Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 51 - Serigala Pengembara


__ADS_3

Langit semakin mendung ketika mereka tiba di rumah, angin bertiup kencang membuat Lian Kaili yang berada dalam gendongan Qiong Lin merengek kencang. Dia memeluk bayi itu erat berusaha menenangkannya.


Qiong Lin membawa beberapa barang milik suaminya ke rumah sebagai kenang-kenangan. Sedangkan dua anaknya lagi mengatakan ingin memasak makanan mengingat ibu mereka kini pasti sangat sedih setelah bertemu mayat Qiao Guan, dia hanya tersenyum seperti biasa dan menyetujuinya.


Di ruang tamu kini hanya tersisa Qiong Lin dan Xin Fai, mereka duduk saling berhadapan. Sejurus Xin Fai membuka mulutnya hendak berbicara.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


Bola mata Qiong Lin berangsur padanya, wanita itu mengangguk pelan.


"Apakah suami anda seorang Manusia Darah Iblis?"


Qiong Lin sudah menebak pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Xin Fai, ia membenarkan posisi sambil menceritakan kebenaran tentang suaminya agar Xin Fai tak salah paham.


"Suamiku adalah seorang pendekar aliran putih, dia begitu disegani oleh masyarakat. Dia sangat ingin menghancurkan segala kejahatan yang terjadi di muka bumi ini, sampai suatu ketika..." Wajah Qiong Lin perlahan tapi pasti berubah sedih, tatapan teduhnya dipenuhi duka.


"Ada acara lelang di suatu kota, dan suamiku hendak menjual barang berharga yang ditemukannya agar kami semua bisa makan, namun hal buruk terjadi setelah itu."


Xin Fai menduga cerita pendekar ini sama seperti Zhang Bingjie, sekilas ia mengepalkan tangannya erat.


"Saat kembali ke rumah, suamiku sudah memiliki tato kalajengking merah di dadanya, dan sifatnya tak lagi sama... Dia membunuh semua orang yang mengusiknya sekalipun temannya sendiri. Anakku, Qiao Feng hampir terbunuh olehnya saat itu."

__ADS_1


Qiong Lin melanjutkan ceritanya, setelah suaminya berubah banyak hal buruk terjadi. Masyarakat mulai membencinya, tidak ada lagi yang peduli dengan mereka. Bahkan kepala desa mengusir mereka, dan Qiong Lin memutuskan untuk mencari rumah baru. Tempat ini merupakan pilihannya karena jarang dihuni.


Suaminya pergi berkelana ke sana kemari hingga bertahun-tahun tak kembali, dan salah seorang teman Qiong Lin mengatakan bahwa suaminya telah mati di Hutan Terkutuk. Meskipun tak mempercayai berita itu namun ketidakhadiran Qiao Guan selama bertahun-tahun sudah menjawab semuanya. Suaminya telah meninggal.


Xin Fai menggemerutukkan giginya geram, rahangnya mengeras menahan luapan emosi. Pasalnya pendekar bernama Qiao Guan ini dulunya adalah seorang pendekar aliran putih yang begitu disegani masyarakat dan semua berubah setelah Manusia Darah Iblis datang. Dia tidak bisa membiarkan kelompok itu terlalu lama, semakin banyak kesedihan yang dialami orang-orang seperti Qiong Lin karena mereka.


"Aku berjanji akan membalas kematian pendekar Qiao Guan untukmu." Kilat mata Xin Fai menyala, dendam membakar hatinya lagi. Ia tak peduli lagi berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk membunuh mereka semua selagi kakinya masih bisa berjalan Xin Fai bersumpah pada langit dan bumi akan membalas perbuatan para Manusia Darah Iblis.


Setelah mengatakan dia harus bergegas untuk pergi ke Kota Zhu, Xin Fai berniat meninggalkan rumah itu. Ia memberikan puluhan keping emas walaupun Qiong Lin berusaha menolaknya.


Qiao He menyodorkan sebuah kotak makanan sambil berpaling muka, tangannya gemetar.


"I-ini sebagai permintaan maaf dariku karena sudah lancang padamu kemarin." Sesaat setelah mengatakannya pipi Qiao He bersemu merah.


"Hati-hati selama perjalananmu, kami bertiga akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Qiong Lin berujar di depan pintu bersama Qiao Feng.


Anaknya ragu-ragu ingin menyampaikan sesuatu namun dia memaksakan diri.


"Xin Fai... Jika ada waktu kau bisa singgah di sini lagi." Tentu saja Qiao Feng mengatakannya dengan malu-malu sama seperti adiknya, dia buru-buru masuk ke rumah setelah menyadari pipinya mulai panas. Qiong Lin tertawa sembari menutup mulut melihat kedua anak gadisnya begitu gugup di hadapan Xin Fai.


Sedangkan Xin Fai masih dalam pertanyaan besar.

__ADS_1


"Apakah wajahku sangat mengerikan sampai mereka ketakutan begitu?" Ia memasang tampang khawatir. Sedikit senyum canggung terpatri di wajahnya setelah menatap Qiong Lin sekali lagi.


Agak jauh dari rumah Qiong Lin baru Lang keluar dari tubuhnya. Serigala itu langsung mendekat ke arah Xin Fai yang sedang memerhatikan wajahnya di pantulan air. Sedangkan bayi yang dibawanya ditaruh di bawah pohon rindang dan dilapisi dengan kain hangat agar tak kedinginan.


Lang ikut menatap pantulannya dengan seluruh rasa puas.


"Julukan serigala pengembara sangat cocok untukku."


Perkataan Lang yang tiba-tiba itu membuat Xin Fai tersedak ludahnya sendiri, dia batuk hebat membuat matanya berair. Lang menatapnya tak suka merasa tersinggung.


"Apakah batukmu itu untuk mengejekku?"


"Tidak, uhuk! Uhuk!" Xin Fai menggelengkan kepala berusaha tidak tertawa, namun apa daya tawanya pecah setelah itu. Dia masih saja tidak menyangka binatang buas seperti Lang memiliki sisi narsis yang hebat. Satu kelebihan Lang itu membuat perut Xin Fai menari-nari ingin menertawakannya.


"Ahahaha aku tidak bisa berhenti tertawa! Lucu sekali, dasar serigala aneh! Hahah!" Xin Fai tertawa memegang perutnya yang keram. Bahkan matanya sampai mengeluarkan air karena tertawa.


"Kau benar-benar mengejekku? Apa yang salah dengan julukanku?!"


"Tidak ada yang salah, tapi yang lucu itu kau hahahah!" Lang menatap pantulan air dengan bingung. Karena tak menemukan jawaban serigala itu mulai jengkel.


Kaki belakangnya mengais-ngais tanah hendak menerjang Xin Fai yang sibuk tertawa.

__ADS_1


Bokong Xin Fai diseruduk dari belakang membuat anak itu masuk tercebur ke dalam sungai. Xin Fai mengumpat-umpat dengan mulut dipenuhi air.


Kali ini Lang yang bisa tertawa puas.


__ADS_2