
Meski masih pagi, Xin Fai sudah terbangun. Dia duduk bersila di atas kasur sembari menggunakan tenaga dalam untuk memulihkan luka di pundaknya, setidaknya rasa sakit yang ditimbulkan dari luka itu agak berkurang setelah beberapa saat.
Dengan istirahat yang cukup kondisi tubuhnya menjadi lebih baik, tak lupa Xin Fai memakan kue yang diantarkan para pelayan ke kamarnya. Saat ini dia harus mengembalikan staminanya sebanyak mungkin.
Satu hal yang mengganggunya dari malam, Xin Fai sama sekali tidak terbiasa tidur di kamar mewah dengan nuansa putih seperti ini, membuatnya tak nyaman ketika tidur di tempat asing milik keluarga Lian karena menurutnya, tidur dengan beralaskan tanah dan beratapkan langit justru lebih membuatnya leluasa. Karena Xin Fai sendiri sudah biasa tidur di alam bebas selama pergi dari Desa Peiyu.
Lian Sheng juga tak membiarkan Xin Fai kembali ke penginapan mengingat semalam Xin Fai mengalami pendarahan di pundaknya akibat bertarung. Xin Fai terpaksa harus menunggu untuk bisa kembali ke penginapan sampai Lian Sheng mengijinkannya.
Pengamanan di sekitar kediaman Lian menjadi sangat ketat, semalam para pelayan dicek satu per satu untuk mengantisipasi hal yang sama terjadi lagi. Setelah memastikan kediamannya aman baru keadaan di kediamannya bisa tenang seperti sebelumnya.
Lian Sheng sendiri tak membiarkan satupun orang mengganggu Xin Fai yang sedang tertidur di kamarnya. Meskipun orang itu berasal dari anggota keluarganya sendiri.
Menjelang pagi baru pintu kamar diketuk pelan, setelahnya muncul Lian Sheng di sana dengan senyuman terbaiknya.
"Pagi, Fai'er. Bagaimana dengan lukamu?" tanyanya ingin memastikan kondisi Xin Fai. Untuk memastikan kenyamanan anak itu, Lian Sheng hanya datang sendirian tanpa dikawal oleh siapapun.
Xin Fai memegang pundaknya pelan, sejenak alisnya berkerut ketika tak menemukan sedikit goresan pun di pundaknya.
"Sudah sembuh... Sepertinya," jawab Xin Fai pelan, dia masih mengecek pundaknya dan tak menemukan bekas sayatan apapun di sana.
'Apa ini semua berkaitan dengan permata kelelawar milik guru Fu Shi?' Batin Xin Fai termenung beberapa saat, Lian Sheng mendekatinya sambil mencoba memeriksa luka itu. Xin Fai mulai keringat dingin, dia sama sekali tidak memiliki jawaban jika Lian Sheng menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Wah lebih cepat sembuh dari perkiraanku. Apa kau memakai semua pil penyembuh yang kuberikan?" Kata Lian Sheng kemudian.
Xin Fai seketika teringat dengan barang-barang pemberian Lian Sheng semalam, meskipun tak tahu tentang apa saja khasiat tanaman serta pil-pil di dalamnya Xin Fai yakin itu berguna untuk memulihkan luka serta menambah kekuatan.
"Ah, iya... Mungkin berkat semua pil itu." Dia tersenyum canggung, sebenarnya dia sama sekali tidak menyentuh barang pemberian Lian Sheng dari semalam.
Walaupun harus berbohong Xin Fai tak memiliki pilihan lain, daripada dia harus dihujani pertanyaan demi pertanyaan nantinya.
Setelahnya Lian Sheng mengatakan bahwa pembunuh bayaran yang menculik anaknya sudah ditangkap dalam keadaan tak bernyawa, Xin Fai baru mengingat penyebab kematian wanita itu berasal dari racun Kelabang Lima Mata yang kini dia sembunyikan di dalam jubahnya.
Jika seandainya mereka mengutarakan pertanyaan seputar kematian wanita itu, Xin Fai mau tak mau harus menjelaskan dari mana dia mendapatkan racun Kelabang Lima Mata tersebut.
Xin Fai sebenarnya tak mau terlalu membuka dirinya pada keluarga Lian, apalagi jika mereka tahu racun mematikan berada dalam tangannya tentu saja Keluarga Lian akan dibuat was-was.
"Baiklah kalau begitu, jika tubuhmu sudah benar-benar sehat kau bisa pergi menemui keluargaku sebentar. Ada yang ingin mereka bicarakan denganmu."
Sambil menganggukkan kepalanya, Xin bergegas turun dari tempat tidur. Lian Sheng sudah keluar dari kamar membuatnya lebih leluasa bergerak.
Sebuah botol kaca kecil dia keluarkan dari sakunya, Xin Fai mengembuskan napas berat.
"Jika racun ini yang selalu membuatku menang dalam pertarungan, maka setelah ini habis aku tentu tak bisa mengandalkan trik murahan ini untuk menang dengan mudah..."
__ADS_1
Semakin banyak dia menggunakan racun itu, Xin Fai semakin tak memiliki persediaan lagi ke depannya. Racun yang tersisa kini hanya seperempat dari yang sebelumnya, dan jika racun Kelabang Lima Mata habis maka Xin Fai harus siap bertarung sepenuhnya mengandalkan pedang.
Sejujurnya Xin Fai ingin berlatih bertarung serta mempelajari jurus dari kitab yang ada di tangannya, namun hal itu sangat susah dilakukan mengingat dirinya harus terus bergerak ke Kota Zhu. Kemampuan bertarungnya sendiri dia dapatkan setelah melawan banyak musuh yang jauh lebih kuat darinya, meskipun kekuatannya bertambah namun Xin Fai rasa itu belum cukup untuk menghadapi situasi yang lebih genting ke depannya.
Tak mau membuat kepalanya lebih pusing lagi, Xin Fai segera memakai pakaian yang disediakan dan segera menuju aula kediaman keluarga Lian.
Di sana kehadirannya disambut dengan sukacita, kebanyakan dari mereka kagum karena tindakan Xin Fai semalam beberapa dari mereka bahkan mulai memberinya julukan. Seperti Pangeran Putri Kaili, julukan itu membuat Xin Fai malu.
Puluhan anggota keluarga besar Lian mengucapkan terimakasih padanya dan berjanji akan menjadi pihak pertama yang datang ketika Xin Fai membutuhkan bantuan.
Lian Sheng sendiri sudah menganggap Xin Fai sebagai anggota keluarganya meskipun anak itu tak mengakuinya.
"Ah, seandainya putri Kaili ku nanti memiliki seorang pendamping sepertimu..." Lian Sheng berandai-andai, bola matanya begitu berharap menatapi Xin Fai. Pria itu tentu saja takkan melepaskan Xin Fai dengan mudah. Dia melakukan segala cara agar Xin Fai menjadi bagian keluarga Lian.
Xin Fai menggaruk kepalanya kaku, dia tak tahu harus merespon apa sedangkan orang di sekitarnya tertawa melihat wajahnya. Lagi-lagi Xin Fai malu dibuatnya.
Selagi Xin Fai menikmati makanan enak yang disajikan, di penginapan Lang hanya bisa mendengus kesal.
"Mana makananku?!"
Lang mengumpat dengan ekor melibas sekitarnya, dia merusakkan kamar yang disewa majikannya. Cakaran menghiasi dinding kamar dengan geramannya yang makin menjadi.
__ADS_1
Sedangkan Wu Ang serta pekerja di penginapan tersebut memilih keluar dari sana saat menyadari ada seekor siluman mengamuk.
***