Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 296 - Pulau Es Utara VI


__ADS_3

Naga Air memberontak dalam pusaran air yang terus mengukungnya di dari atas, terdengar bunyi suaranya dari bawah sana sangat kencang. Namun tak sedikitpun dia memiliki kesempatan untuk keluar dari sana dikarenakan es yang diciptakan Naga Es memiliki tingkat kekerasan yang sudah di luar nalar.


Sementara di luar sana Xin Fai berupaya keras sendirian, terdengar bunyi deritan pedang yang sangat nyaring memekakkan telinga. Pedang Manusia Iblis dan Kaisar Langit beradu kencang dengan kulit sang naga, bahkan kekuatan dua pedang pusaka langit saja belum tentu bisa menghentikan Naga Es dengan mudah.


Naga Air menjerit sambil mendobrak dinding es di atasnya, suhu di dalam air terasa semakin membekukan jantungnya. Dia menghantamkan kepalanya di sana beberapa kali mencoba berontak, tak begitu lama tiba-tiba saja penjara es tercipta dan menembus hingga ke dasar laut. Naga Air berputar melihat sebuah penjara es mengitarinya dan semakin lama semakin mengecil.


"Celaka!"


Di sisi lain Xin Fai menggunakan perpindahan ruang untuk menghindari serangan Naga Es, serangan hanya berbeda tipis saat hendak menghancurkan jantungnya, belum selesai sampai di situ balok-balok es yang mengitari Naga tersebut mulai mengepungnya di berbagai penjuru dan kemudian bergerak dalam kecepatan tak tertandingi.


Dentuman besar terjadi hingga membuat bumi bergetar, Naga Es menajamkan penglihatan ketika tak melihat pergerakan apapun setelah balok-balok es menghujam pemuda tersebut, dia curiga Xin Fai telah lebih dulu berpindah tempat melebihi kemampuannya yang ahli dalam menghentikan dan mempercepat waktu.


"Anak manusia itu... Jangan-jangan dia sudah mengetahui kelemahanku?"


Xin Fai terbang dengan melesat tajam, bergerak memutar akan menghantam kepala Naga Es dengan amat sangat keras. Naga Es yang sedang terlarut dalam kecemasannya sendiri tak sempat membaca situasi, dia berusaha menghindar namun sebuah jurus antah berantah menyerangnya dengan sangat ganas.


"Kitab Terlarang - Racun Dewa Api!"

__ADS_1


Sebuah api berwarna hitam menyembur mengenai sebagian tubuh Naga Es, membuat bunga-bunga es di sekitar tubuhnya meleleh dengan sangat cepat. Naga Es berteriak menggertak dan jelas saja membalas balik, dia tidak terima dengan racun tersebut dan memilih tak memulihkannya sebelum bisa menghancurkan Xin Fai terlebih dahulu.


Xin Fai tidak peduli dengan amukan Naga Es, dia masih tetap berusaha menyerang lawannya dengan berbagai cara. Jika bisa sampai Naga tersebut mati dan dia bisa mendapatkan batu permata yang terletak di antara kedua mata naga tersebut. Dia meyakini permata berwarna perak terang tersebut adalah milik Rubah Petir. Akan tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk mengambilnya kembali dari Naga Es kecuali dengan melawannya.


Untuk meminta baik-baik pun rasanya sekarang sudah tak berguna lagi, Naga Es sudah terlanjur mengamuk dan sangat sulit mengendalikannya.


Dunia bisa saja kiamat akibat kemarahannya ini, Xin Fai harus berhati-hati karena jika seandainya benar Naga Es memiliki kekuatan untuk mencairkan semua es di Kutub Utara ini kehancuran umat manusia tidak akan bisa terhindarkan lagi. Semua daratan akan diterjang ombak dari laut Utara, bumi ini akan mengalami banjir besar sepanjang masa.


Dalam pertarungan kali ini berbagai jurus telah dikeluarkannya habis-habisan akan tetapi tidak sedikitpun salah satunya fatal mengenai Naga Es. Jika menghadapi Ratu Iblis paling tidak salah satunya akan melukai Ratu Iblis dan mengurangi sedikit demi sedikit kekuatannya dalam pertarungan.


Akan tetapi kali ini Xin Fai dibuat tak mengerti lagi, Racun Dewa Api yang seharusnya berada dalam ilmu tertinggi dalam Kitab Terlarang pun takkan mampu melelehkan kulitnya itu.


Naga Es mendekat ke arahnya. "Kau akan kuurus belakangan, pertama-tama aku akan memberi pelajaran pada manusia itu. Lihatlah baik-baik dan jangan banyak tingkah!"


Suara hentakan berdentum-dentum terdengar membuat tempat Xin Fai berpijak kini mulai retak dan terpisah dari apungan es lainnya. Dia teralihkan pada Naga Air di dalam air sana, tak terbayangkan seberapa dingin suhu di dalam air. Udara di tempatnya berdiri saja sudah terasa mencekik.


Melihat Xin Fai kehilangan fokus Naga Es mengambil kesempatan tersebut untuk menyerangnya, sebuah senjata tipis berbentuk garpu logam tiga cabang terbang ke arahnya, mengejar leher pemuda itu hendak menikam.

__ADS_1


Naga Air berhasil membuat hancur penjara es di sekitarnya, dia meluncur ke atas membebaskan diri dan dapat melihat Xin Fai masih melihatnya dan berangsur menoleh ke arah senjata yang sebentar lagi akan menembus batang lehernya.


Dengan cepat Naga Air mengambil tindakan, dia mengeluarkan bunyi yang amat keras membuat angin berembus amat kencang menerbangkan apapun yang berada di sekitarnya. Arah serang senjata ciptaan Naga Es berbelok dan Xin Fai telah lebih dulu menggunakan perpindahan ruang.


Naga Air sedikit berpikir, dia seharusnya tahu untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pemuda itu sejak tadi. Xin Fai bisa bertahan tanpanya dan belum tentu bisa menang juga tanpa dirinya.


Merasa kesempatannya dihancurkan begitu saja oleh Naga Air di saat yang tidak tepat, Naga Es terus terang marah. Dia mengejar Naga Air dan menggulungnya. Membuat siluman itu terjebak kesekian kalinya dalam jeratan Naga Es.


Naga Air membuka rongga mulutnya berusaha menggigit lawan, bagian perut Naga Es menjadi incarannya lebih dulu. Tanpa berpikir masih di tangan musuh atau tidak dia segera menyerang.


Pertarungan dua siluman itu kembali menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya, untuk sementara Xin Fai berhenti bertarung. Tiga jam sudah dia bertarung dengan Naga Es dan sama sekali tak memiliki keunggulan. Naga Es terlalu kuat, entah yang ke berapa kalinya pemikiran itu muncul.


Dia menggelengkan kepalanya pelan. Tidak ada waktu untuk menyerah, urusannya harus dia selesaikan walaupun harus bertaruh nyawa.


Penyembuhan dengan menggunakan metode kekuatan iblis berlangsung sangat cepat, pemuda itu menarik energi alam di sekitarnya, menyalakan lambang Bunga Api di dahinya. Xin Fai melihat keadaan sekitar dan memastikan Naga Air masih bisa bertarung setidaknya sepuluh detik selagi dirinya mengumpulkan seluruh tenaganya.


Di detik kelima tanpa dia sadari sesuatu yang lebih buruk telah terjadi, Xin Fai membuka matanya perlahan setelah sepuluh detik dan mendapati Naga Air telah berubah menjadi es. Siluman itu mengeras dan tergeletak begitu saja di atas salju sedangkan Naga Es terbang ke arahnya dengan tatapan memburu.

__ADS_1


"Sial.... Naga Air, kau..."


Xin Fai tidak dapat merasakan adanya hawa naga dari tubuh Naga Air, bahkan saat melihatnya saja pemuda itu yakin organ dalam sang naga telah sepenuhnya berubah menjadi es. Dalam artian lain Naga Air telah mati.


__ADS_2