Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Teo Dan Mael


__ADS_3

"Sring...... ting....."


Angin berhembus sangat kencang akibat benturan pedang Teo dan Mael. Mereka terus berlatih bersama sejak akhir dari turnamen itu.


Sudah 14 tahun lamanya Teo hidup bersama Mael di hutan Garo. Dan sudah 12 tahun sejak ia ditinggal mati oleh ibunya.


Ibu Teo menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sejak itulah Teo hanya ditemani oleh Mael dan Leo.


Saat ini Teo hanya fokus untuk bertemu dengan ayahnya Agil.


Agil telah diakui dan diangkat menjadi murid dewa Trevor. Suatu hari Agil dipastikan akan menjadi seorang dewa, tetapi untuk saat ini ia masih berlatih.


Sudah beberapa bulan awan gelap menyelimuti hutan Garo, dan beberapa hari ini Leo kembali ke ibu kota untuk memenuhu tugasnya sebagai pahlawan. Teo dan Mael ditugaskan untuk membuat pedang yang berkualitas tinggi.


Walaupun Leo melatih Teo dan Mael, ia tidak memanjakan mereka. Leo mengajari membuat pedang berkualitas untuk kehidupan mereka. Terkadang Leo juga membeli pedang yang mereka berdua buat secara diam diam. Karena memang pedang buatan mereka berdua benar benar sangat berkualitas tinggi.


Pedang yang dibeli Leo kemudian ia bagikan ke anak buahnnya. Dan sebagian besar anak buah leo benar benar menyukai pedang buatan Teo dan Mael.


Malam yang dingin telah tiba, Mael segera bangun dari tidurnya. Waktu saat ini mungkin tengah malam. Ia melihat tempat tidur Teo dan melihat Teo tertidur lelap disana. Ia segera pergi ke utara hutan Garo untuk berlatih dan meditasi. Hal itu sering ia lakukan diam diam tanpa sepengetahuan dari Teo.


Mael langsung memulai latihannya dengan membuka ketujuh titik ki miliknya. Segera setelah terbuka, ia mengeluarkan energi yang sangat besar untuk segera menguras energi ki miliknya.


Leo mengajarkan bahwa jika ingin memperbanyak ki diri sendiri, maka didalam tubuh yang ingin berlatih ki harus dikuras terlebih dahulu. Agar fisik tidak memakan ki dan berkembang dengan lebih cepat.


Seperti biasa Mael mengayunkan pedang yang ia buat khusus untuk latihan. Pedang itu sangat berat dibandingkan dengan pedang lain. Ia terus melatih fisiknya agar ki yang ia punya meningkat.


Keringat mengucur deras di kening Mael, nafasnya mulai tidak teratur karena kelelahan. Tapi ia sadar bahwa, jika ia tidak melewati batasnya sendiri maka ia akan kalah dengan Teo.


Mael terus mengayunkan pedangnya sampai pada suatu titik ia tersungkur karena kelelahan. Ia memutar tubuhnya sampai posisi terlentang. Melihat bintang dan berfikir, "apa yang dilakukan Teo sampai aku tidak bisa melampauinya?"


Saat Mael menatap langit, bayangan hitam yang sangat besar melesat kearah selatan menuju tempat tinggal yang disediakan Leo.

__ADS_1


Mael langsung bangun dan mengejar bayangan itu, takut jika Teo akan diserang saat terlelap.


Mael terus mengejar bayangan hitam itu dengan kekuatannya yang tersisa. Sampai ia sadar bahwa bayangan itu melewati tempat tinggalnya.


Karena penasaran Mael terus mengikuti bayangan hitam itu. Dan berhenti mengejar bayangan hitam karena melihat Teo yang sedang berlatih.


"Bukankah Teo masih tertidur?" Batin mael dengan nafas terengah engah.


Mael melihat kearah langit lagi dan melihat bayangan hitam itu terus menuju ke selatan. Karena ia melihat Teo, ia memutuskan berhenti mengejar bayangan hitam itu dan lebih memilih melihat taihan Teo. "Apa yang sedang dilatih oleh Teo. Serta apa Teo selalu berlatih setiap malam?"


Disisi lain Teo mulai menghujamkan pedangnya ke tanah dan mulai mengosongkan pikirannya. Teo berdiri cukup lama dan konsentrasinya sampai membuat Mael bisa merasakannya.


Saat daun pohon cemara yang ada didepan Teo jatuh. Saat itulah Teo mencabut pedangnya dan langsung menyambar daun cemara dengan pedangnya.


Daun cemara yang terkena pedang Teo hancur terpotong menjadi serpihan kecil. Mael yang melihat hal itu, ia kagum dengan konsentrasi Teo.


"Wow, Teo memang berbakat dengan pedangnya. aku tidak akan kalah darinya. Walaupun skill berpedangku lebih hebat, tapi konsentrasi dan ki milikku masih kalah jauh." Batin Mael yang melihat Teo mulai menghujamkan pedangnya lagi.


Mael yang tadinya hanya melihat, ia segera bergegas kembali ke tempatnya latihan.


"Apa yang dilakukan Mael malam malam begini? Apakah ia tau bahwa aku latihan setiap hari dan ia juga akan latihan juga dimalam hari? Tapi Mael mulai menjauh," batin Teo dan Teo merasakan bahwa Mael sudah pergi dari area ia latihan.


Sebenarnya Mael dan Teo terus melakukan latihan sembunyi sembunyi dimalam hari sejak pertama mereka dilatih Leo.


Baik Mael ataupun Teo merasa bahwa mereka kalah dengan kemampuan yang dimiliki temannya.


Teo menganggap Mael lebih baik darinya. Sebaliknya, Mael merasa kalah dari Teo. Dan hal itu sudah diketahui oleh Leo. Makanya Leo tidak pernah lama saat menjenguk mereka berdua.


Leo hanya memberikan masukan dan memberitaukan kekurangan dari murid muridnya itu. Terkadang Leo juga mengajarkan skill berpedang dan cara mengembangkan jurus mereka.


Hawa dingin mulai menyelimuti hutan Garo. Mentari mulai menunjukan sinar kemerahan yang menandakan malam akan segera berakhir.

__ADS_1


Teo dan Mael bergegas kembali ke rutinitasnya masing masing.


Teo langsung menuju dapur karena hari ini giliran ia memasak. sedangkan Mael langsung pergi mencari bahan baku untuk membuat pedang.


Mael pergi menuju goa goa yang ada di hutan Garo. Seperti biasa, saat ia kebagian untuk mencari bahan baku pembuatan pedang. Ia selalu memilih biji besi yang berada cukup dalam didalam goa.


Biji besi Terbaik selalu ada pada goa yang cukup dalam. Itulah perkataan Leo yang selalu diingat oleh Mael.


Sedangkan Teo masih kebingungan akan memasak apa untuk temannya itu. Teo masih penasaran dengan masakan apa yang sangat disukai Mael. karena jika ia kebagian memasak, Mael selalu memilih memakan roti saja dari pada masakan yang dibuat Teo.


Matahari semakin naik dan burung burung mulai berkicau. Mael kembali dengan membawa bahan baku yang sangat banyak. Gerobak yang ia pakai sampai hampir tidak muat karena bahan baku yang ia bawa.


Mael memasukan bahan baku kegudang dan segera menuju ke ruang makan. Seperti biasa, ia langsung memilih roti dan secangkir kopi sebagai sarapannya.


"Hey, cobalah masakanku Mael. Kau selalu menghindari makanan kecuali roti jika aku yang memasak," teriak Teo yang masih memakai celemek.


Mael dengan tidak berdosa berucap, "makanan yang kau buat tidak menggugah selera."


Tiba tiba sendok kayu sudah melayang mengenai Mael.


"Aduh... Apa salahku?" Ujar Mael yang memegangi kepalanya yang terkena hantaman sendok.


Mereka berdua beradu mulut seperti anak kecil yang mempertahankan argumennya. Teo terus mengeluh karena masakannya selalu tidak dimakan oleh Mael.


Saat mereka beradu mulut, Leo yang baru saja datang langsung memukut kepala dari dua muridnya.


Leo meminta penjelasan dan akhirnya terungkap bahwa Mael sebenarnya menyukai makanan yang dibuat Teo. Tetapi makanan yang dibuat Teo mengingatkannya pada masakan Ibunya yang Telah lama mati meninggalkan Mael.


Mael sejak umur 3 tahun sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Orang tua Mael diserang oleh iblis dan akhirnya Mael diasuh oleh pertapa yang menolongnya.


JANGAN LUPA LIKE KALAU SUKA!!!

__ADS_1


LIKE MEMBERI PENULIS SEMANGAT DAN IDE BARU.


__ADS_2