Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 89 - Ancaman Besar


__ADS_3

Huang Kun dan Xin Fai saling bertatapan dalam kecanggungan, garis wajah Seniornya sangat ketakutan kala melihat Xin Fai dengan mudahnya memotong kaki orang tanpa rasa bersalah.


Pembunuh bayaran mengerang kesakitan, dia menggeram kesal setelahnya, mengumpat-umpat bahkan bersumpah akan membalas Xin Fai suatu saat nanti.


Senyum terkembang lebar di wajah pembunuh bayaran setelah itu, dia berkata sinis.


"Meskipun aku mati, kupastikan kau juga harus mati."


Xin Fai berubah waspada, dia memerhatikan gerak tangan sang pembunuh bayaran yang hendak memegang kembali pedangnya.


"Kau lengah."


Puluhan jarum beracun melesat cepat mengepung Xin Fai dari belakang, dengan pedang Manusia Darah Iblis Xin Fai menangkisnya namun beberapa jarum yang lain mengenainya.


Kulit yang terkena jarum beracun berubah keunguan, Xin Fai menggeram kesal. Namun dia sebenarnya tak perlu takut tentang hal itu, dulu guru Fu Shi pernah mengatakan bahwa seorang yang telah mendapatkan permata siluman ular akan kebal terhadap 100 racun. Dan hal itu terbukti, ketika melihat kulitnya yang kembali seperti semula.


"Sial! Siapa kau sebenarnya?!"


"Banyak tanya!" Xin Fai hendak menebas pria tersebut namun lagi-lagi jarum racun menyerangnya.


"Aku tahu kau di sini! Keluar kau!" marah Xin Fai. Seseorang telah menembakkan jarum racun dari tempat lain. Seharusnya dalam jarak ini, Xin Fai masih bisa merasakan kehadiran musuh namun kali ini dirinya tak bisa merasakannya.


Lagi-lagi puluhan jarum racun menyerang dari balik punggungnya, Xin Fai membalikkan badan dan tak menemukan siapapun.


Melihat Xin Fai kebingungan, sang pembunuh bayaran merasa puas meski kakinya terpotong. Lelaki itu merangkak ke arah Huang Kun.


"Senior! Kau bunuh saja pengecut itu!"


Huang Kun kembali pucat pasi, sejak meninggalkan Kuil Teratai dia tak pernah sekalipun mencabut nyawa orang. Jika dalam pertarungan sekalipun dirinya hanya bisa melukai musuh.


Huang Kun menarik pedang dengan gemetar, pembunuh bayaran bangkit dan bertumpu pada pedangnya.


"Teruslah ketakutan seperti itu, dan aku akan membunuhmu dengan senang hati!"


Darah bersimbah membasahi dinding ruangan, Huang Kun membuka matanya lebar-lebar. Terdengar helaan napas berat di sampingnya. "Lain kali bertindaklah seperti lelaki jantan. Membunuh saja tak bisa kau lakukan, besok-besok kau yang akan terbunuh."


Shen Xuemei datang dan mengatakannya dengan datar, baginya kata-kata tersebut biasa saja namun di hati Huang Kun perkataannya sangat membekas. Huang Kun sama sekali tak marah pada Shen Xuemei namun justru dirinya marah pada diri sendiri.


Pembunuh bayaran mengumpat dalam hati, satu bantuan telah datang lagi membuat keadaannya semakin terpojokkan namun di sisi lain dirinya masih memiliki harapan pada seseorang.

__ADS_1


Xin Fai memasang sikap waspada, dia menutup mata sebentar hingga dapat merasakan energi-energi yang bergerak di sekitarnya.


"Di sini!"


Pedang Manusia Darah Iblis menancap tepat di bayangan Xin Fai sendiri, setelahnya seorang gadis muncul dari bayangan tersebut sambil tertawa menutupi mulutnya.


"Hahah, boleh juga bisa mengetahui keberadaanku hanya dengan menutup mata. Padahal aku hanya ingin memastikan sesuatu di sini."


Tatapan kesal melayang padanya, Xin Fai mengacungkan pedang ke arah gadis itu. "Jadi kau yang tadi menatapku di alun-alun kota tadi!"


Meskipun berkata dengan berani namun sejujurnya Xin Fai sedikit cemas, dia tak bisa merasakan hawa keberadaan gadis ini dan juga kekuatannya sangatlah misterius.


"Tch, kau mengingatnya? Tapi kupastikan setelah ini hidupmu takkan tenang lagi."


Gadis itu melebarkan senyumnya sampai gusinya terlihat, Xin Fai yang pernah melihat monster iblis sekalipun dibuat merinding olehnya.


"Tubuh Manusia Iblismu akan diincar seluruh pembunuh bayaran di dunia ini."


Jantung Xin Fai terasa berhenti berdetak mendengarnya.


Masih dalam keterkejutannya, gadis itu mengangkat pria pembunuh bayaran di bahunya, dia mengangkatnya tanpa kesulitan sedikitpun. Lalu dia meloncat keluar jendela dan menghilang di tengah gelapnya malam.


"Se-sejak kapan mereka mengetahuinya...?"


Jantungnya berdetak lebih kencang, membayangkan ribuan pembunuh bayaran dengan kekuatan pendekar besar mengeroyoknya. Xin Fai menelan ludah kasar, dia meremas rambutnya.


"Ini gawat! Jika mereka tahu siapa aku, sudah pasti orang-orang di sekitarku juga jadi sasarannya!"


"Fai'er..." Huang Kun mencoba menenangkan Xin Fai, dia sebenarnya lebih terkejut darinya. "Te-tenang saja, aku berjanji akan melindungimu." kata Huang Kun meskipun dia sendiri tak yakin.


Huang Kun merasa dirinya harus segera menjadi orang yang kuat, bagaimana pun juga dia tak bisa membiarkan Xin Fai sendirian menghadapi ribuan pembunuh bayaran suatu saat nanti.


"Tidak, Senior akan dalam bahaya. Ini..." Tanpa sadar tangannya terkepal, Xin Fai baru kali ini merasa sangat terancam. Sejujurnya jika ini hanya menyangkut dirinya sendiri dia tak masalah, namun jika imbasnya akan terasa pada Kuil Teratai juga semua akan jadi sangat berbeda.


Tak lama Li Yong datang memasuki ruangan setelah berhasil mengalahkan dua pembunuh bayaran di depan.


"Apa yang terjadi?"


"Senior... Pembunuh bayaran sudah mengetahui tentang tubuh Manusia Iblisku ini," kata Xin Fai cemas.

__ADS_1


"Apa?! Aku sudah memastikan di sekte kami tidak akan ada yang berkhianat membeberkan berita ini!"


Li Yong memijit kepalanya seraya berjalan mondar-mandir di depan Xin Fai. Dia justru jauh lebih panik dibanding Huang Kun.


"Sudah pasti di sekte Kuil Teratai ada yang berkhianat, ini sama sekali tak bisa dibiarkan." Setelah mengatakannya Li Yong mendekat ke arah Xin Fai, dia masih menyimpan rasa marahnya.


"Aku berjanji akan menjagamu, Fai'er. Kau tak perlu takut," tegas Li Yong. Sejujurnya yang Xin Fai takutkan adalah keselamatan mereka, bukan dirinya.


Mata Xin Fai beralih ke luar jendela, gadis tadi melarikan diri dari tempat itu. Sesaat semua berkelebatan di kepalanya. Jika benar identitasnya telah diketahui banyak pembunuh bayaran, langkah terbaik yang harus diambilnya saat ini adalah menyamar.


'Aku harus menjadi lebih kuat untuk melindungi mereka semua.' batinnya ketika menatapi Li Yong dan yang lainnya.


Setelah beberapa saat raut cemas di wajahnya tak nampak lagi, Xin Fai mulai tenang. Dia tidak boleh takut hanya karena ancaman seperti itu, mau seribu atau ratusan ribu pembunuh bayaran pun akan dibunuhnya, dan setelah itu dia juga akan menghancurkan kelompok bernama Manusia Darah Iblis. Saat ini kedua hal itu adalah tujuan hidupnya, dia bersumpah akan melakukannya meskipun harus bertaruh nyawa.


Tekad yang selama ini disimpannya menjadi penyemangat Xin Fai saat ini.


"Aku tak boleh mati sebelum dendamku terbalaskan."


Ucapan tersebut membuat alis orang yang mendengarnya berkerut, Shen Xuemei bertanya malas.


"Kau memiliki dendam pada Huang Kun? Apa karena dia sering mengejekmu?"


Huang Kun menatap Xin Fai seperti ingin memakannya hidup-hidup, seandainya pemuda itu monster pasti matanya akan mengeluarkan cahaya merah.


"Bukan, bukan Senior Huang!" panik Xin Fai.


"Jadi? Aku?" wajah Shen Xuemei terlalu polos, dia salah tangkap maksud perkataan Xin Fai.


"Bukan juga! Maksudku..."


Li Yong menunjuk dirinya. "Jadi kau sebenarnya memiliki dendam padaku?"


"Bukan! Arrghhh! Kalian mengerjaiku!"


Lantas Li Yong, Shen Xuemei dan Huang Kun tertawa. Karena umur Xin Fai memang yang paling muda di antara mereka, maka tak heran dirinya lah yang selalu dijadikan objek untuk dikerjai.


Xin Fai hanya bisa merenggut jengkel namun di sisi lain suasana hatinya tak seburuk tadi. Xin Fai menyadari, meskipun Seniornya yang bernama Shen Xuemei itu sangat dingin namun di balik sifatnya itu dia selalu berusaha menghibur yang lainnya.


***

__ADS_1


__ADS_2