Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 124 - Khasiat Permata Siluman Ular


__ADS_3

"Sekte Tiga Naga Kembar?! Bukankah itu sekte menengah yang membelot di Kekaisaran kita belakangan ini?"


"Pantas saja mereka bertindak kriminal! Ini sama sekali tidak bisa dimaafkan!"


"Kali ini nama sekte Tiga Naga Kembar telah tercoreng, aku tak tahu bagaimana nasib mereka setelah ini.."


Pemuda berkulit gelap yang mendengar obrolan mereka tersenyum miring. Dilihat dari sinar matanya yang begitu tajam, pemuda ini memiliki intelektual yang tinggi. Dia memandang puas ke arah Shen Xuemei dan ke kerumunan penonton bergantian.


Tatapan tersebut menjadi perhatian sebagian orang termasuk Xin Fai, dia mengeratkan kepalan tangan menghampiri pemuda itu.


"Apa yang kau lakukan pada Senior Shen?!"


"Aku tak melakukan apa-apa, hanya sedikit bermain-main."


"Apa?! Berani sekali kau menyebutnya bermain-main! Nyawa Senior Shen sekarang menjadi taruhannya!" Xin Fai mencengkram kerah baju pemuda itu sangat emosi, wajahnya memerah murka.


Sedang Yang Guifei melerai keduanya agar tak meneruskan pertengkaran dan fokus untuk mengobati Shen Xuemei. Masalah ini akan diselesaikan belakangan saja.


Pemuda itu menepis tangan Xin Fai, dia membuka mata berwarna cokelat terangnya perlahan. "Mengkhawatirkan orang lain, seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."


Pemuda itu pergi dituntun para penjaga keamanan untuk segera diamankan. Xin Fai terdiam di tempatnya, dia menoleh ke belakang sambil mencerna perkataan pemuda itu.

__ADS_1


Tiga jam sejak Turnamen ditunda, keadaan Shen Xuemei semakin memburuk, dia membuka matanya paksa namun kesadarannya hilang dalam sekejap mata.


Li Yong menggoyangkan bahu muridnya itu namun dia tak sadarkan diri, Xin Fai yang berdiri di sampingnya hanya bisa berpikir dan terus berpikir namun pikirannya sama sekali buntu.


Tabib dan medis terhebat telah dipanggilkan sejak 3 jam yang lalu namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membuat keadaan Shen Xuemei membaik, sebaliknya waktu terus berjalan semakin cepat hendak mengambil nyawa pemuda itu.


Xin Fai berjongkok di samping Shen Xuemei, kepalanya mulai kesakitan akibat terus berpikir ditambah lagi para penonton mulai tak sabar dan memaksa pertandingan segera dilanjutkan. Mereka tak paham, bahwa nyawa salah satu peserta turnamen kini sedang dalam bahaya.


Jika dipikir lagi satu-satunya penawar yang bisa menyembuhkan Shen Xuemei hanya bisa dibuat oleh pembuat racun ini sendiri. Selain itu, Xin Fai kurang yakin ada jalan lain. Dia mengingat kembali semua hal yang pernah dilaluinya dan yakin salah satu pasti akan berguna.


Samar-samar dirinya teringat dengan perkataan sang kelelawar Fu Shi di goa dulu. Permata siluman ular dikatakan bisa menetralisir segala jenis racun dan juga penyakit. Xin Fai terdiam beberapa saat hingga membuat Yong Tao merasa dirinya telah mendapatkan pencerahan terhadap permasalahan mereka saat ini.


"He... Kurasa, tapi tak ada salahnya mencoba."


Xin Fai meletakkan sebelah tangan di belakang lehernya dan perlahan keluar sebuah permata hijau dari sana.


Semua orang tercengang dibuatnya, kejadian tak masuk akal ini membuat Li Yong membuka mulutnya. "Fai'er! Jangan melakukannya sembarangan di tempat seperti ini!"


"Senior, kita tidak punya pilihan lain. Senior Shen akan kehilangan nyawanya sebentar lagi."


Xin Fai meletakkan permata ular tersebut di kening Shen Xuemei, dia mencoba untuk membantu menyerap energi permata tersebut pada seniornya menggunakan tenaga dalamnya sendiri.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti permata tersebut berubah menjadi serbuk hijau yang agak pudar karena semua khasiatnya telah masuk ke dalam tubuh Shen Xuemei, Xin Fai akhirnya bisa bernapas lega saat menyadari pemuda itu mengerjapkan mata.


Meskipun telah kehilangan seluruh tenaga dalamnya, Shen Xuemei masih bisa terbangun. Dia mendapati dirinya telah dikerumuni banyak orang termasuk tim medis, tabib, Yong Tao, Li Yong serta Xin Fai.


Shen Xuemei memegang tubuhnya dan memastikan dirinya baik-baik saja, dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Namun Li Yong berbicara pelan.


"Syukurlah, kau selamat..." Li Yong tersenyum lemah, keringat dingin di dahinya masih saja bercucuran. Sedangkan Yang Guifei menatap Xin Fai agak waspada. Dia merasa permata siluman yang Xin Fai dapatkan dari tubuhnya itu bukan suatu pemandangan yang wajar apalagi permata tersebut juga bukan milik siluman biasa.


Permata yang bisa memiliki khasiat seperti ini biasanya hanya dimiliki oleh siluman yang telah hidup lebih dari seribu tahun, tetapi karena keadaan tak memungkinkan maka Yang Guifei memutuskan untuk tak mempermasalahkannya dan segera berunding dengan Yong Tao, beberapa orang penting juga tetua sekte mereka untuk melanjutkan pertandingan.


***


Insiden sebelumnya masih saja berbekas di kepala penonton, mereka tampak tak mengikuti pertandingan Lan An dan juga lawannya. Pertandingan ini berlangsung sekitar 7 menit dan lawannya langsung dinyatakan kalah karena tak bisa berkutik lagi.


Dengan ini putaran kedua telah berhasil dilaksanakan dan menyisakan 8 pendekar muda tersisa yakni Ren Yuan, Shen Xuemei, Xin Fai, Yu Yuwen, Xiu Juan, Han Dachu dan juga Lan An. Kedelapan peserta ini akan memasuki babak final yang menjadi penentu kemenangan mereka semua dalam bertarung memperebutkan kursi Pilar Kekaisaran satu, dua dan tiga.


Meskipun terjadi sedikit hambatan saat putaran kedua tadi, Qin Gaozu tetap saja antusias untuk menanti calon penegak Pilar Kekaisaran selanjutnya. Dia menatap Xin Fai yang kini berjalan menjauh, di sebelahnya Lian Sheng hanya bisa tersenyum tipis mendapati Kaisar Shang ini begitu tertarik pada anak angkatnya.


"Hahaha... Tidak perlu memandanginya seperti itu, Yang Mulia. Kalau kau ingin menjadikannya anak angkatmu, aku tidak keberatan." Lian Sheng mulai berkelakar, dirinya memang tidak pernah bersikap kaku pada Kaisar Qin meskipun demikian dia sama sekali tak mengurangi rasa hormatnya pada Qin Gaozu.


"Ah, tidak begitu Saudara Lian. Aku hanya merasa anak itu sangat istimewa. Kau lihat saja, dia mengeluarkan sebuah permata dari tubuhnya dan langsung menyembuhkan rekannya tanpa bantuan siapapun. Sedangkan para tabib dan medis sama sekali tak berkutik pada racun tersebut setelah 3 jam susah payah mencari penawarnya."

__ADS_1


__ADS_2