
Xin Fai memutar pandangan ke sekelilingnya dan menyadari jumlah tikus sudah jauh lebih berkurang dari sebelumnya membuat dia lebih leluasa dalam bergerak.
Di satu sisi siluman raja tikus yang menjadi lawannya mengeluarkan aura merah yang begitu berbahaya, Xin Fai terpaksa mundur beberapa langkah mencoba memahami situasi agar tak berakibat fatal. Karena lawannya kali ini jauh lebih kuat dibandingkan siluman capung ataupun siluman kepiting yang pernah dihadapinya.
"Aura apa yang ada di sekitar tubuh siluman itu?" Xin Fai bertanya pada Kaibo, lelaki sepuh itu mengelus jenggotnya sambil berpikir. Matanya menatap tajam ke tubuh siluman di depan sana yang diselimuti aura merah penuh ancaman.
"Itu adalah aura siluman, jika serigalamu ini memiliki cahaya emas maka aura silumannya juga berwarna emas. Sedangkan tikus itu berwarna merah."
"Apa ada perbedaan di antara mereka? Maksudku, perbedaan kekuatannya?"
"Tidak ada perbedaan tertentu. Hanya saja kau perlu berhati-hati dengan aura itu, selain memperlambat gerakanmu itu juga bisa mempengaruhi pikiranmu," terang Kaibo memberikan arahan. Xin Fai menganggukkan kepala setelah merasa mengerti lalu mengangkat pedangnya.
Setelah memikirkan banyak hal akhirnya Xin Fai bergerak dari tempatnya, tapi kali ini ke arah Lang membuat Kaibo bingung dengan rencana anak itu.
Xin Fai mengorek-ngorek isi tas di punggung Lang, kemudian pergi begitu saja. Sebenarnya Lang sempat tersinggung isi tas itu diuber-uber oleh Xin Fai mengingat tas itu kini menjadi barang berharga bagi Lang.
Melompat setinggi mungkin, Xin Fai berhasil menyamakan jaraknya dengan kepala siluman tikus, dia mengangkat pedang tinggi-tinggi dan siluman itu menghantamnya dengan cakar.
Namun saat sedang berusaha menangkap Xin Fai siluman itu dibuat kaget oleh bubuk merica bercampur lada yang dilemparkan menyerang ke arah matanya.
Siluman itu berteriak menutupi mata dan hidungnya, di hadapannya Xin Fai tersenyum mengejek.
"Kau tahu, bukan sekali dua kali aku berhadapan dengan tikus. Di rumahku dulu kehadiran kalian sangat membuatku muak. Dan tentu saja dari itu semua aku tahu kelemahan tikus sepeti kalian."
__ADS_1
Karena indera penglihatan serta penciuman siluman itu tidak berfungsi sebaik tadi, mahkluk itu menjerit dan menghantamkan tubuhnya ke segala arah dengan beringas. Xin Fai menghindar sembari melompat tinggi ke atas tubuh siluman itu.
"Kitab Tujuh Kunci - Bulan Separuh Lingkaran!"
Cahaya emas berbentuk sabit menghantam kepala siluman tikus dengan sangat keras. Cahaya itu bertahan di udara selama beberapa detik membuat Kaibo terpana, dia bahkan hampir lupa menarik napas akibat rasa kagumnya itu.
Meskipun sudah menyerang beberapa kali dengan jurus yang sama Xin Fai tetap merasa caranya tidak efesien untuk membunuh siluman itu. Dia mundur lagi memasang rencana berikutnya.
Sambil menaburkan merica ke segala arah Xin Fai mendekati kumpulan roh yang masih bergentayangan. Dia menyerap sedikit energi roh yang keluar, dan sisanya energi alam. Pedang yang ada digenggamannya kini tidak sepenuhnya emas lagi. Banyak warna yang ikut bergabung dalam pedangnya.
Dengan Langkah Cahaya Xin Fai kembali mendarat di atas kepala siluman tikus dan menancapkan pedangnya di sana.
"Kitab Tujuh Kunci - Jurus Seribu Roh!"
Kepala siluman tikus terbelah, tubuhnya sama sekali tidak bergerak menandakan siluman itu telah terbunuh. Setelah merasa aman Xin Fai akhirnya bisa menarik napas, meskipun sudah menggunakan seluruh tenaga dalamnya dia tak merasa menyesal setelah berhasil membunuh lawannya.
Tubuh Xin Fai sempoyongan saat berusaha menjaga jarak, dia berbalik badan dan berjalan menggunakan sisa tenaganya.
Dengan napas terputus-putus Xin Fai mendekat ke arah Kaibo sebelum teriakan Lang menggema.
"Awas! Di belakangmu!"
Belum sempat menoleh ke belakangnya Xin Fai telah diterkam oleh raja siluman tikus, beruntung tubuhnya cukup kecil hingga bisa berguling menjauh dari jangkauan siluman tersebut.
__ADS_1
Tanpa diduga tubuh siluman tikus sudah kembali ke bentuk semula tanpa bekas luka sedikitpun. Xin Fai merapatkan gigi kesal sekaligus takut karena tak memiliki sisa tenaga dalam lagi.
"Siluman ini masih hidup setelah aku menghancurkan otaknya sekalipun?!"
Siluman tikus hendak mencakar Xin Fai yang lagi sebelum Lang yang daritadi diam ikut turun tangan. Kaibo tak melarangnya lagi karena merasa situasi sudah mulai gawat.
Pertarungan antara Lang dan siluman raja tikus berlangsung sengit, banyak pohon yang tumbang akibat serangan berkekuatan besar yang mereka lepaskan. Lang mengeluarkan cahaya emas di tubuhnya sedangkan siluman raja tikus semakin gencar memamerkan aura silumannya.
Meskipun nampak tidak terluka sedikitpun Kaibo mengetahui bahwa tikus tersebut sudah menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk memulihkan luka.
Setiap serangan yang dihasilkan Xin Fai menguras energinya dalam jumlah yang besar. Untuk siluman sepertinya berhadapan dengan seorang anak kecil dalam keadaan berimbang tentu saja membuat siluman tikus itu merasa kesal.
Siluman tikus melihat Xin Fai dengan sorot mata ingin membunuh, dia tidak menganggap Lang sebagai musuh terbesarnya. Justru dia terus-menerus mendekat ke arah anak kecil itu untuk melepaskan serangan, karena merasa Xin Fai adalah musuhnya yang sesungguhnya.
"Grrroaah!" Lang menerkam dengan kekuatan dahsyat, cahaya emas berterbangan membentuk pisau angin. Siluman tikus itu terkapar mengeluarkan darah dan tidak bisa lagi memulihkan lukanya.
Seakan tak memberi siluman tikus jeda, Lang kembali menerkamnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Lingkaran cahaya yang berada di sekitarnya berubah menjadi pisau angin kemudian bergerak dengan cepat menusuk tubuh siluman tikus tersebut.
Siluman tikus menjerit sejadi-jadinya, meronta hendak melepaskan diri. Namun satu tikaman lagi membuat nyawanya melayang. Lang yang baru saja mengalahkan musuhnya mengaum, ekornya melibas sana-sini.
"Lang jauh berbeda jika dia sedang tidur dengan bertarung... Sekarang aku sendiri jadi takut padanya." Batin Xin Fai bergidik ngeri karena dia sering mengejek serigala itu. Ia mendekat ke mayat siluman raja tikus untuk mencari permata siluman yang dibutuhkannya.
***
__ADS_1