Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 213 - Setan Gila


__ADS_3

"Tentu saja boleh, ambil saja ini. Dan juga, kau sudah mengambil penyegel itu bukan? Kau tidak perlu membayarnya lagi!"


"Ah, baiklah lagipula aku tidak membutuhkan barang-barang itu lagi, selain koin emas untuk membayar para anggota aliansi." Ucapnya, dia mengangguk sedikit meninggalkan pria yang sedang mabuk kepayang itu. Entah sudah berapa lama dia tidak merasa bahagia sampai garis wajahnya terlihat kaku.


Tersenyum saja orang sudah pasti lari melihat wajahnya. Mengerikan juga Xin Fai melihat wajah kaku itu tertawa-tawa di genangan harta, tak kalah mengerikan dari nenek tua sebelumnya.


Tidak sia-sia dirinya datang ke pasar gelap ini, sebelumnya Xin Fai pernah memeriksa namun tidak menemukan sesuatu yang menarik selain barang-barang untuk menambah kekuatan secara instan, pedang berharga maupun permata siluman. Dia melihat mustika yang disimpan baik dalam kotak giok tersebut, dan segera menyimpan ke dalam cincin ruang.


Sejenak Xin Fai teringat akan jepit rambut di kepalanya, dia merasa risih dengan itu dan mencoba melepaskannya.


Namun sial sekali.


Jepit rambut perempuan itu melekat erat tanpa mau melepaskan, padahal tidak ada sedikitpun keistimewaan terlihat darinya namun kali ini dia menyadari ada sesuatu yang salah, berulang kali Xin Fai menariknya bahkan hendak menghancurkannya tapi jepit itu tetap di tempat dalam keadaan seperti semula.


"Apa-apaan ini!?"


Seumur hidup Xin Fai tidak pernah sepanik ini, bukan masalah mengancam nyawanya tapi jepit rambut ini membunuh harga dirinya. Dia berupaya menarik paksa jepit rambut yang bersarang di rambut dekat pelipisnya, namun apa daya justru rambutnya yang tertarik terus menerus.


"Sial sekali jepit ini, kalau menariknya terus bisa-bisa rambutku jadi botak." Xin Fai menggumam dalam dirinya sendiri, dia menelaah sekitar kemudian memutuskan untuk kembali ke nenek tua tadi.

__ADS_1


Namun saat dia tiba di tempat semula yang terlihat hanyalah sebuah tempat kosong melompong dengan meja telah dibalik, seperti sudah ditinggalkan. Xin Fai menanyakan pada pedagang di sebelahnya dan pria itu mengatakan bahwa nenek tua tersebut sudah pergi lebih dulu. Sesaat kemudian sebuah kertas kecil tersodor.


Xin Fai menerima surat itu kebingungan, saat membaca isinya ternyata si nenek itu sudah memperkirakan dirinya akan kembali. Dalam surat tertulis bahwa dia hanya ingin memberikan kenang-kenangan berupa jepit rambut itu, dan mengatakan Xin Fai mirip sekali dengan cucunya yang telah tiada.


Hanya itu saja hal yang bisa diketahui olehnya, namun entah mengapa sosok nenek tua itu terasa begitu misterius. Xin Fai memegang jepit rambut dengan berat hati, meskipun keberadaannya tidak terlalu mencolok diakibatkan warna rambutnya dan jepit itu tidak berbeda jauh tapi tetap saja dilihat dari dekat kelihatan.


Perihal jepit rambut tidak dipusingkannya lagi, Xin Fai mengarahkan langkah menuju jalan di mana Zhu Yue berada dan menemukannya tengah berdiri sembari menopang dagu, matanya menghujam sebuah benda yang tergeletak di atas kayu jati. Benda itu terbuat dari kertas jimat berwarna kuning pudar, seperti sudah lima tahun tak terjual.


"Kau yakin ini penyegel?"


"Sudahlah! Kau menanyakan itu lebih dari sepuluh kali! Lama-lama segel ini kutempel juga di jidatmu itu!" Jawab pria gendut di depannya, wajah yang berisi lemak berlapis-lapis berkeringat hebat. Pori-porinya terus mengeluarkan air, udara panas ternyata tidak hanya membakar tubuh pria itu melainkan juga emosinya. Apalagi yang berada di hadapannya Zhu Yue, sedari tadi dia terus dibuat pening berputar-putar karena ulahnya.


Xin Fai menyadari situasi di sekitarnya, dia menepuk pundak Zhu Yue dari belakang. "Aku sudah mendapatkannya, ayo kita kembali."


"Yang kita hadapi bukan setan, tetapi iblis. Bedakanlah antara setan dan iblis."


"Ah, iya, setan berasal dari manusia yang sudah mati." Zhu Yue menatap langit-langit lalu tatapannya kembali pada si penjual. "Kalau begitu aku tidak jadi beli, dah~"


"Jadi apa gunanya dua jam aku berdebat denganmu, ha!?" Wajah si penjual padam sekali, dia sampai menendang-nendang kursi dengan mengumpat tidak jelas. Xin Fai berjalan lebih dulu, kalau tadi dia yang dikerjai nenek-nenek ternyata nasib sial juga menimpa pria itu karena didatangi orang seperti Zhu Yue.

__ADS_1


Kuda berpacu cepat melintasi malam yang sepi, pintu-pintu rumah telah ditutup, warga masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh. Bulan purnama bersinar terang membuat atap rumah berkilat-kilat terang, dengan suasana mencekam luar biasa.


Kuda Xin Fai berpacu pelan, sepertinya hewan itu menyadari ada sesuatu yang salah ketika melewati jalan ini, Xin Fai bisa melihatnya dari bahasa tubuh kuda itu. Sedang Zhu Yue masih mengawasi sekitar dengan sikap siaga, hingga dalam beberapa detik berikutnya terdengar teriakan meminta tolong dari arah belakang.


"Setan Gila! Setan Gila kembali!"


Tangan Xin Fai secara refleks menarik pedangnya, satu hal yang baru diketahui olehnya adalah pedang pusaka itu ternyata memiliki satu keunikan tersembunyi. Bilah pedang tampak bersinar keunguan kala terbias pantulan cahaya bulan purnama, indah tapi kejam.


Zhu Yue sempat kebingungan sebentar namun ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya-tanya. Baru saja dia beralih lagi menatap ke depan sebuah ayunan pedang mendadak nyaris membelah dadanya


Zhu Yue termundur beberapa langkah namun masih bisa menjaga keseimbangannya. "Setan Gila, ya? Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini..." ucap Zhu Yue berusaha memikirkan secara cepat, selagi itu Xin Fai berlari lebih dulu menyusul si Setan Gila yang sudah melarikan diri ke dalam lorong-lorong rumah. Gerakan licin seperti belut itu membuat tindakan kriminalnya tidak pernah mendapatkan ganjaran sampai detik ini.


Zhu Yue baru saja mengingatnya, Setan Gila adalah sebutan seorang pria mata keranjang yang sering kali mencuri keperawanan para gadis. Sudah tidak terhitung lagi berapa orang yang menjadi aksi bejatnya hingga dengan cepat nama Setan Gila mengudara sebagai pendekar cabul.


Bagaimanapun kesalahan pria itu tidak akan bisa dimaafkan dan jika dibiarkan akan lebih banyak gadis yang hilang keperawanannya karena dia.


Zhu Yue menaiki kuda secepat mungkin dan menyusul Xin Fai, tiba di ujung lorong terlihat pemuda itu tengah memberhentikan kuda sambil melirik kiri kanan.


"Aku kehilangan jejaknya." Xin Fai menoleh ke belakang di mana Zhu Yue juga sedang mencari-cari, tepat ketika kudanya telah memutar balik seseorang melompat tinggi ke arahnya, tempo pergerakannya jauh lebih cepat membuat Xin Fai tidak bisa menghindar.

__ADS_1


Dia dan Setan Gila jatuh menubruk tanah, ketika mencoba bangun nyatanya lelaki itu lebih dulu bergerak dan tanpa diduga pula pedangnya kini telah menghujam kuda Xin Fai.


Kuda itu menjerit dengan kaki depan melonjak ke atas, terlihat dia berlari tak tentu arah menabrak apapun yang berada di sekitarnya. Xin Fai menghindar tidak sempat menenangkan kuda tersebut, licik sekali pemikiran Setan Gila, saat mereka disibukkan dengan amukan kuda di saat itu pula dia pergi melarikan diri.


__ADS_2