Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 215 - Permintaan Maaf


__ADS_3

Setan Gila jatuh tersungkur memeluki tulang istrinya, dia tidak memiliki keahlian hebat lainnya selain ilmu meringankan tubuh. Menyadari aura begitu mengerikan dari tubuh Xin Fai adalah kekuatan seorang pendekar yang sudah mencapai tingkat tinggi dirinya tidak berani bertindak gegabah.


"Ma-maafkan aku!" Setan Gila menangkupkan kedua tangan di depan, "Selama ini aku memerkosa gadis itu hanya sebagai pelarian setelah kematian istriku..."


Tatapan pria itu menyiratkan kesedihan mendalam, wajahnya yang agak menua dan sedikit rambut putih muncul di rambutnya memang memperjelas umurnya sudah memasuki kepala lima. Pria berjulukan Setan Gila ini tampak jauh lebih lemah saat dalam keadaan diam.


"Jadi wajah penuh marahmu itu asalnya dari mana?" Xin Fai balik bertanya.


"Orang yang membunuh istriku adalah para gadis yang menuduhnya melakukan ritual gelap pemanggilan setan, aku tidak bisa memaafkan mereka semua..." Pria itu mengeratkan jari-jarinya hingga memutih.


"Dan kau memukul rata itu semua pada gadis-gadis di dunia ini? Banyak orang tidak bersalah yang harus kehilangan kehormatannya karenamu."


"Aku tidak peduli!"


"Dan aku juga tidak akan peduli lagi dengan nyawamu. Kisah masa lalu itu tidak seharusnya kau bawa-bawa sampai ke orang lain!"


Xin Fai menggebukan pedangnya ke arah Setan Gila yang hanya bisa bertahan dengan tumpuan dinding sebagai sandaran, giginya merapat dengan napas tertahan saat kekuatan besar mendatanginya. Tidak disangka pula setelah sepuluh tahun berturut-turut tidak ada yang mengetahui di mana tempat tinggalnya akhirnya hari ini seorang anak muda datang kemari hendak membunuhnya.


"Aku hanya tidak bisa memaafkan mereka! Apa itu salah?!" Setan Gila melepaskan pegangannya pada kerangka sang istri dan bergerak penuh perlawanan menyerang Xin Fai.


"Karena sikapmu yang tidak pernah berubah itu, kau selalu hidup dalam penderitaan! Kau bilang istrimu dituduh, bukan? Itu artinya dia adalah orang yang baik. Jika dia benar-benar orang baik kurasa dia tidak akan senang melihatmu memerkosa gadis-gadis seperti ini!"


Ren Yuan dan dua gadis berdiri memaku di ujung lorong melihat perkelahian itu, suara Xin Fai menggelegar bak pahlawan kesiangan. Setidaknya, sikapnya itu membuat para gadis jatuh cinta padanya, termasuk Ren Yuan.


"Banyak omong! Kau yang masih berumur pendek jangan coba-coba menasehati pak tua sepertiku!"


"Otakmu saja yang tumpul, pak tua! Cobalah berdamai dengan masa lalumu. Semua orang juga pernah merasakan kehilangan seperti yang kau rasakan..."


Xin Fai memberhentikan laju ucapannya, dia sadar justru kata-kata itu menohok dirinya sendiri. Dendamnya pada Manusia Darah Iblis masih terus tumbuh subur, membakar dirinya pelan-pelan. Semakin banyak manusia terbunuh justru amarahnya semakin terbakar, para manusia itu ibarat kayu yang memicu api. Hasutan iblis mengipas telinganya membuat api tersebut semakin berkobar tanpa dirinya sadari.


Merenungkan hal itu selama beberapa saat, Setan Gila akhirnya mendorong Xin Fai dari hadapannya dan berdiri tegak menghunuskan pedang.


"Tidak ada yang perlu diperbaiki, jiwaku memang sudah rusak dan yang merusaknya bukan aku sendiri tetapi orang lain."

__ADS_1


"Ah, benar kata Ibu." Xin Fai masih terngiang dalam ingatan masa kecilnya. "Yang baik belum tentu baik dan jahat belum tentu jahat, aku bahkan tidak bisa mengetahui di mana diriku berada saat ini."


"Sepertinya kita sama saja, ya?" Setan Gila menurunkan pedangnya, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau kau mau ambil saja salah satu gadis itu bersamamu, kita boleh bersekongkol kalau kau mau."


Penawaran itu membuat gadis-gadis di belakang Xin Fai menjadi takut, mereka berdiri di balik punggung Ren Yuan.


"Aku datang ke sini untuk membalaskan perbuatanmu, malah mengajak kerja sama. Kau kira aku pendekar cabul ya?"


"Ap–"


Baru saja hendak berkata sebuah tebasan melintang tepat di wajah pria itu, membuat kepalanya terbelah dalam satu potongan tajam. Darah mengucur deras membasahi dinding rumah lalu mengalir di lantai tempat berpijak.


"Itu untuk membalaskan kematian kudaku yang sudah kau bunuh dengan kejamnya."


Sebelumnya setelah menelusuri satu isi rumah ini Xin Fai telah menemukan satu peti mati lagi, dia menyeret satu peti itu agar bersebelahan dengan peti milik istrinya lalu menaruh mayat Setan Gila ke dalamnya.


"Setelah ini beristirahatlah dengan tenang, semoga jiwamu diterima."


"Terimakasih sudah repot-repot menyelamatkanku."


"Hanya kebetulan saja, aku mengejar pria itu karena dia sudah membunuh kudaku."


Ren Yuan melirik ke atas sebentar entah kenapa perasannya sedikit terusik, gadis itu melirik ke arah purnama di luar jendela. Bersinar sangat terang. Auman serigala dan burung hantu terdengar di hutan rimba di luar sana, tampak begitu menyeramkan jika harus dilalui saat malam hari.


"Berhubung situasi di hutan begitu berbahaya lebih baik kalian tidur di sini untuk sementara, kalau sudah pagi nanti aku bangunkan."


Ragu tampak di wajah mereka, bagaimanapun Xin Fai bisa saja berbuat sesuatu saat mereka tertidur.


"Ck, jangan kira aku akan menyentuh kalian. Tidurlah sana, aku akan berjaga-jaga di luar," ucapnya berlalu ke luar rumah. Sebuah bangku dari alas kayu menjadi tempatnya duduk, Xin Fai menarik napas dalam menikmati udara malam yang begitu dingin menusuk tulangnya.


Saat tengah sibuk dalam lamunan, suara nyamuk berdenging tepat di telinganya. Xin Fai berusaha menepuk nyamuk itu namun suaranya semakin lama kian banyak, berulang kali decakan keluar dari bibirnya sampai Xin Fai kelelahan sendiri. Dia menelan ludah jengkel membiarkan tubuhnya menjadi santapan nyamuk-nyamuk.


"Memang situasi seperti ini aku selalu menjadi korban." Pemuda itu bergumam kesal, hari ini dipastikan dia tidak bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


"Salah kau yang menawarkan diri," ucap Ren Yuan tiba-tiba. Dia berdiri tepat di depan pintu dengan sebuah selimut dalam genggamannya.


"Pakai ini."


Xin Fai menyambut selimut itu kemudian segera memakainya, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Ren Yuan duduk di dekatnya. Terjadi kecanggungan dalam beberapa saat, tampaknya Xin Fai enggan membuka suaranya apalagi menatap ke arah gadis itu.


Ren Yuan berbicara hati-hati, memecahkan keheningan saat itu. "Boleh aku jujur?"


"Tentang?"


"Sikapmu padaku," ujar Ren Yuan murung. "Sepertinya kau masih membenciku."


"Aku tidak menyimpan benci padamu."


"Lalu kenapa kau bersikap dingin padaku?"


Xin Fai menarik sebelah alisnya bingung sambil berpikir agak lama, tatapannya masih lurus ke depan memikirkan kata-kata tepat yang akan keluar dari mulutnya.


"Aku hanya tidak bisa beradaptasi dengan orang bangsawan sepertimu."


Rasa sakit akan penghinaan yang diterima ayahnya di masa lalu masih begitu berbekas, bagaimana Ayahnya yang selalu menghormati mereka yang derajatnya lebih tinggi diludahi seperti binatang. Andai saja Xin Fai mengetahui Shen Xuemei adalah salah satu bangsawan mungkin sikapnya juga akan berubah.


"Apa kata-kataku dulu terlalu menyakitkan? Kalau iya aku minta maaf."


"Ya, balik tidur saja sana. Aku ingin sendiri."


Ren Yuan tidak mau beranjak ke kamar di mana dua gadis lainnya tertidur pulas, di saat seperti ini rasa takutnya akan hantu semakin menjadi-jadi.


"Tidak mau, aku lebih baik duduk di luar saja daripada di dalam."


"Ya sudah kalau begitu kau jaga di luar aku mau tidur di dalam." Xin Fai menarik selimutnya dan hendak memasuki rumah. Lantas saja Ren Yuan menarik selimut itu dengan erat.


**

__ADS_1


__ADS_2