
Menjelang pagi Xin Fai terbangun dari tidurnya seraya melihat sekitar di mana Huang Kun tengah tertidur pulas. Semalaman mereka tak kembali ke penginapan dan malah tertidur di bawah pohon, kemungkinan orang-orang dibuat khawatir oleh mereka.
Segera setelah itu dia bangun, langit masih agak gelap dan sama sekali belum memunculkan sinar matahari. Xin Fai mengeluarkan sebuah kitab yang diambilnya dari Setan Gila, dia mempelajari isi di dalamnya dengan fokus sembari menunggu Huang Kun terbangun.
Hampir satu jam dirinya mempelajari sekaligus mempraktekkan kitab milik Setan Gila namun Huang Kun juga tak kunjung bangun. Xin Fai mempelajari kitab meringankan tubuh itu di alam bawah sadarnya dan membuat durasi latihan yang sebenarnya hanya satu jam menjadi satu hari.
Xin Fai menarik napas dalam merasakan kekuatan dalam tubuhnya semakin besar. Energi alam terus menerus masuk dalam tubuhnya, entah itu memiliki efek samping atau tidak namun sejauh ini dirinya belum menemukan masalah apapun.
"Senior Huang, bangun sudah pagi." Xin Fai menggoyangkan bahu pemuda itu, dia hanya membalikkan badan bersama decakan malas.
"Hee... Ini anak sudah bangun daritadi!" gerutunya kesal, dia mendekat lalu menggoncang tubuh Huang Kun lebih keras.
"Senior! Bangun!"
Huang Kun tidak merespon, dia bergumam tidak jelas membuat Xin Fai makin gemas. Orang-orang di sekte pasti sedang mengkhawatirkan mereka berdua karena tidak pulang semalaman dan Huang Kun malah enak-enakan tidur di tempat ini.
"Ck, Senior kau ini manusia atau kerbau? Cepat bangun."
Lagi-lagi Xin Fai dibuat bingung setelah ke sekian kalinya tidak berhasil membangun Huang Kun, dia menatap ke arah depan di mana sebuah danau hijau terhampar luas. "Air danau pagi hari memang yang terbaik, Senior Huang mau kumandikan tidak?"
Merasa Huang Kun masih sibuk dengan alam mimpinya Xin Fai tidak memiliki pilihan lain, dia menarik kerah baju Huang Kun sambil tersenyum licik.
"Lumayan, sekalian aku ingin melihat perkembangan latihanku juga."
Dia memasang ancang-ancang dengan tatapan lurus ke arah danau yang berjarak seratus meter di depan, setelah melakukan hitungan Xin Fai berlari kencang tanpa henti. Kecepatan berlarinya melebihi kecepatan kuda liar dan bisa dikatakan sudah setara dengan Setan Gila.
Huang Kun menjerit tak menentu membuat mulutnya penuh oleh udara, pemuda itu mengutuk keras selama perjalanan bahkan saat dirinya sudah dilepas masih saja Huang Kun mengomel-ngomel. "Kau ini! Harusnya beritahu aku kalau mau ajak lari seperti itu!"
"Salah sendiri dibangunkan malah tidur."
__ADS_1
Huang Kun masih mendengus namun dia tetap mengikuti Xin Fai yang mencuci muka di pinggir danau, air di tempat itu sangat dingin bahkan uapnya saja sudah amat tebal mengapung di atasnya. Huang Kun bergidik tak sanggup menahan dingin, dia beranjak pergi dari sana.
"Fai'er, kita harus pergi ke asrama sebelum Senior Li datang!"
"Sepertinya kau tidak perlu mengkhawatirkan itu lagi..."
"Maksudmu?" Huang Kun mengernyitkan alisnya.
Sedikit takut juga Xin Fai saat menunjuk seseorang di belakang Huang Kun, tatapan bengis penuh intimidasi itu sudah sangat lama tidak dilihatnya sejak 7 tahun terakhir.
Huang Kun membalikkan badan dan langsung kaget saat bertemu tatapan dengan Li Yong.
"Kau sudah tahu murid dilarang meninggalkan sekte saat malam hari, bukan?"
"I-iya, maafkan aku. Aku salah."
Xin Fai mengendap-endap pergi dari tempat itu, dia tentu saja tidak mau disuruh duduk satu hari mendengar nasehat dari orang tua uzur yang bicaranya lamban seperti kura-kura. Namun agaknya dalam hal melarikan diri Xin Fai memang payah, belum melangkahkan kaki saja Li Yong sudah tahu niatnya.
"Fai'er! Kau juga harus kena hukum!"
"Aku bukan murid, Senior Li. Aku tamu."
Li Yong terdiam menyadari perkataan itu ada benarnya juga, dia seolah berpikir-pikir lagi dengan matang.
Merasa tidak adil, Huang Kun yang angkat bicara. "Senior Li, aku bersama dia semalaman di sini! Kalau aku kena hukuman dia juga harus kena!"
"Senior Huang.."
"Benar, Fai'er. Ini akan mengajarkanmu arti solidaritas dan pertemanan. Sekarang kalian berdua ikut aku ke Aula Kedisiplinan."
__ADS_1
Huang Kun menyengir lebar senang bisa membawa temannya susah bersama, dia merangkul Xin Fai setengah menyeretnya. Sembari berjalan menuju sekte Huang Kun masih berceloteh seperti biasa, beberapa dari murid sekte menyapa Huang Kun selama perjalanan. Tampaknya pemuda itu memiliki banyak kenalan di tempat ini.
Xin Fai sendiri hanya bisa menunduk, dia memikirkan jadwal keberangkatan Aliansi Pedang Suci setelah ini. Ada satu desa terdekat yang akan mereka kunjungi dan memang sejak dulu ingin sekali Xin Fai datangi. Desa itu adalah Desa Daan, sebuah tempat yang paling aman serta makmur, begitu kabar yang sering didengar olehnya.
Sesampainya di Aula Kedisiplinan mereka dipersilahkan duduk dan berhadapan langsung dengan seorang tetua lansia, seperti dugaan cara tetua itu berbicara memang lamban bahkan menuangkan air dalam cangkir saja dia sudah kepayahan. Sesekali tetua itu terbatuk-batuk, Huang Kun menggaruk tengkuknya beberapa kali merasa tidak nyaman. Sedangkan Xin Fai membiarkan tetua itu berbicara, dia juga menaruh hormat besar pada lelaki itu.
Setengah jam lebih mereka dipaksa duduk dalam posisi sama, Huang Kun mulai merasakan kesemutan menggerayangi tungkai kakinya. Pemuda itu bergerak-gerak menahan napas saat itu juga, Xin Fai menahan tawa melihat wajah Huang Kun. Benar-benar senang melihat orang dalam kesusahan.
Pada waktu bersamaan Zhu Yue melewati aula tersebut, dia berhenti bersama empat orang di belakangnya dan mengintip dari balik pintu.
"Wohh... Itu pimpinan kita! Dia dihukum?"
"Hahaha, Ketua Xin kena hukum. Aku bahkan baru sadar sekarang, kalau Ketua masih sangat muda terlepas dari pembawaannya itu."
"Ah iya, aku setuju denganmu. Mana ada pendekar muda yang memiliki jiwa kepemimpinan sehebat Ketua Xin."
Zhu Yue akhirnya menanggapi. "Sudah, sudah. Bukan waktunya bergosip. Setelah ini aku akan membagikan pendapatan kita dari hadiah yang diberikan Walikota. Kalian ajak yang lain bergabung, aku akan menunggu."
"Bagaimana dengan Ketua Xin?"
"Ketua Xin yang memerintahkan ini padaku, kau tidak lihat dia sedang diceramahi? Bagaimana ceritanya dia membagi pendapatan sambil mendengar tetua itu mengomel?"
Empat pendekar di depannya tertawa kecil, mereka memberi hormat sebentar sebelum berpencar mengumpulkan rekan-rekan lainnya.
Zhu Yue menoleh kembali ke arah pintu aula, dia mengintip secara diam-diam dan bisa melihat jelas dua pemuda di hadapan seorang tetua. Yang dipertanyakan olehnya hanya satu, kenapa tubuh Xin Fai diselimuti aura aneh. Meskipun berusaha disembunyikan namun Zhu Yue bisa merasakan hal itu dengan jelas.
Dengan kepala menunduk seolah menyesali perbuatannya, tetua Kuil Teratai tidak menyadari kini Xin Fai telah beralih ke alam bawah sadarnya. Tentu saja diomeli seperti ini akan memakan waktu cukup lama dan dia memilih memanfaatkan waktu itu untuk latihan.
**
__ADS_1