
Di putaran selanjutnya pertarungan kembali berjalan sengit, Ren Yuan si gadis bangsawan nyatanya berhasil lolos ke babak 8 besar setelah mengerahkan segala upaya dan hanya menang tipis dari lawannya.
Yu Yuwen sendiri masih konsisten menang tanpa mengeluarkan banyak gerakan hingga para penonton terkagum-kagum melihat kemampuan pemuda itu, lawannya sendiri sudah mengalami luka cukup berat dari pertarungan sebelumnya dan tak bisa disembuhkan dalam kurun waktu satu jam saja, setidaknya hal ini semakin mempermudah Yu Yuwen untuk memenangkan pertandingan.
Xiu Juan yang merupakan murid jenius nomor satu menang telak melawan murid dari sekte aliran netral terkuat, dia sama sekali tak terkalahkan sejak awal Turnamen Pendekar Muda dimulai. Pergerakannya yang lincah dan mematikan sering kali menjadi penyebab utama kekalahan lawannya.
Murid dari sekte besar bernama Han Dachu lolos ke babak 8 besar, menggunakan ilmu silatnya yang bisa dikatakan hebat bukan tidak mungkin dirinya menjadi 3 besar dalam turnamen ini. Han Dachu sendiri memiliki jurus-jurus unik dan pergerakannya sangat sulit ditebak lawan, ditambah kondisi tubuhnya yang jauh lebih baik daripada lawannya akhirnya pemuda itu lolos dan akan bertarung di babak final.
Sedangkan Lan An akhirnya mengeluarkan jurus Seribu Roh miliknya, meskipun tak mengeluarkan roh namun daya serangnya termasuk mematikan.
Pergerakan Lan An yang sulit ditebak berhasil merobohkan pertahanan lawannya dalam beberapa menit, orang-orang yang baru mengetahui kekuatannya dibuat terkagum kembali melihat para calon Pilar Kekaisaran ini, kekuatan mereka jauh lebih tinggi dari yang mereka bayangkan. Sudah dipastikan orang-orang yang memasuki babak 8 besar ini merupakan pendekar muda terpilih yang sangat berbakat.
Qin Gaozu mengelus jenggot sambil mengamati satu per satu pendekar muda yang bertanding, pertarungan Xin Fai dan lawannya yang merupakan pengguna tombak menjadi fokusnya saat ini.
Saling bertukar jurus dalam beberapa detik membuat pergerakan yang mereka perlihatkan serba cepat serta tak bisa diikuti menggunakan mata telanjang, lawan Xin Fai ini seorang murid dari biksu yang terkenal di Kekaisaran Shang. Kekuatannya pun bisa disetarakan dengan Shen Xuemei maupun Yu Yuwen.
__ADS_1
Tongkat beradu dengan pedang menimbulkan suara getaran yang lebih memekakkan telinga, semua orang terdiam menyimak pertarungan itu. Mereka sama sekali tidak bisa menebak pemenang di antara mereka.
Sedangkan Yong Tao masih saja tak mengerti darimana Xin Fai bisa menguasai teknik pedang yang sangat tinggi, setahunya murid paling jenius sekalipun masih sering salah dan juga kaku dalam memainkan senjata, itupun jika diteliti lebih cermat lagi. Namun gerakan yang Xin Fai tunjukkan layaknya pemandangan sebuah air terjun yang terus mengalir, tidak ada kesan terburu-buru dalam gerakannya dan sedikitpun serangan tak pernah melukai tubuhnya.
Sang biksu muda bahkan kehabisan akal untuk dapat mengenai tubuh Xin Fai, tongkatnya bergetar hebat saat pedang milik Xin Fai menghantamnya.
Tangan biksu muda pun mulai memerah akibat menahan tekanan yang terus menerus datang dari Xin Fai, biksu muda mundur beberapa langkah namun dia terlihat tak bisa melepaskan diri lagi.
"Tendangan Bulan Sabit!"
Melihat biksu muda tak lagi bergerak Yang Guifei mengangkat sebelah tangan. Xin Fai keluar sebagai pemenang pertarungan ini.
Li Yong akhirnya kembali bernapas tenang melihat satu perwakilan Kuil Teratai memasuki babak 8 besar. Rasa harunya itu tak bisa ditahannya lagi, namun pendeta itu berusaha terlihat tenang dan berwibawa sehingga tidak ada yang melihatnya sedang tersenyum lebar.
"Xin Fai ini, dia benar-benar kuat. Saat seumuran dengannya saja kekuatanku sudah kalah jauh darinya."
__ADS_1
Li Yong mengembuskan napas kecil, dia memerhatikan orang yang sedang dibicarakannya itu berjalan keluar arena tanpa memedulikan kebisingan di kursi penonton, mereka terus saja terpana melihat pertarungan pemuda kecil itu.
Hanya menggunakan beberapa jurus yang terlihat sederhana saja dia bisa menang dengan mudah. Mereka bisa menjamin masih banyak jurus aneh lainnya yang dimiliki Xin Fai dan tak sabar menunggunya tampil mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Li Yong sendiri sudah terbiasa dengan Xin Fai yang selalu penuh kejutan, dia memaklumi pemuda kecil itu memiliki banyak rahasia dan kekuatan hebat lainnya namun memilih menyembunyikan semua itu dan hanya menggunakannya ketika diperlukan.
Pertandingan terakhir adalah pertarungan Shen Xuemei melawan seorang pemuda yang memiliki kulit gelap, pemuda itu sangat percaya diri terhadap kekuatannya bahkan sepanjang pertandingan berlangsung mulutnya terus mengoceh seperti burung beo.
Shen Xuemei agak terganggu dengan ocehan pemuda itu, dia melampiaskannya dengan serangan. Kelihatan Shen Xuemei ingin sekali mengakhiri pertandingan secepatnya agar bisa istirahat mengingat tubuhnya sendiri sudah hampir mencapai ambang batas.
Sebelumnya berkat kerja sama tim medis dirinya berhasil siuman dan bisa mengikuti pertandingan, namun Shen Xuemei disarankan untuk tidak terlalu memaksakan diri karena terjadi pendarahan serius di bagian perutnya akibat pertarungan tadi.
Percikan bunga api keluar dari kedua pedang yang saling beradu kencang, Shen Xuemei mendorong pedangnya semakin kuat hingga lawannya terpojokkan. Meski begitu pemuda berkulit gelap tak mau menyerah, dia juga mengeluarkan segala upaya untuk lepas dari tekanan pedang Shen Xuemei.
Lantai tempat pemuda berkulit gelap berpijak bahkan mengalami retakan kecil akibat tekanan pedang Shen Xuemei yang sangat besar, dia menyadari lawannya ini bukan orang sembarangan dan jika beradu fisik maupun keahlian bela diri maka dirinya akan dipastikan kalah seribu persen dari Shen Xuemei.
__ADS_1