
"Aku bukan orang sini, kami berasal dari Kekaisaran Qing. Ibuku adalah salah seorang selir raja, namun dengan status sosial Ibu yang merupakan anak pedagang biasa membuat pandangan orang buruk terhadap kami."
Lan An melanjutkan, "karena hasutan orang lain Ayah akhirnya mengusir kami dari kerajaan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku berjanji akan membuat laki-laki itu menyesal sudah membuang kami."
Kedua tangan Lan An mengepal dengan rahangnya yang mengeras, tampak kilatan emosi dalam sorot matanya. Xin Fai menepuk pundak teman barunya itu.
"Aku tidak akan membencimu karena hal itu," ia menyunggingkan senyum selebar mungkin.
Mereka akhirnya masuk ke sebuah rumah sederhana, terlihat seorang wanita yang sangat cantik keluar dari rumah tersebut.
"An'er... Akhirnya kau mendapatkan teman, ah siapa namamu kalau boleh tahu?" Wanita tersebut tersenyum manis. Xin Fai sendiri bisa melihat wanita ini lebih cantik daripada wanita siluman capung dari kota Huo.
"Ibu, jangan membuatku malu." Lan An mendengus kasar, ia pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan Ibunya, yaitu memasak.
"Namaku Xin Fai."
"Nama yang bagus. Duduklah, aku akan menyiapkan makanan untukmu."
Tak lama sebuah kepiting rebus dengan kepulan asap di atasnya datang, Xin Fai bisa mencium aroma makanan itu sangat menggoda.
"Makanlah, jangan sungkan."
Lan An juga ikut makan bersama Xin Fai, mereka seperti sedang bertanding makan. Banyak canda tawa yang semakin mempererat pertemanan mereka sampai akhirnya Lan An menjelaskan tentang mustika di tangannya.
Lan An menjelaskan pada Ibunya bahwa Xin Fai telah membantunya mendapatkan kembali Mustika 7 Musim yang merupakan satu-satunya harta berharga yang mereka miliki. Ibu Lan An berterimakasih pada Xin Fai.
"Mustika 7 Musim?"
"Mustika 7 Musim adalah satu satu mustika yang diincar di Kekaisaran Qing. Kau tahu, harganya sangat mahal jika dijual."
Walaupun tidak mengerti mustika itu untuk apa namun Xin Fai bisa merasakan kekuatan tidak biasa yang keluar dari benda tersebut.
Selepas mengisi perut sesuai janjinya Lan An mengajak Xin Fai ke sebuah hutan yang agak tandus. Di bawah teriknya matahari, keduanya saling berdiri berhadapan.
"Pertama-tama kau harus membulatkan tekad dulu."
__ADS_1
Xin Fai mengernyit heran. "Bukankah memasang kuda-kuda, atau setidaknya tenaga dalam?"
Lan An tertawa sembari bertolak pinggang. "Kau tahu? Hal itulah yang membuat pendekar besar sekalipun berlutut di bawah kakiku!"
Pernyataan Lan An tentu bukan sebuah kebohongan, Xin Fai baru menyadari hal itu ketika Lan An menjelaskan.
"Dengan tekad yang kuat sekalipun, mau kau seorang yang buta, tuli, tidak memiliki pakaian mewah, tidak memiliki apa-apa sekalipun! Kau akan menjadi orang terkuat!"
Semangat membara Lan An mengingatkannya pada sosok yang selama ini dia rindukan, Ayahnya.
Lan An melemparkannya sebuah kayu, lalu memainkan teknik pedang yang begitu unik. Kasar namun bertenaga.
Xin Fai tidak bisa menghindari gebukan dari Lan An, ia mundur semakin ke belakang tanpa bisa melakukan perlawanan berarti. Di hadapan Lan An dia sama sekali tak bisa berkutik.
"Darimana kau belajar semua ini?"
"Aku kadang mengintip latih tanding di sebuah perguruan sekitar sini dan mempelajarinya sebisaku."
Kejujuran Lan An membuat Xin Fai lagi-lagi terpana, hanya dengan melihat dia bisa berlatih sendiri. "Dan ini..."
Lan An mengeluarkan sebuah kitab di tangannya. "Kitab Tujuh Kunci."
"Hahaha..." Tawa khas Lan An terdengar nyaring, meski suaranya seperti suara bebek jantan namun Xin Fai tetap ikut tertawa mendengarnya.
"Kau boleh memilikinya jika berhasil mengalahkanku."
"Me-mengalahkanmu?!" Tawa Xin Fai berhenti berganti dengan ekspresi terkejut.
"Ya. Tapi kali ini kuminta agar kau mengeluarkan semua kemampuanmu. Jangan anggap aku sebagai temanmu. Anggap saja aku seperti dosa. Ya, dosa. Seperti halnya orang-orang yang telah melakukan kejahatan di luaran sana."
Lan An melanjutkan setelah mengambil napas. "Dosa harus dihapuskan di dunia ini. Maka kau tidak perlu ragu dalam membunuh mereka, hal itu akan mempersulit perkembanganmu."
Setiap kata dari mulut Lan An seperti menyihir Xin Fai, sedikit rasa kagum ia rasakan dari seorang anak kecil sederhana sepertinya.
"Baiklah, aku tidak akan menahan diri."
__ADS_1
Xin Fai mengeluarkan sedikit tenaga dalamnya.
"Jangan pakai tenaga dalam!"
"Apa?!"
Lan An memijit batang hidungnya lemah, ia berusaha menjelaskan. Tentu saja dengan perlahan agar Xin Fai mengerti maksudnya
"Begini, di dunia ini tidak selamanya kau harus bergantung pada tenaga dalam. Suatu saat ketika tenaga dalammu habis dan kau dalam posisi antar hidup dan mati, siapa yang akan membantumu?"
Wajah Xin Fai agak berubah mendengarnya. "Diriku sendiri?"
"Tepat! Bocah pintar! Ayo latihan lagi."
Xin Fai agak tersanjung mendengar pujian tersebut, biasanya hanya kata bodoh yang dia dapatkan dan itu berasal dari mulut serigala.
"Konsentrasimu sudah cukup baik, namun kau membuat banyak celah di sekitarmu."
"Jangan menyerang lawan jika tekadmu sendiri masih goyah begitu, bukankah sudah kukatakan sebelumnya?"
"Arahkan pedangmu di satu titik, kau harus bisa menyatu dengan pedangmu. Begitulah para pendekar mengatakannya!"
Arahan dari Lan An membuat Xin Fai memperbaiki seluruh tekniknya yang ternyata berantakan, meskipun napasnya tersenggal namun Xin Fai tetap tak mau melewatkan setiap ilmu yang diberikan Lan An.
Lan An memberi banyak petunjuk, setelah berhasil di awal ia memutuskan untuk memulai latihan serius.
Kali ini Xin Fai masih mundur beberapa langkah ketika kayu mereka saling beradu, meski begitu setidaknya dia bisa sedikit bertahanan hingga beberapa menit sehingga tidak mundur dengan mudah seperti tadi.
Lan An menjelaskan kelemahan Xin Fai di beberapa tempat, seperti serangannya yang terlalu lebar atau cara memegang kayu yang sangat menghambat pergerakan.
Langit sore menghiasi hari itu, mereka berbaring di atas tanah dengan memandangi langit yang berwarna oranye. "Sudah lama aku tidak latihan begini..."
Xin Fai tersenyum pahit, jika tanpa latihan saja kekuatan Lan An sudah sebesar itu apalagi jika melatih dirinya dengan maksimal.
"Tetap saja aku tidak bisa menang darimu."
__ADS_1
"Hahaha," Lan An masih dengan cengiran khasnya. "Kau bisa merebutnya dariku besok. Jika kau mau datanglah ke sini sebelum matahari terbit. Kita akan memancing sesuatu yang ganas!" Lan An begitu berapi-api menjelaskan. Xin Fai tersenyum lemah masih kelelahan.
Dia mulai mengerti mengapa selama ini Lan An tidak memiliki teman, karena wajah anak itu yang begitu kasar. Dia terlihat buas namun berhati baik. Satu hal lagi yang bisa Xin Fai sadari, dia tidak bisa menentukan karakter seseorang hanya dengan melihat dari penampilannya.