
"Kau siapa?" Shi Long berkata waspada, dia tidak bisa melihat wajah Xin Fai yang kini tertutup dengan pelindung kepala.
"Aku? Menurutmu?"
Wanita itu melebarkan matanya saat bisa mengingat kembali suara khas itu, dia memastikan orang yang berdiri di depannya adalah peserta yang tiba awal tadi.
Selagi wanita itu berpikir keras Xin Fai langsung saja membunuhnya di tempat, wajah wanita itu terpotong dengan pedang dan kini Xin Fai pergi begitu saja setelah membuatnya kehilangan nyawa.
Beberapa anggota yang berkeliaran di sekitar markas dipastikan akan langsung mati di tempat setelah berhadapan dengan Xin Fai, dia bergerak begitu leluasa setelah bisa melihat dengan jelas musuhnya. Jika dalam keadaan tidak bisa melihat Xin Fai hanya bisa mendeteksi keberadaan musuh yang berada setidaknya dua puluh meter menggunakan indera pendengarannya namun kali ini menggunakan matanya yang jeli siapapun yang berada di kejauhan akan dibunuhnya tanpa sisa.
Beberapa barang hasil jarahan Xin Fai ambil dari mayat musuhnya, dia merasa puluhan koin emas dan kitab itu akan cukup bernilai jika digunakannya ke depan nanti. Api obor yang semula bergerak kencang akibat tiupan angin kini berpindah ke tangan Xin Fai, dia baru saja membantai semua orang di bangunan penginapan dan langsung saja membakar bangunan tersebut.
Tak berapa lama berselang Xiang Yu akhirnya dapat menemukannya, dia segera angkat bicara.
"Pendekar Muda, boleh kutahu siapa namamu? Apa kau berasal dari aliran putih?" Xiang Yu langsung saja melemparkan pertanyaan demikian, dia yakin lawan bicaranya ini tidak begitu suka diajak berbasa-basi.
"Aku bagian dari keduanya."
Jawaban itu menimbulkan ribuan tanda tanya di kepala Xiang Yu, dia mendekat. "Maksudmu? Kalau kau bagian dari keduanya apa alasanmu membunuh mereka?"
Hening beberapa saat membuat Xiang Yu merasa waspada kata-katanya mengusik pemuda itu, namun akhirnya terdengar juga jawaban dari mulut Xin Fai.
"Aku hanya membunuh siapa yang pantas dibunuh." Dia menoleh ke samping melihat pasukan yang dibawa Xiang Yu.
Dapat mengerti apa yang berada di kepala Xin Fai, lelaki itu segera menjelaskan maksud kedatangan mereka semua.
"Kami berasal dari sekte Lembah Kabut Putih, Senior Yong memerintahkan kami untuk menghancurkan markas ini tapi ternyata kau sudah melakukannya... Apa kau melakukan ini semua sendirian?" tanya Xiang Yu masih penasaran.
Anggukan kepala Xin Fai lantas membuat Xiang Yu tak berani bertanya lagi, sementara itu Xin Fai hanyut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Lembah Kabut Putih saat ini masih bisa mengirimkan pasukan untuk menyerang kelompok aliran hitam, itu artinya aliran putih saat ini terus melakukan perlawanan sengit demi memerangi kelompok ini agar tidak menguasai Kekaisaran Shang.
"Baiklah, aku akan berkeliling untuk memastikan tidak ada yang selamat dari sini. Kita akan melanjutkan percakapan ini lain waktu saja."
Lari yang begitu kencang itu membuat Xiang Yu terkesima, dia berteriak sebentar.
"Saudara muda! Boleh aku tahu siapa namamu?"
Sayangnya Xin Fai tidak mendengar perkataannya akibat derasnya hujan seperti menenggelamkan suaranya, Xiang Yu menarik napas berat setelah itu. Pembicaraannya dengan Xin Fai memberikannya kesan tersendiri.
"Sepertinya pihak putih-netral akan mengalami kemajuan setelah ini..." Gumam Xiang Yu. Dia merasa laporan yang dibawanya pada Yong Tao ini akan membuat lelaki itu kembali memiliki harapannya yang telah lama sirna.
*
Seorang pendekar menengah berlari pontang-panting di bawah kilat petir yang terus menyambar, malam panjang itu bagaikan maut yang terus menghampirinya. Dia ingin sekali menangis kala melihat seseorang sedang mengejarnya dengan cepat dari belakang.
"Tamatlah riwayatku..."
"Percuma saja, kau pasti akan membunuhku!" teriak pendekar menengah itu ketakutan, dia sendiri sudah melihat betapa kejamnya cara Xin Fai menghabisi musuhnya. Pemuda itu bukan tandingannya, perbedaan kekuatan ini membuat dia terpaksa melarikan diri.
"Aku tidak akan membunuhmu kalau kau menuruti perkataanku."
Langkah pendekar menengah itu terkejar dalam beberapa saat kemudian, nampak sekali pria itu panik hingga melayangkan pedangnya ke samping. Namun pedang tersebut terhempas begitu saja saat senjata lawannya menyambut.
"Karena kau berguna untukku aku akan membiarkan kau hidup dan memberikanmu bonus seratus keping emas. Bagaimana?"
Pendekar menengah tersebut menggelengkan kepala.
"Dua ratus?"
__ADS_1
Lelaki itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya ketakutan.
"Tiga ratus?" Tanya Xin Fai masih sabar, namun jawabannya tetap saja sama.
Wajah Xin Fai berubah mengerikan. "Seratus keping emas atau aku akan mengulitimu satu harian penuh."
Ancaman itu lantas saja membuat pendekar menengah mengangguk kepalanya kuat-kuat, matanya berlinangan air mata. Dia tidak kuat lagi harus menatap mata Xin Fai dan memilih menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau inginkan dari orang sepertiku?"
"Informasi tentang letak markas kalian, di mana saja kalian membangun markas?"
Pendekar menengah itu terdiam ragu hingga pedang milik Xin Fai kini telah berada tepat di lehernya. "Ba-baiklah tidak usah mengancamku seperti ini!"
Lelaki itu langsung saja menyebutkan nama kota dan desa tempat markas Manusia Darah Iblis yang diketahuinya. Xin Fai mengingat baik-baik nama tersebut dan segera memberikannya ratusan keping emas.
Pendekar menengah masih tak percaya nyawanya dibebaskan, saat berjalan dia berulang kali menoleh ke belakang takut-takut jika Xin Fai tiba-tiba menyerangnya tetapi dia sama sekali tidak melakukan pergerakan apapun.
Bunyi berisik yang ditimbulkan dari suara pedang dan batu yang beradu terdengar begitu keras hingga mengundang para binatang buas di sekitarnya, Xin Fai tersenyum kecil.
"Tentu saja aku tidak akan membunuhmu, namun aku juga tidak akan membiarkan Manusia Darah Iblis sepertimu hidup."
Dalam sekejap mata teriakan minta tolong terdengar dari mulut pria itu ketika binatang liar mencabik-cabik dagingnya dan memakannya. Pria itu tak sempat mengutuki Xin Fai hingga nyawanya habis di lingkaran para binatang tersebut.
Xin Fai menatapi jasad pendekar tersebut yang kini terpisah-pisah dan binatang liar di sekitarnya sepertinya juga hendak menyerangnya.
Aura pembunuh membuat para binatang liar tersebut mengurungkan niatnya dan pergi dari tempat itu, Xin Fai menggeledah barang bawaan pendekar tersebut. Terlihat sebuah peta yang beberapa tempatnya ditandai.
"Untung saja aku membunuhnya, dia pikir bisa membodohi ku dengan memberikan letak markas yang salah? Orang-orang aliran hitam memang sulit dipercaya."
__ADS_1
Setelah menyimpan peta berisi letak markas kelompok Manusia Darah Iblis, Xin Fai segera beranjak pergi dari hutan dan memilih bergerak langsung menuju markas mereka yang lain. Tentunya untuk melanjutkan aksi pembantaiannya yang akan menjadi berita besar setelah hari ini.
***