
Malam harinya Xin Fai tidur telentang di atas ranjang sembari mengingat-ingat perkataan pemuda yang meracuni Shen Xuemei tadi, meskipun berusaha menutupinya tetapi sejak awal dirinya sudah sangat khawatir.
Berkurangnya jumlah penonton secara drastis hari ini merupakan sebuah sinyal merah, pihak Lembah Kabut Putih bukannya tak tahu perihal ini mereka sendiri mulai bersiaga menghadapi segala kemungkinan dengan mengirimkan sebanyak-banyaknya pasukan untuk menjaga daerah sekitar Turnamen Pendekar Muda dilaksanakan.
Saat mencoba berpikir lebih lama lagi sebuah cahaya emas keluar dan memperlihatkan Lang setelahnya, Xin Fai terbangun segera duduk memerhatikan serigala yang sudah lama tak menampakkan diri itu.
"Hm? Ada angin apa tiba-tiba keluar? Apa kau kebosanan di dalam sana?"
"Berisik! Aku baru keluar sedetik saja mulutmu mulai berulah!" Lang menggeram kesal, seperti biasa serigala itu menggulung di pojok kamar dengan ekor tebalnya yang melibas ke sana kemari.
Xin Fai tergelak mendengar keluhan itu, "hahahaha sabar.. sabar. Kau tidak makan dulu? Aku bisa membawamu daging kalau kau mau."
"Tidak perlu. Aku keluar ingin mengatakan. sesuatu."
Wajah Xin Fai berubah serius saat melihat Lang hendak mengutarakan sesuatu, sedikitnya dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kau menyadarinya? Aku merasa tempat ini dipenuhi oleh aura siluman iblis. Aku merasa akan terjadi–"
"Sudah lah itu tidak mungkin."
"Tidak mungkin bagaimana? Kau mengetahuinya lebih jelas dari padaku!"
Helaan napas berat terdengar, Lang masih tidak habis pikir. Belakangan ini dari tubuh Xin Fai dia merasakan sesuatu yang aneh di tempat ini. Meskipun tidak memastikannya namun selama hidup ribuan tahun firasat Lang selalu terbukti benar. Serigala Berbulu Emas sepertinya memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak dari Xin Fai.
"Lang... Begini," ucapnya melunak. "Seandainya yang kau katakan benar-benar terjadi, ke mana kita harus pergi? Melarikan diri hanya akan menimbun masalah ini semakin besar dan membuat orang yang tidak bersalah menjadi korban."
__ADS_1
Lang membantah cepat. "Lalu? Kau pikir kau bisa menghadapinya?"
"Aku tidak yakin. Tapi kita sama sekali tidak bisa melarikan diri, sejauh ini itu yang kupikirkan."
"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kau memang bodoh." Lang mengumpat kesal, matanya terpejam namun dia tampak sangat kesal. Berdebat dengan majikannya seperti menghitung pasir di pantai. Sama sekali tidak berguna.
"Melarikan diri memang mudah, Lang." Xin Fai beralih menatap Lang. "Namun menyelesaikannya yang tidak mudah. Aku merasa tubuhku ini selalu membawa masalah bagi banyak orang, jika aku melarikan diri aku merasa seperti pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa."
Bulan purnama nampak menghiasi malam itu, mata emas Lang menelisik jauh ke luar jendela sembari mendengarkan Xin Fai. Bunyi burung hantu terdengar dari atas pepohonan, perlahan-lahan awan gelap menutupi sang rembulan malam hingga membuat suasana menjadi mencekam.
Lang kembali berbicara, kali ini lebih tenang dari sebelumnya.
"Jika itu maumu, aku tidak punya pilihan lain selain melindungimu sampai akhir."
Xin Fai kembali tidur di atas ranjangnya, kedua tangan ke bawah dilipatnya sebagai bantal. Perlahan-lahan matanya menjadi berat, saat hendak tertidur tiba-tiba terdengar knop bunyi pintu di luar.
Lantas saja Xin Fai menarik pedangnya dan segera menuju ke depan, dia tertegun saat melihat Li Yong telah kembali bersama Shen Xuemei yang masih dalam keadaan lemas, pemuda itu dipangku oleh pendeta Li Yong menuju kamarnya.
Setelahnya Xin Fai menoleh pada sebuah pedang terlarang yang dia simpan di tempat tersembunyi.
Pedang Manusia Darah Iblis yang dibalut dengan kain putih menyimpan aura pembunuh pekat di dalamnya, alasan Xin Fai tak menggunakannya adalah karena pedang ini sendiri milik kelompok aliran hitam terkuat, tentu saja orang-orang akan curiga jika dia memakainya saat turnamen.
Xin Fai mendengus kecil sembari menarik pedang Manusia Darah Iblis, ujung pedang tersebut berkilau saat terkena pantulan sinar.
"Sepertinya besok aku akan membutuhkanmu."
***
__ADS_1
Keramaian di sepanjang lokasi turnamen membludak lebih dari sebelumnya, jika kemarin penonton bagaikan air surut hari ini mereka layaknya gelombang tinggi. Pasang surutnya penonton ini tentu disadari pihak Lembah Kabut Putih dari awal sehingga penjagaan diperketat serta masing-masing 3 Pilar Kekaisaran yang berhadir diminta untuk menjaga area sekitar pertandingan.
Seperti biasa para tamu duduk di podium istimewa sambil menunggu turnamen babak final dimulai. Mereka berbincang-bincang kecil, hal yang sama juga dilakukan Qin Gaozu dan Lian Sheng, dua sahabat karib ini sedang membahas suatu masalah yang serius hingga kerutan dalam nampak di wajah mereka.
"Markas para pembunuh bayaran di Kota Houbi kosong? Apa kau sudah memastikannya?"
"Benar sekali, Yang Mulia. Aku sudah mengirimkan mata-mata keluarga Lian dan berita itulah yang mereka dapatkan."
Qin Gaozu mengelus jenggotnya dengan mata menerawang, dia sebenarnya telah mendiskusikan hal ini ke seluruh Pilar Kekaisaran dan mereka yang menduduki posisi enam sampai sepuluh datang secara diam-diam kemudian bersembunyi di balik kerumunan penonton. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk terjadi.
"Hm... Kurasa dalam tiga tahun belakangan ini aliran hitam semakin menguat, apalagi setelah penyerangan yang menewaskan Pilar Kekaisaran kedua kita itu," kata Qin Gaozu mengingat kembali insiden beberapa tahun silam yang menjadi pukulan keras bagi seluruh orang di Kekaisaran Shang.
"Ya, dengan ini kurasa tujuan mereka bukan sekedar menguasai Kekaisaran kita. Melainkan menguasai seluruh dunia ini. Manusia Darah Iblis secara gencar-gencaran membantai masyarakat desa kita, di sisi lain pembunuh bayaran semakin aktif memerangi pasukan aliran putih."
Qin Gaozu jauh lebih memahami apa yang terjadi saat ini, kepalanya semakin berdenyut jika membahas hal ini. Pria tua ini sangat antusias pada Turnamen Pendekar Muda disebabkan calon Pilar Kekaisaran ini ke depannya yang akan melindungi Kekaisaran Shang dari benturan pasukan aliran hitam.
Dia selalu berharap akan menemukan sosok Pilar Kekaisaran yang mampu menghancurkan kelompok aliran hitam di turnamen ini, namun satu hal yang baru saja disadari olehnya pendekar aliran hitam menargetkan para peserta turnamen sejak awal dan ingin membunuh mereka semua sebelum berkembang menjadi pendekar hebat di masa depan.
"Kalau begini terus bukan tidak mungkin mereka datang kemari untuk menyerang, mengingat di turnamen ini semua bibit muda telah berkumpul. Membunuh mereka tentu saja menjadi langkah yang tepat untuk menghancurkan kita..." Mata Qin Gaozu terpaku di satu titik, di antara 8 peserta yang lolos ke babak final dia dapat melihat pemuda kecil yang tengah menengok sekelilingnya dengan was-was.
Qin Gaozu menyipitkan mata penuh curiga, dia merasa Xin Fai juga merasakan hal yang sama seperti mereka. "Seandainya hari ini akan terjadi perang, kita harus bersiap-siap mau tak mau."
Lian Sheng menganggukkan kepala pelan, Lembah Kabut Putih bukan sekte yang bisa dianggap remeh. Dari sekte mereka bahkan telah lahir ratusan pendekar hebat, ditambah lagi banyak orang-orang kuat lainnya yang telah hadir di tempat ini. Tentu melakukan penyerangan tidak semudah itu dilakukan.
Meriahnya acara pembukaan seakan tak menghibur Xin Fai sama sekali, ditambah Shen Xuemei yang kini duduk di sampingnya dalam keadaan yang kurang prima. Meskipun racun telah menghilang namun beberapa organ tubuhnya mengalami sedikit permasalahan.
"Senior, kurasa kau jangan terlalu memaksakan diri. Simpan tenagamu baik-baik,"
__ADS_1
Shen Xuemei mengangguk pelan, wajahnya sangat serius menatapi arena pertandingan. Hari ini adalah hari penentuan pemenang Turnamen Pendekar Muda, semua orang sangat menanti hari ini termasuk dirinya sendiri.
Wajah serius ternyata juga nampak di wajah peserta lainnya, Yu Yuwen yang biasanya tak banyak bereaksi justru mengamati sekitar dengan teliti sedangkan Xiu Juan melipat kedua tangan di depan dada dengan mata tertutup.