang mendengarnya hanya menarik napas kesal. "Kenapa kau selalu memikirkan nasib orang lain yang bahkan tak mengenalimu sama sekali?"
Xin Fai menatap serigala itu dalam.
"Jika seandainya aku berada di posisi mereka, dan tiba-tiba datang seseorang yang kemungkinan bisa menyelamatkanku. Tentu saja aku sangat berharap bisa ditolong."
Serigala di hadapannya tak menjawab lagi. Perkataan Xin Fai sungguh tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Di dunia ini semua orang hidup demi diri sendiri. Orang-orang yang memiliki pemikiran seperti Xin Fai tentunya harus rela menerima segala resiko.
Contohnya harus mengorbankan nyawanya sendiri, karena itu banyak pendekar yang memilih acuh dan hanya menolong ketika mendapatkan bayaran yang setimpal.
"Lang, kau tahu pria yang bernama Dong Chai itu?"
Lang hanya menggeram mengiyakan.
"Dia adalah salah satu pejuang yang hendak pergi ke Kota Anguo untuk membeli makanan. Kau sendiri tahu, jarak kota Anguo ke sini sangatlah jauh..."
"Jadi?" Lang merasa terusik tidurnya diganggu.
"Dengan kecepatan berlarimu itu-"
"Tidak mau."
"Ayolah Lang," bujuk Xin Fai kemudian. Dia menggoyangkan tubuh Lang sambil merengek. "Kau pasti pernah merasakan rasa lapar, kan? Setidaknya kau paham dengan apa yang terjadi pada mereka." Jari telunjuknya menuju ke arah kumpulan penduduk yang terdiri dari lansia, anak kecil serta pernah dewasa di sana.
Lang memejamkan mata, dia teringat di saat dirinya kelaparan karena hewan buruannya telah habis dan datang seorang bocah yang dengan percaya diri menawarkan dia untuk pergi bersamanya ke sebuah kota demi mendapatkan makanan.
"Grrrhhh..."
"Bagaimana? Kau mau? Ayolah aku janji akan membalas kebaikanmu nanti."
"Tidurlah sana, kita akan bergerak besok."
***
__ADS_1