Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 256 - Dua Pusaka Langit


__ADS_3

Tidak bisa terbayangkan betapa buruknya hubungan antara ras manusia dan iblis di jaman dulu, Xin Fai tersenyum sebentar.


"Aku akan mengatakannya jika suatu saat nanti kami bertemu kembali. Mungkin jika Qiang Jun berada di sini dia akan sangat senang, melihat ada satu orang yang masih membelanya sampai detik ini. Aku yakin dia mengerti mulut mu dulu dibungkam agar tidak membelanya waktu itu."


"Kau tahu begitu banyak, te-terimakasih sebelumnya, yang kulakukan saat ini hanya membalas budi baiknya dulu. Qiang Jun sudah melakukan banyak kebaikan untuk keluargaku dan sama sekali belum bisa membalasnya bahkan sampai dia tiada sekalipun."


"Untuk itu kau merelakan sisa umurmu dan menyegel jiwamu di desa ini?"


"Ya... Saat Kaisar Langit meninggal aku segera membawa mayatnya ke sini karena dia pernah meminta padaku untuk mengasingkan tubuhnya agar tidak diambil alih musuh, demi berjaga-jaga aku mengatakan bahwa makamnya berada di Desa Daan. Sampai informasi ini bocor, aku melakukan dosa yang sangat besar. Membuat semua penduduk di tempat ini mati dan menggunakan mereka sebagai senjata agar tidak ada yang bisa menyentuh tempat ini."


"Kau melakukannya dengan baik tapi tetap saja caranya salah..." Xin Fai berkomentar seadanya. Dia mengembuskan napas perlahan, tak disadari kini petir yang mengamuk di atas bukit telah mereda, berganti hujan gerimis yang terasa menenangkan.


Energi jahat dari Rajawali Kegelapan telah menipis karena dia tahu kini Xin Fai bukanlah ancaman.


"Kalau begitu apa aku boleh mengunjungi makam Qiang Jun?"


"Pergilah saat pagi, ketika malam para siluman yang menguasai bukit itu sedang berkeliaran, mereka akan turun saat matahari tiba."


"Begitu ya. Aku akan menunggunya di sini bersama temanku, mungkin kau bersedia menceritakan kisah masa lalumu pada kami berdua?" Xin Fai seperti berpikir sebentar. "Mungkin bertiga," ralatnya saat mengingat ada satu macan yang ikut bersamanya.


"Dalam keadaan basah kuyup seperti itu? Roh sepertiku mungkin tidak berpengaruh tapi untuk manusia, bukannya kau akan kedinginan?"


"Aku sudah merasakan neraka es, hujan gerimis ini tidak akan menghalangiku sama sekali," jawabnya teringat sebuah air terjun yang sangat dingin dulu. Membandingkannya dengan air hujan biasa tentu tidak akan setara.

__ADS_1


Xin Fai menghilang sebentar untuk memanggil Lan An dan macan di dalam rumah kedai, tak lama berselang mereka kembali menemui roh Rajawali Kegelapan yang sedang menunggu di teras sebuah rumah kecil.


"Kalau begitu dari mana aku akan mulai bercerita?"


***


Udara masih sangat dingin. Semburat warna jingga memberi kesan bahwa baru saja malam telah usai. Bukan lagi bulan atau bintang yang menghiasi langit, malam telah tenggelam berganti dengan temaram hangatnya sang fajar.


Xin Fai berkedip saat terdengar suara derap kaki di depannya, dia membuka mata masih berusaha mengumpulkan nyawa untuk beberapa saat. Tak lama dapat dilihatnya macan tengah duduk di depannya, wajahnya terlihat sekali sedang serius.


"Apa yang kau lakukan?"


Macan itu bergeming, sepertinya sedang berusaha meminta pertanggungjawaban atas kuku dan cakarnya yang sudah tiada. Xin Fai memikirkan hal itu juga, dia merasakan rasa bersalah lagi, mau bagaimanapun juga dalam pertarungan kemarin kalau bukan macan itu yang terluka maka dirinya lah yang harus terluka. Satu-satunya cara mengalahkan dengan tidak membunuh adalah memotong taring dan kukunya.


Selagi berpikir-pikir dia menoleh ke arah jendela yang sudah rusak, memperlihatkan dengan jelas sinar matahari yang baru saja terbit menyusup di lantai kayu. Membuatnya memiliki satu nama yang sekiranya akan cocok untuk binatang itu.


"Ri Chu, artinya matahari terbit. Bagaimana?"


Sang macan tidak bergeming justru kelihatannya tidak suka dengan sebutan tersebut, akan tetapi Xin Fai sama sekali tidak memiliki nama lain di kepalanya. Dia segera bangkit mengikut arah pergi Ri Chu, nama baru si macan tersebut.


Semalam setelah menceritakan banyak hal pada mereka Rajawali Kegelapan segera menghilang di kegelapan malam, tak meninggalkan bekas jejak sama sekali. Tampaknya dia memiliki masalah yang harus segera ditangani.


Merasa Rajawali Kegelapan tak mungkin menemani mereka menaiki bukit Xin Fai mengambil keputusan sendiri, dia akan pergi bersama Lan An dan Ri Chu menuju makam Qiang Jun. Berdasarkan ingatannya sendiri di mana letak persis petir menyambar semalam kurang lebihnya Xin Fai sudah tahu ke mana harus pergi.

__ADS_1


Tebing curam terlihat seperti mengurung bukit tinggi tersebut, hawa kekuatan besar yang menarik energi alam seperti petir pasti berasal dari Pedang Kaisar Langit, Xin Fai dapat meyakini hal tersebut karena pernah menggunakannya sebelumnya. Pedang itu memiliki keistimewaan menyerap energi untuk mempertajam diri dan melepaskannya saat sang pemilik menggunakan kekuatannya.


Sedangkan energi jahat yang selama ini mereka rasakan berasal dari Pedang Manusia Iblis. Kekuatan itu memang tidak akan sebanding dengan energi jahat yang dikeluarkan Rajawali Kegelapan semalam.


Bahkan dalam jangkauan jarak ratusan meter kekuatan dua pedang itu masih sangat besar. Tak terbayangkan apa yang terjadi jika orang-orang menyalahgunakan kekuatan dua pedang yang bisa menjadi ancaman besar itu, meski tak bisa menggunakannya tapi kekuatan yang dikeluarkannya masih bisa dimanfaatkan dengan berbagai cara.


Sungai-sungai kecil mengalir deras, hutan lembap karena selalu dihujani setiap malam. Kabut asap yang tipis menghalangi pandangan mereka jauh di depan, Lan An memerhatikan pijakannya dan menyadari ada bekas sisik siluman ular di tempat ini. Memang menghadapi satu atau dua siluman ular bukan masalah besar, tapi beda cerita seandainya mereka menemukan sarang ular, selain itu musim hujan adalah waktu telur ular menetas.


Membayangkan bukit ini selalu hujan sepanjang waktu saja dia sudah bisa menebak berapa jumlah ular yang harus mereka hadapi di tempat ini. Seharusnya mereka menunggu Rajawali Kegelapan kembali tapi sayangnya itupun belum tentu terjadi. Bisa saja Rajawali Kegelapan tidak akan kembali dan terpaksa membuat mereka menunggu besok pagi lagi agar bisa menjelajahi bukit.


Suara desis ular mulai terdengar di dahan tinggi pepohonan, baik Lan An maupun Xin Fai memasang sikap waspada. Mewanti-wanti adanya serangan tak terduga yang datang. Ri Chu berjalan seperti tanpa beban, mengikuti instingnya ke sumber kekuatan yang sangat besar. Tampak jelas binatang buas itu sudah sangat hafal hutan-hutan di desa Guangfu, tempat ini adalah rumahnya sendiri.


Hampir setengah jam berjalan tak tentu arah, mengendap-endap saat melewati sarang ular dan menghindar jauh ketika menemukan bangkai kalajengking yang ukurannya dua kali tubuh manusia akhirnya mereka dapat merasakan kekuatan dua pedang itu semakin mendekat. Hutan yang sebelumnya rimbun dedaunan hijau kini berbanding terbalik dengan hutan yang berada di hadapan sana.


Batang pohon yang telah hangus dan sama sekali tidak memiliki daun di cabangnya berdiri kokoh seperti telah tersambar petir puluhan kali. Pepohonan lainnya juga mendapatkan hal yang sama, petir yang terus-menerus berdatangan ke bukit ini tak pernah berpindah tempat. Seperti tertarik oleh satu kekuatan besar yang mampu mengendalikan alam, pada satu titik sebuah makam batu terlihat di depan mereka bersama dua pedang hebat yang kini tertancap ke tanah. Masing-masing mengeluarkan cahaya emas dan merah, membuat siapapun akan mematung terkagum-kagum melihat dua pedang legendaris itu secara langsung.


Lan An tidak henti-hentinya terpukau saat melihat makam tersebut, meskipun hanya terbuat dari batu sederhana tapi kekuatan yang memancar di sana sama sekali tidak manusiawi. Pedang Kaisar Langit ibarat kebajikan dan Pedang Manusia Iblis ibarat dosa, dua hal yang saling bertolakbelakang itu dimiliki oleh sosok yang begitu dikaguminya, yaitu Qiang Jun.


Kini Lan An dapat melihat sosok Qiang Jun secara langsung di dalam diri Xin Fai, saat dia menarik dua pedang itu dari tanah dan bumi terasa bergetar, senjata pusaka itu bercahaya sebentar mengenali pengguna barunya.


Namun baru saja mendapatkan dua pedang itu segerombolan pendekar telah sampai di hadapan mereka, saling mengacungkan pedang hendak memperebutkan dua pusaka langit itu.


"Dua pedang itu milik Kekaisaran Qing! Tidak berhak kau mencabutnya dari tanah kami!"

__ADS_1


***


__ADS_2