
Aliansi Pedang Suci tiba di sebuah kota ramai, keamanan kota tersebut dijaga begitu ketat hingga pendekar asing tidak diperbolehkan masuk kecuali tanpa izin atau wewenang.
Zhu Yue baru saja turun dari kudanya bersama para anggota aliansi, dia sumringah ketika melihat suasana kedai arak yang begitu ramai. Malam santai setelah melewati perang yang bagaikan neraka beberapa hari lalu membuat kedai sederhana itu tampak seperti surga. Dia segera berjalan cepat, disusul oleh yang lain.
Sedangkan itu, Xin Fai memilih memutar arah perginya. Dia berniat berjalan-jalan sebentar mencari angin segar. Kedai arak yang begitu riuh dan bising membuat dia semakin pusing.
Sejenak dirinya berdiri mematung saat melihat sosok gadis yang amat cantik berlalu di depannya angkuh, dia merasa tidak asing dengan sosok bangsawan sepertinya apalagi gadis itu ditemani oleh dua orang pemuda yang kemungkinan besar adalah temannya sejak kecil. Gerak-geriknya yang angkuh disertai tatapan mata lentik nan tajam membuat siapapun akan menunduk ketika ditatap olehnya.
Rona wajah gadis itu berubah malu saat menyadari tatapan seorang pemuda tengah tertuju ke arahnya, dia yakin Xin Fai pasti sedang menaruh hati padanya. Lagipula ini sudah biasa dia rasakan, semua pria dipastikan jatuh hati saat melihat wajah rupawannya, tanpa terkecuali.
Ren Yuan menyibak rambut lurusnya merasa sangat anggun, saat berharap Xin Fai sedang memandangnya nyatanya pemuda itu sudah memalingkan muka muak. Tentu saja Xin Fai begitu mengingat Ren Yuan, gadis yang selalu menyebutnya dengan nama 'rakyat jelata' ini memiliki kesan buruk di kepalanya. Ditambah lagi sikap angkuh itu, dia memilih tidak mencari urusan lagi dengannya atau tidak masalahnya akan sangat panjang.
"Kau!"
Xin Fai yang berpura-pura sibuk dengan barang dagangan di depannya tersentak kecil, perlahan-lahan tubuhnya memutar demi bisa melihat Ren Yuan.
"Sudahlah, Nona Ren. Ini sudah malam, kita harus kembali atau kalau tidak Ayahmu akan marah..." Laki-laki yang badannya lebih tinggi dari ketiganya mengeluh. Dia adalah Zhuan Ang, di sebelahnya temannya hanya mengalihkan pandangan cuek.
Pemuda itu Gong Li, dari tatapan matanya dia seakan sudah muak dengan sikap Ren Yuan. Gadis ini selalu saja mencari masalah dengan orang yang tidak disukainya membuat pandangan keluarga bangsawan lain mulai buruk pada keluarga Ren.
Xin Fai mengerutkan alisnya tak mengerti. Terjadi pergolakan batin yang begitu menyiksa, dia ingin segera hengkang dari tempat ini.
Seorang gadis yang sudah mencapai umur 17 tahun seperti Ren Yuan tentu saja memiliki mulut setajam pisau, apalagi otaknya begitu hebat membolak-balik kata-kata dalam memojokkan lawan bicaranya. Entah bagaimana ceritanya kalau Ren Yuan dan serigala cerewet bernama Lang diadu. Membayangkan saja dia sudah mendapatkan gambaran perang dunia yang amat mengerikan.
"Kenapa melamun?!" Ren Yuan meninggikan suaranya.
'Celaka, aku harus mencari cara untuk kabur...' hanya itu yang dapat dipikirkannya untuk saat ini, Xin Fai mencuri pandangan ke belakangnya berharap Zhu Yue berada di sana agar dia memiliki alasan untuk pergi.
__ADS_1
Namun sialnya, semua anggota Aliansi Pedang Suci sudah masuk ke kedai arak dan berpesta di sana.
Awalnya dia merasa yakin bisa lepas dari Ren Yuan, namun belum sempat melangkahkan kakinya gadis itu menggumam pelan. "Melihatmu aku seperti teringat seseorang."
Gong Li yang sedari tadi membuang wajah malas ikut memandangi Xin Fai lama hingga ekspresinya mulai berubah. Begitupun dengan Zhuan Ang, mereka menatap pemuda itu lekat-lekat tanpa melepaskan pandangannya.
"Mungkin hanya perasaanmu saja... Sudahlah aku ada urusan yang harus diselesaikan."
Ren Yuan menghadang langkahnya. Xin Fai yang sedang tersenyum lebar mulai panik, dia hanya berharap gadis ini melepaskannya dan bisa pergi bebas dari tempat ini. Nyatanya harapannya tidak semudah itu, Ren Yuan menampakkan tatapan mata yang sulit dia artikan.
"Kau cukup tampan juga? Boleh berkenalan? Kau dari keluarga bangsawan mana?"
"Ha?" Tanggapan datar itu membuat Ren Yuan tersedak napasnya sendiri, dari jubah dan aura yang dimilikinya dia yakin Xin Fai adalah putra bangsawan apalagi wajahnya itu sangat mendukung.
Ren Yuan membalikkan badannya ke belakang menghadap dua temannya itu. "Kalau kalian ingin pulang silahkan, aku sebentar lagi akan menyusul."
"Apa permintaanku ini terlalu sulit untuk dilakukan?" Mengelam sudah wajah Ren Yuan yang cantik, dia mulai terbakar emosi sendiri karena kedua temannya.
Gong Li yang lebih dewasa menengahi, dia tahu Zhuan Ang tidak bisa membiarkan Ren Yuan pergi sendirian sesukanya tapi di sisi lain gadis itu bisa menjaga dirinya sendiri. Siapapun tidak berani mengganggu singa galak itu karena kekuatannya sendiri cukup untuk menumbangkan pendekar besar dalam satu pukulan.
Xin Fai memandang tak rela pada kepergian Gong Li dan Zhuan Ang, dia merasakan firasat buruk saat bersama gadis ini. Ketika Ren Yuan masih sibuk memerhatikan dua temannya, Xin Fai mengendap-endap melarikan diri dari tempat itu.
Tapi Ren Yuan sudah lebih dulu membaca pikirannya dan segera bergerak menghalangi untuk yang kedua kali.
"Mau ke mana?"
"Ya? Aku mau melarikan diri." Xin Fai terbatuk-batuk setelah mengatakan itu, mulutnya asal berbicara karena sibuk memikirkan cara untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Kau kira aku setan sampai harus lari seperti ini?" Ren Yuan menarik napas kesal.
"Maksudku aku melarikan diri karena ada urusan..."
"Pembelaan yang tidak masuk akal! Daritadi kulihat kau sibuk melihat ini itu seperti orang kurang kerjaan, saat melihatku malah seperti orang mau lomba lari!"
Tidak tahu harus menjawab apa, Xin Fai mengutuk keras dalam hati. Ilmu silat lidahnya masih kurang tajam apalagi selama di Hutan Kabut interaksi sosialnya terbatas hingga tidak bisa melatih kemampuan berbicaranya.
"Bukan begitu, kau salah paham. Lagipula apa urusanmu denganku?"
"Nah, sekarang malah balik menyalahkanku! Bodoh! Laki-laki memang semuanya menyebalkan!"
Xin Fai menjadi kesal sendiri, dia menatap gadis itu begitu malas. Andai saja yang saat ini dia bertarung dengan Liang Hui mungkin dia bisa memiliki harapan untuk menang. Tapi kalau adu mulut dengan Ren Yuan, mundur saja dia belum tentu tenang.
"Ya, ya. Aku salah. Sudah puas, kan?"
"Harusnya kau mengatakan itu sejak awal."
Xin Fai berjalan cepat tanpa menunggu gadis itu, dia berharap Ren Yuan tidak mengikutinya tapi sepertinya keinginan itu sulit diwujudkan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," katanya. "Boleh aku tahu nama depanmu?"
Jika dia memberi tahu siapa dirinya mungkin Ren Yuan akan melayangkan lebih banyak pertanyaan ke depannya, Xin Fai menjawab asal.
"Nama depanku Li."
"Oh, benarkah? Keluarga besar Li memang hebat memiliki seorang pewaris tampan sepertimu," puji gadis itu. Xin Fai tersenyum masam. Tidak sekalipun dia berharap dipuji oleh Ren Yuan si gadis angkuh ini.
__ADS_1
***