
Wanita tersebut mempersilakan Xin Fai masuk, dengan segera Xin Fai memasuki rumah. Temperatur di dalam lebih hangat dibandingkan di luar sana, langit beberapa hari belakangan mendung seperti hendak menurunkan hujan. Dan benar saja, tak berapa lama Xin Fai memasuki rumah, ternyata hujan turun lebat setelahnya.
Xin Fai memerhatikan ke luar jendela, hujan begitu lebat disertai angin kencang. Xin Fai bersyukur menemukan rumah ini sebelum hujan turun. Suara jendela yang terbuka tutup membuat kebisingan, salah seorang anak perempuan menutupnya dengan tergesa-gesa.
Sedangkan ibu mereka membawa makanan serta minuman hangat ke hadapan Xin Fai, masih setia dengan senyum tipisnya.
"Kalau kau lapar, makanlah. Aku akan menjaga adikmu untuk sementara."
Xin Fai menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. "Dia bukan adikku," sangkalnya. "Aku menemukannya dari hutan sana."
"Maksudmu Hutan Terkutuk itu?"
"Hutan Terkutuk?"
"Hutan Terkutuk adalah julukan untuk hutan yang mengerikan itu, bagaimana kau bisa melewati tempat berbahaya seperti itu?" Wanita di hadapannya jelas-jelas tak percaya namun di sisi lain tak berani menganggap Xin Fai membual. Untuk sampai ke rumahnya, tentu saja harus melewati hutan tersebut.
"Aku mengalahkan siluman raja tikus di sana."
Kedua anak wanita itu diam-diam menguping dari kejauhan sedangkan ibu mereka memerhatikan Xin Fai dengan air muka serius.
Napas wanita itu bahkan sempat berhenti ketika Xin Fai mengatakan hal tersebut.
"Raja siluman tikus sudah terbunuh? Yang benar saja! Kedua orang tuaku terbunuh olehnya, dan setelah berpuluh-puluh tahun akhirnya dia mati juga."
Kali ini dari mata Xin Fai, wanita itu dapat memastikan bahwa dia sama sekali tidak berbohong. Wanita itu memperkenalkan dirinya serta anak-anaknya.
"Kami tinggal di sini telah bertahun-tahun dan tidak pernah mendapatkan tamu. Aku begitu terkejut saat melihatmu datang dari arah hutan itu..." Wanita bernama Qiong Lin mulai bercerita, Xin Fai mendengarkan dengan seksama.
"Apa tidak ada jalur tempuh lain selain hutan itu?"
__ADS_1
"Tentu saja ada," kata Qiong Lin. "Tapi kau harus menempuh jarak yang tiga kali lebih jauh. Hanya orang yang sama sekali tidak pernah berkelana kemari yang akan terjebak di hutan itu."
"Benar juga, aku sama sekali tidak tahu tentang hutan itu." Xin Fai memijit kepalanya. Jika saja kekuatan siluman tikus itu lebih besar dia tidak yakin bisa mempertahankan nyawanya.
"Tapi sebelumnya, aku berterimakasih kepadamu karena sudah membunuh siluman itu. Dengan begitu kedua orang tuaku bisa tenang di alam sana..."
Bagi Qiong Lin sendiri tidak ada gunanya Xin Fai membohonginya, selain keajaiban karena anak itu bisa sampai ke tempatnya, Qiong Lin juga merasakan hawa yang berbeda terpancar dari tubuh Xin Fai. Anak itu nampak sangat bersinar, mata emas cerahnya begitu mencolok dan menurut Qiong Lin sendiri Xin Fai memiliki pembawaan layaknya seorang pahlawan.
Bayi dalam gendongan Qiong Lin menangis, Xin Fai memasang wajah khawatir.
"Dia butuh susu... Apa kalian memelihara kambing atau sapi?"
Qiong Lin tersenyum ramah, Xin Fai memang masih berpikiran polos. Rasanya Qiong Lin tak bisa mempercayai anak kecil seperti Xin Fai mengalahkan siluman raja tikus sendirian namun tetap saja hatinya memaksa percaya.
Qiong Lin berucap halus. "Aku akan menyusuinya, sementara itu makanlah makanan sederhana kami. Anggap saja rumah sendiri ya..."
Qiong Lin sudah memasuki kamarnya dan beberapa detik setelahnya suara tangisan Lian Kaili mulai berhenti. Xin Fai mengalihkan perhatiannya ke sudut ruangan dan mendapati salah satu putri wanita itu menatapnya dengan malu.
"Ehm... Maaf sebelumnya mengganggumu makan..." Dia tampak malu, terlihat dari pipinya yang mulai merona. Xin Fai mengangkat wajahnya dengan mulut penuh.
"Perkenalkan namaku Qiao Feng, dan yang di sana..." Qiao Feng menunjuk di balik pembatas ruangan. "Adikku, Qiao He."
Orang yang ditunjuk Qiao Feng akhirnya menampakkan diri, dia menggembung pipi sambil bergabung dengan kakaknya.
Sehabis menelan makanan Xin Fai baru memperkenalkan dirinya. "Aku Xin Fai, dari desa Peiyu. Senang bisa bertemu dengan kalian."
Namun seakan tak memperdulikan basa basi tamunya, Qiao Feng langsung saja melayangkan pertanyaan yang daritadi memenuhi otaknya. "Kudengar tadi kau membunuh siluman raja tikus di hutan itu, apa itu benar?" tanyanya menggebu-gebu.
Xin Fai agak ragu menjawabnya, sebenarnya tanpa bantuan Lang dia belum tentu menang dari siluman itu.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu."
"Apa kau punya buktinya? Rasanya aku tidak bisa mempercayai ucapanmu itu." Adik Qiao Feng bercelutuk sinis, dia tampaknya tak begitu menyukai tamu mereka.
Xin Fai tersenyum menanggapi kata-kata itu, dia berusaha tak mengambil hati mengingat Qiao He masih begitu belia. Qiao He lebih muda dua tahun dari Xin Fai.
"Jika kau tidak mempercayainya kau bisa pergi bersamaku besok ke hutan itu. Jika kau menemukan tanda-tanda siluman tikus, kau bisa berlari meninggalkanku sendiri di hutan itu."
Perkataan Xin Fai membuat Qiao He terdiam, kakaknya berbisik dengan gerakan sewot yang menunjukkan bahwa adiknya tidak boleh menyinggung orang seperti Xin Fai.
"Maafkan aku jika menyinggungmu." Qiao He nampak acuh tak acuh mengatakannya, tatapannya datar dan sangat malas. Kemudian Qiao He bangun, bergerak memasuki kamarnya.
Qiao Feng menatap punggung adiknya yang telah memasuki kamar, ia beralih melihat Xin Fai sambil tersenyum kaku. "Maafkan adikku, dia memang seperti itu."
"Tidak apa-apa, aku tak memasukkannya ke hati."
Saat hendak berbicara lebih banyak lagi Qiao Feng mengurungkan niatnya ketika melihat ibunya datang sambil menggendong seorang bayi yang kini tertidur pulas dalam dekapannya.
"Aku berniat menidurkannya di kamarku, itupun jika kau mengizinkannya. Kurasa nanti malam dia akan terbangun lagi..."
Xin Fai mengerti maksud Qiong Lin, bayi seperti itu harusnya sering terbangun saat tengah malam dan menimbulkan keberisikan. Dia segera menyetujui usulan tersebut.
"Terimakasih sudah mau menjaganya untukku," kata Xin Fai setelahnya.
Qiao Feng menunjukkan kamar kosong yang bisa dipakai Xin Fai untuk beristirahat, sambil meregangkan ototnya Xin Fai masuk ke dalam berniat merebahkan tubuhnya yang kelelahan.
Tampaknya perjalanan ini tidak akan berjalan mulus seperti yang Xin Fai harapkan. Dia menemukan banyak masalah yang harus diselesaikan dengan terpaksa, bagaimanapun juga Xin Fai tidak bisa membiarkan bayi bernama Lian Kaili itu sendirian di Hutan Terkutuk.
Namun resikonya, Xin Fai terpaksa harus mencari tahu keberadaan orang tua Lian Kaili. Kepala Xin Fai semakin pusing, dia memilih tidur dan memikirkannya esok hari.
__ADS_1
***