
Seharusnya setelah melewati dua kota selama tiga minggu, rombongan Li Yong hanya perlu menempuh jalur di pelabuhan yang menghubungkan Kota Fanlu tempat mereka saat ini dengan pusat kota Kekaisaran Shang yaitu Kota Renwu.
Dikatakan jalur air jauh lebih mengerikan dibandingkan jalur daratan disebabkan oleh kehadiran mahkluk misterius yang berusia bahkan puluhan ribu tahun di bawah air Kota Fanlu.
Banyak ditemukan kasus kapal hilang serta munculnya pusaran air yang aneh di tengah lautan tersebut. Bahkan, sempat salah satu warga melihat seekor binatang sepanjang ratusan meter dan memiliki bentuk seperti naga tanpa kaki yang berenang di lautan lepas tersebut.
Cerita itu diterima baik karena banyaknya orang yang melihat hal yang sama, karena itulah Li Yong yang saat ini mengajak para murid untuk makan di restoran ini mendadak pucat pasi.
Kisah itu diceritakan oleh salah seorang pendekar yang sejak tadi berbicara dengan mereka, sekedar hanya untuk berbasa-basi namun tak terasa sudah dua jam mereka mendengarkan cerita lelaki tersebut.
"Apa kalian pernah mendengar legenda Siluman Penguasa Bumi?"
Siluman Penguasa Bumi sendiri dikatakan sebagai kumpulan para siluman-siluman legenda dengan kekuatan setara dewa. Tak banyak yang memastikan benar atau tidaknya cerita tersebut namun dahulu kala dikatakan salah seorang pernah menjadi Tuan salah satu Siluman Penguasa Bumi ini.
Siluman Penguasa Bumi terbagi berdasarkan setiap elemennya, ada Siluman Penguasa Air, Api, Tanah, Petir, Langit, Angin, Es dan beberapa lainnya. Semua siluman ini tersebar di seluruh dunia dan hampir tak pernah diketahui asal usulnya.
"Yang berada di Kota Fanlu ini kemungkinan Siluman Penguasa Air, bentuknya seperti seekor naga tanpa kaki dan memiliki tanduk air. Jika kalau kau menanyakan kekuatannya..."
Karena restoran berseberangan tepat ke arah lautan lepas, mereka bisa melihat arah tunjuk pria itu.
"Dia bisa menggulung air dari ujung samudera sana sampai ke kota kami. Dulu, sebuah gelombang menerpa kota kami dan yang menyebabkannya kemungkinan besar adalah siluman itu." Lelaki itu meminum araknya, wajahnya mulai memerah dan nampaknya dia mulai kelelahan bercerita sampai berjam-jam.
"Ah, aku sangat berterimakasih atas informasinya setidaknya kami akan lebih berhati-hati setelah ini."
Untuk bisa menaiki kapal pengangkut penumpang, mereka harus menunggu malam hari. Sebelumnya Li Yong telah menyewanya dan sekarang mereka hanya perlu menunggu malam tiba.
Hari beranjak gelap, langit malam dengan tiupan angin di pelabuhan sedikit memberi ketenangan pada Xin Fai dan Huang Kun. Mereka berdiri di tepi jembatan sambil memejamkan mata.
"Cerita Siluman Penguasa Bumi tadi sangat keren, aku ingin sekali bertemu dengan mahkluk seperti itu... Seperti di dongeng saja... Hahaha!"
Huang Kun tertawa renyah, dia sampai menunjuk ke arah laut.
"Menurutmu mahkluk seperti itu memang ada?"
Kali ini Xin Fai berdalih menatap lautan lepas di depannya. "Entahlah, mau ada atau tidak. Kita harus sampai ke Kota Renwu dengan selamat."
Keduanya menatapi Li Yong yang tengah berteriak dari kejauhan dan meminta mereka segera menaiki kapal jika tak ingin ketinggalan.
__ADS_1
Namun sesaat sebelum menginjakkan kaki ke kapal, bumi seakan berguncang. Permukaan laut bahkan ikut bergetar seiring suara makhluk misterius yang terdengar menggema dari dasar laut terdalam.
Di saat itu juga Huang Kun dan Xin Fai saling menatap.
"Siluman itu benar-benar ada!"
***
Huang Kun sempat menolak menaiki kapal namun Li Yong tak memberikannya pilihan, mereka hanya mempunyai waktu kurang empat hari lagi untuk sampai ke kota Renwu sebelum turnamen dimulai.
Sedangkan untuk menempuh jalur lain akan menghabiskan waktu berminggu bahkan sampai berbulan-bulan untuk mencapai Kota Renwu.
"Kita sudah terlanjur ke sini. Siluman Penguasa Air takkan memakanmu selagi kau menuruti perkataan guru Li Yong." Shen Xuemei bercelutuk datar, wajahnya benar-benar tanpa ekspresi membuat Huang Kun gemas.
"Huh! Terserah kau saja, aku tidak takut sama sekali pada siluman itu asal kau tahu."
Kapal bergerak di tengah malam yang hening, sedangkan Li Yong, Shen Xuemei serta Huang Kun beristirahat di dalam, Xin Fai mencari udara segar dengan berdiri di anjungan kapal.
"Ah, aroma lautan... Aku sudah lama tak menciumnya sebelum terakhir kali melaut dengan Ayah."
Senyum kecil terpampang di bibirnya, mengingat Ayahnya dulu sering menceritakan kisah tentang bintang dan lautan. Kedua hal itu adalah hal paling sering diceritakan oleh lelaki cemara angin itu, tubuhnya memang kurus ringkih layaknya pohon yang baru saja disambar petir namun kebaikan hatinya takkan pernah Xin Fai temui di belahan bumi manapun.
Permata Cahaya Biru pemberian ibunya kini Xin Fai tatap sangat lama, bagaimanapun dia masih sangat muda. Kehilangan seluruh keluarga dalam suatu pembantaian menjadi luka terdalam baginya.
Xin Fai mendekatkan permata bundar tersebut. Dia mengernyit saat menemukan bentuk aneh di dalam permata tersebut.
"Ini... Apa?"
Xin Fai melihat jelas bentuk di dalam permata, ada huruf yang membentuk nama 'Xin' yang menunjukkan nama depannya dan di dalam batu permata tersebut terdapat bentuk sebuah naga biru.
"Naga?!"
Seketika mata Xin Fai membelalak lebar, dia mengingat sesuatu namun situasi panik tersebut tak memungkinkan dirinya untuk berpikir jernih.
"Tenangkan dirimu, Xin Fai... Tenang..." Dia menggumam sendiri sembari menarik napas, berusaha menatap permata tersebut lebih fokus agar ingatannya kembali dan akhirnya dia mengingat sesuatu.
Dulu, ketika larut malam saat memancing ikan di laut lepas, ada satu kisah selain bintang dan lautan yang sering dibicarakan Ayahnya.
__ADS_1
Yaitu tentang kisah sebuah tempat yang bernama Dataran Yang.
Dulu sekali, hidup seorang yang berasal dari garis keturunan Xin yang bernama Xin Feng. Xin Feng adalah satu-satunya sosok manusia yang bisa berteman dengan siluman buas sekalipun, dia memiliki bentuk tak seperti manusia pada umumnya. Dengan memiliki buntut rubah dan gigi seperti kelelawar, pria itu diasingkan oleh orang-orang sekitarnya.
Hingga suatu saat, dia memiliki seorang kekasih yang menerimanya apa adanya lalu mereka menikah. Pasangan itu berkelana di seluruh dunia dan menganggap siluman sebagai anak mereka.
Suatu ketika Xin Feng bertemu salah satu Siluman Penguasa Bumi, siluman yang berasal dari lautan yang sangat besar. Saat kapal kecil yang dipakainya bersama sang istri pecah digulung ombak, dirinya dipertemukan dengan siluman itu.
Sang siluman tak menganggap Xin Feng ancaman, karena hawa yang dia miliki sama sekali bukan seperti manusia. Berbeda dengan istrinya.
Sang Siluman Penguasa Air menawarkan mereka untuk mendiami sebuah dataran yang tak akan pernah disentuh oleh manusia kecuali jika mendapatkan izin dari para Siluman Penguasa Bumi. Sejak hari itu pula, Xin Feng menjadi Tuan dari Siluman Penguasa Air.
Dataran Yang adalah sebuah tanah yang subur, indah, dan juga sangat damai. Terletak di balik bukit dan berada di suatu pulau terpencil di tengah lautan lepas. Di sana binatang buas sekalipun takkan mau menggigit manusia. Tak ada kekacauan di sana, hidup antara siluman dan manusia di sana sangatlah tenteram. Ketika menceritakannya mata Xin Wao–ayah Xin Fai berkaca-kaca.
"Di sana tidak akan ada manusia yang memperlakukan sesamanya berdasarkan status sosial." Kata lelaki itu.
Kisah tersebut terjadi lima ratus tahun yang lalu, Xin Feng dan istrinya tinggal di Dataran Yang lalu memiliki keturunan. Ketika umur Xin Feng sudah tak lama lagi, sang Siluman Penguasa Air hanya bisa menyesali umur manusia yang tak bisa hidup selama siluman.
Dengan hilangnya tanda pemilik di tubuh Siluman Penguasa Air, maka ketujuh anak-anak Xin Feng harus segera meninggalkan Daratan Yang.
Meskipun banyak yang tak mempercayai kisah tersebut namun kisah tersebut emang benar-benar ada.
Jantung Xin Fai berdetak kencang saat suara di bawah laut sana menggema menimbulkan getaran di badan kapal. Buih-buih udara meletup di permukaan.
Seketika awan hitam pekat berkumpul di atasnya, menimbulkan petir yang amatlah mengerikan ditambah dengan angin ribut di seluruh penjuru laut. Angin itu hanya memutari kapal mereka dan itulah yang membuat Xin Fai semakin ketakutan.
Tak lama keluar beberapa pendekar yang menumpangi kapal, mereka melihat keadaan sekitar dengan raut yang sama buruknya dengan wajah Xin Fai.
"Ibu... Jangan berbohong padaku... Ibu bilang permata ini akan menyelamatkanku dari marabahaya namun saat ini justru seperti mendatangkan bahaya itu sendiri...."
Permata di telapak tangan Xin Fai bercahaya saat sesuatu yang panjangnya lebih dari dua ratus meter disertai dengan bentuk yang begitu mengerikan keluar dari air dan terbang ke atas langit, hal itu membuatnya takut sekaligus takjub.
Terdengar suara mengerikan setelahnya, sesuatu itu berputar haluan dan menghadap langsung ke arah kapal.
Dia adalah siluman legenda yang selama ini dianggap hanya bualan, siluman yang kekuatannya setara dengan para dewa.
Dialah Siluman Penguasa Air.
__ADS_1
***