Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
BERUANG MATA MERAH


__ADS_3

Setelah pertempuran sengit, Raja Erick kembali ke istananya yang hancur berantakan. Retakan dimana-mana, debu-debu beterbangan. Tubuhnya gemetar tatkala melihat sebuah pedang hitam terjebak di dalam Tahta kerajaan. Ia merasa tertarik oleh kekuatan yang terpancar darinya. Namun, setiap kali ia mencoba mendekatinya, energinya tampak terserap oleh pedang tersebut. Fenomena serupa juga dialami oleh orang-orang yang berusaha mendekati pedang itu.


"Sepertinya Dewa telah menentukan kehendaknya." Raja Erick menyadari bahwa pedang hitam ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan hanya dapat diakses oleh pemiliknya. Ia menyadari bahwa pemilik pedang ini adalah sosok yang telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin kerajaan bahkan dunia. Dalam hati, ia merasa berterima kasih kepada pemilik pedang tersebut, karena kehadirannya telah melindungi kerajaan dan rakyatnya.


Raja Erick memutuskan untuk mengumpulkan para pembesar dan prajurit yang selamat dari pertempuran. Dalam pertemuan tersebut, ia memberikan penghormatan kepada mereka yang telah berjuang dengan gagah berani untuk melindungi kerajaan. Ia juga berbagi pandangan bahwa pedang hitam ini adalah sebuah pertanda yang mengisyaratkan bahwa seseorang di antara mereka adalah pemilik yang ditakdirkan untuk memegang kekuatan itu.


Raja Erick bertekat untuk menjaga pedang itu dan tidak membiarkan kekuatannya jatuh ke tangan yang salah. Ia mengajak semua orang untuk bersatu, dengan harapan bahwa pemilik pedang hitam akan muncul dan membawa kerajaan ke masa depan yang damai.


Jika dilihat dan dirasakan, pedang hitam sangat aneh karena mengeluarkan cahaya bersamaan dengan memancarnya aura iblis.


Empat tahun berlalu dengan cepat. Kerajaan sedikit demi sedikit pulih paskah perang besar melawan para naga.


Di halaman depan rumah, Agil memberikan sebuah pedang kayu kepada Teo. “Pegang ini, nak!”


Saat ini usia Teo genap empat tahun, Agil memutuskan untuk mengajari Teo teknik berpedang.


Mereka berdua berdiri di halaman, dengan matahari terik memancarkan sinarnya yang cerah.


"Ayo, Teo, pegang pedangmu dengan kuat dan fokus," kata Agil sambil menunjukkan sebuah gerakan.


Wushhhhh....


Satu ayunan membuat Teo berdecap kagum, karena seketika batu yang ada di belakang Teo terbelah. "Sekarang coba genggam pedangmu dengan dua tangan, lalu ayunkan." Teo diminta untuk menirukan gerakan.


Teo, dengan keingintahuan yang menyala di matanya, menggenggam pedang kayu dengan dua tangannya. Namun, karena kekuatan dan keseimbangannya yang belum terlatih, ia kehilangan kendali dan kepalanya terbentur oleh pedang kayu yang diayunkannya.


"Awww!" terdengar rintihan kecil dari Teo saat kepalanya terbentur.


Agil segera mendekati Teo dengan penuh kekhawatiran. Ia mengangkat putranya ke dalam pelukannya, mengusap lembut kepala Teo yang terbentur.


"Maafkan ayah, Teo. Ayah terlalu memaksamu," ucap Agil dengan nada lembut.

__ADS_1


Meski masih merasa sakit, melihat ekspresi kekhawatiran di wajah ayahnya. Ia mencoba tersenyum sebelum berkata dengan polos, "Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya ingin bermain seperti Ayah."


Agil tersenyum dan mencium kening Teo dengan kasih sayang. Ia menyadari bahwa putranya memiliki semangat, namun salah mengartikan berpedang dengan bermain.


"Dengan semangatmu, Teo, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi seorang pendekar pedang yang hebat, dan menjaga perdamaian." kata Agil dengan keyakinan.


Mereka berdua melanjutkan latihan mereka dengan penuh semangat dan kegembiraan. Meski perjalanan mereka mungkin dipenuhi dengan kejadian yang lucu dan kecelakaan kecil lainnya.


Teo, dengan rasa ingin tahu yang tak terbendung, bertanya kepada ayahnya, "Ayah, apa yang salah dengan gerakanku? Mengapa aku tidak bisa melakukan seperti yang Ayah lakukan, membelah batu?"


Agil tersenyum lembut, menghampiri Teo, dan berbicara dengan sabar, "Putraku, ada sedikit kesalahan dalam gerakanmu, dan juga fokus! Yang kau butuhkan adalah fokus dan konsentrasi yang lebih. Aku memusatkan energi Ki di ujung pedang, dan itulah yang memungkinkan batu terbelah. Kau juga harus mencengkeram bumi dengan kuda-kuda yang kuat, lalu mengalirkan Ki milikmu di ujung pedang."


“Energi Ki?” ucap Teo dengan polos.


“Ya, itu terasa seperti aliran air saat kau berkonsentrasi.”


Teo memperhatikan kata-kata ayahnya dengan saksama. Ia merenung sejenak, memahami bahwa ia harus fokus pada ujung pedang dan mengalirkan energi ki-nya dengan benar.


Tanpa ragu, Teo menutup matanya dan memasang kuda-kuda seperti yang dicontohkan Agil. Ia mengumpulkan seluruh energi dalam dirinya, memusatkan pikirannya hanya pada ujung pedang. Semakin lama, ia semakin terhubung dengan pedangnya, melupakan suara-suara di sekitarnya.


Tiba-tiba, Teo melepaskan salah satu genggaman tangannya dan dengan penuh kekuatan, menebaskan pedang kayunya secara horizontal.


"Hiyaaaa...." terdengar seruan penuh semangat dari Teo.


Duak....


Sebuah suara yang membelalakkan mata terdengar saat pedang Teo menghunjam ke udara. Pohon kecil setinggi dua meter, yang berdiri di dekatnya tumbang, takluk oleh kekuatan ayunan pedang Teo.


Sesaat itu pula, Teo disambut dengan pandangan tajam dari ayahnya. Agil tak mengira Teo bisa menebas pedang seperti itu. Terlebih dengan mengingat umurnya.


"Teo, apa yang kau lakukan, nak? Kau melakukan gerakan yang salah," nasehat ayahnya. Tapi ayahnya berpikir sejenak, "tapi, jika itu gaya berpedangmu, itu bukan masalah. Teruslah melatih gerakanmu!" Ujar Ayah Teo sekaligus senyuman terlihat pada bibirnya lantas mengusap puncak kepala anaknya.

__ADS_1


"Hehehe... aku tidak bisa meniru gerakan hebat ayah. Itu sangat sulit ku lakukan ayah. Dan hanya ini yang ada dalam gambaranku." balas teo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hari demi hari telah terlewati, sudah satu tahun Teo melatih gerakannya sendiri tanpa awasan dari Agil. Satu tahun itu ia habiskan terus menebas pohon sembari mengumpulkan kayu bakar.


Sampai suatu ketika Teo pulang dan melihat ibunya di serang oleh beruang besar dengan mata merah.


Teo saat ini berteriak kepada beruang itu, "Ibu... Beruang jahat, hentikan! Jangan sakiti ibuku!"


Tapi beruang itu tidak mengindahkan permintaan Teo. Sebaliknya, ia menunjukkan gigi-giginya yang tajam dengan sikap menantang.


Dalam kemarahan, tanpa berpikir panjang, Teo meluncurkan serangan ke arah leher beruang dengan pedangnya.


Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Pedang Teo tidak mampu melukai beruang tersebut. Malah, pedangnya terpental dan membentur tembok rumah. Teo terkejut dan menyadari bahwa beruang itu bukanlah beruang biasa. Ia memiliki aura iblis yang sama seperti yang pernah diceritakan Ayahnya.


"Jika makhluk hidup bermata merah menyala, berarti makhluk itu dirasuki iblis," Teo, mengingat kata-kata Ayahnya.


Dengan tekad yang membara, Teo bangkit dan terus menyerang beruang iblis tersebut. Serangan demi serangan dilancarkannya, tetapi ia terus terpental dan terjatuh. Meskipun ia telah berlatih keras, gerakannya tidak mampu melukai beruang iblis tersebut.


Kesedihan dan keputusasaan menyelimuti Teo saat ia melihat ibunya terbaring tak sadarkan diri. Air mata tak terbendung mengalir dari matanya. "Apa yang harus aku lakukan ayah, ibu sudah tidak sadar." Gumam Teo, tak tau ibunya pingsan atau sudah mati.


Putus asa!


"Hahaha..." Entah dari mana, terdengar suara misterius yang hanya bisa didengar oleh Teo. "Aku akan membantumu dan memberikan kekuatan padamu," kata suara tersebut.


Mendadak, tubuh Teo terasa seperti terbakar dan ia merasakan sejumlah energi memasuki tubuhnya. Ia merintih kesakitan, namun juga merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir keluar darinya. Dalam momen tersebut, Teo menyadari bahwa ia tidak sendirian dan ada entitas tak terlihat yang memberikan bantuannya.


Teo tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia mulai memusatkan seluruh kekuatannya pada pedang kayu miliknya.


Ini adalah serangan terakhir Teo, jika ia tidak berhasil, maka sudah tidak ada lagi harapan. Teo melancarkan tebasan pedang yang penuh dengan kekuatan tersebut. Namun, akibat kekuatan yang begitu besar, pedang Teo terbakar dan patah berkeping-keping. Untungnya, serangan itu berhasil menebas leher beruang iblis, mengakhiri keberadaannya.


Setelah tebasan terakhir itu, pandangan Teo menghitam dan ia pingsan seketika. Tubuhnya terkulai lemas, sementara suara misterius itu menghilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2