Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 84 - Dua Pria Bertopeng Kucing


__ADS_3

Perjalanan sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut tanpa mendapatkan halangan, Li Yong mengusahakan untuk mencari jalan aman dan menghindari tempat yang rawan oleh serangan pendekar aliran hitam.


Kali ini mereka berteduh di daerah berbukit dengan satu pohon rindang di tengahnya, pemandangan di tempat ini setidaknya menghibur Huang Kun yang masih terbayang-bayang akan pertarungan mereka terakhir kali dengan Manusia Darah Iblis.


Belakangan Huang Kun jadi tak selera makan, kondisinya pun terbilang memburuk. Pemuda itu bernapas lega kala melihat sebuah danau yang terletak di depan bukit itu.


"Indahnya... Suasana ini sama seperti di Kuil Teratai." Huang Kun menyamankan dirinya dengan berbaring di rumput, dia menatapi langit yang sangat cerah. Awan hanya seperti garis-garis tipis di atas sana.


Li Yong membakar ayam hutan yang sempat diburunya ketika di perjalanan. Shen Xuemei tidak seperti yang lain, dia seorang yang penyendiri. Saat istirahat seperti ini dia memilih menjaga jarak dan duduk jauh dari mereka bertiga.


Hal tersebut membuat Li Yong sedikit kasihan pada pemuda itu, dia mengerti Shen Xuemei memiliki watak terlalu jujur hingga setiap perkataan yang keluar dari mulutnya terdengar pedas serta wajah tanpa ekspresi tersebut membuatnya jarang memiliki teman–bahkan sama sekali tak memiliki teman.


Saat ayam bakar hampir masak Li Yong memanggil Shen Xuemei namun nampaknya pemuda itu tak mendengarnya, Li Yong mengembuskan napas berat seraya beralih menatap Xin Fai yang sibuk sendiri di tempatnya.


"Fai'er tolong kau panggilkan seniormu itu," perintah Li Yong. Kesehatan muridnya adalah yang nomor satu agar ketika sampai di tempat Turnamen Pendekar Muda mereka semua dalam keadaan prima.


Xin Fai segera bergerak dari tempatnya, dia mendekati Shen Xuemei.


"Senior," panggil Xin Fai sopan. Namun Shen Xuemei yang fokus bermeditasi tak mendengarnya.


"Senior? Hey," kali ini Xin Fai bahkan sampai menepuk pundak pemuda itu. Li Yong memerhatikan gerak-gerik Xin Fai dari kejauhan.


"Hei Senior, maaf mengganggumu."


Namun sekarang Shen Xuemei seperti mayat hidup, wajahnya bahkan seperti tidak dialiri oleh darah.


"Ya ampun! Dia tertidur!" Xin Fai menepuk jidat saat menyadarinya, dia menggelengkan kepala dengan wajah sedikit kesal. Karena keberisikan suara Xin Fai, Shen Xuemei akhirnya terbangun.


Dia lebih dulu menjauh dengan terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Membangunkanmu." Xin Fai membalas sekedarnya. Perlahan ekspresi Shen Xuemei berubah, dia sedikit malu ketika ketahuan tertidur di siang bolong seperti ini.


"Hhh... Jika Senior ingin tertidur sebaiknya jangan terlalu jauh dari kami," kata Xin Fai malas. Dia menarik tangan Shen Xuemei, membuat pemuda itu kebingungan berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Huang Kun yang sedang berbaring dibuat heran ketika Xin Fai membawa Shen Xuemei ke arahnya.


"Nah, Senior bisa ikut berbaring di sini jika ingin berisitirahat."


Shen Xuemei terlihat ingin memprotes, dia bukan orang yang mudah membaur apalagi dengan orang seceria Huang Kun.


Huang Kun sebaliknya, dia menyambut Shen Xuemei dengan riang gembira.


"Ah, akhirnya aku memiliki teman bercerita! Kemarilah. Kau bisa berbaring di sebelahku!" Huang Kun menepuk tempat di sampingnya dengan senyum terkembang sangat lebar.


Shen Xuemei beralih menatap Xin Fai, tatapan juniornya itu seakan mengatakan semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Shen Xuemei hanya mendengar celotehan panjang lebar Huang Kun dengan respon sekedarnya, meskipun wajahnya seakan tak peduli namun Shen Xuemei mendengar cerita Huang Kun dengan serius.


Sesekali Huang Kun tertawa meledak, melihat pemuda itu memperlakukannya bukan seperti orang asing membuat Shen Xuemei tidak canggung seperti sebelumnya.


Li Yong membagikan ayam hutan dan mereka makan bersama, di saat seperti itu Huang Kun menceritakan hal-hal lucu yang menimbulkan gelak tawa. Bahkan sekilas Shen Xuemei juga ikut tertawa bersama mereka, Xin Fai tersenyum kecil saat seniornya itu sudah bisa beradaptasi dengan suasana sekitarnya.


Sama seperti Huang Kun, Xin Fai yang jiwanya masih anak-anak seringkali mengerjai pemuda itu. Berkali-kali Huang Kun kaget ketika pantatnya menduduki arang panas yang disiapkan oleh Xin Fai.


"Kau-?! Dasar bocah usil!" kesal Huang Kun namun tawa meledak keluar dari mulutnya setelah itu, Shen Xuemei tertawa kecil lagi melihat tingkah mereka berdua.


Li Yong yang memerhatikan ketiga muridnya mulai akrab hanya bisa bernapas lega. Suasana berlangsung ceria sampai muncul dua orang pria dengan topeng kucing bergaris merah.


Penampilan mereka menunjukkan bahwa mereka adalah Pejuang, dua orang itu membuka topengnya agar Li Yong tak menaruh curiga pada mereka.


"Aih, apa kami boleh ikut berteduh di sini sebentar? Cuaca saat ini sangat panas." Ucap salah seorang pria berusia 21 tahun bersama temannya yang juga hampir seumuran dengannya.


"Boleh, tentu saja." Li Yong memasang senyum singkat.


Sejenak salah seorang dari pria yang masih terlihat muda itu mengernyitkan alis saat tatapannya bertemu dengan Xin Fai, dia mencoba mengenali Xin Fai namun tak dapat memastikannya.


Beberapa saat kemudian dua orang itu memperkenalkan diri, yang tadi menatapi Xin Fai bernama Dong Chyou dan temannya yang satu lagi adalah Ping Wenhua.

__ADS_1


Li Yong bercakap-cakap kecil sebentar dan menanyakan tujuan mereka. Dong Chyou mengatakan bahwa mereka baru saja menerima tugas dan harus keluar sebentar untuk menjadi perwakilan para Pejuang dari Kota Hemei.


Mendengar nama Kota Hemei Xin Fai sedikit menaikkan alisnya.


"Hemei?"


"Apa kau mengetahui desa kami?" Ping Wenhua bertanya antusias, dia merasa desanya begitu terkenal sekarang berkat kepala desanya yang secara gencar-gencaran memakmurkan kembali desa tersebut.


"Ah, tidak. Lupakan saja."


Ping Wenhua nampak kecewa di tempatnya, dia memilih tak membahas hal itu lagi namun berbeda dengan Dong Chyou yang saat ini terus menatap kalung yang tersemat di balik jubah Xin Fai.


Xin Fai yang menyadari tatapan pria itu mengeluarkan sebuah jimat yang diterimanya dari seorang nenek di desa yang pernah ditolongnya.


"Itu... Darimana kau mendapatkan jimat itu?"


"Seorang nenek memberikannya padaku."


Dong Chyou semakin yakin dengan dugaannya sejak awal, walaupun tak pernah bertemu sekalipun dengan Xin Fai namun pria itu bisa mengenalinya.


"Itu adalah jimat dari nenekku. Sebelumnya, apa boleh kutahu namamu adik kecil?"


Xin Fai masih belum mengerti alur pembicaraan sama dengan Li Yong dan teman-temannya yang kini hanya diam menyimak.


"Namaku Xin Fai, Senior."


"Benar kataku! Kau pasti orang itu, ya. Kau adalah orang yang menyelamatkan desaku dari bencana kelaparan. Akhirnya aku bertemu denganmu, Xin Fai sang Pahlawan Desa Hemei!"


***


**Hehe sebelumnya terimakasih udh vote, rate, komen dan like tiap chapter dari cerita ini. wah aku terhuraa:') bahkan pas cek tip, udah ada yang ksi 100 koin, terimakasih banyak❤️dukungan kalian secara langsung akan mempengaruhi mood menulisku, maka hari ini aku buatkan 6 chapter wkwk. Oiya, Alhamdulillah juga rate cerita yg semula 4.4 udah naik 4.7, hehe semoga akan terus naik ke 4.8 aamiin


akhir kata, makasih buat para readers yang masih setia mantengin cerita ini, byee❤️❤️**

__ADS_1


__ADS_2