
"Sepertinya aku teringat sesuatu..." Xin Fai setengah berlari ke arah tumpukan papan yang sempat dibongkarnya, baru saja dia hendak membuka papan itu seorang pendekar menggertaknya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sana?!" seru pria itu panik.
Xin Fai berdiri mematung, menunggu pria itu mendekat. Tidak memiliki waktu untuk menyela.
"Jangan sembarangan membuka–"
Sreett!
Leher pria itu terpotong kencang, dia tidak menyangka sebuah pedang pusaka tiba-tiba muncul di udara hampa dan membunuhnya dalam kurun waktu satu detik.
"Kau sembunyikan tubuhnya cepat!" Xin Fai menoleh pada Zhuan Ang yang masih percaya tidak percaya pada tindakan itu, sebelumnya dia hanya berpikir untuk mencari alasan. Namun tampaknya dalam hal mengambil keputusan Xin Fai sudah terlatih, membunuh pria itu adalah jalan terbaik agar tidak merusak rencana mereka.
Selagi Zhuan Ang menggeret jasad pria itu Xin Fai menelisik tajam ke sekitarnya dan menemukan sebuah benda berbentuk tabung tempat penyaluran udara terlihat, setelah mengintip di dalam dan menyadari ada sebuah ruangan tersembunyi di dalam Xin Fai segera berkeliling mencari jalan masuk.
Langkah kakinya berhenti ketika bunyi nyaring terdengar, dia menyingkirkan tanah-tanah yang menghalangi dan menemukan sebuah kayu di bawah tanah tersebut.
Tangannya segera menggeret kayu tebal sekuat tenaga, dia terus melakukannya sampai sebuah jalan masuk terlihat di sana. Xin Fai menoleh ke arah Zhuan Ang yang langsung mengangguk padanya.
"Masuklah, biar aku yang menjagamu dari atas."
Sedikit senyum terulas di bibirnya sebelum masuk ke dalam, dia mendarat dalam keadaan berjongkok.
Terlihat sebuah ruangan yang hanya seluas kamar biasa terpampang di hadapannya.
"Datang lagi, ya?" Suara serak menyambutnya, seperti suara tenggorokan yang tidak pernah terkena air selama beberapa hari.
"Mau memaksaku memberitahu kalian sampai kiamat pun aku tidak peduli..." Lanjutnya, nada suaranya bergetar. Tak lama lagi mungkin ajalnya sudah datang menjemput.
"Senior Shen?"
__ADS_1
Pemuda yang seperti hanya dibalut oleh kulit kering itu mengangkat wajahnya, rambutnya mulai panjang tak terurus beserta tulang rusuknya menonjol memperlihatkan kerangka tulangnya. Dia bersusah payah hanya demi bisa melihat sosok di hadapannya.
Sinar matahari dari atas membuat matanya yang sudah berbulan-bulan tidak terbiasa matahari terasa nyeri dan tidak bisa melihat sosok menyilaukan itu dengan jelas. Shen Xuemei merasa tidak asing dengan panggilan itu.
"Syukurlah, kau masih hidup."
Shen Xuemei bergeming, dia bisa merasakan ketenangan saat sosok itu datang. Rantai yang membelenggu leher dan tangannya terlepas begitu saja, Xin Fai berusaha memulihkan kekuatan pemuda itu menggunakan tenaga dalamnya. Dilihat dari kondisinya sepertinya Shen Xuemei tidak diberi makan selama berhari-hari, bibirnya pun ikut pucat pasi.
Xin Fai mengeluarkan lima ekor belut listrik dari cincin ruang kemudian memberikannya pada Shen Xuemei. "Ayo makan, pahlawan sepertimu harus makan banyak. Lihatlah tubuh kurus keringmu itu, Senior Li pasti akan sangat khawatir kalau melihat keadaanmu yang begini."
"Kau..."
"Xin Fai, Senior Shen."
Bibir pucat Shen Xuemei bergetar tak percaya, dia mencoba melihat tampang pemuda yang tengah berdiri di belakangnya. "Bukannya hari itu–"
"Hari itu aku menghilang, bukan mati, Senior Shen."
Xin Fai sebenarnya ingin bertanya bagaimana kabar Huang Kun, Li Yong dan juga Kuil Teratai namun pertanyaan itu hanya sebatas singgah di kepalanya. Mungkin dia akan menanyakan lain kali berhubung kondisi Shen Xuemei tidak begitu memungkinkan.
Keadaan Shen Xuemei jauh lebih baik setelah dipulihkan oleh Xin Fai dan juga memakan belut listrik. Sejenak hanya terdengar hening sebelum Xin Fai berucap. "Maafkan aku, karena memberimu permata siluman itu kau harus diincar-incar oleh mereka.."
"Tidak ada yang perlu dipikirkan, seandainya kau tidak memberikanku permata siluman itupun aku belum tentu masih hidup sampai sekarang."
Keresahannya masih belum juga hilang, bukan hanya Shen Xuemei yang kini berada dalam masalah karenanya tapi juga semua orang dari Kuil Teratai. Seandainya dia tidak datang hari itu mungkin nasib sekte mereka tidak akan seburuk ini.
"Kudengar Pendeta Tao Wei sudah meninggal saat insiden penyerangan tujuh tahun lalu."
Mata Shen Xuemei sudah mulai bisa mengenali wajah di hadapannya, bisa dilihatnya Xin Fai tumbuh dengan baik selama bertahun-tahun tidak bertemu dengannya. "Fai'er, jangan karena kematian satu orang membuatmu seakan paling berdosa." Shen Xuemei melanjutkan perkataannya.
"Tidak perlu menyesal, lagipula kau sudah menyelamatkan banyak orang, jangan melupakan itu. Karena mereka semua tidak akan melupakannya."
__ADS_1
Xin Fai mengangkat wajahnya, tidak pernah menyangka sosok Shen Xuemei yang tampak gagah dulu kini berakhir menjadi tulang belulang yang suka menasehati, walau bagaimanapun juga hatinya juga merasa lebih baik setelah itu. Mungkin semua perkataan Shen Xuemei benar adanya dan dia hanya terlalu larut dalam rasa bersalahnya.
"Kau sudah bisa berjalan? Atau mau kugendong?" Tawar Xin Fai, Shen Xuemei terbatuk-batuk kecil.
"Kau mau membunuh harga diriku sebagai lelaki?"
"Hahahaha kalau kau tidak sanggup berjalan, aku bersedia menggendongmu."
Jelas saja Shen Xuemei tidak terima jika harus digendong, dia berupaya menggapai pintu keluar sendiri. Xin Fai membantunya naik dan menyusul pergi keluar yang tampaknya aman.
Zhuan Ang buru-buru mengalihkan pandangannya ke belakang setelah itu.
"Kita harus pergi dari sini sebelum mereka memeriksa tempat ini, kudengar tadi sepertinya mereka berniat membawa Shen Xuemei ke markas lain!" lontar pemuda itu panik.
Benar perkataannya, baru saja dia berkata seperti itu seorang pria sangar yang tampangnya begitu mengerikan muncul di kejauhan bersama tujuh orang lainnya. Mereka baru saja datang dan menatap ke depan di mana yang terlihat hanyalah asap hitam menutupi pandangan.
Xin Fai memapah Shen Xuemei cepat, tidak ada pilihan lain selain keluar dari gerbang utama. Melompati pagar tinggi hanya akan membuat mereka dicurigai dan bisa dipastikan anak panah akan langsung meluncur mengancam nyawa Shen Xuemei.
"Apa yang tadi kau gunakan?" Zhuan Ang mengernyit heran, dia menatapi serbuk hitam dalam genggaman tangan Xin Fai.
"Asap ini untuk melarikan diri, aku membelinya di pasar gelap tadi pagi."
Sebuah tiupan terompet terdengar melolong di udara setelahnya, semua orang yang tengah sibuk sendiri berhenti dan memasang pandangan curiga. Tampaknya bunyi itu merupakan suatu isyarat.
"Sial, sepertinya melarikan diri dari tempat ini akan jauh lebih sulit daripada memecahkan teka-teki tadi."
Zhuan Ang dan Shen Xuemei lantas saja mengerti mengapa Xin Fai mengatakan hal itu saat melihat ternyata di depan sana puluhan orang sudah menanti bersama senjata masing-masing.
"Kau jaga Senior Shen, jangan sampai dia direbut oleh musuh."
"Kau yakin ingin menghadapi mereka sendirian?"
__ADS_1
"Aku bahkan sudah melihat neraka yang jauh lebih mengerikan dari ini semua."