Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 48 - Pedang Manusia Darah Iblis


__ADS_3

Awalnya Xin Fai merasa bayi di dalam gendongannya ini hanya memiliki umur sebentar lagi mengingat suhu tubuhnya yang sangat dingin. Xin Fai meletakkan bayi tersebut ke tubuh Lang yang hangat sembari mengeluarkan roti kering.


Dengan persediaan air Xin Fai mencelupkan roti tersebut hingga lembek dan bisa dikunyah oleh sang bayi dengan mudah. Xin Fai menarik napas lega setelah berhasil memberi makan bayi tersebut. Ia menatap mayat-mayat di sekitarnya yang masih nampak baru.


Seluruh mayat di hadapannya telah dipastikan tak bernyawa dan dia hendak membuat pemakaman sebisanya. Xin Fai mulai menggali tanah, keringat membanjiri sekujur tubuhnya saat matahari mulai naik.


Setidaknya beberapa dari mayat ini masih ada yang utuh, beberapa lainnya hanya tersisa sebagian serta terpisah-pisah. Lang sendiri memilih bermalas-malasan sambil menjaga anak bayi di dekatnya, bayi tersebut tidak secengeng tadi karena bulu Lang yang hangat dan membuatnya tidak kedinginan seperti semalam.


Xin Fai menancapkan pedangnya yang dipenuhi oleh tanah sambil mengelap kening dengan segenap rasa lelah. Setelah membuat pemakaman mereka melanjutkan perjalanan keluar dari hutan ini, burung-burung gagak yang bertengger di ranting pohon menatap mereka dari ujung ke ujung seakan tak percaya ada manusia yang bisa lolos dari hutan tersebut.


Sepanjang perjalanan hanya bangkai manusia yang nampak di hutan ini, jumlahnya juga membuat siapapun menganga tak percaya. Dimulai dari kerangka manusia, barang-barang berharga serta pedang yang bernilai tinggi.


Hutan ini selain menjadi lautan kematian juga menyimpan banyak harta berharga milik korbannya. Xin Fai mengutip beberapa barang yang menurutnya menarik tanpa memedulikan omelan Lang. Bagaimanapun pemilik barang-barang ini sudah tiada, jika dia membiarkannya suatu saat nanti juga barang tersebut akan diambil orang lain.


Xin Fai mengeluarkan isi tas dari punggung Lang dan memasukkan beberapa harta berharga dengan tawa puas.


"Hahaha! Benar-benar beruntung! Aku akan menjadi saudagar kaya!!" Xin Fai berseru kesetanan, tangannya merentang lebar layaknya seorang perompak yang sedang hujan emas. Lang mendecak pelan dan memilih berjalan lebih dulu, kewarasannya agak terganggu jika melihat Xin Fai terlalu lama.


Namun beberapa saat setelahnya Xin Fai tak kunjung menyusul Lang, anak itu malah berjongkok di depan mayat seorang pendekar aliran hitam. Lang menyipitkan mata, mau tak mau ia mendekat untuk melihat apa yang sedang diperhatikan Xin Fai.


Sebuah pedang milik anggota Manusia Darah Iblis tertancap di samping mayat pendekar tersebut. Xin Fai ingin mengambilnya namun Lang menyela cepat.

__ADS_1


"Hei orang sepertimu tidak cocok dengan pedang itu karena–"


Belum menyelesaikan omongannya Xin Fai sudah menarik pedang itu dari tanah.


"Karena apa?" Xin Fai bertanya seolah tak terjadi apa-apa. Lang heran, dia duduk memerhatikan dengan lama namun tak terjadi apa-apa.


"Kau tidak merasa energi dalammu terserap oleh pedang itu?"


"Tidak, justru aku bisa merasakan pedang ini cocok denganku."


"Cocok denganmu?! Jangan bercanda, dengan pedang itu semua orang akan menganggapmu Manusia Darah Iblis!"


Lang berkata demikian karena umumnya orang yang tak memiliki tato kalajengking merah akan terserap tenaga dalam serta energi kehidupannya oleh pedang tersebut. Pedang itu memiliki kekuatan khusus yang membuatnya tak bisa dipakai oleh sembarang orang.


Xin Fai memerhatikan tak rela ke arah pedang tersebut, permata batu merah menghiasi di dua titik pedang tersebut membuatnya sangat indah. Serta garis-garis merah yang sangat elegan, membuat Xin Fai takjub.


"Ijinkan aku membawa pedang ini, paling tidak kita bisa menjualnya ketika sampai kota nanti."


Dengan menarik napas berat Lang menyetujuinya, bayi yang berada di tangan tangan Xin Fai kini merengek akibat tekanan dari pedang Manusia Darah Iblis.


Xin Fai menyelipkan pedang itu di belakangnya, sekarang dari depan Xin Fai telah membawa dua pedang yang saling menyilang. Ia tersenyum puas, wajahnya begitu senang mendapatkan barang-barang berharga seperti ini.

__ADS_1


Dalam tiga jam perjalanan akhirnya mereka menemukan jalan keluar dari hutan tersebut, di ujung jalan sana mereka dapat melihat hamparan bukit yang indah. Bayi di dalam gendongan Xin Fai kini lebih nyaman karena bau busuk serta tekanan dari hutan tersebut tak mengganggu tidurnya lagi.


Sempat terpikirkan oleh Xin Fai mencari susu untuk bayi kecil ini, ia menelusuri jauh ke depan dengan teliti dan menemukan sebuah rumah. Di sampingnya terdapat bangunan lainnya yang kemungkinan tempat ternak hewan.


"Semoga saja mereka memelihara sapi atau kambing," ucap Xin Fai pelan. Lang mendengarnya. "Untuk apa? Jangan berbuat yang aneh-aneh, aku sudah cukup pusing dengan tertawaan setanmu tadi." Lang menggerutu kesal.


"Aih, jangan berburuk sangka dulu dasar serigala cerewet. Kau lihat bayi ini mungkin kelaparan."


Sebelumnya Xin Fai pernah merawat bayi dan tentu saja itu adalah adiknya sendiri, Xin Xia. Dia setidaknya memiliki sedikit pengalaman dalam hal mengurus bayi.


"Huaahhh..." Tangisan bayi terdengar, Xin Fai kelabakan. Dia mendekap bayi semakin erat karena menurutnya angin di sini cukup dingin.


Mata Xin Fai tertuju pada sebuah kalung dengan tulisan di leher bayi, ia membaca nama bayi tersebut. Nama Putri dari anak bangsawan tersebut adalah Lian Kaili.


Untuk mengembalikan bayi ini ke orang tuanya setidaknya Xin Fai sudah mengambil sebuah tatahan dengan lambang serta ukiran yang indah dari mayat ibunya. Jika benar dugaannya, benda itu merupakan tanda pengenal sebuah keluarga bangsawan. Xin Fai menyimpan benda itu di balik jubahnya dan berfokus untuk mendatangi rumah di dekat sana.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di rumah yang tergolong cukup sederhana, Xin Fai mengetuk pintu pelan.


Seorang wanita keluar bersama dua anaknya yang kelihatannya sebaya dengan Xin Fai, mereka kebingungan dengan kehadirannya seorang diri. Lang sebelumnya sudah masuk ke tubuh Xin Fai agar tak membuat orang lain curiga.


"Aku butuh tempat berteduh, dan sedikit susu untuk bayi ini. Jika tidak keberatan, aku akan memberi beberapa keping emas," ujar Xin Fai. Wanita di hadapannya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Masuklah."


__ADS_2