
'Hee... Kenapa aura di sini jadi sangat mencekam...' Xin Fai menggaruk-garuk kepala canggung ketika tatapan para pendekar terlihat mengutuk, Nona Xiu sang Dewi Rembulan adalah dambaan para pendekar pria karena paras gadis ini sama yang seperti julukannya. Mereka tentu saja tak tega melihat Xiu Juan menangis seperti ini.
Merasa tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Xiu Juan, Xin Fai hanya bisa berkata pelan.
"Aku tidak mau kau menghabiskan umurmu hanya untuk hal ini..."
"Selama ini hidupku hanya berisi penyesalan, setidaknya aku ingin menepati janjiku agar tidak ada penyesalan lagi ke depannya."
"Jika ingin menepatinya kau harus bertarung tanpa menggunakan jurus terlarang yang membahayakan dirimu sendiri. Ibumu tentu tidak akan bahagia jika tahu kau melakukan ini.."
Xiu Juan menunduk pelan, giginya bergemerutuk kecil dengan bahu bergetar. Dia terdiam seolah berpikir keras.
"Sebenarnya selain janji itu kau memiliki sesuatu lainnya yang harus dilakukan."
Mendengarnya Xiu Juan menengadah, dia menunggu Xin Fai berbicara.
"Aku berniat membalas kematian seluruh keluargaku dengan menghancurkan kelompok aliran hitam itu. Sama sepertimu, aku hanya tidak ingin ada penyesalan lagi yang datang ke depannya, kau pasti mengerti maksudku bukan?" ujar Xin Fai sembari tersenyum kecil.
Mendengar hal tersebut Xiu Juan hanya bisa merenung, kelopak matanya yang basah membuat dia tidak bisa melihat jelas. Sesaat gadis itu bangkit hingga akhirnya dia mundur dan sepenuhnya meninggalkan arena pertandingan.
"Aku menyerah."
Xin Fai tak tahu apa yang dilakukannya ini benar atau salah karena menang dengan cara seperti ini, meskipun tidak puas sama sekali dia juga tak ingin petarung tangguh seperti Xiu Juan harus mati muda karena perbuatannya hari ini. Di lain sisi dia pun tidak ingin mengalah, karena selain janji pada Ayahnya dulu Xin Fai juga sudah berjanji pada Zhishu Yan sebelum meninggalkan desa Peiyu.
"Terimakasih Nona Xiu."
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena telah mengkhawatirkanku."
Senyum kecil terpampang di wajah Xiu Juan, Xin Fai sampai tersedak napasnya sendiri. Dia berusaha mengalihkan pikirannya.
"Mungkin tanpa kau sadari kehadiranmu akan dibutuhkan banyak orang di masa depan. Jangan buang-buang hidupmu seperti ini lagi."
__ADS_1
Xiu Juan mengangguk pelan, dua rantai dari punggungnya kembali dan menghilang dari pandangan. Melihat Xiu Juan telah keluar dari batas arena, Yang Guifei mengumumkan Xin Fai sebagai pemenangnya.
Di kursi lain seorang gadis mengamuk seperti hendak memakan dua temannya. Dia Ren Yuan si gadis bangsawan yang sombong, kali dirinya dia murka melihat dua orang yang tengah berada di arena pertandingan.
"Cih, rakyat jelata! Berani sekali dia menggoda Nona Xiu!"
Zhuan Ang mengernyit namun tak tega mengabaikan Nona kesayangannya itu. "Eh... Kurasa dia tidak sedang menggoda siapapun. Kau lihat saja tingkahnya seperti orang bodoh."
"Berhenti mengejeknya!"
"Heee? Kenapa kau jadi membelanya?"
"Hmph! Tutup mulutmu sebelum aku mencabik wajah menyebalkanmu itu!"
Zhuan Ang sampai serba salah menanggapi sikap Ren Yuan ini, dia memilih diam namun gadis itu tetap saja mengumpat tak jelas.
Zhuan Ang kian lesu, dia merasa sedikit kecewa melihat tingkah Ren Yuan. Mungkin gadis itu belum menyadari perasaannya sendiri akan tetapi Zhuan Ang tidak punya pilihan lain selain terus berada di sampingnya.
Nyatanya masuk ke babak puncak Turnamen Pendekar Muda tidak sedikitpun membuat Lan An bahagia, dia menggigit kuku jari sambil menghela napas beberapa kali.
"Aduh... Melawan adik kecil sendiri, ini benar-benar tidak keren."
Lan An berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras, di luar sana banyak yang ingin berada di posisinya namun Lan An tetap saja tidak merasa bahagia. Saat pintu ruangan terbuka terlihat Xin Fai baru saja memasuki ruangan tersebut untuk memulihkan diri.
"Kakak An, kenapa wajahmu kusut begitu?"
"Bertanya lagi, kau pasti tahu 'kan setelah ini kita akan bertarung?"
"Jadi apa ada yang salah dari itu?"
Lan An tiba-tiba saja mengembuskan napas panjang, matanya memejam lesu. "Kau benar-benar tidak berpikir. Bagaimana jadinya jika kakak-beradik paling akur sedunia seperti kita harus bertarung?"
__ADS_1
Xin Fai hampir saja menertawakan Lan An namun memilih memalingkan wajahnya, dia menjawab setelah itu.
"Ini hanya pertandingan dan tidak akan membuat kita berjauhan seperti yang kau pikirkan."
Meskipun perkataan Xin Fai benar namun Lan An tak bisa berpikiran demikian, melawan adik kecil sendiri dia tidak sanggup karena baginya Xin Fai adalah saudara yang harus dia lindungi.
Seperti biasa terjadi jeda selama tiga puluh menit untuk membiarkan peserta beristirahat, penonton menikmati persembahan tarian dan pertunjukan Lembah Kabut Putih dengan antusias.
Saat menonton pertunjukan Li Yong merasa tak sabar ingin segera kembali ke Kuil Teratai untuk menyampaikan berita baik ini pada Tao Wei. Setidaknya setelah ini baik kalah ataupun menang Xin Fai telah berhasil menjadi salah satu dari tiga Pilar Kekaisaran. Ini akan menjadi berita paling baik yang pernah mereka dengar setelah beberapa tahun terakhir.
Dalam Pilar Kekaisaran sendiri setiap periodenya posisi satu sampai tiga akan diisi oleh pemenang Turnamen Pendekar Muda, setelah ini Yong Tao yang duduk di kursi nomor satu harus bergeser dan membiarkan generasi muda mengambil kursi tersebut. Peringkat selanjutnya bisa dia dapatkan dengan mengukur tindakan dan keikutsertaannya dalam mempertahankan Kekaisaran Shang dari serangan kelompok aliran hitam.
Tao Wei sendiri yang usianya sudah senja masih tetap dipertahankan di Pilar Kekaisaran sebagai peringkat kesepuluh sebab dia adalah orang yang amat berjasa ketika pertempuran habis-habisan yang telah merebut nyawa orang nomor dua di Kekaisaran Shang, dia sendiri mendapatkan luka serius akibat pertempuran tersebut dan memilih beristirahat di Kuil Teratai tanpa banyak turun tangan lagi dalam pertarungan.
Hiburan di atas arena berjalan begitu saja hingga akhirnya waktu tiga puluh menit terasa sebentar. Para penari turun dari arena dan berganti dengan naiknya seorang Pilar Kekaisaran nomor 8 yakni Yang Guifei.
"Akhirnya kita tiba di puncak Turnamen Pendekar Muda yang sangat nantikan! Dua peserta ini akan saling bertarung untuk memperebutkan gelar nomor satu selanjutnya di Kekaisaran Shang!"
Tepuk tangan membahana di seluruh penjuru, mereka lebih bersemangat dari sebelumnya. Yang Guifei melipat kedua tangan ke belakang seperti biasa, dia melanjutkan kembali.
"Dua jagoan selanjutnya adalan Xin Fai dan Lan An, sekarang, sambutlah mereka dengan tepuk tangan yang meriah!"
Bersamaan dengan Yang Guifei mempersilahkan dua orang yang dimaksudnya, Lan An dan Xin Fai menaiki panggung dengan senyuman lebar.
Kehadiran keduanya menjadi ketertarikan tersendiri bagi penonton, baik Lan An maupun Xin Fai memiliki kesan tersendiri karena mereka akan menjadi tokoh besar selanjutnya di Kekaisaran.
"Bocah penakluk Siluman Penguasa Air akan melawan Lan An si Naga Putih dari Pasukan Seribu Kaki! Pertarungan ini akan menjadi sangat mendebarkan" sorak seorang pendekar sepuh begitu semangat, orang-orang di sampingnya terlihat khawatir saat mendengar bunyi tulang pendekar tua itu terdengar nyaring.
"Hei, tenanglah pak tua... Tulang-tulangmu hampir copot semua itu."
"Berisik!"
__ADS_1