
Terjadi pertengkaran seru di antara mereka yang akhirnya membuat Shen Xuemei terusik. Dia cukup kesal hari ini, wajahnya merenggut tak seperti biasanya.
"Bisakah kalian diam. Sangat mengganggu."
Huang Kun seketika menurunkan sebelah alisnya. "Ada apa denganmu? Marah-marah tidak jelas. Seperti anak gadis saja."
Shen Xuemei memperlihatkan pakaian bagusnya yang telah robek terkena anak panah dari sang siluman tadi.
"Hanya perkara baju saja kau sudah marah begitu? Sungguh aneh, ck." Huang Kun berdecak pelan, dia duduk di atas kayu sambil menepuk di sebelahnya.
"Nah, duduklah Fai'er. Aku ingin mendengar semua ceritamu melawan Siluman Penguasa Air tadi."
Berhubung para pendekar yang sebelumnya mengerubungi mereka telah pergi, Xin Fai tak keberatan menceritakannya.
Terdengar helaan napas sebentar, Xin Fai duduk setelah itu dan mulai menceritakan pertarungannya tadi. Termasuk tentang roh bernama Kaibo yang mengambil alih tubuhnya, mengingat sekarang di tempat ini hanya ada mereka berempat dan awak kapal sibuk sendiri jadi tak ada salahnya menceritakannya pada Li Yong, Huang Kun maupun Shen Xuemei.
Begitu mendengarnya mereka bertiga mengangguk pelan, meskipun alasan Xin Fai masih susah diterima namun Xin Fai tak mungkin berbohong. Mereka berjanji akan merahasiakan hal tersebut untuk mengantisipasi masalah baru datang kembali.
***
Lembah Kabut Putih menjadi tuan rumah dalam Turnamen Pendekar Muda periode ini, lembah ini merupakan salah satu sekte besar di Kekaisaran Shang serta memiliki banyak bibit unggul di dalamnya. Maka tak heran, dengan keunggulan dan pengaruhnya di dunia persilatan sekte Lembah Kabut Putih begitu disegani banyak orang.
Xin Fai dan yang lainnya baru saja menapakkan kaki di pelabuhan besar kota Renwu. Kebisingan dan keramaian menyambut mereka seketika, banyak pendekar bermunculan di tempat ini dari pendekar kecil bahkan sampai pendekar tingkat tinggi lainnya.
Begitu terpana dengan keadaan sekitarnya, Xin Fai sampai tak sadar telah menghalangi jalan. Seorang gadis menyingkirkan tubuhnya dengan cara yang tidak sopan.
"Minggir kau dari jalanku! Dasar kampungan!"
Tubuh Xin Fai hampir kehilangan keseimbangan karena didorong sekuat tenaga olehnya.
Lantas saja Xin Fai tertohok mendengar kata-kata pedas tersebut, saat berbalik badan dirinya dibuat terpana oleh seorang gadis berusia seumuran dengannya yang memiliki paras sangat indah.
Kecantikan gadis itu disertai dengan aroma tubuhnya yang sangat harum ketika melewatinya, sayangnya sikap arogan gadis ini membuat kesan buruk dalam hati Xin Fai.
"Hhh... Tidak perlu menggertak juga, aku akan minggir."
Sang gadis berhenti sejenak dengan alis menyatu, dari awal dia sama sekali tak mau bersikap ramah pada Xin Fai.
__ADS_1
"Berani sekali kau menjawab, kau tidak tahu aku siapa?" Gadis itu menunjuk-nunjuk Xin Fai dengan tatapan kesal. Kali ini perhatian terfokus pada mereka berdua.
Li Yong merasa situasi mulai buruk, dia segera meminta maaf atas kelakuan Xin Fai.
"Nona, maafkan muridku ini. Dia memang sedikit lancang, aku akan menghukumnya nanti."
"Huh! Bawa pergi dia dari sini, aku muak melihat wajahnya!" Gadis itu mengibas rambut dengan jarinya. Sangat angkuh sampai dahi Xin Fai mengerut sebal. Dia hendak menjawab lagi namun Li Yong lebih cepat menutup mulutnya.
Gadis itu akhirnya pergi dengan gaya yang sangat angkuh. Dia masih saja mengumpat sepanjang perjalanan.
Karena bertemu bangsawan sombong seperti itu suasana hati Xin Fai memburuk, sedari tadi tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya walaupun Huang Kun mencoba bercanda.
"Sudahlah Fai'er, masalah wanita saja kau pusingkan siang malam.. hahaha!"
"Bukan begitu, Senior Huang. Aku hanya sedikit terusik dengan kata-katanya itu."
"Hahaha, awas. Semakin kau mengingatnya kau akan jatuh cinta. Ah, indahnya cinta yang berawal dari kebencian~" Huang Kun menempelkan kedua tangannya di pipi berniat menggoda juniornya.
Xin Fai hanya bisa menatapi Huang Kun kesal.
Xin Fai melepas tudung jubah yang sejak tadi dipakainya, memang sejak meninggalkan penginapan dia sudah memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya agar tak dikenali oleh para pembunuh bayaran.
Satu hal yang Xin Fai takutkan sedari tadi adalah jika saja para pembunuh bayaran itu menyerang Lembah Kabut Putih ketika turnamen dilaksanakan, penyerangan tersebut tentu akan memakan banyak korban jiwa.
Xin Fai merenung selama perjalanan, ada banyak hal yang harus dilakukan ke depannya. Yakni menepati janjinya pada Zhishu Yan, membunuh Manusia Darah Iblis, menemukan Dataran Yang dan masih banyak lagi membuat urat di keningnya berdenyut.
Sedetik kemudian Xin Fai menatap Li Yong, Huang Kun dan Shen Xuemei sedih, mungkin setelah turnamen ini dia takkan bisa bersama mereka lagi. Suatu hari nanti Xin Fai harus meninggalkan mereka untuk berkelana sendirian mengejar semua tujuan hidupnya.
Sejak pergi meninggalkan desa Peiyu Xin Fai sudah menyadari kehadirannya akan membahayakan orang-orang di sekitarnya. Maka dengan itu, setelah turnamen selesai Xin Fai akan meninggalkan sekte Kuil Teratai dan pergi mengelana sendirian. Tatapan sedih tersebut dapat dirasakan Huang Kun, dia yakin ada sesuatu yang bergejolak di kepala juniornya.
Huang Kun hanya bisa merangkul Xin Fai erat layaknya seorang teman, dia tersenyum hangat.
"Apapun masalahmu akan kudengar. Mau mencoba?"
Baru saja Xin Fai membuka mulutnya, Huang Kun lebih dulu menyela.
"Satu jam untuk satu koin emas. Nah, kau boleh cerita sampai berjam-jam dan aku akan mendengarnya. Setelah itu berikan aku koin emas."
__ADS_1
"Dasar mata duitan, daripada seperti itu lebih baik aku bercerita pada batu lagi." Xin Fai mendengus, Huang Kun selalu saja mempermainkannya. Pemuda itu tertawa riang seperti biasa.
Setelah berhenti di restoran untuk mengisi perut, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju Lembah Kabut Putih. Letaknya memang agak jauh, namun ketika sampai di pintu gerbang nampak bangunan kokoh nan megah berdiri di sana. Murid-murid di dalamnya terlihat tak seperti murid pada umumnya, penampilan mereka rapi dan juga bersahaja.
Ketika rombongan Li Yong datang, beberapa murid dari Lembah Kabut Putih mendatangi mereka dengan sikap hormat. Mereka meminta Li Yong mengeluarkan surat undangan untuk mengikuti turnamen demi menjaga keamanan.
Saat mengetahui rombongan Li Yong merupakan perwakilan dari sekte Kuil Teratai, kedua murid ini memberikan sikap yang lebih hormat dari biasanya. Nama Sekte Kuil Teratai sudah melegenda sejak dulu, namun belum bisa dikatakan sebagai sekte besar.
Dua murid itu mengantarkan mereka ke kediaman yang telah disiapkan untuk perwakilan dari sekte Kuil Teratai. Sesampainya di kediaman, dua murid pergi karena harus mengurus hal lain. Mereka ijin pamit dari hadapan mereka.
"Ah... Tak kusangka hari ini aku masih bisa melihat matahari..." Kata Huang Kun mulai berlebihan, sifatnya memang seperti itu dan mereka berusaha memakluminya.
Perjalanan hampir sebulan ini cukup melelahkan, mengingat jarak tempuh yang jauh tersebut selalu diiringi banyak rintangan. Huang Kun tersenyum tipis, dia baru kali ini merasakan kekejaman dunia.
Xin Fai lebih dulu masuk ke kediaman, di sana disediakan kamar yang cukup untuk mereka pakai masing-masing tanpa harus berbagi kamar.
Namun belum sempat membaringkan tubuhnya, pintu kamar diketuk pelan dan terdengar suara seorang pemuda setelahnya.
"Fai... Faifai, bangunlah sebentar."
Nama panggilan asing itu membuat Xin Fai mengerutkan alis sampai dia membuka pintu dan mendapati Huang Kun tengah berdiri di depannya.
"Ada apa Senior Huang?"
Baru Xin Fai menyadari bahwa di samping Huang Kun, Shen Xuemei juga datang bersamanya.
"Keluarlah sebentar. Kita latihan sebelum pertandingan dimulai."
"E... Kalian tidak ada niat untuk istirahat? Tapi jika Senior menginginkannya aku sama sekali tak keberatan."
Karena kediaman yang disiapkan untuk perwakilan sekte Kuil Teratai sangat strategis mereka dengan mudah mendapatkan tempat latihan.
"Bagaimana kalau aku dan Huang Kun yang duluan berlatih?"
"Baiklah aku akan menunggu."
***
__ADS_1