
Mulut siluman laba-laba terbuka lebar saat Xin Fai meloncat ke arahnya, tanpa disangka itu adalah perlawanan terakhir darinya setelah libasan pedang memotong wajahnya. Sang siluman terkapar tak berdaya setelah bertarung cukup lama, lawannya pun kini nampak kehabisan napas meladeninya namun hal itu tak berlangsung lama sebelum akhirnya Xin Fai kembali terlihat pulih.
Gadis kecil pemilik siluman laba-laba mundur beberapa langkah mencermati hal tersebut, dia tidak mengingat ada orang yang bisa pulih dari luka dan kembali dalam keadaan prima dalam kurun waktu yang terbilang singkat.
Rasa kepanikan gadis kecil tersebut dapat dilihat Xin Fai, dia maju beberapa langkah kian membuat gadis itu takut. Hingga akhirnya mereka berdiri berhadapan dalam jarak dekat.
"Kita akan bertemu lagi setelah ini. Tolong jaga nyawamu baik-baik."
Setelahnya Xin Fai melaju pergi membelah kerumunan manusia yang sibuk bertarung, dia melepaskan beberapa tebasan yang cukup membuat pihak lawan terkecoh.
Sambil menatapi punggung Xin Fai gadis kecil itu merenung. Dia mengepalkan tangan erat sembari mengelap air matanya menggunakan punggung tangan sebelum pergi meninggalkan stadium bersama pasukan siluman burung yang baru saja menjemputnya.
Deritan pedang terdengar saling bersambung setiap detik, satu per satu nyawa melayang disertai jeritan meminta ampun. Pertumpahan darah yang telah berlangsung agak lama kini berhasil merenggut banyak pendekar kecil, menengah bahkan juga sampai tingkat pendekar agung. Dalam keadaan seperti itu kehadiran para tetua sekte Kuil Teratai kini cukup membantu pihak putih-netral dalam pertarungan.
Shen Xuemei yang baru saja berhasil membunuh seorang pendekar menengah aliran hitam berlari kencang ke tempat yang lebih sepi, dia menatap ke arah Xin Fai yang sedang berlari menyusulnya.
"Senior Shen!"
"Fai'er..." Shen Xuemei berhenti berlari sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, dia mencoba menstabilkan deru napas berulang kali.
"Senior, sebaiknya kau ikut mereka saja. Para peserta turnamen akan dibawa ke tempat aman oleh mereka.." Xin Fai menunjuk ke sebuah lokasi di mana beberapa pendekar besar sedang bertugas mengamankan para pendekar muda lainnya dari serangan musuh.
Usulan Xin Fai dibarengi dengan datangnya pada pendekar aliran hitam yang jauh lebih banyak, meskipun kekuatan mereka tidak bisa dibilang kuat namun dengan jumlah yang seperti tidak ada habisnya ini tentu sangat sulit menghadapi mereka sendirian.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita pergi ke sana."
Xin Fai menggeleng pelan. "Aku tidak ikut, senior."
Shen Xuemei menurunkan alisnya seperti tidak setuju. "Tidak! Saat ini semua orang bertarung demi dirimu, seharusnya kau mengerti itu."
Meskipun nada bicara Shen Xuemei terkesan membentak namun Xin Fai sama sekali tidak tergerak untuk mengubah pilihannya. "Senior Shen, aku yakin aku bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan ini semua."
Xin Fai mendorong Shen Xuemei ke tempat seorang pendekar besar yang tengah mencari sisa peserta turnamen di sekitarnya. Melihat kedatangan Shen Xuemei dan Xin Fai dia berhenti menoleh dan fokus mengejar mereka.
"Ayo ikut denganku anak-anak." Pendekar itu menopang tubuh Shen Xuemei secara cepat, namun ketika dia membalikkan badan seorang pemuda yang mengantarkan Shen Xuemei tadi sudah menghilang.
"He? Ke mana perginya? Apa aku salah lihat tadi?"
***
Jika salah satu dari mereka kalah maka pihak yang kalah itu mau tak mau harus kehilangan kekuatannya secara drastis, kehadiran dua jagoan ini tentu saja menjadi tumpuan harapan orang-orang.
Bagaimanapun juga pertarungan yang dibayangkan Yong Tao memang sudah diperkirakannya sejak awal, orang seperti Liu Fengying yang berasal dari golongan aliran hitam tentu tidak akan bertarung secara adil dan kerap kali berlaku curang. Nyatanya dalam pertarungan ini dia masih saja mengandalkan dua petarung hebat lainnya untuk membantunya melakukan penyerangan serentak terhadap Yong Tao.
Yong Tao kini harus menghadapi tiga orang pendekar hebat sekaligus, salah satunya Liu Fengying sang pimpinan Manusia Darah Iblis dan dua lainnya pada petinggi di kelompok tersebut.
Salah satu dari petinggi itu tertawa licik. "Kau lihat wajahnya sudah mulai kesulitan, aku yakin setelah ini dia akan berlutut untuk memohon ampunan padamu, Ketua."
__ADS_1
Liu Fengying berkata sombong. "Ah, aku tentu saja akan mengampuninya, tapi tidak dengan nyawanya. Hahaha!"
Yong Tao menatapi satu petinggi lainnya yang jauh lebih diam dari dua orang ini, dia terlihat lebih berbahaya dari petinggi yang satu lagi. Dengan perban menutupi seluruh tangannya serta sebuah pedang besar yang sangatlah langka, Yong Tao bisa menebak orang itu paling tidak adalah tiga besar petinggi terkuat di kelompok Manusia Darah Iblis.
"Pendekar aliran hitam memang selalu saja bertingkah curang. Liu Fengying, ternyata kau sama sekali tidak berubah sejak dulu." Yong Tao berkata pelan namun juga tajam, tentu saja dia masih yakin bisa menang namun dua orang itu akan menghambatnya dalam pertarungan. Paling tidak, dia harus bertaruh nyawa untuk pertarungan kali ini.
"Kebodohan kalian yang berasal dari aliran putih yang membuat diri kalian sangat lemah. Lihatlah, betapa menyedihkannya temanmu si nomor dua itu. Di saat-saat terakhirnya dia masih berpikir untuk mengampuniku... Hahahaha!"
Yong Tao masih mengingat pertarungan Liu Fengying dengan temannya tersebut, seharusnya hari ini Liu Fengying sudah tiada namun karena sang Pilar Kekaisaran nomor dua itu terlalu baik hati maka dialah yang harus mati setelah Liu Fengying balik menyerang dan menusuk jantungnya.
Bayangan masa lalu yang berkelebat singkat di ingatan Yong Tao menjadi semakin menyebalkan jika diingat-ingat, lelaki itu mengangkat pedangnya. "Aku tidak akan mengampunimu lagi setelah ini."
"Hahahaha seharusnya kau yang menyiapkan kata-kata ampunan setelah pertarungan ini berakhir."
Dua petinggi di belakang Liu Fengying bersiap menyerang dari arah belakang, mereka berniat menggunakan segala cara untuk memecah konsentrasi serta melukai Yong Tao bila ada kesempatan, namun rasanya hal itu sangat tidak mungkin ketika salah satu anak panah meluncur cepat hampir menembus kepala salah satu petinggi tersebut.
Liu Fengying melebarkan matanya sebentar lalu tersenyum iblis. "Ah ini dia yang kita cari. Tidak kusangka kau malah menyerahkan dirimu seperti itu."
Xin Fai membidik anak panahnya tanpa memedulikan omongan pria itu, dia sendiri tak ingin tumpuan kekuatan pihak putih-netral harus menghadapi situasi genting sendirian sedangkan tidak ada yang bisa membantunya saat ini.
"Aku tidak cuma-cuma menyerahkan diri." Ucap Xin Fai pelan. "Kalau bisa coba tangkap aku."
Liu Fengying merasa tertantang mendengarnya, dia bersiap-siap menerkam mangsanya sebelum Yong Tao menahan. "Jangan lupa, lawanmu adalah aku."
__ADS_1
***