Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 141 - Penyerangan Tak Diduga VII


__ADS_3

Di luar stadium terjadi pertarungan sengit antara pihak aliran putih-netral dan aliran hitam yang terus saja bertarung sebelum penyerangan di dalam lokasi pertandingan dimulai, para pendekar hebat aliran hitam bergerak liar seperti binatang buas yang haus darah.


Di tangan mereka telah jatuh korban yang cukup banyak dalam kurun waktu sangat singkat, sedang pimpinan Pejuang dari Lembah Kabut Putih baru saja datang bersama para pasukan di belakangnya yang terbilang banyak.


Pimpinan para Pejuang bertopeng kucing itu berteriak lantang dan dalam seketika pasukannya menyerbu Manusia Darah Iblis yang sibuk membantai pendekar kecil di luar stadium. Tumpah darah kembali terjadi di antara kedua kubu tanpa pandang bulu.


Pertarungan secara besar-besaran ini memang bukan sekali saja terjadi. Sebelum ini Manusia Darah Iblis juga telah melakukan penyerangan yang berakhir dengan kematian pendekar nomor dua di Kekaisaran Shang dan kini menjadi penyebab melemahnya pihak aliran putih di dunia persilatan.


Sedang demikian pimpinan Pejuang terus berteriak kencang yang kian membakar semangat para Pejuang lainnya, mereka terus menekan jumlah para Manusia Darah Iblis secara serentak. Di saat bersamaan pula beberapa Pejuang lain harus meregang nyawa saat musuh menyerang lebih ganas lagi.


Sejenak seorang gadis kecil dengan potongan rambut pendek datang bersama aura pembunuh yang tidak biasa.


Pimpinan Pejuang mengerutkan alis ketika melihat mulut gadis itu tertutupi oleh jaring laba-laba, di balik mata suramnya itu terlihat kecantikan paras yang bersinar di dalamnya.


Dalam sedetik bumi bergetar membuat pasukan Pejuang berhenti menyerang, mereka memasang kuda-kuda siaga sambil memutari pandangan ke seluruh arah.


Sebuah laba-laba berukuran besar keluar dari dalam tanah, mata silumam itu berwarna merah terang dengan tubuh dipenuhi ukiran kuno. Belum sempat berkedip, salah satu pejuang menjerit ketika wajahnya terkena semburan jaring laba-laba.


Jaring laba-laba milik siluman itu sangat mematikan, bahkan bisa membuat korbannya menjerit dengan kulit membiru dalam waktu yang sangat cepat. Ketika salah satu pejuang membuka jaring laba-laba tersebut dari tubuh temannya, terlihat wajah kering berkerut-kerut di wajah pria itu. Dia terlihat seperti mumi yang telah diawetkan selama ribuan tahun.


"Hati-hati dengan gadis itu! Dia sangat berbahaya!"


Kegaduhan tak sempat terhindarkan, siluman tersebut bergerak cepat sambil menembak jaring laba-laba, sedang majikannya berdiri tegak. Dia mengangkat kepala sebentar seperti mencari sesuatu, sejenak dirinya bersiul kecil memanggil silumannya dan mereka berlari ke dalam stadium.

__ADS_1


Pimpinan Pejuang tak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat bawahannya yang jatuh berguling-guling sambil menjerit saat terkena jaring-jaring beracun itu, dia mengepalkan tangan erat saat melihat gadis yang masih sangat belia itu memasuki stadium bersama silumannya.


**


Xin Fai menarik napas ketika ratusan musuh menerjang bagaikan ombak berisi manusia, dia mulai berpikir untuk mengeluarkan kekuatan roh namun mereka sama sekali tidak mau keluar begitu saja tanpa alasan yang kuat, sedangkan niat Xin Fai kali ini hanya untuk membalaskan dendam bukan melindungi seseorang.


"Sial! Kenapa roh-roh ini tidak mau keluar?" Xin Fai mengutuk keras dalam hati sementara kini puluhan pedang bergerak mengincar tubuhnya dengan kecepatan tinggi. Mau tak mau Xin Fai menggunakan pedangnya dengan kekuatan penuh, cahaya keemasan keluar dengan pisau angin yang bergerak cepat mengitari tubuhnya.


Sembari menguatkan pijakan Xin Fai melaju kencang membelah kerumunan musuh, di setiap jalan dia berhasil memotong bagian tubuh musuh sedang tubuhnya sendiri tak luput dari luka tebasan. Beberapa dari pendekar aliran hitam kehilangan sebelah tangannya bahkan yang lain pincang setelah mendapatkan serangan jarak rendah. Dengan cara melumpuhkan musuh seperti ini Xin Fai berhasil menekan jumlah musuh secara cepat.


Saat berbalik badan dirinya bersiap membunuh para pendekar yang telah lumpuh tanpa bisa melakukan perlawanan itu. Mereka mencoba menghindar namun serangan itu terjadi sangat cepat.


"Kitab Tujuh Kunci - Seratus Pedang Purnama!"


Li Yong tak pernah menyangka dirinya telah membawa seorang monster iblis sebenarnya ke Kuil Teratai, seandainya saja Xin Fai memilih menjadi pendekar aliran hitam dia tidak bisa membayangkan masa depan dunia persilatan ke depannya.


Namun musuh Li Yong terus saja meluncurkan serangan deras membuat dirinya harus kembali fokus bertarung. Pendeta itu hanya bisa berdoa semoga pertarungan ini segera berakhir, dirinya menatap ke arah Shen Xuemei yang sedang bertarung dua lawan satu di bangku penonton sedang Huang Kun dikepung belasan musuh di tempatnya.


Saat Li Yong hendak pergi menyelamatkan Huang Kun, Yin Baoyu yang menjadi lawannya tersenyum miring.


"Bukankah kau yang memulai pertarungan ini? Sangat tidak sopan jika kau pergi lebih dulu sebelum salah satu dari kita mati." Wanita itu berkata dingin, dia kembali maju. "Tidak akan kubiarkan kau lari!"


Sementara itu Huang Kun terus didesak mundur dengan tubuh berdarah-darah, telapak tangannya kini licin akibat aliran darahnya sendiri sedang kakinya mulai tak sanggup lagi berdiri. Dia hanya berdoa semoga keberuntungan memihaknya kali ini namun agaknya harapan itu begitu semu kala melihat salah satu pedang mengayun kuat hendak mengenainya.

__ADS_1


Huang Kun sendiri sudah tak memiliki harapan lagi, selain tusukan pedang di perutnya terdapat luka berat lain yang membuat nyawanya kini berada di ujung tanduk. Pemuda itu jatuh berlutut dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Saat sosok pendekar aliran hitam itu hampir saja merebut nyawanya, dia lebih dulu tewas akibat tusukan pedang dari belakang.


Huang Kun tak bisa melihat orang yang telah menyelamatkannya itu, namun sedikitnya dia sudah tahu itu siapa. "Te-terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku lagi..." Huang Kun jatuh terkapar tak berdaya. Dia hilang kesadaran setelah itu.


Di belakangnya para musuh berhenti mengejar saat melihat siapa yang datang.


Xin Fai menghunuskan pedangnya ke arah kepala pendekar aliran hitam itu. "Dosa-dosa kalian tidak akan bisa dimaafkan! Membunuh banyak orang hanya demi mendapatkan kekuatan!? Kalian kira itu hanya sekedar perebutan kedudukan saja!?"


"Apa urusanmu, bocah!?" Salah seorang pendekar menjawab lantang.


"Karena kalian... Karena kalian banyak orang yang kehilangan keluarga, tempat tinggal, bahkan nyawanya sendiri! Kalian harus membayar itu semua hari ini!"


"Bocah banyak omong! Cepat tangkap dia dan serahkan kepalanya pada pimpinan kita!"


Sebelum mereka bergerak Xin Fai lebih dulu mengutip sebuah pedang dan melemparkannya pada pasukan Darah Putih di atas sana. Salah satu di antara mereka terkena pedang tersebut hingga tubuhnya jatuh membentur tanah. Xin Fai memungut panah berbentuk aneh tersebut dan membidiknya ke arah mereka.


"Hei!? Bagaimana dia bisa memegang senjata kita!? Bukankah hanya anggota kelompok yang sudah membuat perjanjian dengan iblis bisa menggunakan senjata itu?" Salah seorang di antara mereka berkata heran, temannya yang lain menjawab.


"Apa kau bodoh!? Dialah Manusia Iblis sebenarnya! Maka dari itu pimpinan menggunakan penyerangan ini untuk menangkapnya!"


"Berisik! Kalau kalian terus bertengkar seperti itu biar aku saja yang menangkapnya! Minggir!"


Selagi mereka sibuk sendiri Xin Fai mencoba memulihkan luka Huang Kun. Ternyata beberapa anggota medis turnamen ini banyak yang turun tangan untuk mengobati pendekar aliran putih yang terluka. Xin Fai menarik napas lega saat keadaan Huang Kun terselamatkan ketika para medis mengangkutnya namun hal itu tak berlangsung lama ketika dia menyadari seorang gadis kecil datang bersama seekor siluman laba-laba.

__ADS_1


__ADS_2