Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 240 - Aula Leluhur


__ADS_3

Aula leluhur telah dipadati oleh pendekar aliran hitam, para murid masih berusaha mempertahankan tempat tersebut meski tubuh telah berdarah-darah.


Lembah Kabut Putih kembali jatuh dalam kehancuran, tak hanya sekte mereka kacau balau, setelah ini meskipun berhasil menang mereka telah kehilangan para murid. Para tetua pun tak luput dari serangan para Manusia Darah Iblis, salah satu dari tetua jatuh tersungkur dengan mulut dipenuhi darah. Dia mencabuti anak panah yang menusuk pahanya dan menyadari ada racun di mata panah tersebut.


"Manusia Darah Iblis memang terkenal dengan cara kotornya saat bertarung..." Tetua itu menggeram sebelum ajal menjemputnya, saat tubuhnya hendak jatuh ambruk Yang Guifei menahannya. Xin Fai berdiri di sebelah wanita itu sembari menarik pedang.


Benar saja dugaannya, para pendekar berseragam merah-hitam ini adalah para anggota Kultus Iblis, pantas saja Lembah Kabut Putih kehilangan banyak murid. Dibandingkan dengan kekuatan Kultus Iblis yang didominasi oleh pendekar besar, murid sekte seakan tiada daya menghadapi mereka sedangkan para tetua tidak bisa berbuat banyak. Jumlah mereka bahkan tidak bisa mengimbangi sepuluh persen dari musuh yang datang.


Di balik itu semua berdiri seorang pria dalam jubah megah, saat berjalan jubah kebesarannya bahkan menyapu lantai. Pedang di tangannya bersiap menghabisi sosok lelaki di hadapannya yaitu adiknya sendiri.


Xin Fai berlari cepat, jaraknya masih begitu jauh dengan Qin Yijun. Dia memusatkan perhatian ke tingkat tinggi sembari berlari kencang.


Saat pedang Putra Mahkota pertama berhasil menggores tubuh Qin Minjie, sebuah pedang pusaka muncul di balik tubuh adiknya itu dan menabrak senjatanya hingga terpental jauh.


Qin Yijun menjerit saat telapak tangannya tergores oleh pedang pusaka tersebut, darah mencuat dari tangannya lalu kotor membasahi baju kebanggaannya. Meskipun masih bisa dibilang muda namun dalam hal bertarung Qin Yijun terbilang payah, melihat darahnya sendiri membuat lelaki itu panik bukan main.


"Tolong! Selamatkan aku! Hei, bodoh, apa yang kau lakukan cepat sembuhkan tanganku! Dasar tidak berguna!" umpatnya pada pimpinan Kultus Iblis, terlihat dari baju besi dan penampilannya pria itu muak disuruh-suruh.


Dia lebih memilih mencari siapa yang menyerang Qin Yijun, saat menyadari sosok pemuda tengah berlari ke arah Putra Mahkota pertama pria itu segera berlari kencang.


Namun kecepatan kaki Xin Fai sama sekali tidak bisa dia imbangi, baru kali ini dia melihat kecepatan berlari segila itu dan bahkan dalam beberapa saat dia teringat akan sosok pendekar aliran hitam yang terkenal akan kebejatannya, Setan Gila.


Dalam secepat kilat Qin Yijun telah tertangkap, di lehernya melintang sebuah pedang yang siap merobek dagingnya jika melawan. Pria itu mulai gemetaran, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya tanpa henti.


Sedangkan Qin Minjie telah berhasil diselamatkan oleh beberapa pendekar dari Lembah Kabut Putih. Pertarungan di aula leluhur dihentikan saat itu juga, nyawa Qin Yijun berada dalam ancaman. Tentu saja pihak yang dirugikan adalah pihak musuh.


"Letakkan pedang kalian di lantai jika tidak ingin nyawanya habis!"


Tidak ada yang mau menuruti perintahnya, para pendekar aliran hitam menunggu aba-aba dari pimpinan Kultus Iblis lebih dulu.

__ADS_1


"Kuperingatkan sekali lagi! Letakkan senjata kalian di lantai dan mundur dari Lembah Kabut Putih!"


"Cih, mengancam dengan cara seperti itu? Kau tidak jauh berbeda dari kami." Akhirnya pria itu mengeluarkan suaranya. Dia memasukkan pedang ke sarungnya enggan mendengar perintah Xin Fai.


Pria itu menjentikkan jarinya, seketika dari sebuah ruangan tertutup terlihat Kaisar Qin tengah ditahan bersama tujuh orang pendekar agung, kekuatan mereka bisa dibilang hebat. Hanya dalam satu detik saja nyawa Qin Gaozu akan melayang, jika itu benar-benar terjadi Kekaisaran Shang akan berada dalam situasi sulit.


"Bagaimana? Kau kira hanya dirimu yang bisa berkuasa di sini?" ucap pria itu. Dia berjalan mondar-mandir di depan aula, setelahnya senyum licik terbit di kedua sudut bibirnya.


"Atau tidak begini saja, kau bunuh saja si manusia bodoh itu dan kami membunuh Kaisar Qin ini. Bukankah itu impas?"


"Kau-!? Kau mengkhianatiku?!" Qin Yijun berteriak kencang, dia berusaha melepaskan diri dari Xin Fai.


"Aku tidak perlu bekerja sama dengan orang sepertimu, hanya mengotori tanganku saja. Cih."


Qin Yijun melebarkan matanya tak percaya, setelah mengkhianati seluruh keluarganya dan menjadi musuh Kekaisaran hari ini dia dikhianati sekutunya sendiri. "Tidak mungkin... Aku sudah mengorbankan semuanya demi ini..."


Saat sedang memperhitungkan rencananya tanpa diduga salah seorang pendekar aliran putih menerobos masuk, dia bertindak gegabah dan mengacaukan keadaan. "Kaisar Qin, aku akan menyelamatkanmu!"


Kaisar Qin tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa melihat tubuh pria itu terpental beberapa meter setelah cambuk musuh menghantam tubuhnya. Xin Fai memasang ancang-ancang mulai khawatir, situasi menjadi lebih buruk. Para musuh mengangkat pedangnya hendak memulai pertarungan kembali.


"Senior Yang, bawa dia ke penjara bawah tanah dan suruh beberapa orang menjaganya. Usahakan jangan sampai ketahuan–"


"Arrrgh!"


Xin Fai menoleh tajam ke arah Kaisar Qin, dia tertegun beberapa saat melihat pedang telah menembus perutnya.


"Celaka!"


Tidak memiliki waktu banyak rantai api neraka keluar dari tubuhnya mengincar pimpinan Kultus Iblis, pria itu lebih gesit menghindar dan membawa Kaisar Qin bersamanya. Darah pria itu semakin deras saat pimpinan Kultus Iblis dengan sengaja menekan perutnya, dia tidak memiliki daya untuk menyerang.

__ADS_1


Sedangkan Xin Fai tidak bisa sembarangan menggunakan rantai api neraka, salah sasaran saja justru tubuh Kaisar Qin yang akan menjadi sasaran mautnya.


"Kuakui kekuatanmu itu cukup unik, kutebak kau orang yang memburu kelompok kami akhir-akhir ini, bukan?" ucapnya.


"Setelah mendengar seberapa hebat kekuatanmu, ternyata hanya ini kemampuanmu?" Pria itu menjatuhkan tubuh Kaisar Qin di pojok ruangan, dia mengacungkan pedang berani.


"Apa-apaan ikat kepala itu? Nomor satu? Jangan bercanda. Aku akan merebutnya sekalian dengan nyawamu juga!"


Xin Fai menarik pedangnya dan menyerang secara brutal ke segala arah, tidak main-main kekuatan yang dilepaskannya bahkan dia sendiri mulai tidak peduli jika hal ini hanya akan mempercepat waktu kebangkitan iblis dalam dirinya. Saat ini yang menjadi prioritas utama adalah memastikan nyawa Qin Gaozu aman.


Qin Gaozu memuntahkan darah segar di balik punggung pimpinan Kultus Iblis, dahi pria itu semakin berkeringat menahan sakit luar biasa di bagian organ vitalnya.


Sementara Xin Fai masih memikirkan cara untuk menyelamatkan Qin Gaozu secara cepat, dia menyerang dari arah samping mencoba melewati lawan. Pimpinan Kultus Iblis telah mengetahui niatnya sejak awal, dia tertawa terbahak-bahak. "Kau begitu mengkhawatirkan nyawa orang tidak berguna itu, kalau kau membunuhnya dan bergabung dengan kami kupastikan Kekaisaran ini akan menjadi milik kita semua."


"Itu satu-satunya penawaran paling membosankan yang pernah kudengar seumur hidup."


Pimpinan Kultus Iblis seperti ingin menghujatnya. "Kau-!?"


"Perbaiki caramu bermain pedang dulu sebelum berpikir untuk menguasai Kekaisaran ini," nasehat Xin Fai. Pria itu mendecak.


"Untuk apa aku memperbaiki cara memegang pedang–" belum menghabiskan kata-katanya Xin Fai lebih dulu memotong.


"Karena kalau kusuruh perbaiki kelakuan, seumur hidup pun kelakuanmu tidak akan berubah." Dia menggeser posisi pedangnya setelah mendapatkan celah. Xin Fai mengubah tekniknya dalam jurus perpindahan ruang, dia menggunakan tubuhnya sebagai objek untuk dipindahkan sedangkan pedangnya masih berada di titik semula. Berkebalikan dari yang selama ini dilakukannya.


Pimpinan Kultus Iblis tercengang saat melihat Xin Fai telah berdiri sepuluh meter di belakangnya, hanya pedang pemuda itu yang tertancap di lantai dan kini telah menghilang dalam sekejap mata.


"Saat bertarung jangan alihkan pandanganmu ke tempat lain, atau..."


"Atau apa?" Lelaki itu hendak menoleh ke arah depan dan seketika itu pula pedang pusaka memotong wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2