Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 269 - Hidup Sendiri


__ADS_3

"Hari itu kau langsung pergi tanpa mempedulikan bagaimana Ren Yuan harus menjelaskan pada orangtuanya siapa yang telah menyelamatkan dia."


Xin Fai menggaruk-garuk belakang kepalanya canggung. "Hari itu aku teringat harus mengurus hal lain, jadi tidak sempat bertemu dengan orang tuanya.." dia menjelaskan agak pelan, antara tidak tahu harus menjawab apa dan merasa topik ini terlalu membingungkan.


Ho Shing sedikit tersenyum, dia berdehem sebentar. "Kau sepertinya tidak tahu menahu tentang ini."


"Ma-maksudnya?"


"Kepala Keluarga Ren, Ren Ning secara terang-terangan mengatakan ingin bertemu pribadi denganmu saat rapat perang besar di kediaman Kaisar Qin. Sepertinya aku bisa melihat maksud lain dalam pembicaraan hari itu."


Ho Shing terdengar seperti merahasiakan sesuatu, membuat lawan bicaranya kembali penasaran. Ho Shing memang pandai membuat lawan bicaranya bertanya-tanya ketika berbicara dengannya.


"Kenapa dengan pembicaraannya? Apa ada yang salah denganku? Aku membuat masalah dengannya?"


"Haih... Kau memang masih terlalu polos dalam hal percintaan, anak muda." Ho Shing mengeluh lelah, dia menarik napas dalam tapi tak kunjung menjelaskan lebih rinci lagi setelahnya.


"Aku lebih tidak percaya orang sepertimu mau memusingkan urusan percintaan."


Ho Shing menatap balik ke arah Xin Fai yang menyengir lebar, dia tertawa renyah. Menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian sembari menepuk tangannya di pundak Xin Fai. "Sepertinya saat tiba di Lembah Kabut Putih kau harus sedikit menjaga sikap, apalagi saat Ren Ning menyambutmu. Barangkali bisa menjadi orangtuamu ke depannya."


Xin Fai terbatuk-batuk hebat, dia masih tidak bisa berhenti sampai Ho Shing membantu menepuk punggungnya sambil tertawa-tawa puas sekali. Melihat pimpinan Aliansi Pedang Suci yang telah terkenal buas sekaligus menakutkan dalam membantai musuh-musuh di baris depan pertempuran kini sangat terkejut hanya karena hal sepele saja merupakan kesenangan tersendiri untuk Ho Shing.


Lelaki itu melanjutkan sedikit tanpa mengurangi senyuman lebar di bibirnya. "Tapi aku juga tidak berkeberatan muridku itu bersamamu, mengingat barusan saja kau bahkan melihatnya lama sekali dan juga sebenarnya muridku Ren Yuan itu sangat-sangat mengagumimu.. kurasa kalian berdua sangat cocok."


"Paman, hentikan. Aku benar-benar tidak mau berurusan dengan wanita. Kau lihat saja bagaimana dia menatapku tadi, tatapan matanya saja sudah membuatku merinding. Lagipula untuk apa dia mengagumiku, kami bahkan baru bertemu beberapa kali."


Ho Shing bangkit dari duduknya saat melihat salah satu pendekar sekte Gunung Angin Timur datang memberi laporan. Sepertinya dia harus mengurus sesuatu lebih dahulu. Sementara Xin Fai duduk di tempatnya, menengadah melihat Ho Shing bersiap-siap pergi.


Kemudian Ho Shing berjalan meninggalkannya, tepat sebelum menaiki kuda dia memutar balik tubuhnya ke arah Xin Fai sembari berkata. "Nak, kau boleh mengerti ilmu silat setinggi mungkin. Satu hal yang paling sulit pahami adalah hati wanita."


Usai itu hanya bunyi tapak kuda yang semakin menjauh terdengar, membuat Xin Fai tenggelam dalam lamunannya sendiri. Terlihat dia sedikit gusar mengingat Ren Ning, satu demi satu pertanyaan berkelebat di kepalanya saat mendatangi Lembah Kabut Putih nanti.


Namun pada akhirnya dia berhenti memikirkan hal itu karena hanya akan mengacaukan pikirannya saja. Xin Fai harus memikirkan cara untuk kembali ke tempat Rubah Petir, bertahun-tahun turun tangan di medan tempur dan mencari dua Mustika 7 Musim akhirnya Xin Fai dapat mengumpulkan dua sisanya. Satu mustika berhasil dibelinya di pelelangan di Kekaisaran Qing dengan harga cukup tinggi dan satunya lagi direbutnya secara paksa dari kelompok aliran hitam di Kekaisaran yang sama.


Mendapatkan ketujuh mustika itu sampai ke ujung Kekaisaran orang dengan bertaruh nyawa membuatnya tak sabar, mewujudkan impiannya untuk membangkitkan Lang kembali. Sosok siluman yang telah menolongnya sejak awal, tanpa Lang mungkin dirinya tak mungkin bisa hidup hingga saat ini. Serigala itu membantunya terlalu banyak meskipun kata-katanya terlewat pedas sekaligus menusuk.

__ADS_1


Di sisi lain dalam beberapa tahun terakhir Xin Fai berhasil meningkatkan kekuatannya di tahap pendekar tanpa batas, mengingat kekuatan istimewanya dan juga latihan di alam bawah sadar masih bisa dilakukan sampai saat ini tanpa kehadiran Qiang Jun sekalipun. Dengan begitu ketujuh gerbang dari Kitab Tujuh Kunci telah dikuasainya sepenuhnya, persiapan ini dia lakukan untuk pertarungan besar selanjutnya yang akan menentukan segalanya


Xin Fai memerhatikan api unggun samar, memejamkan matanya sedikit karena merasa lelah tapi tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki mendekat. Dia membuka mata saat suara gadis terdengar di telinganya.


"Aku boleh duduk di sini?"


"Hm? Memang ada yang melarangnya?"


Ren Yuan segera duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, menatap ke arah laut yang tampak tenang agak lama. Keduanya terdiam, Ren Yuan tampaknya enggan memulai obrolan dan Xin Fai pun tak tahu berbicara apa dengannya.


Dirinya terbiasa berbicara dengan para lelaki sebab bertahun-tahun ini berbaur dengan anggota Aliansi Pedang Suci bahkan ada yang umurnya telah memasuki kepala lima.


"Senior Ho mengatakan sesuatu padaku tadi," ucapnya memulai obrolan dan tak menyangka respon Ren Yuan kini terkejut bercampur panik. Dia mendekatkan wajahnya sedikit melotot. "Dia bilang apa kepadamu?"


Pemuda itu agak memundurkan dirinya. "Tentang penculikan Setan Gila itu, maaf hari itu aku asal pergi karena harus kembali ke penginapan untuk memberi penyegel pada Ho Xiuhan agar tidak mengamuk."


"Ya... Ya... Aku tahu kau orang yang sibuk dan rasanya susah sekali hidup menetap di satu tempat." Ren Yuan mengatakannya jutek.


"Dan selamanya akan seperti itu." Xin Fai menjawab asal, dia tidak tahu harus membalas apa dan sepertinya ucapannya kembali membuat Ren Yuan ingin mengamuk.


"He? Kenapa tiba-tiba membahas itu?" sahutnya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Menurutmu sendiri?"


Xin Fai membuang pandangannya ke arah lain, alih-alih memerhatikan bulan sabit yang ditutupi tebalnya awan pekat di atas sana.


"Hidup sendiri juga bukan pilihan buruk."


Tidak terdengar sahutan lagi setelah itu, Xin Fai melirik Ren Yuan yang terdiam beribu bahasa. Dia merasa pembicaraan ini mulai buntu, di sisi lain tidak enak hati meninggalkan Ren Yuan begitu saja takut gadis itu salah paham.


Pemuda itu melipat kedua tangannya di belakang kepala, menyenderkan tubuhnya pada meja. "Aku membunuh terlalu banyak manusia, bukan tidak mungkin ke depannya akan banyak orang ingin membalaskan dendam padaku. Begitupun yang aku lakukan saat ini. Suatu hari nanti, aku tidak mau anak istriku malah menjadi sasaran atas dosaku ini."


Ren Yuan mendengarnya dalam keheningan. Hanya membalas sedikit setelahnya. "Begitu... Mungkin ada gadis yang mau menerima kondisimu itu. Mungkin."


"Siapa?" Xin Fai meliriknya kemudian membuat wajah Ren Yuan padam seketika, dia mengibaskan kedua tangannya secara cepat seraya menggelengkan kepala. "Pasti ada...! Dan yang pasti bukan aku!"

__ADS_1


"Entahlah..." Pemuda itu menarik napas lalu membuangnya berat.


Tak berapa lama setelah berhasil mengendalikan pikirannya yang sempat kacau tadi Ren Yuan berkata, sedikit berbisik. "Guruku tadi mengatakan apa saja padamu?"


"Yang tadi kubilang itu."


"Hanya itu? Kulihat kalian berbincang hampir agak lama tadi."


Xin Fai teringat kata-kata Ho Shing tadi, tentang bagaimana perasaan Ren Yuan terhadapnya. Dia segera angkat bicara.


"Kau mengagumiku?"


Lantas wajah Ren Yuan memerah padam, menyesal berat sudah menanyakannya hanya karena penasaran. Dia seperti ingin menjerit tapi menahannya dalam hati, membuat detik demi detik menjadi sangat canggung. Ren Yuan kehabisan akal ingin menjawab apa.


"Menyebalkan!!"


Sekarang Xin Fai yang kehabisan kata-kata melihat wajah Ren Yuan mengelam hendak mengamuk. Dia sepenuhnya mengerti perkataan Ayahnya dulu, bahwa lelaki terlahir memang untuk disalahkan di mata perempuan.


***


**Haloha ada tips dari kakpit di siniπŸ˜‚πŸ˜‚ barangkali berguna yekan


~Cara memahami wanita itu sebenarnya tidak sulit. Simak ya.


"Iya" berarti "Tidak"


"Tidak" berarti "Iya"


Tetapi "iya" bukan berarti "tidak"


Dan "tidak" juga bukan berarti "iya"


"Iya" itu kadang "tidak"


Dan "tidak" itu kadang berarti "iya"

__ADS_1


Gimana, gimana? Gampang kan?πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚**


__ADS_2