Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 290 - Ketenangan Malam


__ADS_3

Xin Xia terlelap dalam tidurnya, tak menyangka saudaranya telah menghilang begitu saja meninggalkan dia sendiri dalam kereta kuda.


Malam berbintang terasa sangat semarak, namun Ren Yuan tak merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang orang-orang rasakan. Hatinya terpukul melihat kematian Zhuan Ang, sahabat sejak kecilnya yang menyebalkan itu harus tewas dalam perang ini.


Akan tetapi mau bagaimana lagi, Ren Yuan merasa Zhuan Ang pun tak berkeberatan mati dalam perang ini, dia akan merasa terhormat setidaknya. Sekte Gunung Angin Timur memiliki sosok pahlawan yang rela mati demi membela kebajikan.


Kereta kuda berjalan teratur, akan tetapi Ren Yuan merasakan keanehan sebentar. Dia merasa hanya dirinya sendiri yang berada dalam kereta kuda ini. Segera gadis itu menoleh ke samping dan jantungnya nyaris meloncat saat melihat Xin Fai tengah duduk di sampingnya. Tempat yang agak sempit ini membuat jarak mereka sangat dekat, sontak saja wajah Ren Yuan padam. Tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya sama sekali.


"A-apa yang kau lakukan?" Gadis itu setengah berbisik, takut-takut dia menatapi Xin Fai yang terlihat sangat serius.


"Aku..."


"Tu-tunggu!" Jantung Ren Yuan lagi-lagi mulai tak terkendali, dia dapat menebak kata-kata yang akan keluar dari mulut pemuda itu. Memikirkannya saja dia sudah sangat malu.


"Hah? Kenapa harus menunggu?"


Ren Yuan tersenyum canggung, tak menjawab tapi justru menstabilkan deru napasnya yang berantakan.


"Nah sekarang katakan." Gadis itu terlihat mulai tenang, entah apa yang sedang bergejolak di pikirannya hingga Xin Fai mengernyit heran beberapa lama. Dia membuka mulut mengutarakan sesuatu.


"Aku ingin menitipkan Xin Xia sebentar padamu, kurasa dia takkan cocok berada di Kuil Teratai maupun di tempat lain. Apalagi dia seorang perempuan, kukira kau bisa membimbingnya untukku."


Perlahan-lahan wajah Ren Yuan terlihat kecewa tapi tak memusingkannya lebih jauh, seharusnya dia tahu untuk tidak terlalu berharap pada sosok di sampingnya ini. Paling tidak Ren Yuan merasa masih memiliki kesempatan, Xin Fai secara langsung menunjuknya untuk menjaga adiknya.


"Baiklah... Bukan tugas yang sulit. Memangnya kau akan pergi ke mana?"


"Berkeliling sebentar, tidak perlu khawatir. Aku akan kembali kalau tugas terakhirku selesai." Xin Fai tersenyum tipis, Ren Yuan terdiam sebentar. Pipinya mendadak memerah.


"Me-memangnya siapa yang mengkhawatirkanmu!"


Saat Ren Yuan akan mengamuk Xin Fai memutuskan untuk pergi, dia tidak mau terkena amukan singa betina itu.

__ADS_1


Ren Yuan terkejut saat orang yang tengah dimarahinya menghilang, dia berusaha mencarinya ke manapun tapi tak dapat melihatnya.


"Ren Yuan, kau berbicara dengan siapa? Kenapa tiba-tiba berteriak?" Ho Shing yang menaiki kuda bertanya bingung di sebelah kereta kudanya. Terlihat sangat penasaran.


"Tidak ada, mungkin Guru salah dengar..."


Saat rombongan pasukan berjalan kembali menuju Kota Renwu, justru Xin Fai berjalan melawan arah. Sendirian dalam kegelapan malam, sunyi dan senyap menemaninya sepanjang perjalanan. Dia tahu seharusnya memberi tahu yang lain dulu perihal kepergiannya ini, entah akan memakan waktu berapa lama. Yang jelas mencapai Kutub Utara membutuhkan waktu yang cukup lama.


Jika pun memberitahu pada orang-orang, Xin Fai tidak yakin Yong Tao akan mengijinkannya pergi. Pria itu memang terlalu mengkhawatirkannya, tapi di sisi lain dia juga senang pada Yong Tao. Dia menganggap lelaki itu seperti Ayahnya sendiri. Sifatnya memang sama persis.


Bintang gemintang berkelap-kelip di atas langit, udara malam terasa menghangat kala itu. Xin Fai tersenyum lega, memikirkan Manusia Darah Iblis telah kandas hari ini. Tidak akan ada lagi Xin Fai kedua setelah ini, yang harus menempuh hidup sebatang kara dalam segala tekanan. Pembantaian besar-besaran tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.


Untuk itu entah kenapa dirinya merasa lebih tenang, Xin Fai sendiri tidak tahu apakah Ayah dan Ibunya akan senang. Tapi dia tahu pasti, bahwa ayahnya pun takkan tinggal diam jika Manusia Darah Iblis tetap hidup.


Walaupun dia hanya seorang nelayan tapi hatinya seputih kapas. Dia akan keras kepala membela apapun yang dianggapnya benar, mungkin sifat itulah yang membuat Xin Fai menjadi seperti ini.


Lang keluar dari tempatnya bersemayam, terlihat sedikit gusar.


Lang, yang baru saja keluar ingin sekali mengumpat cepat-cepat. Dia memasang tatapan mata seperti ingin membunuhnya.


"Makin tua makin tajam juga lidahmu itu, bocah manusia bodoh."


Memang dalam hal membuat orang kesal Lang nomor satu, bayangkan saja kemarin-kemarin serigala itu hanya memanggilnya manusia bodoh dan sekarang malah ada tambahan kata bocah. Membuat Xin Fai berhenti berjalan. Memandang Lang sambil menggerutu.


"Aku sangat penasaran sebenarnya dari mana mulutmu itu bisa sangat menusuk, apa bawaan dari lahir atau memang kutukan?"


Xin Fai tergelak lucu apalagi kini wajah kesal Lang mulai terlihat untuk kesekian kalinya, akhir-akhir ini memang dia mulai senang mengerjai siluman itu. Ada rasa bahagia tersendiri yang tidak bisa dijelaskannya. Apalagi melihat serigala itu jengkel memang sudah tabiatnya sejak dulu.


"Kau pikir sendiri memang kebodohanmu itu bukan kutukan?"


"Kau ini–" Xin Fai menunjuknya buru-buru, "Aku tidak sebodoh itu! Mungkin otakmu saja yang terlalu pintar, maklum kan umurmu sudah seribu tahun. Dasar orang tua, bukan, maksudku siluman tua."

__ADS_1


Brakh!


Sebuah pohon tumbang karena diseruduk Lang, serigala itu mengamuk disebut tua. Seumur-umur tak pernah ada yang menyinggung umurnya itu secara langsung, memang Xin Fai tidak takut padanya bahkan sebelum kekuatannya sudah sehebat ini.


"Jangan bawa-bawa umur!"


"Hahaha iya, iya... Itu saja marah. Ngomong-ngomong aku punya sesuatu untukmu." Xin Fai mengeluarkan sebuah tas usang yang dibuat khusus dulu untuk digunakan Lang. Tas itu memiliki kenangan tersendiri, membuat Lang terdiam melihatnya.


"Nah, kau pasti terharu kan aku masih menyimpannya?" Dia memakaikan tas tersebut, terlihat masih pas di tubuh Lang.


"Bagus tidak?"


"Bagus, seperti kakek-kakek mau menanam padi..."


Lang melebarkan matanya hendak menanduk, di detik itu juga Xin Fai menghilang menggunakan mode roh. Memang kalau urusan mengamuk dia pasti langsung melarikan diri. Tidak dengan Lang, Ren Yuan maupun Li Yong yang mulutnya sama-sama membuat kupingnya panas, dia tetap akan menghindar. Cara paling tepat untuk menyelamatkan keselamatan hidupnya.


***


Side story #3


Author: Lang, sebelumnya ada readers yg nanya, mulutmu kok tajem banget. Kek mana ceritanya coba bisa nyesek banget kata2mu kek omongan tetangga, bisa dijelaskan?


Lang 🐺: Bukan tajam, tapi terlalu jujur aja😒


Xin Fai: Halah bilangin aja sering mantengin akun lambeh turah, makanya tuh mulut sebelas dua belas sama golok🙄


Author : sejak kapan Lang maen Instagram oy! Dahlah, sesi pertanyaan kita tutup. Mungkin ada readers yg punya pertanyaan lain, bakal kita bahas di next episode yaa


Bye-bye☻


***

__ADS_1


__ADS_2