Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 88 - Xin Fai vs Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Keadaan Huang Kun membaik esok paginya setelah permata ular diletakkan semalaman di keningnya. Sebelum mengambil kembali permata itu, Xin Fai meminta ijin pada Li Yong. Dia mengatakan bahwa dirinya membutuhkan permata siluman untuk menyempurnakan tubuh Manusia Iblisnya.


Usai mendapatkan permata siluman, Xin Fai beristirahat sejenak sembari berpikir. Dalam waktu yang terbilang singkat dirinya telah berhasil mendapat 7 permata siluman, berarti saat ini Xin Fai hanya perlu mencari 26 permata lagi.


Huang Kun baru sadarkan diri ketika cahaya matahari mengenai wajahnya, pemuda itu nampak sehat, wajahnya nampak segar sekali.


"Apa yang terjadi? Seketika tubuhku terasa bugar begini..." Huang Kun meregangkan ototnya sambil menguap, Li Yong menjelaskan yang terjadi semalam dan membuat Huang Kun membuka tutup mulutnya.


"Demi aku kau mengalahkan dua siluman? Ya-yang benar saja! Dua siluman?!" Huang Kun lah yang responnya berlebihan, Shen Xuemei awalnya tak percaya dengan perkataan Li Yong namun di sisi lain Li Yong adalah pendeta yang terkenal paling jujur di sekte Kuil Teratai.


Belum selesai acara terkejutnya, Xin Fai langsung bersiap-siap pergi. Li Yong melakukan hal yang sama dan mereka segera melanjutkan perjalanan yang tertunda.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari berturut-turut mereka akhirnya sampai di kota selanjutnya.


Yang pertama kali Xin Fai cari adalah pakaian untuk mengganti jubahnya yang sudah tak layak pakai lagi, dia segera memasuki toko penjual baju dan membeli pakaian sesuai arahan Shen Xuemei. Menurut mereka saat ini, yang paling mengerti perihal penampilan adalah Shen Xuemei.


Pakaian berwarna merah menjadi pilihan Shen Xuemei, dia menyarankan baju tersebut karena cocok dengan karakter Xin Fai.


"Nah, ini cocok untukmu. Pakailah, aku yakin akan banyak gadis jatuh cinta padamu."


Huang Kun tertawa terbahak-bahak mendengar sosok seperti Shen Xuemei berpikir demikian. "Ahahahah sial, perutku seperti diterbangi banyak kupu-kupu."


"E... Perandaianmu membuatku kesal, Senior." Xin Fai berujar datar, dia menerima saran Shen Xuemei. Karena dirinya sendiri tak terlalu peduli dengan penampilan. Dan tak tahu harus memilih pakaian yang mana.


Perkataan Shen Xuemei tak terbukti benar, yang ada malah perhatian para gadis jatuh pada Shen Xuemei seorang ketika mereka melewati jalan kota.


Huang Kun tergelak. "Fai'er, tenang saja kau tak perlu cemas. Masih ada satu wanita yang melirikmu."


"Mana?"


"Itu," dagu Huang Kun menunjuk ke arah seorang nenek-nenek renta. Giginya bahkan sudah tak bersisa lagi. Xin Fai memasang wajah hambar, dia tidak terlalu berharap diperhatikan oleh gadis, tapi sedari tadi dirinya mencari perumahan yang terbuat dari kaca agar bisa melihat pantulan dirinya sendiri.


Huang Kun masih setia dengan gelak tawanya, rasanya meledek Xin Fai merupakan bagian hidupnya mulai hari ini.


Li Yong menggeleng-geleng melihat tingkah mereka berdua, benar-benar tidak waras. Huang Kun dan Xin Fai memang partner yang cocok dalam hal ejek mengejek.


Semula Xin Fai tak begitu peduli dengan penampilannya hingga salah seorang gadis menatapinya dari kejauhan, gadis itu memiliki kulit pucat serta pakaian hitam yang sangat kontras di kulitnya.


Tatapan keduanya saling beradu beberapa saat, Xin Fai merasakan keanehan setelahnya. Karena gadis itu secara terang-terangan menatapinya bahkan tak memiliki niat untuk berpaling.


Karena merasa canggung akhirnya Xin Fai duluan yang berpaling muka, dia tak mau berurusan lebih jauh dengan gadis tersebut.

__ADS_1


Li Yong baru saja memesan kamar dan sedikit mendengar pembicaraan di sekitarnya, sesaat pendeta itu mendekati para muridnya dengan sorot mata tajam.


"Aku baru saja mendengar berita dari orang-orang di sini, kabarnya sangatlah buruk." Li Yong mengusap wajahnya kasar, dia menelan ludah pahit.


"Ada apa, Senior?" tanya Huang Kun.


"Para perwakilan sekte yang membawa murid untuk mengikuti Turnamen Pendekar Muda saat ini menjadi incaran para pembunuh berantai."


Lantas Xin Fai, Shen Xuemei serta Huang Kun yang paling panik berdiri. Ancaman itu secara langsung menakuti mereka. Karena saat ini mereka menjadi sasaran pembunuhan.


"Maksudnya, pembunuh bayaran?"


"Benar. Aku sudah menduga, dengan kondisi Kekaisaran kita yang sekacau ini banyak anggota aliran hitam yang bergerak. Mereka ingin menghancurkan para calon Pilar Kekaisaran di masa depan."


Xin Fai memasang sikap setenang mungkin, dia tak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan. "Pembunuh bayaran, ya?"


Pembunuh bayaran adalah para pendekar bayangan yang bekerja untuk orang-orang tertentu, mereka melaksanakan tugas dan mendapat imbalan berjumlah besar setelah melakukannya. Orang seperti ini dominan menjurus ke aliran hitam, karena para pembunuh berantai yang rata-ratanya memiliki kekuatan setara pendekar menengah, besar sampai pendekar agung ini yang senang membunuh orang lain. Mereka adalah para manusia yang haus darah.


Kontan saja Xin Fai teringat dengan gadis yang menatapinya di jalan kota tadi, meski belum bisa memastikan sepenuhnya tapi dirinya yakin mereka sekarang sudah menjadi target para pembunuh bayaran tersebut.


Mereka mulai memasang kewaspadaan tingkat tinggi, mengingat saat di perjalanan tadi orang-orang juga membicarakan hal yang sama. Bahkan dikatakan sudah ada murid perwakilan turnamen yang telah kehilangan nyawa sebelum sampai ke Kota Renwu, tempat Turnamen Pendekar Muda dilaksanakan.


Sampai malam mulai larut pun Xin Fai tak berani memejamkan mata, telinga dipasangnya baik-baik untuk mendeteksi pergerakan musuh.


Seketika terjadi keributan di luar sana, Xin Fai lantas bangun dan keluar dari kamarnya untuk memerhatikan situasi. Di saat itu juga, ternyata Li Yong dan Shen Xuemei ikut menyusul karena sudah menduga hal ini akan terjadi.


Saat tiba di ruangan depan, mereka telah disambut oleh dua orang pendekar dengan kekuatan yang terbilang lemah.


Tentu saja hal itu membuat alis Xin Fai berkerut dalam, dia merasa ada yang tak beres. Seharusnya para pembunuh bayaran seperti mereka memiliki taktik cerdik dan sudah mengetahui pasti bahwa di antara mereka ada pendekar agung, yaitu Li Yong.


Dua pembunuh bayaran maju tanpa menunggu lagi, mereka setara dengan pendekar menengah tahap 2 dan tak memiliki keistimewaan lainnya.


Beberapa detik setelahnya Xin Fai menyadari sesuatu yang salah. Dia hanya bisa mengumpat kesal.


"Sial!"


Xin Fai pergi secepat kilat, Li Yong dan Shen Xuemei mencoba menerka-nerka apa yang terjadi sedangkan dua pembunuh bayaran di depan mereka nampak kesal. Mereka menyerang Li Yong dan Shen Xuemei serempak.


"Di depan penginapan mereka hanya mendatangkan pendekar menengah. Dan jika benar dugaanku..."


Brakkk!

__ADS_1


Pintu kamar Huang Kun didobrak dengan sangat keras, bahkan mengejutkan seorang pria dengan kekuatan setara dengan pendekar besar yang baru saja memasuki tahap 1 di sana. Dia sedang bersiap-siap menusuk Huang Kun yang sedang tertidur.


"Senior Huang! Di atasmu!"


Huang Kun terbangun masih mengumpulkan nyawanya, dia terperanjat saat melihat seorang pembunuh kini menghunus pedang padanya.


Segera saja Xin Fai berlari dengan Langkah Kilat, dia menarik pedang dan menahan laju serangan pembunuh bayaran itu.


Dua pedang bertemu tepat di depan mata Huang Kun, pemuda itu menggulingkan badannya ke samping untuk menjaga jarak.


Pembunuh bayaran merutuk kesal, seharusnya rencana mereka berjalan dengan lancar namun semuanya berubah ketika Xin Fai datang menggagalkannya.


"Pengecut! Menyerang saat orang tertidur!" Huang Kun menutup tubuhnya dengan wajah marah, Xin Fai menatapnya aneh. Seniornya satu itu memang aneh, setelah mendengar kabar bahwa mereka diburu para pembunuh pun dia masih bisa tidur nyenyak di kamarnya.


Xin Fai mundur beberapa langkah ketika pembunuh bayaran menarik pedangnya.


"Cih, bertarung dengan amatir sepertimu yang jarang memegang pedang takkan membuatku takut! Aku sudah membunuh puluhan nyawa di tanganku!" Pembunuh tersebut menyombongkan dirinya menggertak Xin Fai namun respon yang dia dapat sebaliknya.


"Hahaha... Puluhan, sepertinya aku yang harus mengatakan kalau kau yang amatiran." Senyum di wajah Xin Fai berubah seperti senyum iblis.


"Di tanganku saja hampir ratusan orang yang mati, kau tahu? Sekarang ini sudah tujuh siluman juga mati di tanganku."


Seketika hawa merosot tajam, pembunuh bayaran menelan ludah berusaha tak termakan omongan musuhnya. Namun hawa pembunuh dari tubuh Xin Fai sama sekali tidak membohonginya.


"Omong kosong! Kau hanya bocah ingusan yang tak tahu apa-apa tentang dunia! Jangan bicara seakan kau pernah membunuh orang, bocah!"


Kekehan dari mulut Xin Fai bahkan membuat Huang Kun bergidik ngeri.


"Dalam satu detik aku bisa membuatmu berteriak, mau mencobanya?"


"Bole---"


Serangan tak terduga datang, pembunuh bayaran mengayunkan pedang ke atas namun Xin Fai lebih dulu merunduk ke bawah.


Xin Fai membabatkan pedangnya ke kaki pembunuh bayaran sambil mengalirkan tenaga dalam sebanyak mungkin membuat pedang di tangannya sangatlah tajam bahkan bisa memotong tulang manusia sekalipun.


"Kitab Tujuh Kunci - Jurus Seribu Roh."


Seketika pergelangan kaki pembunuh bayaran terpotong, pria itu tak bisa berpijak lagi dan tubuhnya mulai terjatuh.


"Aarrghh!"

__ADS_1


"Sudah kubilang, dalam satu detik saja aku bisa membuatmu berteriak! Hahah!" Xin Fai tertawa puas seraya bertolak pinggang, suasana berangsur hening sampai Xin Fai bisa mendengar Huang Kun menelan ludah di belakangnya.


***


__ADS_2