Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 292 - Pulau Es Utara II


__ADS_3

Menjelang pagi berikutnya ternyata Marcos sudah lebih dulu bangun, dia tak menyangka di hari sepagi ini Xin Fai telah bangun. Terlihat dia mengintip di balik celah jendela, memerhatikan badai salju sejak dini hari tadi. Cuacanya tidak bisa dikatakan baik untuk pergi berburu ditambah lagi angin kencang yang semakin membuat udara dingin.


"Kau sudah bangun, ya. Kalau begitu cepat cuci muka kita harus segera pergi memburu."


Setelah mempersiapkan semua barang-barang yang sekiranya akan diperlukan mereka pergi meninggalkan rumah, menembus badai salju yang sangat tebal. Untung saja kali ini Xin Fai telah memakai baju tebal, paling tidak dia tidak terlalu merasa kedinginan.


"Memangnya kita akan berburu apa?"


Saat Marcos menebang pepohonan di depannya akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara, dia menoleh ke sekitar dan tak menemukan hewan seperti rusa yang bisa diburu. Hanya terlihat beberapa serigala dari kejauhan.


Marcos menunjuk ke kawanan serigala tersebut. "Kita akan berburu mereka."


Xin Fai tercengang melihatnya, mereka memakan serigala untuk bertahan hidup.


"Jadi daging yang kumakan semalam..."


"Daging serigala."


Dia hampir saja terbatuk-batuk mendengarnya, membayangkan saudara Lang disantapnya semalam sudah membuat perutnya berputar-putar. Seandainya tahu itu daging serigala lebih baik dia memakan roti kering dari penyimpanan cincin ruangnya.


Xin Fai menggeleng pelan, dia berjalan mendekati gerombolan serigala itu untuk berburu. Ketika hendak mengeluarkan pedangnya, Marcos menahan lengannya.


"Jangan mendekati mereka, terlalu bahaya! Kita harus menggunakan cara pintar untuk memburu mereka semua." Ucap Marcos mengajari, "Kau pasti baru pertama kali datang ke Kutub Utara, bukan? Kalau begitu mau aku ajari cara bertahan hidup di tempat ini?"


Xin Fai mendengarkan penuturan Marcos setelahnya tanpa banyak protes.


Marcos membaluri sebuah pisau dengan darah beruang hasil buruannya kemarin, dan menancapkannya di tanah hingga beberapa buah. Usai melakukannya dia meminta Xin Fai untuk mundur jauh dan bersembunyi di tempat yang aman, tatapan matanya mulai waspada ketika 2 serigala mendekati pisau berdarah tersebut.

__ADS_1


Dua serigala yang datang menggigit-gigit pisau tajam tersebut karena kelaparan, mereka terus melakukannya hingga kehabisan darah. Marcos menjelaskan dengan bangga cara berburunya itu.


"Suhu yang sangat dingin ini membuat serigala-serigala itu tidak merasakan sakit saat memakan pisau tersebut, lihatlah mereka makin kehabisan darah. Saat mereka tidak berdaya kita harus mengambilnya sebelum binatang buas lain datang."


"Apa tidak ada cara lain untuk membunuh mereka?"


"Terlalu berbahaya kalau mau membunuh langsung, mereka akan mengerubungimu seperti lalat. Tulangmu pun takkan bersisa kalau dimakan mereka."


Sesaat setelah itu benar saja dua serigala tersebut tewas, mereka terkulai lemas di atas salju yang berwarna merah darah. Marcos berlari menghampiri dua serigala itu bersemangat, paling tidak dua ekor serigala ini bisa untuk bertahan hidup saat badai salju ekstrem nantinya.


Ketika Marcos sibuk dengan dua tubuh serigala Xin Fai tertarik dengan seekor beruang besar, dia melihat lama-lama binatang buas itu. Marcos menyadarinya dan segera menarik lengan pemuda itu kencang.


"Lari! Kita harus lari!"


"Tunggu sebentar, biar aku selesaikan."


"Selesaikan apanya? Nyawamu nanti yang selesai! Ayolah... Kau tidak tahu betapa berbahayanya beruang itu, dia sudah membunuh lima teman-teman kami!"


Mata Marcos terbuka lebar saat sebuah senjata tiba-tiba muncul di telapak tangan pemuda itu, dia tidak mengerti dari mana benda itu muncul atau memang matanya salah melihat. Dalam tiga gerakan yang tak memakan waktu sedetik tubuh beruang kutub mengeluarkan darah sangat banyak, dia menjerit meronta-ronta menyadari sekujur tubuhnya terluka dan berniat melarikan diri.


Tapi satu tebasan penghabisan telah lebih dulu bersarang di lehernya, beruang kutub mati mengeluarkan darah yang membanjir.


Marcos mulai menerka-nerka dalam hati, memang dia pernah mendengar ilmu-ilmu silat seperti yang dilihatnya kini namun sebagai manusia biasa dia hanya bisa diam tak banyak komentar, kecuali satu hal. Marcos menyelutuk.


"Kalau tahu kau bisa membunuh mereka dengan sangat mudah kenapa masih membiarkanku bermain dengan pisau-pisau itu?"


"Aku hanya tidak mau mengganggu kesenanganmu."

__ADS_1


Marcos nyaris saja ingin mengumpat, segera tak menunggu lama lagi pria itu menyeret tubuh beruang berukuran besar itu dengan tali yang telah dipersiapkannya dari rumah.


Namun Xin Fai menahannya. "Tidak perlu susah payah menariknya."


Beruang kutub dan dua mayat serigala menghilang dalam sekejap mata, "Biar aku menyimpan mereka. Nanti setelah tiba di rumah akan aku kembalikan padamu."


Marcos melongo heran, tak mampu berkata-kata apa lagi, dia mulai percaya dengan sihir di dunia ini. Benar-benar tidak disangkanya ada seorang penyihir seperti Xin Fai, bahkan sekarang dia pun percaya peri benar-benar ada. Sedikit bingung juga dirinya saat membedakan Xin Fai peri atau penyihir, laki-laki itu mulai pusing.


"Kita berburu lebih banyak lagi, mungkin di sekitar sini ada tumbuhan yang bisa dimakan?"


Marcos mengangguk setuju, dia menunjuk tempat-tempat yang sekiranya banyak ditumbuhi tanaman. Dalam lebatnya hujan salju yang terus turun semenjak tadi mereka berhasil mengumpulkan banyak persediaan makanan, satu demi satu buruan berhasil dikumpulkan.


Mereka kembali setelah lima jam kemudian, memasuki rumah untuk menghangatkan diri.


Marcos cukup senang melihat hasil buruan mereka berdua dan berniat membagikannya pada penduduk yang juga bermukim di tempat ini. Setidaknya tahun ini mereka memiliki persiapan untuk menghadapi musim dingin yang ganas.


Xin Fai duduk berdiam diri di tempatnya, saat mendengar seseorang tengah duduk di sampingnya dia membuka mata dan mendapati Palma sudah duduk di sampingnya dengan membawa makanan.


"Terimakasih untuk buruannya, kau tidak keberatan kami membaginya pada yang lain, kan?"


"Untuk apa aku harus marah? Daging itu memang sudah milik kalian, aku tidak berhak marah."


Palma menyunggingkan senyum lembut, terlihat sangat menawan. "Kusarankan untuk satu minggu ke depan kau jangan pergi ke luar dulu, cuaca di luar akan luar biasa dingin. Pakaian kita takkan sanggup menahan dinginnya udara yang bisa membekukan jantung itu."


"Bisa membekukan jantung?"


Xin Fai memutar otaknya, dia mulai berpikir hal ini ada sangkut pautnya dengan Naga Es yang sedang diincarnya. Pemuda itu membenarkan posisi duduk, terlihat lebih serius dari sebelumnya. "Boleh kau beritahu aku tentang cuaca tak biasa itu? Atau informasi apapun yang kau miliki, ceritakan semua padaku."

__ADS_1


Palma mengingat-ingat sebentar, setelah beberapa detik wanita itu memandang di luar jendela. Melihat badai salju yang sedang berkecamuk, bahkan untuk sekedar jalan keluar saja kaki mereka pasti akan tenggelam.


**


__ADS_2