Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 223 - Cerita Zhu Yue


__ADS_3

Sebuah tepukan di pundaknya membuat Xin Fai tersadar, dia mengangkat wajah menyadari Huang Kun yang melakukan. Nampak dari wajahnya saja Huang Kun seolah menunjuk ke arah depan di mana Tetua Kuil Teratai duduk, ekspresi pemuda itu mengisyaratkan kecemasan.


"Xin Fai, aku tahu kau pimpinan Aliansi Pedang Suci tapi tidakkah buruk sekali etikamu jika tidak mendengar omongan orang yang lebih tua darimu?"


Hawa-hawa mengerikan datang menyerbu mereka berdua, tatapan lelaki itu amat sangat berubah. Dari yang semula seperti orang tua penuh belas kasih kini seperti siluman singa kelaparan.


"Aku mendengarnya, Tetua."


"Kau mendengarkan? Saat Huang Kun membangunkanmu saja tadi kau sampai terkejut."


Tidak ingin memperpanjang masalah Xin Fai memilih membungkam mulutnya, dia harus hati-hati memilih kata atau jika tidak pria di hadapannya ini pasti akan tersinggung berat.


"Sikapmu ini akan kuberitahukan pada Li Yong, meskipun kau memiliki jabatan tinggi dengan sikap seperti itu kau tetap tidak bisa diandalkan."


Kepalan tangannya mengerat, tetua itu melihat jelas reaksi tersebut dan menarik senyum miring. "Mengapa? Kau merasa tidak terima?"


"Ya."


Huang Kun melebarkan netra matanya sebesar mungkin, dalam beberapa tahun terakhir di Kuil Teratai tidak pernah ada yang berani menentang tetua yang bertugas di Aula Kedisiplinan ini. Kharismatik dan kekejamannya sudah terkenal satu sekte dan membuat lelaki tua itu paling-paling ditakuti oleh murid. Tidak ada yang mau melanggar aturan demi tidak berjumpa dengannya.


"Kalau begitu bisa kau ulang apa yang aku katakan dari awal?"


Xin Fai mengangguk pelan, dia mulai bersuara mengulang kembali apa yang diingatnya dari perkataan Tetua tersebut. Walaupun berada di alam bawah sadar tapi indera pendengarannya masih berfungsi, agar saat jiwanya berada di tempat lain dirinya masih bisa melacak bahaya di sekitarnya.


Apapun yang keluar dari mulut Xin Fai hampir sama persis dengan apa yang dikatakan Tetua tadi, hanya saja bahasanya sedikit berbeda. Huang Kun tersenyum kecil, dia baru tahu Xin Fai ini sedikit pembangkang. Dia tidak mau ditakut-takuti dan akan melawan jika merasa dirinya benar.


Sedikit rasa iri Huang Kun rasakan. Selama ini dia tidak berani membela diri jika itu berurusan dengan orang yang dianggapnya lebih tua. Padahal umur belum menentukan tingkat kedewasaan seseorang, belum tentu juga apa yang dikatakannya benar.


Akhirnya karena jengah sendiri Tetua Kuil Teratai membiarkan mereka pergi, dia tidak mengatakan apa-apa setelah itu dan hanya memalingkan muka tak sudi menatap. Xin Fai menunduk memberinya hormat bersama Huang Kun. Usai itu langsung saja keduanya pergi dan berjalan menarik udara di halaman aula.

__ADS_1


Huang Kun meregangkan ototnya yang terasa kaku, dia akhirnya bisa bernapas lega juga. Memang kerap kali Tetua di Aula Kedisiplinan menjadi bahan ledekannya. Dia mengatakan perbuatan jelek pria itu kepada Xin Fai sepanjang perjalanan.


"Padahal hari itu aku tidak melakukan apa-apa dan justru si tua itu malah menyuruh Senior Li menghukum ku!"


"Itu karena memang nasibmu sudah sial, Senior Huang."


"Heh... Memang kau ini," gerutu Huang Kun lemas. Dia melirik ke arah bangku di pekarangan dan segera duduk melepas penatnya di sana. Xin Fai mengikuti pemuda itu, dia menyandarkan kepala pada senderan kayu.


"Kudengar kau akan pergi setelah ini, jaga nyawamu baik-baik ya." Tiba-tiba saja Huang Kun mengatakan itu, dia mengarahkan tatapan pada Xin Fai cemas. "Di luar sana perang-perang mulai terjadi, kita tidak tahu akan terjadi apa ke depannya. Selagi itu bertahanlah. Kau bisa kembali ke sini kapanpun kau mau, kami akan selalu menunggumu."


"Senior, kau tidak perlu khawatir. Aku bahkan sudah melewati dua kematian sebelumnya."


"Hah? Kau bercanda?" Huang Kun meluruskan punggungnya merasa tak percaya.


"Dulu waktu kecil aku pernah hampir mati ditusuk pisau, dan yang kedua saat tiba di Hutan Kabut harusnya hari itu aku sudah meninggal."


"Jadi kau yang sekarang ini hanya arwahnya saja?"


"Siluman? Oh, maksudmu Lang?" tanya Huang Kun. Xin Fai terdiam beberapa detik dan merasa tidak perlu mengatakan perihal kematian Lang pada Huang Kun. "Siluman itu–"


"Ketua Xin!"


Zhu Yue berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah mereka, dia setengah berlari menyusul kemudian duduk di dekat Xin Fai.


"Aku sudah melakukan tugasku, Ketua."


"Nah, bagus. Duduklah dulu," ujarnya membiarkan Zhu Yue duduk setelah berlari-larian dari ujung sana. Agak lama berlalu akhirnya Zhu Yue bisa menstabilkan napasnya, pria itu bertanya.


"Sepertinya kita tidak bisa mengikuti peta itu lagi, Ketua. Kemungkinan besar mereka sudah meninggalkan markas-markas awal dan pergi ke tempat lain," kata Zhu Yue.

__ADS_1


"Itu juga yang aku pikirkan, setelah ini kita akan bergerak sambil mencari informasi dari orang-orang lokal. Pergerakan mereka pasti masih bisa terkejar."


Huang Kun merasa pembicaraan ini hanya dikhususkan untuk mereka berdua saja, pemuda itu pamit mengatakan dirinya memiliki sedikit urusan. Xin Fai mengiyakannya dengan berat hati, sebenarnya dia tidak berniat membuat Huang Kun pergi tapi mau bagaimana lagi dia juga sudah duluan meninggalkan mereka berdua.


Beralih matanya memandang Zhu Yue. "Setelah ini kita akan melewati Desa Daan, sekaligus mengisi persediaan makanan dan lainnya."


"Desa Daan?" Zhu Yue mengembangkan senyumnya. "Itu desa tempat aku lahir!"


"He? Benarkah? Kenapa tidak pernah bilang?"


"Aish, mana ada waktu aku menceritakan hal remeh-temeh itu kepadamu Ketua." Pria itu sedikit menambahkan. "Di sana klan Zhu menetap, adikku satu-satunya tinggal di sana bersama nenek, tak kusangka bisa bertemu mereka secepat ini..."


Zhu Yue tampak lebih bersemangat dari sebelumnya, dia melipat kedua tangan untuk menopang kepalanya pada senderan bangku. Rindu akan keluarganya selama ini akan terobati setelah dua tahun mengabdi pada Kekaisaran, Zhu Yue tak sabar melihat adik perempuan satu-satunya di desa tersebut.


"Kau berasal dari sana?"


"Ah, begini ceritanya. Aku dulu seorang Pejuang dan berkat kegigihanku mempertahankan keamanan desa, orang-orang kota menyarankanku untuk mengabdi pada Kekaisaran dan menjanjikan keluargaku bisa hidup bahagia dengan memberikan uang belanja setiap bulannya." Zhu Yue terdiam agak lama, dia kembali berbicara.


"Aku akan melakukan apapun demi adik kecilku itu, aku sudah merawatnya sebaik mungkin dari kecil dan dia adalah anak yang penurut. Tidak kubiarkan satupun musuh menyentuh tubuhnya."


Kata-kata itu justru malah terasa menyakitkan di telinga Xin Fai, dia memejamkan mata mengingat kembali Xin Xia. Seharusnya saat itu dia memaksa adiknya untuk pergi bersamanya meninggalkan Manusia Darah Iblis.


Zhu Yue merasa diamnya Xin Fai terasa aneh, dia berekspresi canggung. "Ketua Xin, kenapa?" Pria itu memerhatikan lawan bicaranya tengah mengusap wajah.


"Kalau kau ingin menjaga adikmu, maka aku akan menjaga desamu itu."


"Terimakasih, Ketua Xin!" Zhu Yue berseru semangat. Dia tidak berhenti tersenyum dari tadi, tak sabar rasanya ingin bertemu adik perempuan tersayangnya itu.


"Kalau begitu tidak perlu mengulur waktu lagi, kita harus pamit pada yang lain dan pergi ke tempat tujuan. Kabarkan ini pada yang lain."

__ADS_1


"Siap, Ketua!"


*


__ADS_2