Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 87 - Permata Siluman Ular


__ADS_3

Suhu yang dilepaskan siluman Beruang Api sekarang tidak main-main, bahkan jubah yang Xin Fai pakai saat ini mulai terbakar sebagian, untuk melindungi tubuhnya Xin Fai mengalirkan seluruh tenaga dalam ke sekujur tubuh.


Pergerakannya telah terbaca oleh musuh, Beruang Api sama sekali tak peduli dengan sebelah tangannya yang terpotong, dia masih saja melakukan perlawanan tanpa menurunkan kewaspadaan.


Sebelah cakar dan pedang beradu. Xin Fai mengakui meski sekarang hanya memiliki sebelah tangan saja, siluman beruang tetap mengerikan.


Saat satu pedangnya sedang menahan cakar beruang, Xin Fai mengambil langkah lain. Tangan kirinya menarik pedang yang satunya lagi. Dia segera mengayunkan pedang tepat di leher beruang itu. Sang beruang tak menduga hal itu akan terjadi, belum sempat menghindar lehernya telah ditebas sekuat tenaga oleh Xin Fai.


Siluman beruang mengalami pendarahan hebat di lehernya, dia berhenti menyerang. Karena tenaganya juga habis tak bersisa beruang tersebut berusaha melarikan diri.


"Eh... Berusaha melarikan diri, padahal tadi gayamu berani sekali, hahaha!" Xin Fai mengolok-olok siluman tersebut namun Beruang Api tak mempedulikannya, dengan Langkah Kilat bukan hal yang sulit untuk mengejarnya.


"Hai, aku kembali~" Xin Fai sekarang berdiri tepat di hadapan Beruang Api, siluman itu semakin panik dan menyerang ganas. Dia tak menyangka, perlawanannya kali itu akan menjadi serangan terakhir yang mencabut nyawanya.


Xin Fai segera memotong leher Beruang Api, darah mencuat sejenak dan dirinya mundur. Tak lama setelahnya Xin Fai mengambil permata siluman yang sejak awal menjadi incarannya.


Permata tersebut dia letakkan di tulang belakang, dan hasilnya terasa sensasi panas ketika permata Beruang Api memasuki tubuhnya.


"Apa tubuhku akan mengeluarkan api setelah mendapat permata itu?"


Siluman ular mendekat dengan mata yang menatapnya tak percaya, dia mendesis mendekati Xin Fai.


"Maaf tadi aku sudah meragukan kekuatanmu, manusia."


"Ah, tidak apa-apa... Yang penting sekarang kau aman."


"Sssttt... Aku bahkan tidak percaya seumur hidupku, ketika aku hampir mati begini malah diselamatkan oleh manusia." Sang siluman ular melanjutkan perkataannya. "Tapi, kau tidak sepenuhnya memiliki hawa manusia. Terdapat hawa iblis, siluman dan juga roh di tubuhmu."


Pengakuan sang ular membuat Xin Fai tersedak napasnya sendiri, dia berusaha memahaminya namun rasa terkejut itu masih tak kunjung hilang.


"A-apa?"

__ADS_1


"Sssttt... Tadi kulihat kau memasukkan permata Beruang Api ke dalam tubuhmu, hawa siluman sudah pasti berasal dari situ."


"Ya, sepertinya begitu. Aku harus mencari ke-33 permata siluman untuk menyempurnakan tubuh Manusia Iblisku."


"Seperti itu..." Siluman iblis merenungi sesuatu. Dia tak melihat tanda-tanda Xin Fai hendak memburu permatanya juga.


Xin Fai menopang dagunya seakan berpikir. "Dan hawa roh...? Sejak kapan aku memilikinya?" gumamnya pelan. Untuk hal itu, siluman ular tak memiliki jawabannya. Setelah tak mendapatkan jawaban, Xin Fai memilih pamit sebelum Li Yong mengkhawatirkannya. Dia tak bisa mengharapkan akan mendapat obat demam di tempat ini.


Xin Fai pamit pergi dan mengatakan harus kembali ke tempatnya mengingat Huang Kun masih kurang sehat maka dia harus mencari cara lain untuk mengobati pemuda itu.


Namun siluman ular menahannya.


"Hidupku sudah tak lama lagi," kata siluman itu membuat kedua alis Xin Fai berkerut dalam.


"Kau masih bisa hidup, tenang saja. Aku akan mengobatimu, tunggu sebentar." Xin Fai mendekat namun sang siluman ular menolak.


"Aku telah hidup lama, dan mengalami banyak luka mematikan di tubuhku. Sebentar lagi juga aku akan mati. Jadi kau tak perlu menolongku, manusia."


"Aku tak menyangka akan bertemu dengan manusia baik sepertimu, ambillah permataku. Permata siluman ular sepertiku bisa menyembuhkan berbagai penyakit jika kau menempelkannya di kepala temanmu yang sakit itu."


"Tidak, tidak. Kau masih harus hidup. Aku akan---" lagi-lagi perkataannya dipotong.


"Sudahlah tak perlu mencemaskanku. Permata ini satu-satunya yang kumiliki, aku tak mau berhutang nyawa padamu..."


Xin Fai menggaruk kepalanya dengan bimbang, dia dihadapkan pada situasi rumit. Di satu sisi dia harus segera mendapatkan obat untuk Huang Kun, di sisi lain dia tak ingin mengambil nyawa siluman yang baik ini.


Luka-luka di tubuh siluman ular semakin menggerayangi tubuhnya, siluman tersebut tak memiliki tenaga lagi untuk menahan efek luka tersebut seperti sebelumnya.


Dia hanya bisa menerima rasa sakit itu dengan pasrah. Setelah hidup ribuan tahun, tubuhnya telah mendapat banyak racun dan luka dalam. Dengan kondisinya sekarang, semua racun dan luka itu akan muncul dan kembali menyiksanya.


Xin Fai berdiri sembari menatap ke bawah. Melihat semakin lama siluman itu semakin menderita, dia memutuskan untuk mengakhiri penderitaan sang siluman dengan mengambil nyawanya.

__ADS_1


"Maafkan aku."


Tubuh siluman ular terpotong menjadi dua di tangan Xin Fai. Seusai memastikan siluman ular telah benar-benar mati baru dia mencari permata siluman itu. "Aku akan mengingat kebaikanmu. Terimakasih." Xin Fai beranjak pergi, setidaknya saat ini dia masih memiliki harapan untuk menyembuhkan Huang Kun.


Belum melangkahkan kakinya lagi, dirinya dikagetkan oleh kedatangan Li Yong, pendeta tersebut berlari ke arahnya setelah menemukan Xin Fai.


"Fai'er?! Apa kau tidak apa-apa? Maaf aku membiarkanmu sendiri di hutan segelap ini, aku..." Tatapan Li Yong mengarah ke tempat lain, dan jantungnya sepertinya terasa berhenti kala melihat dua siluman sekaligus telah mati di sana.


Sekarang Li Yong terbatuk-batuk kecil, dia belum sepenuhnya pulih dari kagetnya.


"Senior, kita harus segera kembali. Aku telah mendapatkan penawarnya." Sebuah permata hijau dengan bentuk tak biasa berada di telapak tangan Xin Fai, Li Yong menyambut permata itu lalu menelitinya.


"Fai'er... Tolong jangan bohong padaku. Bukan kau yang membunuh dua siluman itu, kan?" Li Yong memasang wajah serius, baginya menaklukan dua siluman sekaligus bukanlah hal mudah. Dirinya sendiri pasti akan mengalami luka serius setelah melakukannya. Namun Xin Fai sama sekali tak terluka, kecuali jubahnya yang kini robek akibat api siluman beruang.


Xin Fai menggaruk telinganya pelan.


"Kalau berbohong, bukan aku yang membunuh siluman itu."


Li Yong mengembuskan napas lega, namun dia merasa aneh dengan pengakuan itu.


"Kalau jujur, memang aku yang membunuhnya."


Sekarang Li Yong tersedak ludahnya sendiri. Dia seperti dipermainkan. "Fai'er, semakin mengenalmu, aku semakin takut dengan kekuatanmu." Kata Li Yong berterus terang, pria itu sebenarnya tak habis pikir mengapa Xin Fai selalu membuatnya terkejut seperti ini.


Kepala Xin Fai menunduk. "Aku berjanji akan menggunakan kekuatanku untuk menyelamatkan orang lain. Mohon bimbingannya, Senior."


Li Yong mengangguki perkataan Xin Fai, dia berbalik badan seraya menyimpan permata ular di tangannya. Keduanya bergegas kembali ke tempat semula dengan Langkah Kilat. Dan kali ini Li Yong semakin tak paham mengapa Xin Fai selalu memiliki kejutan untuk membuatnya terkagum-kagum. Kecepatan tertingginya bahkan bisa diimbangi oleh Xin Fai dengan mudah.


'Jika dua siluman buas saja tak berkutik di depanmu, aku yakin kau bisa menjadi salah satu pemenang yang akan menjadi Pilar Kekaisaran Shang.' batin Li Yong.


***

__ADS_1


__ADS_2