
Mereka segera mengikuti langkah pria itu hingga tiba di sebuah rumah dengan banyaknya patung-patung manusia dipajang menghadap sisi jalan, tanah liat yang mengering mengisi tempat tersebut sediemikian rupa hingga tampaklah sebuah rumah sederhana yang penuh sesak.
Xin Fai agaknya menyadari apa yang diinginkan pria lusuh ini namun masih penasaran siapa yang menyuruhnya melakukan ini semua.
"Pendekar Yong Tao mengatakan calon Pilar Kekaisaran pertama masih hidup dan menyuruhku membuat patung Pilar untukmu."
Lelaki tersebut menunjukan sebuah patung yang belum dipahat wajahnya tapi setidaknya tubuh patung itu bukan anak kecil lagi serta menggunakan jubah besar yang begitu indah, pria itu berucap. "Biarkan aku melihat wajahmu sebentar."
Xin Fai membiarkan wajahnya dipegang sedemikian rupa oleh pria tua itu, tidak membutuhkan waktu lama sebelum dia berhenti dan berbalik badan mengambil alat-alat memahatnya.
"Kau boleh pergi sekarang."
"Terimakasih."
Xin Fai pergi meninggalkan tempat tersebut merasa tidak ada yang perlu diomongkan lagi karena lelaki itu sudah sibuk dengan pekerjaannya memahat patung, sejujurnya dia bisa mengetahui saat pria itu memegang wajahnya dia sedang mengukur sejauh mana kemampuannya. Pendekar yang beralih profesi menjadi pemahat patung itu setidaknya memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Zhu Yue yang masih berpijak di tempatnya berniat pergi sebelum dia mendengar pria itu terkekeh.
"Benar-benar anak yang menarik, si nomor satu itu memang tidak sedang berbohong padaku."
***
Berhari-hari perjalanan menuju markas yang didirikan Manusia Darah Iblis di desa terbengkalai berjalan, nyatanya terdapat banyak hambatan kala mereka melewati area yang telah dikuasai musuh. Pertarungan berdarah terus-menerus terjadi, bahkan beberapa kali mereka menemukan desa yang kini menjadi lautan mayat berulat.
Pendekar yang berada dalam rombongan tentu saja jijik akan hal ini, mereka memilih melanjutkan perjalanan sambil sesekali melirik singkat ke belakang tempat di mana desa penuh mayat itu berada.
__ADS_1
Agaknya sudah genap sepuluh hari perjalanan diteruskan dengan mengandalkan peta yang Xin Fai dapatkan, sebenarnya mereka bisa melakukan perjalanan tanpa menggunakan kuda namun bagaimanapun juga di antara mereka masih ada pendekar yang kecepatan berlarinya masih di tingkat cahaya.
"Ketua, kita sudah sampai di tempat tujuan!" Zhu Yue berseru keras, dia mendekati kuda Xin Fai.
Xin Fai turun dari kudanya perlahan sembari melemparkan pandangan ke markas Manusia Darah Iblis yang telah ditinggalkan, dia meremas jarinya penuh kesal. Seandainya dia hanya bergerak sendiri bukan tidak mungkin manusia-manusia yang sebelumnya tinggal di tempat ini sudah menjadi bangkai tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
Berita tentang pembantaian di Kota Sanmin menjadi teror sendiri bagi pendekar aliran hitam terutama Manusia Darah Iblis. Tampaknya mereka mulai waspada menanggapi hal ini dan terus berpindah-pindah tempat dari tempatnya singgah.
"Sial... Mereka sudah melarikan diri," sesal pemuda itu menolehkan pandangannya ke Aliansi Pedang Suci. "Kita lanjutkan perjalanan secepat mungkin, dari keadaannya tempat ini baru ditinggalkan satu hari."
Kuda dipacu cepat menghancurkan tiang-tiang dan juga sisa tenda di sana, pasukan bergerak dengan kecepatan tinggi menyusul musuh namun sayangnya hujan yang membanjiri desa ini semalam telah menghapuskan jejak kaki mereka.
Ketika matahari mulai tenggelam menyisakan semburat merah di ujung barat, mereka tiba di sebuah desa yang berseberangan langsung dengan laut. Di desa itu sunyi senyap begitu terasa tanpa seorangpun yang berniat keluar dari rumah.
Aliansi Pedang Suci bergerak di alun-alun menimbulkan suara yang cukup besar dari derap kaki kuda, beberapa anak gadis mengintip di balik tirai dengan waspada sedang yang lelaki bersiap-siap dengan senjata.
Zhu Yue mengetuk pintu salah satu rumah warga dan keluarlah seorang wanita yang tubuhnya kurus tak berisi, di bawah kakinya seorang anak kecil bergelantungan sambil menangis-nangis.
"Maafkan kami Tuan... Kami tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pada kalian," wanita itu menangis. Dia mengeluarkan bakul nasinya yang kosong. "Tolong jangan bunuh kami, Tuan. Aku bisa memberimu–"
"Cukup," potong Xin Fai turun dari kudanya. Dia memerhatikan sekeliling dan mendapati para warga mengintip dari balik celah rumahnya. "Kami bukan pendekar aliran hitam, kami di sini untuk mengejar mereka."
"Tuan, baik hitam maupun putih di era yang penuh dengan kekacauan ini semua itu tidak berarti..."
"Maksudmu?"
__ADS_1
Wanita itu mengelus kepala anaknya sayang, nampak sekali dirinya sedang dilanda rasa lapar yang amat sangat namun dia berusaha menyembunyikannya. "Peperangan ini membuat lahan bertani dan juga produksi makanan berkurang, banyak bahan makanan yang sudah tidak dijual lagi di berbagai tempat dan mereka yang tidak bisa mendapatkan itu memilih mencurinya dari warga-warga..."
Zhu Yue menggumam tidak percaya, dia masih berpikir wanita ini mungkin tidak bisa membedakan antara pendekar aliran putih maupun hitam.
"Apa kau tahu dari mana mereka berasal? Kalau boleh aku tahu bagaimana ciri-ciri mereka?"
Bibir wanita itu bergetar sedikit takut saat ingin berkata, dia khawatir kelompok yang dimaksudnya ini tiba-tiba menampakkan diri dan membunuhnya dalam sekejap mata. Namun ketika dia melihat mata Xin Fai entah mengapa perasaannya menjadi lebih aman.
"Mereka berasal dari aliran netral, salah satu dari mereka menggunakan kapak penghancur dengan lambang ular."
"Itu bukannya sekte Gurun Hantu? Baru-baru ini pergerakan mereka menjadi sangat mencurigakan, siapa tahu mereka berkomplot dengan musuh," perkataan Zhu Yue ditanggapi Xin Fai dengan serius. Ini berarti kekacauan besar-besaran telah terjadi di sejumlah desa namun belum sampai ke kota aman seperti Kota Renwu. Keadaan gawat ini tentu saja sudah disadari Yong Tao lebih dulu namun pria itu tidak pernah mengatakannya.
"Wakil Zhu, tolong keluarkan setengah persediaan makanan kita."
Zhu Yue mengernyitkan dahinya hingga dirinya mengerti maksud perkataan itu. "Tapi Ketua–"
"Kita bisa membelinya di tempat lain nanti."
"Seperti kata wanita ini, Ketua. Di tempat lain juga kesusahan mendapatkan beras walaupun kita punya banyak emas belum tentu mereka mau menjualnya sedang untuk makan sendiri mereka kesusahan, bukan tidak mungkin kita kekurangan persediaan makanan saat di perjalanan nanti."
"Di manapun tempatnya kita bisa membeli makanan, sedangkan nyawa mereka tidak bisa dibeli."
Wanita di hadapan Xin Fai mulai berkaca-kaca mendengar penuturan tersebut, entah sudah berapa lama dia tidak menemukan sosok pendekar sepertinya.
Tidak begitu lama setelahnya setengah persediaan diangkut di depan rumah wanita itu, beberapa warga keluar dari rumahnya menyambut makanan tersebut dan berbondong-bondong menerimanya.
__ADS_1
Di balik kebahagiaan para penduduk itu hanya Zhu Yue dan anggota Aliansi Pedang Suci yang tampaknya kesusahan, sebenarnya Xin Fai masih memiliki banyak persediaan belut listrik di dalam cincin ruangnya dan satu belut itu sendiri bisa menahan lapar setidaknya satu hari. Namun dia tidak ingin mengatakannya langsung kecuali situasinya benar-benar terdesak.
Para rakyat kecil di desa kelaparan itu menatap kepergian Aliansi Pedang Suci sedikit tidak rela, seandainya mereka mau tinggal bersama mereka rasanya ketakutan akan ancaman untuk meninggalkan rumah tidak diperlukan lagi. Seorang wanita berjalan di tengah-tengah jalan sedikit terseret, dia menatapi rombongan tersebut hingga menghilang dari pandangannya.